Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cahaya Pagi dan Salju di Menara Eiffel
Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah tirai apartemen perlahan membangunkan Mira. Aroma kopi yang menenangkan memenuhi udara. Begitu mengecap kesadaran sepenuhnya, Mira mendapati dirinya sudah berbaring rapi di atas tempat tidur empuk di dalam kamar Jungkook.
Gadis itu tersontak duduk, merapikan rambutnya yang acak-acakan. Rasa bersalah seketika menyergap, ia ingat semalam tertidur di sofa, dan itu artinya Jungkook menggendongnya kekamar, dan Jungkook benar-benar mengalah dan membiarkannya memakai kamar pribadi pria itu.
Dengan langkah terburu-buru, Mira membuka pintu kamar dan langsung berjalan menuju ruang tengah.
"Jungkook oppa?" panggilnya halus.
Bukan Jungkook yang menyambutnya, melainkan Taehyung yang sedang menata piring di atas meja makan. Kakaknya itu mendongak dan menyunggingkan senyum kotak khasnya yang hangat.
"Sudah bangun, Putri Tidur?" goda Taehyung gembira.
"Tae Oppaa..!!!!" teriak Mira bahagia melihat kakaknya lagi setelah 3 tahun tak berjumpa. Mereka berpelukan lama, melepaskan kerinduan..
"Jungkook sudah berangkat ke kantor studio sejak subuh tadi. Ada berkas pengembangan yang harus ia cek sebelum tim datang." ujar Taehyung setelah pelukan mereka lepas.
Mira menghela napas lega sekaligus menyelipkan sedikit rasa canggung.
"Lalu Oppa tidak ke perusahaan?"
"Hari ini?" Taehyung menepuk dadanya bangga. "Aku sudah mengosongkan seluruh jadwal kerjaku khusus untukmu! Hari ini kita akan menjelajahi Paris berdua!"
Taehyung membawa Mira ke sebuah boulangerie langganannya di area Montmartre. Restoran kecil berkonsep klasik itu sedang viral karena pemandangan menaranya dan croissant menteganya yang renyah. Di meja dekat jendela kaca yang berembun, uap hangat membubung dari dua cangkir cafe au lait di hadapan mereka.
"Apakah kau masih suka lupa menaruh barang barangmu?" tanya Taehyung pada adik nya itu.
Mira tertawa kecil, rasa canggung yang sempat membendung perlahan luruh saat melihat wujud kakaknya secara langsung, bukan lagi lewat layar kaca ponsel yang sering terputus sinyal.
"Nee, aku masih sering lupa" balas Mira seraya mengambil gigitan pertama rotinya. Tatapannya mendadak berbinar menatap Taehyung lekat-lekat. "Tiga tahun... rasanya lama sekali ya, Oppa? Kau benar-benar tidak pernah pulang ke Seoul sama sekali."
Taehyung terdiam sejenak, binar matanya melembut menatap adik kecilnya yang kini sudah tumbuh makin dewasa. Ada rasa haru yang menyusup di dada pria itu.
"Maafkan Oppa, ya?" bisik Taehyung pelan, suaranya sarat akan kehangatan seorang kakak. "Tiga tahun lalu, aku dan Jungkook datang ke kota ini hanya bermodalkan nekat dan dua unit laptop tua. Kami harus bekerja 18 jam sehari untuk membesarkan HexaVerse. Tapi melihatmu duduk di depanku sekarang... rasanya semua rasa lelah selama tiga tahun itu menguap begitu saja."
Mira menunduk tipis, menggenggam jemari kakaknya yang berada di atas meja. "Aku tahu betapa kerasnya Oppa berjuang. Makanya aku belajar sangat keras agar bisa lolos beasiswa ke Sorbonne... aku hanya ingin ada di dekat Oppa."
Taehyung tersenyum haru, mengacak rambut Mira dengan gemas hingga adiknya cemberut. Di balik keceriaan momen melepas rindu itu, ada beban berat yang mendadak menghantam dada Taehyung. Kalimat tulus adiknya, bahwa Mira berada di Paris demi dirinya, makin menyudutkan Taehyung dalam dilema pembukaan cabang Seoul yang menuntut kepulangannya.
Setelah melepas rindu dengan mengelilingi kawasan pertokoan di Champs-Élysées untuk berbelanja pakaian hangat, kebahagiaan itu harus terinterupsi saat sore mulai membayangi kota Paris.
Dering telepon nyaring terdengar dari saku mantel Taehyung.
