Larasati membuka mata dan mendapati dirinya terjebak di dalam sebuah novel — menjadi "istri pertama yang jahat", hamil enam bulan, tepat di detik sang suami, perwira dingin Arya Reksonegoro, mengucap satu kata: cerai.
Ia tahu jalan ceritanya. Di novel itu, tokoh seperti dirinya menggugurkan kandungan, bercerai, lalu menghilang — dan dua tahun kemudian keluarga Reksonegoro direhabilitasi, hidup bahagia bersama "tokoh utama wanita" yang terlahir kembali.
Tapi Laras menolak mengikuti naskah.
Saat keluarga suaminya difitnah, jatuh miskin, dan terusir dari Jakarta ke sebuah desa terpencil di Jawa Tengah, ia justru memeluk erat suaminya, menolak cerai, menolak menyerah. Dengan satu rahasia yang tak dimiliki siapa pun — ia tahu masa depan — Laras perlahan menghangatkan hati sang perwira yang dingin, memenangkan seluruh keluarga besar yang tadinya membencinya, dan satu per satu mementahkan rencana si "tokoh utama" yang terlahir kembali.
Yang tak ia duga: perempuan yang selama ini dianggap anak buangan ini... ternyata menyimpan rahasia asal-usul yang mengguncang seluruh negeri. Ibunya seorang pahlawan yang gugur. Ayah kandungnya — seorang jenderal legendaris yang selama puluhan tahun mencarinya.
Dari menantu yang dihina menjadi permata yang diperebutkan seluruh keluarga; dari istri buangan menjadi putri sang jenderal. Sekali ini, Laras akan menulis ulang takdirnya sendiri.
"Kalau kamu pikir aku akan menyingkir sesuai naskah… kamu salah besar, Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31
Yang Terdengar di Balik Dinding
Melati datang membawa semangkuk jambu, tetapi tidak pernah mengetuk pintu depan.
Ia menyusuri sisi rumah kontrakan, lalu berhenti di balik pagar bambu dekat dapur. Dari celah bilah, ia dapat mendengar suara Laras dan Arya di halaman belakang.
“Besok sore hujan,” kata Laras.
Arya menengadah ke langit yang masih cerah. “Prakiraan dari radio?”
“Awan dari lereng. Dan biasanya hujan pertama setelah panen membuat jalan dekat saluran irigasi licin.”
“Kamu tidak lewat sana.”
“Aku tahu.”
Melati menggenggam mangkuk lebih erat. Dalam hidup yang ia ingat, hujan memang turun besok menjelang magrib. Pagar saluran irigasi akan rusak dan warga baru memperbaikinya lusa.
Bagaimana Laras bisa tahu?
Di halaman, Rukmini sedang menjemur kain bayi. Laras meminta beliau mengangkat jemuran sebelum pukul tiga dan menyimpan rantang karena tikus dari sawah akan mulai mencari makanan ke rumah-rumah.
“Malam ini juga?” tanya Rukmini.
“Mungkin dua malam lagi. Setelah panen, sumber makan mereka berpindah.”
Melati ingat serangan tikus kecil yang membuat Bu Marni kehilangan satu karung gabah. Peristiwa itu seharusnya belum dibicarakan siapa pun.
Suara Ningsih terdengar dari pintu belakang. “Laras, kain untuk pesanan Bu Rina sudah datang.”
“Taruh di rak atas. Jangan di lantai.”
“Karena tikus?”
“Karena lembap juga.”
Ningsih tertawa. “Kamu seperti tahu semua yang akan terjadi.”
Untuk sesaat tidak ada jawaban.
Melati mendekatkan telinga ke pagar.
“Kalau aku tahu semuanya, aku tidak akan pernah salah,” kata Laras akhirnya. “Aku hanya belajar memperhatikan tanda.”
Arya menambahkan, “Dan membuat daftar untuk setiap kemungkinan.”
Mereka tertawa pelan.
Melati tidak percaya penjelasan itu. Laras terlalu sering tiba satu langkah sebelum kejadian. Ia mencegah perceraian, ikut ke desa, mengambil piagam ibunya, mengenali jalur celeng, mengubah nasib Darto, dan kini mendaftar pekerjaan yang seharusnya menjadi milik Melati.
Ia masih ingat pertemuan pertama mereka di depan rumah. Tatapan Laras saat itu bukan tatapan orang asing. Seolah perempuan tersebut telah mengenalnya, menilai setiap niat, lalu memutuskan bagaimana menghalangi langkah berikutnya.
Melati pernah mencoba meyakinkan diri bahwa ia hanya cemburu. Namun kecemburuan tidak menjelaskan daftar peristiwa yang berubah. Tidak menjelaskan mengapa Arya, yang dalam hidup lama begitu terluka oleh istrinya, kini menatap Laras seperti pusat seluruh rumah.
Kesempatan kedua seharusnya menjadi hadiah untuk memperbaiki hidup Melati. Kalau Laras juga menerima pengetahuan serupa, mengapa perempuan itu menggunakannya untuk mengambil semua hal yang telah dipilih Melati?
Ia tidak pernah mempertanyakan apakah Arya ingin dipilih olehnya. Dalam pikirannya, penyesalan hidup lama sudah cukup menjadi hak.
Itu bukan perhatian. Itu perampasan.
Di dalam pikirannya, setiap pilihan Laras tidak lagi terlihat sebagai upaya menyelamatkan keluarga sendiri. Semuanya menjadi serangan yang sengaja diarahkan untuk menghapus hidup Melati.
