Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#30

Keheningan kembali merayap pelan di dalam kamar Putranya Ocean yang beraroma harum itu. Waktu seolah berjalan lebih lambat sewaktu selimut malam kian menebal di luar jendela Istana Blackwood. Di atas sofa beludru, Ocean telah perlahan terlelap dalam buaian hangat sang ibu. Kerutan kecil di dahi bayi mungil itu melonggar, digantikan oleh deru napas halus yang teratur.

Namun, Arthur tidak juga bergeser dari posisinya di atas lantai marmer. Pria tegap berseragam militer itu tetap mematung di samping sofa, menyandarkan lengannya pada tepi bantalan empuk, tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Snow.

"Ocean sudah tertidur, Arthur. Keluar dari kamar ini," bisik Snow tanpa menoleh. Suaranya datar dan dingin bagaikan embun pagi yang membeku di ujung daun.

"Aku tidak bisa, Honey," balas Arthur, suaranya parau dan sarat akan permohonan yang mendalam. Sebelah tangannya terulur lambat, mencoba menyentuh ujung gaun Snow dengan kehati-hatian yang teramat sangat. "Lihat bagaimana jemari kecilnya masih memegang erat ujung gaunmu... Ocean merindukan keberadaan ayahnya di dekatnya. Dia merindukan kita berdua, Snow."

Snow terkekeh sinis, sebuah tawa kering yang menusuk udara hening di antara mereka. "Jangan menggunakan anak ini sebagai topeng untuk ketidak tahuan dirianmu. Dia baru beberapa bulan, Arthur. Dia bahkan belum mengerti arti seorang ayah yang tangannya berlumur darah ibuku."

Kalimat tajam itu tak ubahnya sembilu yang menyayat kembali luka di dada Arthur. Pria itu memejamkan mata sejenak, menahan rasa sakit yang meremukkan sukmanya. Ia tahu betul, ia tidak pernah pantas mendapat pengampunan.

Bahkan jika ia menyerahkan seluruh takhta, harta, dan sisa umurnya untuk berlutut di bawah kaki Snow, dosa penabrakan malam itu tidak akan pernah terhapus dari sejarah hidup mereka. Namun, naluri gila di dalam dadanya menolak untuk menyerah. Ia tidak sanggup membayangkan hidup dalam kegelapan tanpa memeluk wanita ini kembali.

"Aku tahu aku tidak pantas mendapat maafmu..." lirih Arthur, mendongak menatap Snow dengan sepasang mata yang berkaca-kaca dipenuhi cinta dan keputusasaan liar. "Bahkan jika aku menembak dadaku sendiri di depanmu malam ini, itu tidak akan pernah cukup untuk menebus rasa sakitmu. Tapi kumohon... biarkan aku memohon seumur hidupku. Jangan usir aku dari sisimu, Snow. Habisi aku dengan kebencianmu, tapi tetaplah berada di jangkuanku..."

Dari sudut pandang siapa pun yang mengintip dari balik celah pintu, pemandangan itu tampak teramat romantis dan syahdu—seorang pangeran tampan yang gagah berlutut penuh penyesalan, membisikkan kata-kata cinta nan manis di hadapan wanita tercintanya yang sedang memangku buah hati mereka.

Namun, bagi Arthur dan Snow, tidak ada romantisme di sana. Yang ada hanyalah pergulatan batin yang berdarah: sebuah permohonan maaf yang berbalut keputusasaan gila dari sang pesakitan, dan dinding dendam tebal yang tak tergoyahkan dari sang korban.

"Kata-katamu terdengar begitu indah, Arthur," desis Snow, matanya berkilat dingin menembus manik kelam pria itu. "Tapi setiap kata cinta yang keluar dari bibirmu hanya mengingatkanku pada jeritan ibuku di atas aspal malam itu."

Dada Arthur membusung memburu. Rasa frustrasi dan gairah memabukkan untuk memiliki kembali wanita ini menyatu dalam otaknya yang lelah.

Tanpa mampu membendung luapan emosi gilanya lagi, Arthur mendadak bangkit dari lantai. Pria tegap itu naik ke atas sofa, mengurung tubuh Snow di antara kedua lengan tegapnya dan mencoba memeluk wanita itu secara paksa.

"Arthur! Apa yang kau—"

Kriett...

