Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bernilai Lebih Tinggi
Ketika jemari kakinya yang gemetar akhirnya menyentuh lantai semen teras rumahnya, Hana buru-buru merogoh saku jas dan mengeluarkan kepingan kunci besi yang berkarat. Dengan tangan bergetar hebat, ia memasukkan kunci ke lubang selot.
KLIK.
Pintu kayu lapuk itu terbuka, menyambutnya dengan aroma debu, kelembapan, dan bau kertas tua yang terabaikan.
Ini adalah rumah peninggalan almarhum ayahnya yaitu sebuah bangunan tua beratap seng yang kini dipenuhi tumpukan surat tagihan dan stempel sita di beberapa sudut dindingnya. Rumah yang dulu hangat oleh tawa dan aroma masakan ibunya, kini terasa dingin tak ubahnya seperti kuburan.
Hana menutup pintu rapat-rapat, menguncinya dari dalam, lalu menyandarkan punggungnya ke daun kayu yang berderik. Tubuhnya perlahan meluncur turun hingga ia terduduk di atas lantai semen yang berdebu.
Segalanya hening. Hanya ada suara detak jam dinding tua yang nyaris habis baterainya dan deru napasnya sendiri yang kian tersengal.
"Ibu... Ayah..." bisik Hana lirih. Suaranya pecah di dalam ruangan yang sunyi itu.
Kedua tangannya yang mungil perlahan naik menutupi wajahnya. Tangisan yang sejak tadi ia tahan di sepanjang jalan akhirnya pecah menjadi isakan yang menyayat hati. Bahunya bertumpu kencang, memeluk kedua lututnya yang ditarik rapat ke dada.
"Kenapa harus Hana, Bu? Kenapa harus Hana...?" ratapnya di antara celak isak tangis.
Ingatan akan peristiwa tragis tiga tahun lalu mendadak berkelebat menghantam benaknya bagaikan gelombang badai. Ia teringat bagaimana telepon selulernya berdering di tengah malam saat ia sedang belajar untuk ujian hukum perdata.
Suara petugas kepolisian di ujung telepon memberi tahu bahwa mobil tua ayahnya dihantam truk tronton di jalan tol.
Dalam hitungan detik, dunia bahagianya runtuh. Ibu dan ayahnya tewas di tempat, meninggalkan Hana seorang diri di dunia yang keras ini.
Bukan hanya duka yang diwariskan, melainkan juga tumpukan kertas utang beranak-pinak dari rentenir kotor yang saban minggu datang menggedor pintu rumah ini, menendang pagar, dan mengancam akan menjual Hana jika utang ayahnya tak dilunasi.
"Hana sudah turuti semuanya, Yah..." bisik Hana sambil menatap foto usang kedua orang tuanya yang terpajang di dinding berjamur.
"Hana berhenti kuliah... Hana kubur cita-cita Hana jadi sarjana hukum... Hana tidak malu jadi tukang bersih-bersih, asalkan Hana bisa bayar utang Ayah dan jaga kehormatan Hana..." ucapnya tertahan.
Airmata meleleh membasahi pipinya yang lebam. Hana meraba dadanya yang terasa sangat sesak, seolah-olah ada batu besar yang menindih paru-parunya.
"Tapi kenapa semalam..." Hana memejamkan mata rapat-rapat, namun bayangan malam kelam itu justru makin jelas meretas pikirannya.
Cengkeraman tangan Alvaro yang bagaikan cengkeraman besi, tatapan mata pria itu yang liar teracuni obat, rasa sakit yang merobek tubuhnya, serta permohonan ampuh yang diabaikan begitu saja di atas sofa kulit lantai empat puluh delapan.
"Kenapa kesucian Hana harus direnggut seperti ini?" jeritnya pelan, tertahan oleh telapak tangannya sendiri agar tetangga sebelah tak mendengar.
"Kenapa orang kaya seperti Pak Alvaro bisa dengan mudah menghancurkan hidup Hana dalam semalam?" jeritnya lagi.
Hana mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa pahit merayapi tenggorokannya ketika mengingat ucapan pria itu beberapa jam yang lalu.
