Azmira, gadis kecil berusia sepuluh tahun, tumbuh dalam keterbatasan bersama ibunya.
Meski hidup serba kekurangan, Mira tidak pernah mau dikasihani. Ia memilih bekerja demi membantu ibunya, selalu ceria, dan berusaha menjadi anak yang kuat.
Namun, Mira tidak pernah tahu bahwa sejak kelahirannya, ada seseorang yang menganggap kehadirannya sebagai sebuah kesalahan.
Siapa yang tidak menginginkan Mira? Dan mengapa?
Nantikan kelanjutannya hanya di Manga Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Hina Sepatuku
Suara ayam berkokok sudah mulai terdengar. Di sini Rina memulai aktivitasnya di dapur sempit dengan bahan-bahan seadanya. Ia mulai mengiris sayur kol sisa belanjaan kemarin. Juga ada satu potong tempe yang sedikit busuk.
Ujian demi ujian sudah ia jalani selama sepuluh tahun ini. Rina tahu sebenarnya hal seperti ini tidak boleh terjadi, apalagi terhadap sang anak yang seharusnya bisa mendapatkan kehidupan layak.
Namun setelah kejadian itu, ia berjanji tidak akan pernah sudi mempertemukan sang anak dengan ayahnya. Apalagi ia tahu apa alasan Dika tidak mau menerima anak perempuannya sendiri.
Rina mulai memasak tempe juga sayur kol di atas dua tungku yang sama. Ia tahu keluar dari keluarga Wiratama adalah pilihannya sendiri. Namun bertahan di dalam keluarga yang tidak menginginkan anak perempuannya jauh lebih sakit dari luka apa pun.
“Mahardika Wiratama. Lihatlah anak yang tidak kau inginkan itu,” gumam Rina.
“Dia tangguh meskipun tangannya tidak pernah kau genggam. Dia jadi anak yang berjuang sendiri untuk kebahagiaannya. Sedangkan kamu masih bisa duduk manis di singgasanamu tanpa pernah sedikit pun berpikir bagaimana anak perempuanmu berjuang.”
Rina mulai menyiapkan sarapan untuk sang anak. Jam dinding sudah menunjukkan pukul lima pagi. Ia segera membangunkan Mira untuk salat Subuh.
Meskipun kehidupannya jauh dari kata layak, Rina tidak pernah menyerah, apalagi meminta kepada Tuhannya.
“Nak, ayo bangun. Waktu salat masih ada,” ujarnya lembut.
Mira mulai menggeliat. Anak itu membuka matanya perlahan. Ia melihat wajah sang ibu yang terlihat murung. Mira pun mulai memperhatikannya.
“Ibu lagi sedih?” tanya gadis kecil itu.
Rina segera menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Nak. Ibu enggak sedih kok,” sahut Rina.
Mira tidak bertanya lagi, tetapi ia tahu jika ibunya sedang berbohong.
“Jangan sedih ya, Bu. Nanti setelah pulang sekolah Mira akan kerja lagi untuk ganti dagangan Ibu yang kemarin rusak.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibir mungilnya. Mira mengira sang ibu sedang bersedih karena dagangannya kemarin.
“Enggak, Nak. Mira enggak boleh kerja. Kan Mira sudah goncengin teman Mira. Itu sudah termasuk bekerja dan Mira enggak boleh kerja lagi,” ujar sang Ibu.
“Kenapa, Bu? Kan Mira senang bekerja untuk bantu Ibu,” protes anak itu.
“Enggak usah. Ibu masih sanggup memberi nafkah Mira,” sahut Rina.
“Enggak mau, Bu,” tolak anak itu segera.
“Mulai sekarang Mira mau bekerja dan nabung. Kata teman-temanku jadi dokter itu biayanya mahal. Jadi mulai sekarang Mira harus nabung dan bantu Ibu jualan.”
Hati ibu mana yang tidak terenyuh melihat kegigihan sang anak? Mira dari dulu memang bercita-cita ingin menjadi dokter. Sebagai seorang ibu, Rina hanya bisa mendukung dan bekerja keras. Meskipun ujian tidak pernah luput dari kehidupannya, wanita paruh baya itu yakin jika suatu saat nanti semuanya akan berubah.
Rina mengusap kepala putrinya. “Kalau begitu, Mira harus tetap sekolah yang rajin.”
“Iya, Bu.”
“Jangan sampai pekerjaan membuat Mira lupa belajar.”
“Enggak akan.” Mira tersenyum lebar. “Karena Mira mau jadi dokter.”
Rina ikut tersenyum meskipun matanya terasa panas. “Iya. Ibu percaya.”
Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutnya sebagai manusia Rina hanya bisa berharap, meskipun di kehidupan mendatang ia tidak tahu jalan mana yang akan menuntun sang anak ke dalam pintu kesuksesan itu.
Selesai menjalankan shalat subuh. Tidak lama kemudian Mira selesai bersiap. Ia mengambil tas sekolahnya. Namun sebelum keluar, matanya tertuju pada sebuah kotak yang berada di sudut kamar. Kotak sepatu pemberian Shasa.
Mira segera mengambilnya. Ketika kotak itu dibuka, senyum gadis kecil itu langsung merekah. Sepasang sepatu bekas itu masih terlihat bagus. Ia membersihkannya sekali lagi menggunakan kain kecil sebelum akhirnya mengenakannya.
Mira berdiri di depan cermin kecil yang sudah kusam. Ia tersenyum puas, karena untuk hari ini ia tidak perlu khawatir kaus kakinya terlihat dari lubang sepatu.