Pintu kamar perawatan mendadak terbuka pelan. Eva, melangkah masuk membawa nampan berisi botol sterilisasi. Wanita tiga puluh tahun itu sama sekali tidak menduga akan ada orang lain di dalam kamar selain Snow pada jam selarut ini.

Namun, langkah Eva mendadak terhenti kaku. Matanya melebar sempurna saat menyaksikan Pangeran Arthur sedang menindih anggun tubuh Snow di atas sofa, dengan wajah yang begitu dekat dan suasana yang teramat intim.

"P-Pangeran... Nona Snow... Maafkan saya! S-saya akan keluar sekarang!" gagap Eva dengan wajah memerah padam, tubuhnya bergetar ketakutan setengah mati. Tanpa menunggu perintah, wanita itu berbalik terburu-buru dan menutup pintu kembali dengan rapat.

Snow menghembuskan napas kasar sewaktu pintu tertutup. "Lihat... kau membuat pelayan istana ketakutan setengah mati dengan tingkah gilamu ini."

Namun, Arthur tak sedikit pun tergoyahkan. Pria itu justru memanfaatkan momentum tersebut untuk kian menghimpit tubuh Snow.

Otaknya melantur gila; cara pria itu memohon maaf dan mengemis ampunan malah menjelma menjadi dorongan gairah panas yang tak tertahankan. Ia merindukan tiap jengkal sentuhan wanita ini, merindukan bagaimana tubuh Snow pernah pasrah dan menyerahkan seluruh kehangatannya di bawah terkaman gairahnya sejak bertahun-tahun lalu.

"Biarkan dia takut, aku tidak peduli..." bisik Arthur serak di ceruk leher Snow. Pria itu mulai mendaratkan kecupan-kecupan basah dan menuntut di sepanjang garis rahang dan leher mulus Snow.

"Arthur, hentikan! Lepaskan aku!" Snow berontak, mencoba mendorong dada tegap Arthur dengan kedua tangannya, namun kekuatan fisik pria militer itu terlalu tangguh untuk ditaklukan.

"Maafkan aku, Honey... Maafkan aku..." gumam Arthur ngelantur di antara sentuhan-sentuhan panasnya. Bibirnya merayap turun, menyesap kulit leher Snow hingga meninggalkan rona kemerahan yang pekat. Cara Arthur memohon maaf terasa begitu salah dan liar—iapun menyatukan permohonan ampun dengan desakan percintaan yang membakar.

Jemari tegap Arthur yang kasar bergerak berani. Tangan kanannya merayap turun dari pinggang Snow, menyusup di antara lipatan gaun sederhananya, bergerak pasti menuju celah intim di antara kedua kaki wanita itu. Arthur ingin merasakan kembali kehangatan rapat yang pernah membuatnya berlutut pasrah sejak di rumah hutan bertahun-tahun lalu.

"Arthur! Jangan berani-berani kau menyentuh bagian itu!" teriak Snow tertahan, mukanya memerah padam oleh perpaduan amarah dan kejutan sengatan listrik yang merayapi sarafnya saat jemari Arthur menyentuh paha bagian dalamnya. Snow mengapit kedua kakinya rapat-rapat, bertarung hebat untuk menolak jamahan liar tersebut.

"Kenapa tidak, hm?" desah Arthur serak, napasnya memburu panas di telinga Snow. Jemarinya tetap gigih membelai kulit paha Snow, berusaha menembus pertahanan ketat tersebut dengan keahlian yang memabukkan.

"Tubuhmu mengenalku, Snow... Jangan menolaknya. Biarkan aku menembusmu malam ini, biarkan aku tenggelam di dalam dirimu sampai kau bisa merasakan betapa gilanya aku menginginkan ampunanmu..."

"Kau monster mesum!" desis Snow tajam, tangannya berhasil bergerak bebas dan kembali menampar pipi kanan Arthur hingga meninggalkan bekas garis merah.

Namun, alih-alih meringis kesakitan atau menghentikan aksinya, rasa sakit dari tamparan itu justru membakar semangat Arthur yang kian gila.

Dengan otak mesum dan tekad baja yang tak kenal rasa takut, sang Pangeran Blackwood hanya tersenyum tipis—sebuah senyuman liar yang tersirat kepatuhan sekaligus kehausan mendalam akan wanita di bawah terkamannya.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!