Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hanum Hilang!
Lesung pipi menawan di wajah Hanum, Khimar cokelat dibalut gamis serias dengan khimar nya. Wajahnya teduh, seolah memberi sentuhan siapa pun ingin melihatnya. Dari lihat pantulan kaca spion senyum bahagia dihati Fatimah.
Mungkin bersama menantu membuatnya akan lebih baik daripada ia menghadapi tingkah laku Arkan. Semakin kesana, sifat Arkan merasa ada yang berbeda.
Taksi pribadi yang dipesan oleh Fatimah sudah menunggu di depan, keduanya keluar dari rumah. Sedangkan Hanum berdiam diri sambil berdoa.
Melihat Hanum berdoa rasanya sedih, bahagia. Benar menantu paling dibanggakan, merasa dirinya harus diajari oleh Hanum.
Fatimah bahkan tidak tahu apa yang di bacakan Hanum, apakah ia sangat jauh dari Sang Maha Pencipta. Sehingga ia terbiasa lupa segala kebaikan di mata Sang Maha Pencipta.
Beruntung sekali Fatimah bisa dipertemukan dengan Hanum. Terharu bisa bersama menantu paling baik, dan sabar.
Selesai berdoa, Hanum melihat Mertua menangis. Apakah Hanum berbuat kesalahan, sampai membuat dirinya serba salah.
"Ma, Maafkan Hanum. Jangan sedih, Ma," ucap Hanum sembari memeluk tubuh Fatimah. Bahkan Hanum berterimakasih kepada Mertua yang sudah baik dan menganggap sebagai anaknya.
"Sayang, Mama ga sedih. Tapi Mama ingin belajar banyak tentang kamu, boleh?" jawab Fatimah ia terus terang sangat bodoh dalam urusan agama.
"Boleh, Ma. Aku kan anak Mama."
keduanya saling tersenyum, bahkan supir taksi yang menunggu lama merasa iba. Bisa jadi, ia memiliki seorang menantu. Tapi tidak dengan kebahagiaan melainkan kesengsaraan.
Keduanya masuk ke dalam mobil taksi, Hanum mengusap air mata setiap keluar dari pipi Mertua.
Celetuk supir taksi mengira jika wanita tersebut sangat beruntung memiliki menantu baik.
"Pak, antarkan kami ke Toko Butik Jelita."
" Siap Bu, sepertinya Ibu dan anaknya sangat bahagia."
"Alhamdulillah, Pak. Hanum adalah menantu saya, Pak. Sekaligus sudah saya anggap Hanum anak saya, Pak."
Pak Supir taksi sangat prihatin, tapi senang. Bayangkan saja jika ia memiliki menantu, justru istrinya tidak suka dengan menantu perempuan.
Tanpa basa-basi, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan. Hanum baru sekali diajak keluar rumah bersama mertua .
Ada perasaan campur aduk, tapi Hanum bisa menemani Mertua belanja.
Fatimah memegang tangan Hanum, baru kali ini tangan Hanum halus, lembut.
Padahal Hanum dulunya penjual sayuran keliling, namun tangannya tetap lembut.
Tak mempermasalahkan hal tersebut, Fatimah tetap ingin ada Hanum. Walaupun anaknya durhaka, Fatimah akan membuat menantu senang.
"Ma, tadi aku baca doa sebelum berpergian. Agar selamat sampai tujuan. Terhalang dari bahaya yang mengintai, Ma."
"Maasyallah, Mama selama ini ga pernah berpikir sepenting itu, Num. Terimakasih udah mengingatkan Mama. Nanti kita belanja banyak, ambil saja untuk keperluan kamu, Num."
"Tapi, Ma."
"Benar apa yang di bilang oleh Bu Fatimah, nikmati saja di dunia, serahkan saja kepada Allah."
"Iya, Pak," keduanya menjawab serentak, seolah ketiganya memiliki pemikiran hebat.
Tak lama kemudian, mereka sampai. Turun dari mobil. Karena sudah di tugaskan untuk sampai pulang, Supir taksi diajak untuk membeli keperluan keluarganya.
Sangat baik hati Fatimah, tidak menyangka jika ia begitu perduli pada orang bawah. Bukan pamer, tapi perlahan-lahan Fatimah ingin menjadi orang yang lebih baik lagi.
Semenjak ada Hanum, sifat Fatimah berubah total. Dulu ia pemarah, tak perduli kini ia bisa menjamin bahwa hidup untuk bekal mati, bukan harta yang dibawa.
Pak Supir bernama Pak Mail, ia merasa sungkan untuk keluar. Sementara di dompetnya hanya ada uang 20rb. Itu pun untuk mengganjal makan tak cukup.
Mail merenung, sebenarnya ia malu. Keahlian hanya seorang supir, dan buru bangunan. Jika ada yang mengajak kerja, ia lepas dari supir taksi.
