"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."
Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.
Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.
Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.
Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 Benih-Benih Kecurigaan
Selasa pagi, koridor lantai tiga Fakultas Ekonomi dan Bisnis Kampus Jagatara biasanya sudah dipenuhi suara langkah kaki, canda tawa mahasiswa, dan percakapan riuh tentang tugas yang belum selesai atau jadwal kuliah yang mendadak berubah.
Tetapi, pagi itu terasa berbeda bagi Kaivan.
Di tengah keramaian yang terus bergerak, pria itu berdiri menyandar pada salah satu pilar beton di ujung koridor menatap lurus ke arah pintu ruang dosen kelas Manajemen Strategis. Wajahnya tampak tenang, tetapi rahangnya mengeras dan kedua tangannya mengepal di dalam saku jaket.
Ada sesuatu yang mengusik pikirannya sejak Jumat sore lalu.
Sesuatu yang tidak bisa ia singkirkan, bahkan setelah berusaha meyakinkan dirinya berkali-kali bahwa mungkin ia hanya salah melihat.
Bayangan kejadian itu kembali berputar di kepalanya.
Jemari Liora yang ditahan Ravian. Cara pria itu berdiri di hadapan Liora, seolah-olah sedang memagari perempuan itu dari siapa pun yang mencoba mendekat.
Dan yang paling mengganggunya adalah tatapan Ravian.
Tatapan yang terlalu dalam. Terlalu tajam. Terlalu penuh kepemilikan untuk sekadar disebut sebagai perhatian seorang dosen terhadap mahasiswinya.
"Ada yang nggak beres," gumam Kaivan pelan.
Ia mengembuskan napas panjang, berusaha meredam kegelisahan yang sejak beberapa hari terakhir semakin menggerogoti pikirannya.
Liora memang telah menolaknya. Itu fakta yang menyakitkan, tetapi Kaivan masih bisa menerimanya.
Yang tidak bisa ia terima adalah kemungkinan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan Liora darinya.
Sesuatu yang melibatkan Ravian.
Suara langkah kaki yang mendekat membuat Kaivan mengangkat kepala.
Rhea baru saja keluar dari perpustakaan dengan beberapa buku dan map tugas di pelukannya. Begitu matanya menangkap sosok Kaivan yang berdiri di ujung koridor, ia mendadak menghentikan langkahnya.
Sial.
Rhea langsung mengambil arah memutar, berniat melewati koridor sebelah agar tidak perlu berhadapan dengannya.
Namun, Kaivan ternyata lebih sigap. Ia bergerak cepat dan menghadang jalan Rhea.
"Rhea, tunggu."
Rhea berhenti.
Ia memejamkan mata sepersekian detik sebelum berbalik. Kemudian memasang senyum tipis yang dipaksakan.
"Kenapa, Van? Gue lagi buru-buru. Mau ngumpulin tugas."
Kaivan tidak menjawab basa-basinya. Ia melangkah mendekat, lalu menurunkan suaranya agar percakapan mereka tidak terdengar mahasiswa lain.
"Gue mau tanya soal Liora."
Senyum di wajah Rhea sedikit memudar.
"Soal apa?"
"Gue tahu lu sahabat terdekatnya," tatapan Kaivan menancap tajam ke wajah Rhea. "Liora sebenarnya kerja magang di mana?"
Rhea terdiam.
"Kenapa tiap sore dia selalu dijemput mobil sedan mewah yang sama?" lanjut Kaivan. "Dan kenapa..." ia berhenti sejenak, seolah memilih kata yang tepat. "Kenapa Pak Ravian kelihatan posesif banget sama dia?"
Jantung Rhea berdegup lebih cepat. Dalam sepersekian detik, pikirannya kembali pada janji yang pernah ia ucapkan kepada Liora.
Apa pun yang terjadi, rahasia itu tidak boleh terbuka.
Tidak kepada Kaivan.
Tidak kepada siapa pun.
Rhea berusaha mempertahankan ekspresi santainya.
"Maksud lu apa sih, Van?" Rhea tertawa sumbang, mencoba mencairkan suasana.
