"Musuh kalian bukanlah orang asing, tapi orang terdekat kalian sendiri"
Suara itu terdengar begitu jelas di telinga tiga pemuda yang berada di sebuah kampung penuh misteri.
Akankah mereka bisa menemukan siapa musuh terdekat mereka itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Datangnya bantuan
"Raja Hala" sapa Kalana berlutut dengan menunduk hormat
"Kamu dalam bahaya? Kenapa matamu?" tanya Hala dengan suara yang menggelegar bahkan ular ular Dahlia bersembunyi karena ketakutan.
"Saya terkena bisa ular Dahlia raja" jawab Kalana masih memejamkan matanya
"Terima ini, ini bisa kamu simpan untuk cadangan" ucap Hala memberikan kantung buah berry hitam penyembuh yang hanya tumbuh di rawa miliknya.
"Kalian berani masih berada di sini dan menantang ku!" bentak Hala membuat segerombolan ular ular Dahlia langsung lari dari tempat persembunyiannya.
"Pergilah, kalian pasti punya urusan penting" ucap Hala yang membantu memulihkan luka di tubuh Kalana
"Tapi bagaimana dengan Kalana?" tanya Karna
"Saya akan baik baik saja tuan, tuan tidak perlu khawatir" jawab Kalana
"Kamu punya tuan yang benar sekarang seperti tuanku Galuh Raharja, Kalana" ucap Hala
"Dulu dia sama dengan tuan anda paduka raja" jawabnya Kalana
"Hahaha.. Manusia bisa berubah, begitupun dengan kita, tergantung dari keinginan mereka" ungkap Hala.
"Paduka benar"
"Hei kalian" panggil sosok berpakaian putih pada Liam dan Hamka. Sejak tadi dia hanya sibuk memandang dua orang itu saja dan tidak peduli dengan luka Kalana ataupun ular ular milik Dahlia.
"Ada apa?" tanya Liam menghampiri mereka
"Kamu keturunan si tampan ya?" tanyanya
"Si tampan siapa?" tanya Liam
"Yang jantungnya mati tapi di ganti jantung baru, Angkasa Khalid Danendra" jawabnya
"Dan kamu mirip Om Haris, arwah hidup" jawabnya lagi membuat Liam dan Hamka terkejut
"Kamu kenal mereka?" tanya Liam
"Iya, Sahara teman mereka, Sahara juga yang bantu si tampan saat terjebak di tempat tak bertuan" jawab Sahara, nama sosok yang bersama Hala
"Dia Om saya" ucap Liam
"Om.., kenapa ada di sini?" tanya Sahara
"Kami penjaga pohon keramat" jawab Hamka
"Hala... Lihat wajahnya juga menyebalkan seperti Om Haris, tidak ada ekspresinya!" pekik Sahara
"Dia ayahku, masih hidup dan sekarang ada di jakarta" jawab Hamka
"Sudah jangan ganggu mereka, mereka punya urusan yang lebih penting" ucap Hala
"Ayo kita pergi, hampir tengah malam" ajak Karna dan mereka segera berlari untuk pulang.
"Hala sepertinya mereka dalam bahaya, Sahara ikut mereka ya"
"Jangan ganggu mereka, nanti suami kamu Gandra cemburu dan aku yang di salahkan" ucap Hala
"Tidak akan, Sahara hanya akan ikuti mereka supaya selamat sampai tujuan, si Hijau ini juga kan pasti lama penyembuhannya, lukanya tidak main main, dia bertahan sekuat tenaga" jawab Sahara
"Baiklah, lindungi mereka dari jauh" balas Hala
"Hijau, kamu sudah jadi baik sekarang, jangan jadi jahat lagi" pesan Sahara
"Iya" jawab Kalana
Sahara terbang menyusul Liam, Hamka dan Karna, dia juga menyingkirkan para makhluk yang mencoba mengganggu perjalanan pulang mereka dengan cara memperlihatkan wujud aslinya di belakang ketiga lelaki itu agar bisa di lihat para makhluk yang ada di sana.
"Istri Gandradana, penguasa kerajaan taman Gandradana" ucap para pasukan Dahlia ketakutan dan langsung sembunyi.