Ketika Fatimah udah jalan duluan, ia masih menunggu supir itu keluar. Nyatanya tak kunjung keluar. Apakah ia malu, padahal niat mereka baik.
Hanum mengetuk pintu kaca mobil, namun suara pelan Mail ragu. Tangannya bergetar hebat, sungkan untuk keluar karena orang rendahan.
Tok..
Tok..
"Pak, ayo Pak. Saya ikhlas, kami yang akan bayari keperluan, Bapak."
Mau tak mau, Mail keluar. Tangannya masih bergetar. Seolah ia takut.
"Tenang, Pak. Hanum tak mungkin menakuti, Bapak. Ayo Pak."
Mail berjalan terlebih dulu, sedangkan Hanum tak sengaja mendengar suara anak menjerit. Hatinya tak bisa, melihat anak atau orang dewasa kesakitan walau pun ia merasa susah di kemudian hari.
Hanum mengikuti anak menjerit kesakitan, berusaha meninggalkan mertua juga Pak supir.
"Lindungi lah anak itu, Yaa Allah!" ucap doa di dalam hati, tangannya tak lupa berzikir sambil ia mencari sumber arah.
Saat Mail melihat kebelakang, ia tak melihat ada sosok Hanum. Apakah wanita itu sedang bermain dengannya. Tapi, tak mungkin sekedar bercanda, hati wanita itu sangat ikhlas, supir itu pun terdengar jelas jika Hanum sangat ikhlas.
Mencari Fatimah sangat susah, Toko Butik Jelita begitu ramai pengunjung. Setiap dari pandangan mereka, seolah melihat kearah supir.
"Aduh bagaimana ini, saya harus cari Bu Hanum, bisa-bisa saya dimarahin oleh keluarga nya."
Fatimah sudah sampai didalam Butik Jelita, saat ingin menunjukkan baju bagus, Hanum sudah tidak ada di belakangnya.
Jantung Fatimah ingin copot, seakan Hanum di telan bumi. Wajah Fatimah sedih, ia bahkan balik lagi keluar untuk mencari menantu.
"Dimana Hanum, nampak anak saya," sembari mengeluarkan ponsel dari dalam tas.
"Maaf, Bu. Kami ga kenal, permisi, Bu."
"Maaf, Bu."
"Ada yang melihat Anak saya, Bu," ucap panik Fatimah terus bertanya pada orang disekitarnya.
"Kemana kamu, Num. Mama khawatir, Num."
Teringat jika Fatimah lupa jika ia berjalan terlebih dahulu daripada menantunya. Itulah pikiran yang diingat Fatimah.
Fatimah tengah diam, ia bahkan tak mendapatkan Hanum. Disekelilingnya juga tak kenal, kebetulan ada supir tengah cemas mencari keberadaan Hanum.
Fatimah menghampiri supir taksi mengira jika ia melihat Menantunya.
"Pak, apakah melihat Hanum."
"Maaf, Bu. Saya kurang tahu. Tadi saya jalan terlebih dahulu, namun saat melihat kebelakang Anak ibu sudah tidak ada."
Kepanikan luar biasa, Fatimah menangis sekuat tenaga agar dirinya bisa bertemu dengan Hanum. Hal mustahil, baginya terlalu terburu-buru karena ia merasa jika Hanum sangat menyukai berbelanja bersama Mertua.
Orang-orang memikirkan dimana Hanum, tak sadar Hanum sudah menemukan anak menjerit keras.
Ternyata anak laki-laki tersebut kejepit pintu diluar, banyaknya lautan manusia tak satupun membantu anak itu.
Pakaian anak laki-laki itu compang-camping, seperti terpisah keluarganya. Mengingat Hanum dulu, saat ia melihat ibunya terbaring di tempat tidur. Ibunya sakit karena lapar, sedangkan pakaian yang di kenakan Hanum sudah bolong bahkan tak layak pakai.
Orang penduduk mengira jika Hanum gembel, rasanya sakit dihina, dipermalukan didepan semua orang. Mereka hanya bisa menghina tapi tak pandai introspeksi diri, apakah mereka layak disebut sebagai manusia berakhlak baik kepada sesama manusia.
Tak ada waktu untuk memikirkan mereka, yang tak perduli melihat dari jauh jika anak tersebut dalam bahaya.
Dengan suara lantang mencekam, Hanum menolong anak lelaki tersebut dengan cara sendiri.
Sekuat tenaga Hanum berjuang untuk menyelamatkan anak tersebut, mereka mengira anak lelaki itu menangis biasa, padahal ia sudah menindih puluhan batu mengenai telapak sepatunya.
Para penduduk kota melihat jika ada sesuatu didalam sana, seorang gadis menyelamatkan hidup anak gembel. Bukan menyelamatkan mereka justru menertawakan terbahak-bahak.
Apakah Hanum akan diam saja, atau ia akan berkoar untuk menasehati mereka?
"