Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gangguan Raya
3 minggu setelah wisuda, hidup Raya perlahan mulai menemukan ritmenya kembali. Ijazah sudah di tangan, dan sekarang waktunya berburu pekerjaan. Setiap pagi ia bangun lebih awal dari biasanya, membuka laptop, mengecek lowongan kerja di berbagai portal, lalu mengirim lamaran satu per satu dengan harapan yang besar.
Mamah Yana selalu menyempatkan diri menyiapkan sarapan sebelum berangkat merias. Rumah kecil mereka yang beberapa bulan lalu terasa begitu berat oleh air mata, kini perlahan kembali hangat oleh rutinitas yang normal.
Namun ada sesuatu yang berubah dalam diri Raya, sesuatu yang tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Sudah 4 malam berturut-turut ia bermimpi hal yang sama. Dalam mimpi itu, ia berdiri sendirian di sebuah lorong panjang tanpa ujung, dindingnya basah dan berbau tanah lembab. Di ujung lorong, samar-samar terlihat sosok Jack berdiri membelakanginya. Dan setiap kali Raya memanggil namanya, sosok itu perlahan menoleh dengan yang gelap, tanpa bentuk jelas, hanya sepasang mata yang menyala merah menatapnya tajam.
Ia selalu terbangun tepat sebelum sosok itu sempat menyentuhnya, dengan napas tersengal dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.
"Cuma mimpi biasa, aku pasti overthinking karena belum dapat kerjaan. " gumamnya setiap subuh, mencoba meyakinkan diri sendiri seraya mencuci muka di kamar mandi.
Namun bayangan mata merah itu terus terngiang, bahkan di siang hari ketika ia sedang fokus mengetik surat lamaran. Hal-hal kecil lain pun mulai terjadi satu per satu, seperti potongan puzzle yang belum bisa ia satukan maknanya.
Suatu pagi, ketika hendak memakai sepatu untuk pergi wawancara kerja, Raya merasakan sesuatu yang tajam menusuk telapak kakinya. Ia buru-buru melepas sepatu itu dan mendapati sebuah jarum jahit kecil terselip di bagian dalam, tepat di posisi yang pasti akan tertusuk jika ia memakainya dengan tergesa.
"Kok bisa ada jarum di sini?" gumamnya bingung, memandangi benda kecil itu dengan alis berkerut.
Ia tak ingat pernah menjahit apa pun dengan sepatu itu, apalagi menyimpan jarum di dalamnya. Namun karena buru-buru, ia hanya membuang jarum itu ke tempat sampah dan melanjutkan bersiap,ia tak menyadari bahwa itu bukan sekadar kecelakaan biasa.
Di lain waktu saat sedang menyapu halaman rumah, Raya menemukan segenggam garam kasar tersebar tak beraturan tepat di depan pintu masuk, seolah sengaja ditaburkan oleh seseorang. Ia mengira itu ulah tetangga yang iseng, atau mungkin kucing liar yang menjatuhkan sesuatu, lalu menyapunya bersih tanpa berpikir lebih jauh.
Yang paling mengganggu justru datang dari arah yang tak terduga, seekor kucing hitam yang tak pernah ia lihat sebelumnya di sekitar rumahnya, tiba-tiba muncul dan duduk di depan jendela kamarnya setiap malam.
Matanya yang berkilau di kegelapan seolah menatap lurus ke arah Raya, tak berkedip, tak bergerak, hanya diam mengamati dari luar kaca jendela yang tertutup gorden tipis.
"Kucing siapa sih itu? Kok serem banget nongkrongin jendela gue tiap malam," keluh Raya suatu malam kepada Dasha lewat telepon.
"Mungkin cuma nyari makan, Ray. Kasih aja ikan asin biar pergi." jawab Dasha ringan, tak menaruh kecurigaan berlebih.
Raya sendiri mencoba berpikir positif, meski jauh di dalam hatinya ada rasa tidak nyaman yang terus menggelayut, sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri setiap kali melewati jendela kamar itu di malam hari.
🌸🌸🌸🌸
Manda duduk bersila di lantai dengan sebuah cermin kecil dan segenggam rambut yang diikat dengan benang hitam diletakkan di atas selembar kain putih. Dupa yang menyala di sudut ruangan mengeluarkan asap tebal beraroma menyengat, memenuhi kamar dengan kabut tipis yang membuat mata perih.
Jack sedang lembur di kantornya, kebetulan ada pekerjaan yang sangat mendesak yang harus ia selesaikan. Kebetulan sekali karena tidak ada yang bisa mengganggu Manda dan si Abah melakukan ritual itu.
"Daleman ini beneran punya dia kan, Bah?" tanya Manda melalui panggilan video, suaranya berbisik pelan seolah takut didengar orang lain, meski kamar itu hanya ada ia sendiri.
Di layar ponsel, sosok Abah Jiwo terlihat mengangguk mantap dari sebuah ruangan temaram yang dipenuhi berbagai jimat tergantung di dinding.