Taehyung merogoh ponselnya dan mengangkat panggilan itu. "Eoh, Jungkook-ah?"
"Tae, kau di mana?" suara Jungkook terdengar serius dan terburu-buru dari seberang telepon. "Pihak investor London mendadak datang lebih awal ke kantor. Mereka ingin memajukan rapat pembahasan draft kerja sama dan rencana pembukaan cabang Seoul sore ini juga. Kau harus ke studio sekarang."
Raut wajah gembira Taehyung seketika meredup. Ia melirik Mira yang sedang memegangi beberapa kantong belanjaan dengan binar mata bahagia.
"Baiklah... aku segera ke sana," jawab Taehyung berat hati sebelum mematikan sambungan telepon.
Taehyung menatap adiknya dengan tatapan serba salah. "Mira-ya... maafkan Oppa. Ada rapat darurat investor yang tidak bisa ditunda di kantor."
Mira tersenyum tipis, mencoba mengerti. Meski ada sedikit rasa kecewa yang menyusup, ia menepuk lengan kakaknya pelan. "Tidak apa-apa, Oppa. Pergilah, pekerjaanmu sangat penting. Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Aku akan mencarikan taksi untukmu sekarang, ya? Langsung pulang ke apartemen," ujar Taehyung seraya celingukan mencari taksi yang melintas.
"Tidak usah, Oppa," potong Mira cepat seraya menggelengkan kepala. Ia menunjuk ke arah pemandangan ikonik yang berdiri megah tak jauh dari posisi mereka berdiri. "Lihat, Menara Eiffel sudah mulai menyalakan lampunya. Aku masih ingin berjalan-jalan sebentar di sekitar Champ de Mars sendirian."
Taehyung sempat ragu dan khawatir, namun melihat binar antusias di mata adiknya, ia akhirnya mengalah. "Baiklah. Tapi janji jangan pulang terlalu malam, ponselmu harus selalu aktif, dan kalau ada apa-apa langsung telepon aku atau Jungkook, mengerti?"
"Siap, Kapten!" seru Mira terkekeh.
Setelah Taehyung pergi menumpangi taksi menuju kantor, Mira membenarkan letak syalnya. Ia melangkah perlahan di atas padang rumput yang tertutup tipis kepingan salju, menatap lekat kemegahan Menara Eiffel yang mulai berpendar keemasan di bawah langit sore Paris yang temaram.
Lampu-lampu keemasan yang menghiasi Menara Eiffel mulai menyala satu per satu, mempercantik langit Paris yang kian temaram. Salju halus turun melayang-layang di udara, menciptakan pemandangan yang terasa begitu magis. Namun, keindahan itu perlahan kehilangan pesonanya bagi Mira.
Di area taman Champ de Mars yang tak terlalu ramai, langkah Mira mendadak terhenti. Kerumunan wisatawan mulai terurai, dan ia menyadari tiga pria lokal berjaket tebal sedang memperhatikannya sejak tadi.
Mira mempercepat langkahnya, tetapi ketiganya justru berjalan lebih cepat dan memotong jalannya dengan sengaja.
"Pardon, mademoiselle... Vous êtes seule?" (Permisi, Nona... Kau sendirian?) ujar salah satu dari mereka seraya tersenyum menggoda, mengambil posisi terlalu dekat hingga menghalangi jalan Mira.
Mira memeluk kantong-kantong belanjaannya lebih erat, langkah kakinya refleks mundur beberapa tindak. Jantungnya mulai berdegup kencang diliputi rasa panik. Bahasa Prancis yang ia pelajari rasanya mendadak menguap dari kepalanya karena takut.
"Maaf... aku harus pergi," bisik Mira dalam bahasa Inggris dengan nada bergetar, mencoba menerobos celah di antara mereka.
Namun, pria lain melangkah memotong pergerakannya, menahan bahu Mira secara bersikap kurang ajar. "Attends, ne sois pas pressée..." (Tunggu, jangan buru-buru...)
"Jangan sentuh!" seru Mira takut, matanya mulai memerah menahan tangis yang siap pecah.
Tepat saat rasa cemas mencekik dada Mira, sebuah lengan tegap berkulit hangat tiba-tiba merengkuh pinggang Mira dari samping, menarik tubuhnya rapat-rapat ke dalam dekapan yang kokoh.
Aroma familiar kayu dan sitrus seketika menyapu indra penciuman Mira.
"Ada masalah di sini, Messieurs?"
