Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pilihan yang semakin jelas
Beberapa hari berlalu sejak pengakuan Raka, dan suasana di kantor terasa canggung namun tetap profesional. Raka tidak lagi memberikan tugas-tugas mendadak yang tidak masuk akal, sikapnya jauh lebih lunak, bahkan cenderung berhati-hati setiap kali berinteraksi dengan Laras, seolah takut menyinggung luka yang baru saja terungkap.
Namun perubahan sikap itu tidak serta-merta mengubah keputusan yang telah mulai terbentuk dalam hati Laras. Setiap kali ia melihat pesan dari Bagas yang selalu penuh perhatian dan ketulusan, ia semakin yakin bahwa jalan yang ingin ia tempuh adalah bersama pria itu, bukan kembali ke masa lalu yang penuh luka bersama Raka.
Sabtu sore itu, Bagas mengajak Laras jalan-jalan santai di taman kota, jauh dari suasana formal kantor yang selama ini mewarnai interaksi mereka.
"Kamu keliatan lebih tenang akhir-akhir ini," kata Bagas sambil berjalan berdampingan dengan Laras di sepanjang jalan setapak taman. "Ada kabar baik?"
Laras tersenyum kecil, memutuskan untuk jujur. "Raka akhirnya tau kebenaran soal kepergian saya lima tahun lalu. Dia minta maaf."
Bagas terdiam sejenak, mencoba mencerna kabar itu dengan hati-hati. "Bagaimana perasaan kamu soal itu?"
"Saya lega, tentu saja. Tapi..." Laras berhenti sejenak, mengumpulkan kata-kata yang tepat. "Tapi saya juga sadar, saya udah berubah banyak selama lima tahun ini. Saya udah membangun hidup baru, dan saya nggak mau kembali ke masa lalu yang penuh luka, meskipun sekarang saya ngerti alasannya."
"Jadi, apa artinya ini buat kita?" tanya Bagas, nadanya penuh harap namun tetap hati-hati.
Laras menghentikan langkahnya, menatap Bagas dengan mata yang penuh keyakinan. "Artinya, saya pengen fokus sama apa yang kita bangun sekarang, Bagas. Saya pengen buka hati saya sepenuhnya buat kamu, tanpa bayang-bayang masa lalu yang terus mengganggu."
Kata-kata itu membuat wajah Bagas berseri-seri, sebuah kebahagiaan yang tulus terpancar jelas dari matanya. "Saya seneng banget dengar itu, Laras. Saya udah menunggu kesempatan ini sejak lama."
Mereka melanjutkan berjalan dalam diam yang nyaman, tangan Bagas perlahan menggenggam tangan Laras, sebuah gestur sederhana namun penuh makna yang diterima dengan baik oleh keduanya.
Sementara itu, di sisi lain kota, Raka duduk sendirian di apartemennya, mencoba mencari cara untuk mendekati Laras tanpa terkesan memaksa atau terlalu agresif mengingat situasi yang masih sangat rapuh di antara mereka. Ia memutuskan untuk menemui Sari, sahabat Laras yang sempat disebutkan gadis itu beberapa kali, berharap bisa mendapatkan pandangan yang lebih objektif tentang keadaan yang sebenarnya.
Ia mendapatkan nomor kontak Sari melalui data HRD dengan alasan formal, kemudian menghubunginya untuk meminta pertemuan singkat.
"Halo, apakah ini dengan Sari?" tanya Raka begitu sambungan telepon tersambung.
"Iya, benar. Ini siapa, ya?"
"Saya Raka, atasan Laras di kantor. Maaf mengganggu, tapi saya ingin bicara sebentar soal Laras, kalau berkenan."
Ada jeda sejenak sebelum Sari menjawab, nadanya terdengar sedikit waspada. "Bicara soal apa, Pak?"
"Saya ingin memahami lebih jauh soal apa yang Laras rasakan selama ini, terutama terkait dengan kejadian lima tahun lalu. Saya baru tau kebenarannya beberapa hari lalu, dan saya ingin memperbaiki kesalahan saya, tapi saya nggak yakin cara yang tepat."
Sari terdiam sejenak, mempertimbangkan permintaan itu dengan hati-hati. "Baik, Pak. Kita bisa ketemu besok siang, di kafe dekat kantor Laras."
Pertemuan itu berlangsung keesokan harinya, dengan Sari yang tampak berhati-hati namun tetap terbuka untuk berbicara demi kebaikan sahabatnya.
"Pak Raka," Sari memulai setelah mereka duduk berhadapan, "saya harus jujur, saya tau semua yang terjadi antara Bapak dan Laras selama ini, termasuk perlakuan yang Bapak berikan setelah dia kembali bekerja di kantor Bapak."
Raka menunduk, merasa malu mengingat kembali semua kekejaman yang telah ia lakukan. "Saya tau saya salah, Sari. Saya cuma pengen tau, apa masih ada kesempatan buat saya memperbaiki semuanya."
Sari menghela napas panjang, menatap Raka dengan tatapan yang penuh pertimbangan. "Pak Raka, saya ngerti Bapak menyesal. Tapi Laras udah berjuang keras buat bangun hidup baru selama lima tahun ini. Dia udah mulai buka hati buat Pak Bagas, seseorang yang selama ini selalu tulus dan sabar sama dia, tanpa pernah bikin dia menderita."
Kata-kata itu menghantam Raka dengan kenyataan pahit yang sudah mulai ia duga sebelumnya. "Jadi, menurut kamu, saya udah terlambat?"
"Saya nggak bisa jawab itu buat Laras," jawab Sari jujur. "Tapi yang saya tau, Laras butuh waktu dan ruang buat menentukan pilihannya sendiri, tanpa tekanan dari siapa pun, termasuk dari Bapak."
Raka mengangguk pelan, mencoba mencerna kata-kata itu dengan hati yang berat. "Saya ngerti, Sari. Terima kasih udah mau cerita jujur sama saya."
"Satu hal lagi, Pak," tambah Sari sebelum mereka berpisah. "Kalau Bapak beneran menyesal, tunjukkan itu dengan cara menghormati keputusan Laras, apa pun itu nantinya. Jangan cuma soal kata-kata, tapi juga tindakan nyata."
Kata-kata itu terus terngiang di kepala Raka sepanjang perjalanan pulang, sebuah pengingat pahit namun jujur tentang kenyataan yang harus ia hadapi—bahwa penyesalannya, meski tulus, mungkin telah datang terlalu terlambat untuk mengubah jalan hidup yang telah lama bergerak menuju arah yang berbeda dari yang pernah ia harapkan.
Malam itu, Raka duduk sendirian di balkon apartemennya, menatap kota Jakarta yang berkelap-kelip di kejauhan, hatinya dipenuhi kesadaran baru bahwa terkadang, permintaan maaf saja tidak cukup untuk memperbaiki luka yang telah tertanam terlalu dalam, dan bahwa cinta sejati kadang berarti merelakan kebahagiaan orang yang kita cintai, meski itu berarti kebahagiaan itu tidak lagi bersama kita.