Istri Yang Diremehkan: Istri Sah CEO

Istri Yang Diremehkan: Istri Sah CEO

Mertua Peduli Terhadap Manantu

Sebaik sebaik seorang Istri yang melayani suami. Pasangan ini belum di karuniai seorang anak, bukan alasan mandul. Tetapi entah mengapa, Arkan sebagai seorang suami sulit di ajak kontrol ke dokter.

Tak jarang Hanum menerima cacian dari suami, tapi Hanum tak pernah mendapatkan perhatian dari suami setelah suami jarang pulang dari kantor.

Hati siapa tak khawatir, sering kali mendapati jika Mertua ku lebih menyayangi diriku. Entah mengapa, Mertua adalah garda terdepan dihatiku.

Sebuah perkenalan lewat medsos kala itu, Aku memang tak suka dengan dunia medsos. Bukan berarti Aku selalu aktif disana. Keseharian ku hanya menjual sayuran hasil dagangan ibu di kampung Melati.

Itulah Kampungku terkenal dengan nama Melati, setiap hari aku rindu dengan sikap Ibu yang selalu memanjakan aku. Sosok itulah menjadi penghambat jika Aku butuh waktu untuk memikirkan jika aku harus menikah dengan sosok anak pengusaha seperti Arkan Baskara.

Diujung cerita, aku tak memindai makna tersebut. Yang ku tahu, jika menikah memang harus satu atap. Tapi jawaban lelaki yang ku kenal dengan bangganya ia mengatakan jika ia ingin menikah kamu harus siap di madu?

Meskipun banyak pertanyaan dari Lelaki itu, ia tetap diam tak menceritakan ini semua pada ibunya. Hati siapa tak sakit, jika baru saja menikah sudah ingin di madu. Bahkan Hanum ingin dalam pernikahan harus saling percaya dan setia.

Nyata nya tidak sama sekali, dari perkataan suaminya ia bingung untuk menceritakan ini semua kepada siapa.

Bahkan jika ia pulang kampung dan bertemu dengan Ibunya, pasti yang dikatakan ibunya adalah, apakah pernikahan anaknya bahagia? Atau kebalikan nya.

Setiap luka dan batin ia rasakan selalu di pendam sendiri. Tak hanya itu, Hanum bahkan tak pernah menceritakan tentang suami kepada Mama Mertuanya takut jika kepikiran dengan watak asli dari Arkan.

Hanum duduk di ruangan kamar, seharian ia tak keluar. Hanya dua hari saja, ia sudah rindu dengan sosok Arkan.

Walaupun Arkan tak perhatian padanya, Hanum lebih memilih mengalah. Ia tahu betul, jika Arkan capek dengan pekerjaan di kantornya.

Termasuk lembur yang menyita banyak waktu, seharian diperas dengan tugas menumpuk.

Hanum juga jenuh didalam kamar sendiri, ingin keluar tapi ia tak melihat Mertuanya ada di rumah. Itulah pikiran Hanum merasa jika ia seolah sendirian. Justru Mertua bolak-balik memastikan, apakah Hanum sudah makan atau belum?

Saat Hanum keluar, ia melihat Mertua sudah menyiapkan sarapan pagi. Menu lengkap sat set telah tersaji di meja makan.

Walaupun mewah, lidah Hanum masih ingat makan jaman dulu.

Gorengan Tahu, Tempe, ikan asin adalah makanan terfavorit Hanum. Setiap subuh ia sudah mulai bangun, agar ibunya makan tepat waktu tak perlu memikirkan pekerjaan sebagai jualan sayur.

Hati Hanum sakit, saat Mertua melihat ada tangisan air mata keluar dari celah pipi menantunya.

.........

Fatimah Zahra, wanita tua usia 45 tahun. Walaupun sudah tua, ia masih memiliki rasa tanggung jawab untuk kedua putranya. Setelah di tinggal kepergian suami bekerja diluar kota bersama anak kedua mereka.

Wanita tua tersebut menghampiri Hanum, melihat menantu meneteskan air mata rasanya tak sanggup.

"Sayang, kamu kenapa? Jangan pikirkan Arkan, mungkin Arkan sibuk di kantornya. Sekarang kamu harus makan, agar tubuh kamu terisi, Num," Ucapnya sambil membelai kerudungku dan menghapus air mata. Rasanya perkataan Mertua seperti Ibuku di kampung.

"Ma! Maafkan Hanum, kalau kesiangan."