"Liora kan memang magang di perusahaan swasta di kawasan Sudirman. Setahu gue, dia cuma jadi asisten biasa. Soal Pak Ravian..." Rhea mengangkat bahu. "Lu tahu sendiri, kan? Dia dosen pembimbing magang sekaligus ketua program. Wajar kalau dia perhatian sama anak didiknya."
"Lu bohong, Rhea."
Kalimat itu keluar begitu cepat dan dingin hingga senyum Rhea langsung menghilang.
Kaivan maju setengah langkah, matanya menyipit. "Gue lihat sendiri gimana tatapan Pak Ravian ke Liora waktu dia mutusin percakapan gue kemarin."
Tatapan Kaivan berubah semakin tajam. "Itu bukan tatapan dosen kepada mahasiswanya."
Ia menarik napas perlahan. "Itu tatapan cowok yang cemburu."
Dada Rhea terasa sesak. Untuk sesaat, ia kehilangan kata-kata.
Ia tahu Kaivan bukan orang bodoh. Semakin ia mencoba menutupi sesuatu, semakin besar kemungkinan pria itu akan mencium kebohongannya.
Rhea akhirnya memilih jalan paling sederhana: menyerang balik.
Ia mendorong bahu Kaivan pelan, berpura-pura memasang wajah kesal untuk menutupi kepanikannya. "Lu cuma lagi kepikiran gara-gara penolakan kemarin, Kaivan!"
Kaivan terdiam.
"Jangan bawa-bawa teori konspirasi aneh yang malah bisa bikin nama baik Liora rusak di kampus." Rhea merapikan map di tangannya. "Udah ah. Gue mau lewat."
Tanpa menunggu jawaban, Tari bergegas pergi meninggalkan Kaivan.
Langkahnya cepat. Terlalu cepat.
Kaivan hanya berdiri memandangi punggung sahabat Liora itu hingga menghilang di tikungan koridor. Seharusnya jawaban Rhea membuatnya berhenti berpikir.
Seharusnya.
Namun, justru sebaliknya.
Ada sesuatu dalam sorot mata Rhea tadi. Kegugupan yang tidak bisa disembunyikan. Cara bicaranya yang terburu-buru. Dan terutama, keinginannya untuk segera mengakhiri percakapan.
Kaivan mengusap rahangnya. "Jadi memang ada sesuatu..."
Kini kecurigaannya bukan lagi sekadar dugaan.
Ada rahasia besar.
Dan entah kenapa, semua jalan seolah mengarah pada satu nama.
Ravian Adhikara Evander.
***
Sekitar pukul tujuh malam, Kaivan sengaja bertahan di pelataran parkir luar gedung Evander Corp di kawasan pusat bisnis Jakarta.
Satu jam berlalu dalam keheningan.
Motor sport miliknya terparkir agak jauh dari pintu utama, tersembunyi di bawah bayangan pohon yang cukup rindang. Kaivan duduk di atas jok motor dengan jaket gelap menutupi tubuhnya. Helm masih terpasang, kacanya diturunkan, membuat wajahnya nyaris tidak terlihat.
Suara kendaraan yang berlalu-lalang di jalan utama terdengar samar dari kejauhan. Sesekali, lampu mobil menyapu area parkir, lalu menghilang di balik gedung.
Kaivan memeriksa jam di ponselnya.
19.07.
Ia hampir menyerah.
Mungkin dugaannya memang salah.
Mungkin Liora benar-benar hanya bekerja magang di perusahaan itu.
Mungkin Ravian memang hanya dosen pembimbing yang kebetulan terlalu perhatian.
Namun, tepat ketika ia hendak menyalakan mesin motornya, pintu kaca lobby utama Evander Corp terbuka.
Kaivan langsung menegakkan tubuh.
Dua orang karyawan keluar lebih dulu.
Lalu...
Sosok perempuan yang sangat dikenalnya muncul dari balik pintu kaca.
Liora.
Ia berjalan berdampingan dengan seorang pria tinggi dan tegap. Kaivan bahkan tidak membutuhkan waktu lama untuk mengenalinya.