“Bagus,” gumamnya.
Rina yang melihat dari belakang hanya tersenyum. “Sudah cocok?”
Mira mengangguk cepat. “Cocok banget Bu,"
Ia kemudian berputar kecil sambil berlenggak-lenggok memperlihatkan sepatu barunya.
“Lihat kan Bu, kaos kaki Mira gak terlihat lagi, dan Mira sangat bahagia," ujarnya terdengar begitu polos.
Sementara Rina menahan rasa sesak di dadanya, bahkan untuk sepatu bekas saja ia belum bisa memberikan pada anaknya.
“Kalau begitu berangkat ya, Ibu janji suatu saat akan memberikan yang baru," tutur Rina.
Mira hanya mengangguk pasrah. “Iya, Bu.”
Mira mencium tangan ibunya lalu keluar dengan wajah penuh kebahagiaan. Sepeda mini miliknya kembali mengantarkan gadis kecil itu menuju sekolah.
Sepanjang perjalanan, Mira beberapa kali melihat kedua kakinya sendiri. Senyumnya tidak pernah hilang. Namun kebahagiaan itu ternyata tidak berlangsung lama.
Begitu sampai di sekolah, Mira langsung memarkirkan sepedanya. Beberapa anak yang melihat sepatu baru di kakinya mulai memperhatikan.
“Eh, Mira punya sepatu baru.”
Mira tersenyum. “Iya.”
Seorang anak perempuan yang selama ini sering mengejeknya mendekat. “Sepatu baru?”
Mira mengangguk. “Iya.”
Anak itu melihat sepatu Mira dari atas sampai bawah. Kemudian tertawa. “Bukannya itu sepatu bekas?”
Mira terdiam, pandangannya tertunduk, ia pada kedua kakinya.
“Bekas siapa?”
“Entahlah. Tapi kelihatan banget bekasnya.”
Beberapa anak di sekitar mereka mulai tertawa. Mira yang menundukkan wajah sebentar. Namun tidak lama kemudian ia kembali mengangkat kepalanya.
“Iya, sepatu bekas.”
“Terus kenapa?”
Anak perempuan itu mengernyit. “Enggak malu?”
Mira menggeleng. “Kenapa harus malu?”
“Karena kamu pakai barang bekas orang lain.”
Mira tersenyum kecil. “Yang penting masih bagus dan bisa dipakai, lagian di kakiku nyaman kok, kenapa kalian yang repot."
Anak laki-laki yang berdiri di samping mereka ikut menyahut. “Dasar anak miskin.”
Tawa kembali terdengar. Kali ini senyum Mira menghilang. Ia menatap anak laki-laki itu dengan berani.
“Jangan hina orang hanya karena sepatunya.”
“Memangnya kenapa?”
“Karena kamu enggak tahu perjuangan orang lain, untuk mendapatkan sepatu ini!" seru Mira dengan nada tingginya.
Anak perempuan tadi mendengus. “Cie... sok bijak.”
Mira mencoba untuk pergi, tangannya mengepal, tapi ia tahu tidak ada untungnya membalas mereka yang memang selalu menghinanya. Namun anak perempuan itu justru menarik tasnya.
“Eh, jangan pergi!”
Mira berbalik. “Lepasin.”
“Kalau enggak?”
“Lepasin!”
Anak itu malah tertawa. Mira mencoba menarik tasnya kembali, tapi anak perempuan bernama Keysha itu tetap menariknya. Sampai akhirnya tangan anak perempuan itu menarik rambut Mira.
“Aw!”
Mira spontan berteriak. Ia tidak tinggal diam.
Tangannya langsung membalas menarik rambut anak perempuan itu.
“Aduh!”
Anak laki-laki yang sejak tadi menonton ikut mendorong bahu Mira.
“Jangan lawan dia!”
Mira kehilangan keseimbangan. Namun bukannya menangis, ia justru berdiri kembali.
“Jangan ikut campur!”
Anak laki-laki itu kembali mendorongnya. Mira akhirnya membalas. Keributan kecil itu semakin besar. Tarik-menarik rambut terjadi.
Anak perempuan itu menjambak rambut Mira sekuat tenaga, sementara Mira juga tidak mau kalah.
“Lepasin rambutku!”
“Rasain!”
“Jangan gangguin aku!”
Beberapa siswa mulai mengerumuni mereka.
“Eh, berantem!”
“Panggil guru!”
Di tengah keributan itu, suara bel masuk akhirnya terdengar. Namun ketiga anak itu masih belum berhenti. Sampai akhirnya terdengar suara tegas dari belakang mereka.
“BERHENTI!”
Seketika semua terdiam. Mira melepaskan rambut anak perempuan itu. Anak laki-laki tersebut juga mundur.
Semua mata langsung tertuju pada seorang guru yang berdiri beberapa langkah dari mereka. Wajah guru itu terlihat kecewa.
“Siapa yang memulai?”
Tidak ada yang menjawab. Mira hanya berdiri dengan rambut berantakan. Tangannya menggenggam tali tas. Sementara sepatu bekas pemberian Shasa masih melekat kuat di kedua kakinya, Mira menunduk senyum yang tadi begitu lebar perlahan menghilang dari wajah kecilnya, hanya karena dua orang teman yang tidak pernah menyukainya.
Bersambung ....
..kasih karma itu dengan segera....AQ gak akan puas lok blm lihat dia nyungsep Thor...apa lagi istri yg pernah jadi pelapor itu😡😡😡😡