"Hihihihi... Menjauh dari jalan anak anakku ini!" teriak Sahara dengan suaranya yang melengking di gelap dan sunyinya hutan Mahoni
Satu jam kemudian
"Itu gerbang kampung mahoni" ucap Karna
"Tunggu, banyak sosok pocong berjaga, dan lihat itu, ada gumpalan angin yang terus berputar dari arah sungai" ucap Liam
"Pergilah, Sahara akan mengurus mereka" ucap Sahara berdiri di depan mereka
"Tapi jumlah mereka banyak" ucap Hamka
"Tenang, Sahara bisa urus mereka, sampai bersih" jawabnya menyibakkan rambutnya dan memperlihatkan senyum manisnya di depan tiga laki laki yang terlihat Shok, karena wajah Sahara sangat mirip manusia hanya penampilannya saja yang seperti hantu kuntilanak dengan rambut panjang menjuntai ke tanah.
"Ikuti Sahara dari belakang, di mana rumahnya?" tanya Sahara
"Rumah paling ujung dengan pintu berwarna hitam karena rumah lain memiliki pintu berwarna coklat kayu" jawab Karna gugup
"Oke, Sahara tahu, rumah ujung dengan pintu hitam" jawab Sahara berjalan ke arah gerbang kampung mahoni dengan tenang dan di ikuti ketiga orang itu di belakang Sahara. Hamka bahkan sudah siap dengan pedang milik Panca.
"Tok. Tok. Tok. Assalamu'alaikum, Sahara datang" sapa Sagara di depan pintu masuk kampung mahoni
"Dia jin Islam" bisik Liam
"Ko nggak ada yang jawab?" tanya Sahara pada para sosok pocong yang malah berkerumun di depan mereka
"Wa'alaikumussalam" yang menjawab adalah Liam dan Hamka
"Wah tidak menghormati tamu" kesal Sahara segera maju dan membuat tiga lelaki di sana melotot dengan wajah yang sudah pucat. Pasalnya Sahara tiba tiba saya mencengkeram leher para pocong itu dan memakannya satu persatu tanpa ada perlawanan.
"Astagfirullah, dia jin kanibal kah" gumam Liam dengan tangan gemetar
"Kak" panggil Hamka karena Karna terlihat Shok
"Ayo kita ke rumah bapak, mungkin jin bernama Sahara itu akan menghabiskan semua pocong di sini" bisik Liam
"Tante Sahara, kami ke rumah bapak duluan ya, ini sudah mau tengah malam" ucap Liam sopan saat Sahara sedang mengunyah sepotong tangan.
"Iya, Sahara nanti nyusul kalau sudah kenyang" jawab Sahara mengangguk.
ketiganya segera berlari ke arah rumah Karman, Karna bahkan harus di tuntun karena kakinya terasa lemas melihat apa yang terjadi di depan matanya barusan. Sampai di depan rumah Karman, Dahlia sudah bersila di sana sambil membaca mantra pengikat sukma agar raga Karman bersatu dengan sosok pocong hitam yang sebentar lagi akan jadi pemilik raga Karman.
Srak. Srak.
"Kalian!" Bentak Dahlia terkejut karena Hamka menebas ekor Dahlia untuk mengganggu konsentrasinya, sementara Karna dan Liam langsung masuk kedalam rumah Karman untuk segera menolong Karman.
"Kalian tidak akan berhasil, pocong itu sudah menguasai hampir sepenuhnya diri Kasman!" Sinis Dahlia
"Tak ada yang tidak mungkin Dahlia, terutama bagi dzat yang Maha Kuasa!" Jawab Hamka
"Tampan, bergabunglah denganku, kamu akan mendapatkan semua yang kamu inginkan di dunia ini" bujuk Dahlia
"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu, karena aku sudah memiliki semuanya" jawab Hamka datar
"Dasar pemuda bodoh! Kalau kamu bergabung denganku, kamu akan jadi makluk paling kuat di muka bumi ini!" Bentak Dahlia
"Percuma kuat kalau bangsamu saja hanya mengandalkan tumbal dari kami kaum manusia, kalian hanya bisa menghasut dan menyesatkan, tapi tetap saja kalian akan kalah di hadapan Tuhan" sinis Hamka