Indonesia
NovelToon NovelToon
Ternyata Aku Yang Kedua

Ternyata Aku Yang Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Poligami / Balas Dendam
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dunia Sasi runtuh dalam semalam. Keputusannya memutuskan Hendrik karena menolak diajak berhubungan badan justru berujung petaka—Hendrik yang gelap mata melecehkannga dan mencapnya sebagai wanita munafik. Belum sembuh rasa traumatik itu, Sasi yang tiba di rumah langsung dihadapkan pada lamaran Adrian Maheswara, putra sahabat ayahnya. Demi menghormati permohonan sang ayah, Sasi yang masih syok hanya mampu mengangguk pasrah.
Pernikahan kilat pun digelar keesokan harinya. Namun, neraka baru menyambut Sasi saat Adrian membawanya pulang. Di sana, berdiri Fitria—istri pertama Adrian. Merasa ditipu dan dijadikan alat semata demi mendapatkan keturunan bagi pasangan tersebut, Sasi harus menelan kenyataan pahit: tersiksa oleh trauma yang belum usai, kini ia terperangkap dalam ikatan poligami tanpa persetujuannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Setelah kepergian Adrian, Sasi langsung melangkah cepat menuju kamarnya.

Ia menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dari dalam, lalu berlari kencang menuju kamar mandi.

Di dalam sana, Sasi menyalakan keran dan berlutut di bawah kucuran air dingin yang jatuh menghantam tubuhnya yang kaku.

Dengan menggunakan sabun dan spons, ia menggosok kulitnya dengan kasar dan tanpa ampun.

Ia menggosok bahu, leher, hingga seluruh tubuhnya sampai memerah dan lecet, berharap gosokan keras itu bisa menghapus jejak kejahatan Hendrik yang masih terasa menempel kotor di kulitnya.

Namun, sekeras apa pun ia membasuh diri, rasa mual dan jijik itu tidak pernah pergi dari benaknya.

Dengan tubuh basah dan menggigil hebat, Sasi akhirnya melangkah keluar dari kamar mandi.

Matanya tak sengaja menatap sebuah gaun pengantin serba putih pemberian Adrian yang tergeletak rapi di atas tempat tidur.

Gaun itu tampak begitu bersih, anggun, dan murni—namun bagi Sasi, gaun itu terasa tak ubahnya seperti kain kafan yang siap membungkus sisa sisa hidupnya.

Gaun putih indah itu terasa sangat kontras dengan kenyataan pahit tubuhnya yang dipenuhi memar-memar kebiruan dan jiwanya yang terancam hancur berkeping-keping.

Seketika, rasa sesak yang sangat dahsyat menghantam dadanya.

Sasi mulai mengalami serangkaian serangan panik (panic attack).

Pandangannya mendadak kabur, pernapasannya menjadi sangat pendek dan memburu seolah pasokan udara di dalam kamar itu mendadak habis.

Tangannya gemetar hebat saat ia mencengkeram tepi meja untuk menahan tubuhnya agar tidak roboh.

Suara detak jantungnya bergemuruh keras di telinga, berpacu dengan pikiran-pikiran buruk yang menakutkan yang mulai memenuhi kepalanya.

Bagaimana jika besok malam Adrian mengetahui bahwa dirinya sudah tidak perawan? Bagaimana jika pria itu sadar bahwa dirinya telah bernoda, lalu mencacinya, dan memberitahukan hal ini kepada Ayah? pikiran itu terus memburu tanpa ampun, membuat air mata Sasi kembali meleleh deras di tengah napasnya yang semakin terengah-engah dalam kegelapan malam.

Tubuh Sasi yang menggigil akhirnya tak lagi sanggup menahan beban trauma dan hembusan rasa panik yang menghantamnya bertubi-tubi.

Kesadarannya perlahan terkikis, pandangannya meredup hingga semuanya berubah menjadi gelap gulita.

Ia ambruk dan pingsan di atas tempat tidurnya yang dingin, membiarkan gaun putih itu terhampar tak jauh dari tubuhnya yang lelah.

Di luar kamar, suasana rumah begitu hening. Suara gemericik sisa hujan di luar menyamarkan segalanya.

Sang ayah, yang berada di ruang tengah, sama sekali tidak mengetahui penderitaan mendalam yang sedang menimpa putri tunggalnya di balik pintu yang terkunci rapat.