Ravian.
Namun malam itu, pria tersebut tidak mengenakan pakaian formal seorang dosen seperti biasanya. Ia mengenakan setelan jas eksklusif berwarna gelap yang membuat sosoknya tampak jauh lebih berwibawa.
Tanpa kacamata.
Dan yang paling membuat dada Kaivan seakan dihantam sesuatu adalah tangan Ravian yang melingkar secara alami di pinggang Liora.
Bukan sekadar menyentuh. Bukan pula gerakan yang tampak canggung. Melainkan sebuah gestur yang begitu akrab.
Liora tidak menjauh.
Mereka berjalan menuju sebuah sedan hitam mewah yang terparkir di area khusus VIP.
Kaivan menahan napas.
Jari-jarinya mencengkeram stang motor hingga buku-buku jarinya memutih.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Selama ini ia masih mencoba mencari alasan untuk membela Liora di dalam pikirannya. Tetapi pemandangan di hadapannya seolah meruntuhkan semuanya dalam satu detik.
Tangannya bergerak mengambil ponsel dari saku jaket. Ia membuka kamera. Memperbesar tampilan. Memastikan fokus.
Ravian membukakan pintu mobil untuk Liora.
Perempuan itu menoleh dan mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar Kaivan dari kejauhan.
Ravian tersenyum tipis. Senyum yang belum pernah Kaivan lihat ketika pria itu berada di kampus.
Kaivan menekan tombol kamera.
Jepret.
Satu foto tersimpan. Ia mengambil satu lagi.
Jepret.
Foto kedua menampilkan sosok Ravian yang berdiri begitu dekat dengan Liora, sementara satu tangannya masih berada di pinggang perempuan itu.
Kaivan menatap layar ponselnya. Dadanya naik turun.
"Ternyata benar..." bisiknya.
Suaranya bergetar. Bukan hanya karena marah. Ada rasa sakit yang jauh lebih dalam dari sekadar kecemburuan.
Rasa dikhianati.
Selama ini ia mengira Liora hanya menolaknya karena memang tidak memiliki perasaan kepadanya.
Ia bisa menerima itu.
Namun jika perempuan itu ternyata telah memiliki hubungan dengan pria lain, terlebih pria yang selama ini berdiri sebagai dosennya sendiri—maka semua penolakan Liora terasa seperti sebuah kebohongan.
"Pak Ravian..." Kaivan menggertakkan gigi. "Dan Liora."
Mobil sedan hitam itu perlahan meninggalkan area parkir. Kaivan tetap diam di tempatnya, menatap lampu belakang mobil yang semakin jauh hingga akhirnya lenyap di antara kepadatan kendaraan Jakarta.
Layar ponselnya masih menampilkan foto yang baru saja ia ambil. Foto yang seharusnya menjadi bukti.
Namun, semakin lama ia menatapnya, semakin panas sesuatu di dalam dadanya.
Kekecewaan berubah menjadi kemarahan.
Kemarahan berubah menjadi kebencian.
Dan kebencian, perlahan-lahan, melahirkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Sebuah ide.
Kaivan menurunkan ponselnya.
Sudut bibirnya bergerak membentuk senyum tipis yang sama sekali tidak mencerminkan dirinya beberapa menit lalu.
"Kalau kalian memang menyembunyikan sesuatu..." ia menyalakan mesin motornya. "Gue bakal cari tahu semuanya."
Suara mesin meraung memecah keheningan malam.
Kaivan menarik gas dan meninggalkan pelataran parkir itu, sementara di dalam kepalanya, sebuah rencana nekat mulai tersusun satu demi satu.
Ia belum tahu seberapa jauh rencana itu akan membawanya.
Ia juga belum menyadari bahwa rasa penasaran yang bermula dari sebuah foto sederhana akan menyeretnya semakin dekat pada rahasia besar yang selama ini dijaga mati-matian oleh Liora dan Ravian.
Dan ketika rahasia itu akhirnya terbuka nanti, tidak hanya hubungan mereka yang akan terancam.
Segalanya bisa berubah.