"Ga ada yang salah, Num! Kamu itu Menantu Mama, jadi jangan ada salah menghakimi. Punya menantu kayak kamu aja, Mama udah senang. Besok-besok kita gantian masak di dapur, Num, bagaimana?," Jawab Fatimah, keduanya tersenyum dan saling tertawa barengan seolah Hanum memang butuh penyemangat hidup.

Sikap sopan dan ramah membuat Hanum percaya bahwa ia tak sendirian, masih ada yang menyayangi dirinya. Walaupun bukan darah dagingnya, tetapi Mertua lebih menyayangi dari seorang anak.

Keduanya tampak hangat, Hanum dan Mertua makan bareng di pagi hari. Cuaca cerah mendadak mendung. Entah karena cuaca tidak bagus, tapi saat mereka makan bersama sebuah pot bunga didepan teras mendadak jatuh. Bunganya berserakan dimana-mana, sangking paniknya, Hanum segera pergi untuk menemui nya.

Santapan satu suapan pertama mendadak hilang. Terasa jika Hanum mendapatkan musibah. Apakah benar pertanda musibah, tapi yang jelas jika keluarga akan baik-baik saja.

Hanum mendekati Pot bunga Mawar, karena potnya kaca tergores sedikit ditangan Hanum. Bukan pertama kali, Hanum merasakan hal sekecil ini. Tapi firasat Hanum tak mengenakan.

Fatimah segera pergi dan menemui Hanum. Ia takut jika menantunya akan terjadi sesuatu.

Fatimah mengambil payung dan mantel baju untuk di pakai Hanum. Sangking sayangnya ia kepada anak perempuan.

"Yaa Allah Num, tangan kamu berdarah gini kenapa ga teriak panggil Mama. Udah biarkan aja Pot bunga itu, Sekarang kita masuk. Cuaca sebentar lagi akan hujan, Mama ga mau kamu sakit, Num."

Tanpa berpikiran lama, Hanum mengiyakan ajakan Mertua. Bukan Hanum bandal, tetapi ia tahu jika barang-barang berharga didalam rumah milik suaminya pasti berkisar puluhan juta . Bukan karena Hanum pelaku nya, tetapi bunga Mawar tersebut sudah waktunya jatuh atau tertiup angin.

Hanum duduk diruangan tamu, Fatimah mengambilkan kompres air dingin. Sayangnya banyak, karena Fatimah tahu, jika saat ini Hanum pasti kepikiran tentang Arkan yang dua hari juga tak pulang.

Heran sekali melihat tingkah Arkan, sebelum nikah Arkan tak pernah memiliki kebiasaan suka telat pulang. Fatimah terus menghubungi namun nomornya tak aktif.

"Hanum, sekarang kamu berbaring di kamar saja. Mama ingin kamu istirahat, biarkan Mama yang bereskan ruang depan. Mama tahu jika kamu pasti mikirin, Arkan."

"Ga perlu Ma, Hanum ingin disini saja. Terimakasih bantuannya, Ma. Biarkan Hanum yang bersihkan ruang depan, sejak tadi Hanum hanya duduk santai. Bukankah pemilik rumah harus santai-santai, Ma," Tukas Hanum, ia merasa jika Hanum harus banyak bekerja.

Mendengar penjelasan dari Hanum, hati Mertua sakit. Tak bisa membayangkan jika Arkan malah menyuruh istri sebagai pembantu.

"Anak macam apa Dia, berani sekali buat menantu kesayangan Mama di perlakukan seperti pembantu. Awas aja kamu, Arkan. kalau pulang, Mama akan memberi pelajaran," batin Fatimah, rasanya mendengar penjelasan dari Hanum ia sakit. Bahkan apakah ada firasat buruk sedang menghantui pikiran lain.

Hanum diam, melihat bahwa tak ada pergerakan dari Fatimah. Namun, Hanum tak ingin berprasangka buruk tentangnya. Hanum mengakui jika Mertua lebih menyayangi dan mengakui jika Hanum adalah menantu terbaik.

Melihat penampilan Hanum sederhana, Fatimah ingin sekali mengajak Hanum belanja baju, mengubah Hanum lebih cantik. Baginya Hanum tanpa polesan saja tetap cantik, apalagi dengan polesan.

Jika Arkan tak pulang dari kantor nya selama berturut-turut, maka dipastikan Fatimah tak segan-segan untuk menghabisi uang bank di tabungan Arkan. Jika Arkan berbuat macam di luar sana, maka Fatimah akan bertindak untuk membahagiakan Hanum.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!