Beliau tersenyum lega, membayangkan masa depan Sasi yang ia kira akan aman dan terjamin bersama putra sahabatnya, tanpa menyadari bahwa putrinya baru saja melewati malam paling kelam dalam hidupnya.

Keesokan paginya, suara ketukan pintu kamar memecah keheningan pagi yang dingin.

"Nduk, ayo bangun. Jangan lupa pagi ini kamu akan menikah dengan Adrian," panggil Ayah dari luar pintu dengan nada suara yang terdengar begitu bersemangat.

Sasi membuka matanya perlahan-lahan. Kelopak matanya terasa amat berat, dan seluruh persendian tubuhnya ngilu tak tertahankan.

Pandangannya sempat kabur selama beberapa detik, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang menyusup di celah jendela.

Ia tidak menyadari kalau semalam ia pingsan dalam balutan keputusasaan.

Memegang kepalanya yang masih berdenyut nyeri, Sasi memaksakan tubuhnya untuk bangkit duduk dari tempat tidur.

"Iya, Ayah," sahut Sasi pelan, berusaha mengabaikan suaranya yang serak akibat tangisan semalam.

Sasi segera melangkah kaku menuju kamar mandi untuk bersiap-siap.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin, menatap bayangan dirinya di cermin yang tampak pucat bagai mayat hidup dengan lingkaran hitam tebal di bawah mata.

Setelah memoleskan riasan tipis untuk menyamarkan jejak trauma di wajahnya, jemarinya yang masih menggigil mengancingkan gaun pengantin putih pemberian Adrian satu per satu.

Gaun indah itu kini melekat sempurna di tubuhnya, menyembunyikan memar kebiruan yang menjadi saksi bisu kejahatan Hendrik—sekaligus membungkus rapat luka batin seorang wanita yang dipaksa melangkah menuju takdir barunya.

Suara deru mesin mobil mewah yang berhenti di halaman rumah memecah keheningan pagi.

Adrian telah tiba, didampingi oleh seorang penghulu dan dua orang pria paruh baya yang bertindak sebagai saksi.

Tidak ada pesta meriah, tidak ada kerabat jauh yang dipanggil—hanya ada beberapa orang saja yang diundang oleh Adrian untuk menyaksikan momen tersebut.

Tak lama kemudian, Ayah kembali mengetuk pintu kamar Sasi dengan raut wajah berbinar lega.

"Nduk, Adrian dan Pak Penghulu sudah sampai. Ayo keluar," panggil Ayah penuh kehangatan.

Sasi yang sudah siap akhirnya memutar kunci dan melangkah keluar dari kamarnya.

Langkah kakinya terasa begitu kaku dan berat, menapak setiap jengkal ubin rumahnya dengan hati yang remuk.

Saat melangkah ke ruang tamu, pandangannya tertuju pada sosok pria yang berdiri menunggunya.

Ia berjalan dan melihat Adrian yang mengenakan jas hitamnya yang sangat rapi, tampak begitu gagah namun tetap memancarkan aura dingin dan berjarak.

Tatapan Adrian sempat tertuju pada Sasi selama beberapa saat, tetap tenang tanpa menunjukkan ekspresi berlebihan.

"Mari, calon pengantin pria dan pengantin wanita silakan duduk," panggil Pak Penghulu ramah, mengisyaratkan Sasi untuk mengambil posisi di samping Adrian di hadapan meja akad.

Sasi duduk bersimpuh dengan jemari yang saling bertaut erat di atas pangkuan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Pak Penghulu kemudian menata lembaran berkas nikah di atas meja dan memberi isyarat kepada Pak Broto.

Ayah Sasi menjabat tangan Adrian dengan genggaman yang kuat, suaranya terdengar bergetar menahan haru saat mengucapkan kalimat ijab.

"Saudara Adrian Maheswara bin Irwan Maheswara, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Sasi Kirana, dengan mas kawin uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah dibayar tunai."

Tanpa jeda dan tanpa sedikit pun keraguan, Adrian membalas genggaman tangan Pak Broto lalu mengucapkan ijab kabulnya dengan tegas dan lugas.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Sasi Kirana binti Broto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."

"Bagaimana para saksi, sah?" tanya Pak Penghulu menoleh ke kiri dan ke kanan.

"Sah!"

"Sah!" sahut para saksi serentak.