"Iya Neng, kemarin Abah sudah nyuruh orang buat ambil daleman dia di jemuran. Sekarang, ikuti apa yang Abah bilang. Taburkan garam ini di sekitar barang itu, lalu ucapkan mantra yang sudah Abah kirimkan sambil membayangkan wajah orang itu."
Manda mengangguk, jantungnya berdebar antara takut dan bertekad. Ia mengeluarkan segenggam garam yang sudah dicampur bahan lain yang tak ia mengerti, menaburkannya membentuk lingkaran mengelilingi gulungan celana d4lam itu.
"Dengan izin leluhur, dengan kekuatan yang Abah titipkan, hamba mohon kirimkan gangguan pada perempuan bernama Rayana. Buat dia lelah, buat dia gelisah, buat dia menjauh dari Jack selamanya," gumam Manda mengikuti mantra yang diajarkan, suaranya bergetar setiap mengucap nama Raya, seolah ada sesuatu yang menahan lidahnya untuk melafalkan niat sejahat itu.
Api kecil dari lilin yang menyala di dekat cermin tiba-tiba berkedip liar, meski tak ada angin sedikit pun yang masuk ke dalam kamar tertutup itu. Manda tersentak kaget, namun buru-buru melanjutkan mantranya, tak ingin ritual itu gagal di tengah jalan.
"Jangan berhenti, Neng, lanjutkan sampai tuntas!" suara Abah Jiwo terdengar tegas dari ponsel, seolah bisa merasakan keraguan yang sempat singgah di hati muridnya.
Manda menarik napas dalam, memantapkan hati, lalu melanjutkan mantranya hingga selesai. Ketika api lilin akhirnya kembali tenang, ia merasakan sesuatu yang aneh menjalar di sepanjang lengannya, dingin namun juga membakar di saat bersamaan, seperti sesuatu yang baru saja lepas dari genggamannya menuju tempat yang jauh.
"Udah selesai, Bah?" tanya Manda, napasnya sedikit tersengal.
"Sudah, Neng. Tinggal tunggu efeknya bekerja. Tapi ingat, semakin dia lemah, ikatan kamu sama Jack bakal makin kuat. Sudah sepaket itu!" jawab Abah Jiwo, kemudian layar telepon itu pun mati.
Manda menatap hasil karya di depannya dengan perasaan campur aduk, ada kepuasan karena akhirnya bisa "membalas" apa yang menurutnya adalah gangguan Raya terhadap hubungannya dengan Jack. Namun ada juga ketakutan samar yang tak bisa ia jelaskan, seperti perasaan bahwa ia baru saja membuka pintu yang tak akan pernah bisa ia tutup kembali.
Ia segera membereskan semua peralatan ritualnya, menyembunyikan kembali kotak kayu kecil itu ke dalam lemari, tepat sebelum suara langkah kaki Jack terdengar menaiki tangga besi menuju kamar.
🌸🌸🌸🌸
Malam itu Raya kembali bermimpi. Namun kali ini berbeda dari malam-malam sebelumnya.
Dalam mimpinya, ia tidak berada di lorong gelap seperti biasa, melainkan berdiri di tengah sebuah ruangan kosong tanpa perabotan sama sekali. Hanya ada cermin besar yang berdiri sendiri di tengah ruangan. Saat Raya mendekat dan menatap pantulan dirinya di cermin itu, wajahnya sendiri tampak pucat pasi, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang begitu pekat.
Kemudian dari balik pantulan itu, muncul bayangan tangan-tangan kecil yang seolah mencoba menerobos keluar dari dalam cermin, meraih ke arahnya dengan gerakan yang begitu cepat dan mengerikan.
Raya terbangun dengan jeritan tertahan di tenggorokan, tubuhnya basah oleh keringat dingin, jantungnya berdebar begitu kencang seperti hendak melompat keluar dari dadanya. Ia meraba dadanya sendiri, mencoba mengatur napas yang begitu berat, matanya menatap sekeliling kamar yang gelap dengan penuh kewaspadaan.
Jam di dinding menunjukkan pukul 3 pagi.
Tanpa sadar, tangannya meraba keningnya sendiri, bekas luka tipis dari kejadian di tangga besi itu masih tersisa samar, dan entah kenapa malam ini terasa berdenyut, seolah luka itu kembali segar meski sudah sembuh berbulan-bulan lamanya.
Raya menyalakan lampu kamarnya, mencoba menenangkan diri dengan membaca doa-doa pendek yang selalu diajarkan Mamah Yana sejak kecil. Namun perasaan diawasi itu masih terus membayangi, seolah ada sepasang mata tak kasat mata yang terus mengikutinya dari kegelapan sudut kamar.
Ia melirik ke arah jendela, dan seketika tubuhnya membeku.
Kucing hitam itu ada di sana lagi, duduk diam di ambang jendela luar dengan mata yang berkilau tajam menembus kegelapan malam, seolah sedang menunggu sesuatu yang belum ia mengerti sepenuhnya.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target