“Tesnya Senin,” kata Arya. “Sampai saat itu kamu tidak pergi sendiri.”
“Mas masih memikirkan kejadian perburuan?”
“Saya memikirkan Melati.”
Napas Melati tertahan.
“Dia terlalu sering muncul saat ada sesuatu yang kamu kerjakan,” lanjut Arya. “Dan pertanyaannya bukan lagi sekadar ingin tahu.”
“Aku juga waspada.”
“Waspada berarti memanggil saya atau Ningsih kalau perlu keluar.”
“Baik.”
“Laras.”
“Aku sungguh berjanji.”
Melati mundur setapak. Mereka bukan hanya mengambil jalannya. Mereka juga mencurigainya.
Sebuah ranting patah di bawah sandalnya.
Percakapan di halaman berhenti.
“Siapa di luar?” panggil Arya.
Melati berbalik dan berjalan cepat menyusuri pagar. Ia tidak berlari sampai mencapai tikungan, lalu menyelipkan mangkuk jambu ke teras rumah kosong agar tak ada yang melihat alasan kunjungannya.
Arya membuka pintu samping beberapa detik kemudian. Jalan sudah sepi. Ia menemukan bekas sandal di tanah lembap dan satu helai pita biru tersangkut pada bambu.
Laras mengenali warna itu. Melati memakai pita serupa saat mendaftar di sekolah.
Ningsih keluar membawa penggaris kayu. Begitu mendengar suara di pagar, ia berlari memeriksa tikungan, tetapi tidak menemukan siapa pun.
“Aku akan pulang setelah Arya selesai mengantar kain,” katanya. “Kamu jangan sendirian.”
“Aku masih punya Ibu dan Sekar.”
“Maksudku jangan keluar pagar tanpa salah satu dari kami.”
Rukmini setuju. Beliau bahkan memindahkan bak cuci ke bagian halaman yang terlihat dari dapur dan meminta penjual apa pun memanggil dari pintu depan.
Laras merasa aturan itu berlebihan, tetapi ingatan tentang air membuat tengkuknya dingin. Ia pernah mengubah banyak peristiwa besar, tetapi tidak berarti setiap bahaya hilang. Musuh yang kehilangan masa depan justru dapat bertindak lebih nekat.
“Mungkin milik siapa saja,” katanya, meski perutnya menegang oleh firasat.
Arya memasukkan pita ke kantong kecil. “Mungkin. Tapi kita tetap simpan.”
Ia memeriksa pagar, menambah kait pada pintu samping, dan meminta Sekar tidak membuka pintu bila hanya mendengar suara tanpa melihat orangnya.
“Mas, jangan membuat Ibu panik.”
“Saya membuat aturan, bukan kepanikan.”
Laras menatap jalan di balik bambu. Dalam cerita lama, Melati pernah menciptakan kecelakaan di dekat air lalu muncul sebagai penolong. Detailnya kabur, tetapi akibatnya tidak.
Ia menyentuh perutnya. Bayi bergerak pelan.
“Mulai besok aku tidak pergi sendiri,” katanya.
Arya memegang bahunya. “Mulai sekarang.”
Di ujung desa, Melati berhenti di dekat saluran irigasi. Air mengalir dangkal namun deras setelah pintu dari sawah dibuka. Sisi tanahnya berlumut, dan hujan besok akan membuatnya semakin licin.
Ia berjalan sepanjang tepi saluran dan mencatat dua rumah yang menghadap jalur. Salah satunya kosong pada sore hari karena pemiliknya bekerja di pasar. Rumah lain tertutup rumpun bambu. Di belokan dekat pohon waru, orang dari jalan utama tidak dapat melihat tangan seseorang bila dua tubuh berdiri terlalu rapat.
Melati melempar daun ke air. Arus membawanya ke bagian yang lebih dalam di bawah jembatan kecil.
Ia tidak memerlukan kematian, katanya kepada diri sendiri. Sedikit ketakutan, beberapa hari istirahat, dan Laras kehilangan tes. Jika warga melihat Melati menolong, kecurigaan keluarga Reksonegoro juga akan tampak seperti fitnah kepada perempuan baik.
Setiap alasan membuat rencana itu terdengar lebih bersih. Tak satu pun mengubah kenyataan bahwa ia sedang memilih tempat untuk mendorong perempuan hamil.
Ia membayangkan Laras terpeleset. Tidak perlu ada orang yang melihat tangan mendorong. Melati cukup berteriak, turun menolong, lalu menjadi orang yang menyelamatkan ibu dan bayi.
Jika Laras hanya terluka, ia tidak dapat ikut tes.
Jika sesuatu yang lebih buruk terjadi, semua jalan akan kembali terbuka.
Pikiran itu membuat dada Melati berdebar, tetapi bukan karena menyesal. Ia mulai menghitung waktu ketika Arya membantu Pakde Karyo, Ningsih sibuk di mesin jahit, dan jalan dekat saluran sepi.
Besok, ia akan membawa sayur ke rumah Laras dan mengatakan Bu Endang menitipkan pesan tentang berkas ujian.
Sore itu, Laras menutup pintu samping dan mengira bahaya telah pergi bersama langkah di luar pagar.
Ia tidak tahu bahwa setiap peringatan yang didengar Melati justru sedang dipakai untuk memilih tempat jatuh yang paling meyakinkan.