Kalimat sah itu menggema pelan di dalam ruangan, mengunci takdir Sasi secara resmi dalam sebuah ikatan pernikahan kilat—tepat di atas puing-puing lukanya yang belum sempat mengering.

Setelah menandatangani buku nikah dan memanjatkan doa bersama, Adrian meminta izin untuk membawa Sasi ke rumahnya.

Sebelum beranjak dari tempat duduknya, Adrian merogoh saku jasnya lalu menyerahkan sebuah amplop putih tebal kepada ayah Sasi.

"Pak Broto, ini ada sedikit rezeki untuk pengobatan dan kebutuhan Bapak sehari-hari selama Sasi ikut bersama saya," ucap Adrian tenang seraya menyerahkan amplop tersebut dengan sopan.

Pak Broto menerima amplop itu dengan mata yang berkaca-kaca, terharu atas perhatian menantunya.

Beliau mengelus bahu Sasi lembut, mencoba menyalurkan kekuatan.

"Pergilah, Nduk. Sekarang kamu sudah mempunyai suami. Jadi, kamu harus nurut sama Nak Adrian, ya," bisik Ayah penuh kehangatan dan rasa syukur.

Sasi menganggukkan kepalanya pelan. Tenggorokannya terasa kaku untuk menyahut, hanya bisa meremas jemarinya sendiri demi menahan gelombang emosi yang bergejolak di dadanya.

Adrian berdiri dari duduknya, lalu dengan gerakan tegas namun lembut, Adrian menggenggam tangan Sasi dan memintanya untuk masuk ke dalam mobil.

Sentuhan fisik yang mendadak itu sempat membuat tubuh Sasi menegak kaku karena sisa trauma semalam, namun ia memaksa kakinya untuk tetap melangkah menuruni tangga rumah.

Setelah meletakkan koper kecil milik Sasi di bagasi belakang, Adrian masuk ke kursi pengemudi.

Segera Adrian melajukan mobilnya menuju ke rumah, meninggalkan pelataran rumah sederhana Sasi dan membawa wanita itu menuju babak baru kehidupan yang bahkan belum pernah ia bayangkan sebelumnya.

Di dalam mobil, Adrian hanya fokus menyetir. Suasana di dalam kabin terasa sangat hening dan canggung, hanya diisi oleh suara deru halus mesin mobil yang membelah jalanan.

Sasi membuang pandangannya ke luar jendela, membiarkan pikirannya berkecamuk di tengah keheningan yang menghimpit.

Dua jam kemudian mereka telah sampai di sebuah pelataran rumah megah berarsitektur modern.

"Ayo turun," ucap Adrian datar seraya mematikan mesin mobil dan melepas sabuk pengaman.

Sasi turun dari mobil dengan langkah ragu. Matanya menyapu bangunan megah di hadapannya sebelum akhirnya terhenti pada sosok wanita berpenampilan anggun yang melangkah keluar dari pintu utama rumah tersebut.

Wanita itu berjalan mendekat dengan senyum lembut yang sulit diartikan.

"Mas," sapa wanita itu halus.

Sasi menatap ke arah wanita yang mencium punggung tangan Adrian dengan takzim—sebuah gestur pengabdian yang sangat lazim dilakukan seorang istri kepada suaminya.

Wanita itu kemudian mengalihkan pandangannya penuh penekanan ke arah Sasi.

"Kamu pasti Sasi?"

Sasi menganggukkan kepalanya perlahan, tenggorokannya mendadak terasa kering melihat keakraban di antara mereka berdua.

"Perkenalkan, aku Fitria, istri pertama Mas Adrian."

Bagaikan dihantam godam tepat di dadanya, tubuh Sasi seketika membeku.

Matanya membelalak lebar, memancar kepanikan dan rasa tak percaya yang luar biasa.

Napasnya tertahan di tenggorokan, sementara dadanya mendadak terasa begitu sesak.

"Istri pertama? Lalu, pernikahan ini poligami?" gumam Sasi.

Kenyataan pahit itu menghantamnya tanpa ampun.

Di saat luka trauma atas pemerkosaan Hendrik semalam bahkan belum sempat mengering, kini ia harus menerima kenyataan bahwasanya ia telah dijebak masuk ke dalam sangkar poligami—menjadi istri kedua dari pria yang baru beberapa jam lalu menikahinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!