Suara berat yang dingin dan tajam itu memecah ketegangan. Mira mendongak kaget, mendapati Jungkook sudah berdiri di sampingnya. Pria itu mengenakan mantel hitam panjang dengan rahang yang mengeras ketat, menatap tiga pemuda lokal tersebut dengan pandangan yang teramat intimidatif.
Jungkook menundukkan kepalanya sedikit, lalu dengan gerakan penuh kelembutan yang kentara, ia mengecup pelipis Mira di hadapan ketiga pria itu, sebuah kecupan yang terasa begitu hangat dan protektif.
"Maaf aku membuatmu menunggu terlalu lama, Sayang," bisik Jungkook dalam bahasa Inggris dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut namun dapat didengar jelas oleh mereka.
Ketiga pemuda lokal itu saling melirik. Melihat tatapan tajam Jungkook dan perlakuan manis yang mengindikasikan bahwa wanita di depannya bukan lagi target yang mudah dipojokkan, salah satu dari mereka akhirnya mengangkat kedua tangan seraya berdecak pelan.
"Ah, c'est bon... Pardon, man," gumam pria itu seraya melambaikan tangan, mengajak kedua temannya pergi melangkah menjauh meninggalkan mereka.
Begitu ketiga pria itu menghilang di balik kerumunan, ketegangan di udara perlahan luruh.
Mira berdiri terpaku di tempatnya. Lingkaran tangan Jungkook di pinggangnya serta rasa hangat dari kecupan pura-pura di pelipisnya tadi masih membakar kulitnya. Jantung Mira bertalu-talu luar biasa keras, bukan lagi karena rasa takut pada pemuda lokal tadi, melainkan karena jarak di antara dirinya dan Jungkook yang kini nyaris tak tersisa sama sekali di bawah kerlip nyala Menara Eiffel.
Mira masih berdiri mematung di atas padang rumput yang tersapu salju tipis. Sentuhan lengan tegap Jungkook di pinggangnya serta bekas hangat dari kecupan pura-pura di pelipisnya terasa bagai sengatan listrik yang menyengat halus seluruh tubuhnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga Mira yakin Jungkook bisa mendengar detaknya dari jarak sedekat ini.
Prasangka tentang jepit rambut di kamar Jungkook, ketakutan diasingkan di kota orang, dan tindakan protektif pria itu mendadak bertabrakan di dalam dadanya, membuat Mira kehilangan kata-kata.
Merasakan tubuh Mira yang kaku dan napasnya yang tertahan, Jungkook tersadar dari tindakannya. Dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, Jungkook melepaskan pegangan tangannya dari pinggang Mira dan mengambil setengah langkah ke belakang.
Jungkook memegang tengkuknya sendiri, mengalihkan pandangan sejenak seraya berdeham pelan untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerbunya.
"Mira-ya... maafkan aku," buka Jungkook cepat, suaranya sedikit terdengar panik dan bersalah. "Soal yang tadi... aku tidak bermaksud kurang ajar atau mengambil kesempatan padamu."
Mira menatap Jungkook polos, bibirnya sedikit terbuka namun belum sanggup bersuara.
Jungkook menatap mata Mira lekat-lekat, buru-buru memberi penjelasan agar tidak timbul salah paham di antara mereka. "Pria-pria lokal di sekitar Champ de Mars sering kali memanfaat wisatawan asing yang sendirian. Kalau aku hanya menegur biasa, mereka biasanya tidak akan kapok dan terus mengikutimu. Karena itulah... aku harus bertindak sebagai kekasihmu agar mereka benar-benar pergi dan tidak mengganggu lagi."
Jungkook menghela napas panjang, tatapan matanya melebur menjadi kehangatan yang amat tulus.
"Maaf kalau caraku mengejutkanmu dan membuatmu tidak nyaman," lanjut Jungkook pelan seraya membenarkan letak syal di leher Mira agar terlindung dari embusan angin malam. "Taehyung menelponku saat rapat akan dimuali, memberitahu kalau kau jalan-jalan sendiri di sini. Dia tidak bisa tenang membiarkanmu sendirian di bawah udara sedingin ini, jadi aku langsung menyusul ke sini. Kebetulan aku tak ikut rapat itu"
DEG.
Kalimat itu meluncur begitu jujur dari bibir Jungkook, menyapu bersih sisa-sisa ketakutan Mira beberapa menit lalu. Rasa canggung yang sempat membentang kembali luruh, digantikan oleh gelombang getaran manis yang membuat pipi Mira memerah di bawah kerlip cahaya Menara Eiffel.