“Nikah sama aku saja, Aluna.”
Seharusnya Aluna tertawa saat mendengar sahabatnya mengucapkan kalimat itu.
Bagaimanapun, Rafa adalah Rafa, sahabat yang sudah tumbuh bersamanya hampir seumur hidup.
Namun satu ajakan pernikahan membawa mereka pada sebuah kontrak yang perlahan mengubah segalanya.
Di antara persahabatan yang terlalu berharga untuk dipertaruhkan dan perasaan yang tak pernah berani diungkapkan, Aluna mulai menyadari satu hal
mungkin selama ini, ada seseorang yang telah menjadikan dirinya segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Sahabat
"Nggak enak ya kalau hidup kita sudah diatur dari lahir." Tiba-tiba saja Aluna merasa iba pada sahabatnya itu.
Ia tahu hari itu akan datang. Sejak mereka masih kecil, perjodohan Rafa dengan anak dari salah satu kolega bisnis orang tuanya sudah diatur dengan begitu baik. Aluna hanya tidak menyangka akan secepat ini ia melihat Rafa harus mulai menjalankan apa yang sudah direncanakan oleh keluarganya.
"Mau gimana lagi? Aku ngerti kok yang kamu rasain. Bedanya, aku nggak dipaksa harus nikah sama pilihan orang tua aku, sedangkan kamu sampai jodoh pun diatur sama orang tua kamu."
Aluna hanya bisa merasa iba pada sahabatnya itu. Ia pun sama seperti Rafa, hidupnya tidak sepenuhnya bebas dan tidak memiliki banyak pilihan seperti teman-teman mereka yang lain.
"Kamu sendiri gimana kalau ada di posisi aku?" Tanya Rafa ingin mendengar pendapat Aluna.
"Nggak tahu juga sih. Tapi aku kan mungkin kenal sama orang yang mau dijodohin sama kamu. Dari lingkungan yang sama juga sama kita, kan? Kok kamu nggak mau?"
Aluna kembali mempertanyakan alasan Rafa menolak perjodohan itu. Ia juga mungkin mengenal calon tunangan Rafa karena sejak kecil mereka berada di lingkungan yang sama.
Walau tidak sering bertemu, Aluna mungkin sempat melihat gadis pilihan keluarga Rafa beberapa kali saat ia bermain di rumah Rafa sebelum sahabatnya itu pindah ke Singapura.
"Bagaimana kalau seandainya yang dijodohkan sama aku itu kamu, Al? Kamu mau terima gak?"
Aluna menatap Rafa dengan tatapan tidak suka. Walau hanya sebuah perumpamaan, ia tetap tidak suka ditanyai seperti itu.
"Apasih. Aku kan bilang nggak tahu. Lagipula, Papa nggak akan pernah paksa aku menikah karena bisnisnya."
Aluna mulai kesal karena Rafa terus memberinya pertanyaan yang menurutnya tidak masuk akal.
"Iya, iya, princess. Kamu kan tuan putri satu-satunya di keluarga kamu. Siapa sih yang bisa usik atau paksa kamu?" Kata Rafa sembari mengacak pelan rambut Aluna dengan satu tangannya, sementara tangan lainnya tetap sibuk menyetir.
"Apasih Rafa, rambutnya berantakan!" Seru Aluna sembari menepis tangan Rafa dengan kesal.
Rafa menatap Aluna sejenak dengan senyuman lega. Perlahan, kecanggungan yang sempat mengganggu hubungan mereka mulai menghilang.
"Kamu princess satu-satunya di keluarga kamu, aku juga pangeran satu-satunya di keluarga aku. Tapi kenapa ya hidup kita beda sekali? Jodoh pun diatur sama orang tua."
Rafa tidak hentinya mengeluhkan posisinya saat ini kepada Aluna.
"Karena kamu calon raja, Rafa. Raja kan harus disandingkan sama calon ratu supaya kerajaan tetap berjalan sebagaimana mestinya." Ucap Aluna dengan kata-kata yang terdengar cukup realistis.
"Kamu nggak mau jadi ratunya? Kan kamu juga princess." Tanya Rafa yang kembali mengundang kekesalan di hati Aluna.
"Stop ya, Rafa. Jangan buat hubungan kita jadi canggung lagi seperti seminggu ini deh." Seru Aluna dengan tatapan kesalnya.
Namun, hal itu justru membuat Rafa gemas sendiri melihat reaksi sahabatnya itu.
"Iya, iya. Tapi Aluna, aku benar-benar minta maaf ya." Kata Rafa tidak ingin membuat Aluna semakin kesal. Ia meminta maaf sekali lagi dengan tulus atas apa yang telah terjadi di antara mereka.
"Iya, aku ngerti kok." Jawab Aluna berusaha mengerti situasi sahabatnya itu.
"Kita baikan, ya? Jangan canggung lagi."
