Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menuju Wilayah Utara
Esmera benar-benar dibuat geram oleh kelakuan Edris yang semena-mena. Pagi-pagi sekali, sebelum matahari benar-benar tinggi, dia sudah dipaksa berkemas.
Esmera bahkan belum sempat memahami apa yang sedang terjadi ketika beberapa pelayan masuk mengemasi pakaian dan barang-barangnya.
"Apa yang kalian lakukan di rumahku? Untuk apa semua ini?" tanya Esmera dengan wajah mengantuk.
"Yang Mulia memerintahkan Anda bersiap."
"Bersiap? Untuk apa?"
"Untuk perjalanan bersama Yang mulia."
Esmera diam sejenak, berusaha mencerna, hingga akhirnya dia mulai memahami keadaan."Perjalanan ke mana?"
"Utara." Jawaban singkat itu langsung membuat Esmera mengerutkan kening.
Beberapa saat kemudian, Edris sendiri muncul dan menjelaskan bahwa ada masalah yang terjadi di wilayah Utara. Ia membutuhkan Esmera untuk membantu menangani masalah tersebut.
Tentu saja Esmera langsung menolak. Namun penolakannya sama sekali tidak dianggap."Aku tidak mau pergi."
"Kau akan pergi."
"Aku belum selesai dengan kebunku."
"Bungamu bisa menunggu."
"Aku juga sedang ingin beristirahat."
"Setelah urusan di Utara selesai."
"Aku tidak mau!"
Edris hanya menatapnya."Esmera."
Satu panggilan itu sudah cukup membuat Esmera tahu bahwa perdebatan mereka tidak akan menghasilkan apa-apa. Pria itu benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk melarikan diri dari urusan kerajaan.
Tidak lama kemudian, Esmera sudah diboyong menuju kereta kuda milik Edris Ruan.
Ia berdiri di samping kereta dengan wajah masam, memandangi pintunya seolah benda itu adalah sumber segala kesialan dalam hidupnya.
"Ini penculikan," gumamnya.
Edris yang sudah lebih dahulu berada di dalam kereta menoleh."Ini perjalanan."
"Perjalanan yang tidak kuinginkan." Esmera mendengus kesal.
Dengan berat hati ia akhirnya naik ke dalam kereta. Begitu duduk, ia menyandarkan tubuhnya ke sudut kursi dan melipat kedua tangannya di dada.
"Anda memang pria yang tidak bisa dipegang janjinya, baik sekarang ataupun di masa depan. Anda selalu saja berbohong, bertindak semaunya sendiri tanpa memikirkan orang lain," ketus Esmera. Tatapannya bahkan tidak kalah tajam dari sebilah pisau yang baru diasah.
Edris yang duduk berhadapan dengannya sama sekali tidak terlihat terganggu. Wajahnya tetap santai, seolah semua omelan Esmera hanyalah suara angin yang lewat begitu saja.
"Kau akan dianggap sebagai orang yang berjasa karena telah membantu Raja, Esmera. Jadi jangan terus mengomel seperti itu," jawab Edris tenang.
Esmera langsung mendengus."Jangan mengalihkan pembicaraan."
"Aku tidak mengalihkan apa pun."
"Anda jelas-jelas mengalihkan pembicaraan."
Edris hanya mengangkat sebelah alisnya. Kemudian, dengan nada yang sama santainya, ia berkata,"Lagipula kau sudah berjanji akan membantu setiap kali ada masalah yang menimpa Kerajaan bukan?"
Esmera menatapnya tidak percaya."Jadi aku harus terus menepati janji sementara Yang Mulia dengan entengnya terus mengingkarinya? Keadilan macam apa itu?"
Sudut bibir Edris terangkat membentuk seringai tipis."Janji mana yang kuingkari?"
Esmera membuka mulut, tetapi Edris lebih dulu melanjutkan.
"Kau meminta rumah yang sebesar kandang kuda, aku berikan."
"Jangan samakan rumahku dengan kandang kuda."
"Menurutku itu sama."
"Yang Mulia sangat tidak sopan."
Edris mengabaikan protes tersebut."Kau meminta agar tidak ada ksatria kerajaan di sekelilingmu, aku kabulkan."
Esmera terdiam sesaat.
"Kau juga meminta untuk menjadi petani bunga daripada menjadi ratu. Aku juga sudah mengabulkannya."
Esmera semakin sulit membantah.
Edris menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu menatap Esmera seolah sedang menjelaskan sesuatu yang sangat sederhana."Aku hanya menagih janjimu yang mengatakan bahwa kau akan selalu membantu setiap kali ada masalah yang menimpa kerajaan. Itu saja."
Esmera melongo.
Memang benar.
Sebagian besar permintaannya telah dipenuhi. Rumah kecil yang ia inginkan sudah diberikan. Edris juga tidak menempatkan banyak ksatria di sekitar rumahnya seperti sebelumnya. Bahkan keinginannya untuk hidup sederhana, dan berkebun, jauh dari kehidupan istana dan gelar ratu, juga telah disetujui.
Namun entah mengapa, semua itu tidak pernah terasa seperti kebebasan. Setiap kali ia mulai merasa kehidupannya akan tenang, selalu saja muncul masalah baru. Dan masalah itu hampir selalu berhubungan dengan pria di hadapannya.
Esmera menghela napas panjang."Setidaknya berikan aku beberapa hari untuk menikmati hidup."
Edris menatapnya.
"Masa setiap hari aku selalu diberikan tugas dan harus mengikuti Anda ke mana-mana? Itu sangat tidak adil."
"Kau terlalu melebih-lebihkan Esmera."
"Tidak!" Esmera menunjuk dirinya sendiri dengan kesal."Sejak kita bernegosiasi, hidupku tidak pernah benar-benar tenang. Aku bahkan belum sempat menanam bunga dengan baik. Baru saja aku mulai menikmati rumahku, tiba-tiba Yang Mulia datang membawa masalah."
"Kau bisa menanam bunga setelah masalahnya selesai."
"Itu yang selalu Anda katakan, aku sampai bosan mendengarnya."
Edris terdiam, dia malah teralihkan oleh wajah cantik Esmera. Wajahnya yang merah padam karena marah justru terlihat semakin mempesona.
Sementara Esmera semakin cemberut."Setelah ini selesai, pasti ada masalah lain lagi. Setelah masalah itu selesai, pasti muncul masalah berikutnya. Kalau terus seperti itu, kapan aku bisa benar-benar hidup dengan tenang?"
Edris masih menatapnya dengan lekat. Tidak ada rasa bersalah yang terlihat di wajahnya. Justru pria itu tampak sedang mempertimbangkan sesuatu."Nanti, Esmera."
"Nanti kapan?"
"Setelah urusan di Utara selesai, kau akan kuberikan waktu selama dua hari untuk menjadi petani bunga."
Esmera membeku."Dua hari?"
Edris mengangguk santai."Dua hari penuh."
Wajah Esmera langsung berubah masam.
"Kau meminta waktu. Aku memberikannya."
Esmera menatap Edris dengan tatapan seolah ingin melemparkan sesuatu ke kepalanya."Yang Mulia benar-benar menyebalkan."
"Aku sering mendengar itu."
Edris bahkan tidak tampak tersinggung.
Esmera akhirnya menyerah. Ia hanya mendengus kesal sambil melingkarkan kedua tangannya di depan dada. Bibirnya mengerucut, menunjukkan betapa tidak puasnya ia dengan tawaran tersebut.
Sementara itu, Edris tetap duduk dengan ekspresi datarnya.