"Aku akan bertanggung jawab penuh... Aku akan menikahimu."
Sebuah senyum penuh duka terukir di bibirnya yang pecah dan kering.
"Menikah?" Hana tertawa kecil di antara tangisnya yaitu sebuah tawa samar yang dipenuhi keputusasaan murni.
"Gampang sekali Bapak bicara... Seperti membalikkan telapak tangan."
Hana bangkit berdiri dengan susah payah, memegangi dinding semen untuk menopang kakinya yang masih lemas. Ia berjalan perlahan menuju kamar mandinya yang sempit.
Di depan cermin retak yang terpaku di dinding, Hana membuka jas hitam milik Alvaro dan melemparnya ke lantai dengan perasaan campur aduk antara benci dan cemas.
Ia menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajahnya pucat pasi, matanya sembap dan memerah, bibirnya terluka, dan di leher serta tulang selangkanya membayang bekas-bekas lebam merah kebiruan yaitu jejak kekerasan dari pria berkuasa yang tak tersentuh itu. Seragam abu-abunya yang robek menganga seolah menjadi bukti betapa rendahnya harga dirinya di mata dunia.
"Kau cuma office girl, Hana..." bisik gadis itu pada bayangannya di cermin. Suaranya terdengar pasrah namun tegas.
"Sejak awal kau memang bukan siapa-siapa. Bagi orang seperti Pak Alvaro, kau cuma serangga yang tak sengaja terinjak saat dia sedang panik." tuturnya kepada dirinya sendiri.
Hana menyalakan kran air pancuran. Air dingin menyembur keluar, menghantam tubuhnya yang telanjang dan terluka.
Hana memejamkan mata, membiarkan air dingin itu membasahi rambut dan mengalir di sepanjang luka-lukanya. Ia mengambil sabun batangan murah dan menggosok kulitnya keras-keras lalu menggosok lehernya, lengannya, dan dadanya berulang kali hingga kulitnya memerah dan terasa perih.
Ia ingin menghapus aroma minyak kayu cendana itu. Ia ingin menghapus sentuhan kasar Alvaro yang seolah tertanam abadi di dalam pori-pori kulitnya.
"Hilang... tolong hilang..." racau Hana sambil terus menggosok tangannya hingga perih menyengat. Namun sedalam apa pun ia membasuh tubuhnya, rasa kotor dan hampa di dalam dadanya tak kunjung sirna.
Setelah selesai membersihkan diri, Hana membungkus tubuhnya dengan kain sarung tua milik almarhum ayahnya dan duduk di tepi tempat tidur kayu yang berderit. Tubuhnya gemetar oleh rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang.
Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada jas hitam Alvaro yang tergeletak di lantai dekat pintu kamar mandi. Kain wol halus itu tampak begitu megah dan asing di dalam rumah sempit ini. Hana melangkah mendekat, lalu berlutut di samping jas tersebut.
Saat ia memindahkan jas itu untuk disingkirkan, sebuah benda keras dan tebal jatuh dari saku dalam jas tersebut.
BUG
Hana mengerutkan keningnya. Ia memungut benda itu. Sebuah dompet kulit hitam berlogo Adhitama Group yang elegan.
Di dalamnya, terselip tumpukan lembaran uang kertas seratus ribuan yang tebal, puluhan kartu kredit berlogo platinum, dan sebuah kartu nama hitam bersepuh emas,
ALVARO ADHITAMA - CHIEF EXECUTIVE OFFICER.
Hana menatap kartu nama itu lama. Nama yang tadi malam menjadi sumber mimpi buruk terhebat dalam hidupnya.
"Bahkan jas dan dompetmu saja sudah bernilai lebih tinggi dari seluruh rumah dan hidupku, Pak Alvaro." gumam Hana pelan.
Hana memejamkan mata, menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut. Rasa hangat terpancar dari matanya yang lembut, menggantikan kepanikan awal dengan ketabahan yang luar biasa.
Ia tahu, berlarut-larut dalam ratapan tidak akan mengubah apa pun. Utang ayahnya masih ada, perutnya masih harus diisi, dan hidup seberapa pun berengseknya harus tetap berjalan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....