Rafa mendekatkan jari kelingkingnya ke arah Aluna.
Dengan cepat, Aluna mengaitkan jari kelingkingnya dengan milik Rafa sebagai tanda bahwa mereka sudah berbaikan.
Perlahan, hubungan keduanya kembali seperti semula.
***
Setelah cukup lama di perjalanan, akhirnya mereka sampai di restoran milik Juna.
Rafa memarkir mobilnya di area parkir, lalu dengan cepat turun dan mengitari mobilnya untuk membukakan pintu bagi Aluna.
"Aku bisa sendiri, Rafa." Protes Aluna yang merasa sikap Rafa begitu berlebihan.
"Sebagai permintaan maaf aku." Kata Rafa dengan senyuman manis yang membuat Aluna memutar bola matanya malas.
"Sudah, nggak usah dibahas lagi." Ucap Aluna tidak ingin kembali membahas masalah itu.
"Iya, iya. Ayo cepat, anak-anak mungkin sudah tunggu kita di dalam." Jawab Rafa kemudian mengajak Aluna masuk.
Keduanya berjalan bersamaan memasuki restoran milik Juna yang terbilang cukup mewah dan memiliki kesan begitu fancy.
Begitu keduanya tiba di meja VIP yang sudah ditempati oleh sahabat-sahabat mereka, Aluna dan Rafa langsung disambut dengan sorakan riuh.
"Heboh banget sih, seperti menyambut Presiden saja." Kata Aluna yang merasa malu karena menjadi pusat perhatian.
"Apa kabar, bro?" Tanya Juna dan Gema yang bergantian menyalami Rafa dengan gaya khas tongkrongan mereka.
"Baik. Sorry ya, baru bisa gabung sekarang." Jawab Rafa sembari menyalami mereka kembali dan meminta maaf karena baru bisa bergabung sejak pesta minggu lalu.
Sama seperti Aluna, Rafa juga tidak pernah muncul dan memberi kabar kepada mereka sejak kejadian di pesta terakhir.
"Santai, bro. Kita ngerti kok." Ucap Gema sembari menepuk pelan pundak Rafa.
Akhirnya, mereka bertujuh kembali berkumpul dengan lengkap setelah lima tahun berpisah dengan Rafa.
Rasa senang dan haru menyelimuti mereka. Persahabatan yang telah mereka jalin selama bertahun-tahun seakan tetap sama seperti dulu. Tidak ada yang berubah.
Di tengah obrolan dan candaan ringan yang mengundang tawa, mereka mulai menikmati hidangan di atas meja.
"Makan sayurannya, Al. Banyak nih." Kata Rafa sembari memindahkan sayuran dari piringnya ke piring Aluna.
"Makan sendiri aja, Rafa. Ini juga masih banyak." Gerutu Aluna dengan kesal.
Pemandangan yang sudah lama tidak mereka lihat itu membuat sahabat-sahabat mereka tersenyum.
Dua manusia di hadapan mereka itu memang selalu memiliki alasan untuk berdebat, bahkan saat sedang makan sekalipun.
"Kalian nggak berubah, ya. Makan pun masih berdebat." Ucap Gema sembari menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
"Gimana Aluna nggak kesal coba? Pertama kali dalam lima tahun, piringnya dipenuhi sayuran. Terakhir sebelum Rafa pergi, Aluna hampir jadi vegetarian kalau makan sama Rafa." Kata Dinda membuat Lila tertawa kecil.
Ia mengangguk setuju karena masih mengingat masa lalu mereka yang sampai sekarang pun tetap terasa lucu.
"Kalian berdua tuh cocok, tahu nggak sih? Kenapa nggak coba jalani saja dulu?" Kata Juna memberi saran, sekadar ingin menggoda Aluna.
Aluna hampir tersedak makanannya berkat saran asbun dari Juna.
"Minum, Al." Dea dengan cepat memberikan segelas air kepada Aluna.
"Stop ya, jangan bikin gue emosi." Ucap Aluna dengan tatapan tajam ke arah Juna.
"Mau dicoba nggak, Al?" Tanya Rafa yang juga tidak tahan ingin menggoda Aluna.
"Rafa, aku nggak suka ya." Cebik Aluna sembari menunjuk Rafa dengan tegas.
Tatapan Aluna membuat nyali Rafa langsung ciut seketika.
"Ditolak, guys."
Semua orang di meja itu tertawa geli melihat Rafa yang berpura-pura menunjukkan rasa kecewa karena ditolak oleh Aluna.
"Dasar menyebalkan." Ucap Aluna sembari memberikan tatapan sinis ke arah Rafa.
Rafa hanya tertawa kecil melihat Aluna yang kembali kesal karena ulahnya.
Untuk sesaat, ia merasa lega.
Setidaknya malam ini, Aluna sudah kembali menjadi Aluna yang dikenalnya.
Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup baginya.