Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beku di Bawah Telapak Kaki Phoenix
Desau angin pantai di Benua Abadi mendadak membeku dalam sepersekian detik. Kilau cahaya biru keperakan dari daun-daun pohon kristal berpendar indah, namun kontras dengan suasana dingin yang merayap di sepanjang garis pantai. Sepuluh pengawal berzirah perak dari Sekte Phoenix Es melesat maju bagaikan bayangan badai salju, pedang es di tangan mereka terhunus tajam mengarah langsung ke titik-titik vital di tubuh Ji Mo-Xian.
Arogansi terpancar jelas dari wajah para pengawal tersebut. Bagi mereka yang lahir dan dibesarkan di Benua Abadi, kultivator dari daratan fana di seberang samudra hanyalah sekumpulan semut rendahan yang tidak mengerti esensi sejati dari energi spiritual tingkat tinggi.
Namun, mereka lupa bahwa semut terkadang bisa merobohkan singa jika ia membawa badai kehancuran.
Ji Mo-Xian tidak bergeser satu langkah pun dari tempatnya berdiri. Kain sutra hitam yang melilit matanya tetap tenang menghadap ke depan. Dengan gerakan yang sangat anggun dan terukur, ia mengangkat seruling giok naga purba ke bibirnya. Jari-jarinya yang ramping mulai menutup lubang-lubang resonansi pada seruling tersebut.
Sebelum bilah pedang es para pengawal itu menyentuh jubah putihnya, Ji Mo-Xian meniupkan napas pertama ke dalam rongga seruling giok.
FZZZRT—KENCENG!
Gelombang sonik berwarna biru galaksi meledak seketika dalam radius sepuluh tombak. Suara tiupan itu bukan sekadar dentang nada, melainkan gelombang kejut murni yang membawa beban frekuensi getaran dari mata dewa naga air.
CRACK! BARRR!
Waktu seolah melambat bagi Han Feng dan para pengawalnya. Pedang es di tangan kesepuluh pengawal itu hancur berkeping-keping menjadi serpihan debu kristal di udara. Gelombang sonik tersebut menghantam dada mereka secara telak, meremukkan zirah perak kebanggaan mereka dalam sekejap mata.
Kesepuluh pengawal itu mendadak kaku di udara. Darah segar menyembur deras dari balik helm zirah mereka sebelum tubuh mereka terpental mundur belasan tombak, menghantam batang-batang pohon kristal hingga tumbang berantakan. Mereka tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan jeritan kesakitan, jasad mereka membeku menjadi es tipis yang langsung melebur bersama pasir pantai.
Pant pantai kembali hening dalam sekejap.
Han Feng, kapten pengawal berzirah perak yang tadinya berdiri dengan penuh arogansi, tertegun kaku. Bola matanya melotot lebar hingga nyaris keluar dari rongganya. Wajahnya yang arogan kini pucat pasi, sekujur tubuhnya gemetar hebat hingga pedang panjang di pinggangnya berderik ketakutan.
"Ba... bagaimana mungkin...?" rintih Han Feng terbata-bata, suaranya nyaris hilang ditelan angin pantai. "Tanpa mencabut senjata... tanpa mengerahkan teknik formasi sekte... dia melenyapkan sepuluh pengawal elit alam Nirwana hanya dengan sekali tiupan seruling?!"
Ji Mo-Xian menurunkan seruling giok dari bibirnya. Ia melangkah perlahan di atas pasir putih, suara gesekan jubah putihnya terdengar sangat jelas di telinga Han Feng yang dilanda teror mendalam. Mo-Xian berhenti tepat beberapa langkah di hadapan sang kapten pengawal.
"Di dunia ini, kesombongan selalu menjadi pakaian terbaik bagi mereka yang sedang berjalan menuju kuburannya sendiri," ucap Ji Mo-Xian dengan nada datar, dingin, dan menusuk langsung ke dalam jiwa Han Feng.
Han Feng berlutut lemas di atas pasir, kehilangan seluruh keberaniannya. Ia menengadahkan wajahnya, menatap sosok pendekar buta di hadapannya dengan rasa ngeri yang teramat sangat. "A... ampunilah hamba... Hamba tidak tahu bahwa Senior adalah pendekar agung yang melintasi samudra... Tolong jangan bunuh hamba..."
Ji Mo-Xian menundukkan sedikit kepalanya, meskipun matanya tertutup kain hitam. "Aku tidak tertarik merenggut nyawa orang-orang lemah yang hanya bersembunyi di balik nama besar sekte. Tetapi kau harus menjawab satu pertanyaanku."
"B-bertanya apa saja, Senior! Hamba akan menjawab semuanya!" seru Han Feng cepat, kepalanya mengangguk-angguk ketakutan.
"Di mana tempat persinggahan terdekat dari wilayah Sekte Phoenix Es ini, dan siapa penguasa yang memimpin wilayah perbatasan tersebut?" tanya Ji Mo-Xian tenang.
Han Feng menelan ludah dengan susah payah, berusaha meredakan gemetar di tenggorokannya. "K-Kota Gerbang Langit... Tuan... Wilayah ini berada di bawah yurisdiksi Tetua Agung Lu Tian, salah satu tetua sepuh dari Sekte Phoenix Es. Mereka sedang mengadakan sayembara pengumpulan artefak spiritual langka untuk memperkuat segel pelindung sekte..."
Ji Mo-Xian mengangguk pelan. Informasi itu sudah lebih dari cukup untuk memberinya arah dalam menelusuri rahasia yang tersembunyi di Benua Abadi. Ia mengibaskan ujung jubahnya pelan.
"Pergilah," ucap Ji Mo-Xian. "Dan katakan kepada para petinggi sekte kalian, jangan pernah mengirim pelayan atau pengawal bodoh untuk menguji batas kesabaranku."
Han Feng tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, ia bangkit berdiri dan berlari lintang-pukang meninggalkan pantai, menghilang di balik lebatnya hutan kristal tanpa berani menoleh ke belakang lagi.
Lin Su, yang sejak tadi berdiri diam di dekat perahu, menghela napas lega. Ia melangkah mendekati Ji Mo-Xian dengan senyuman kecil di wajahnya. "Tuan Muda, sepertinya kedatangan kita di Benua Abadi ini tidak akan berjalan membosankan."
Ji Mo-Xian tersenyum tipis. Ia kembali menyimpan seruling giok naga purba ke dalam lipatan jubahnya, lalu menatap ke arah jalan setapak yang mengarah ke dalam hutan kristal.
"Tentu saja tidak, Lin Su," jawab Mo-Xian tenang. "Mari kita lanjutkan perjalanan. Kota Gerbang Langit sedang menunggu kedatangan kita."
Tanpa membuang waktu lagi, sang penyair kematian dan pelayan setianya meninggalkan bibir pantai, melangkah pasti menembus rimbunnya pohon-pohon kristal yang memancarkan cahaya keemasan, menyongsong takdir besar yang telah menunggu di jantung Benua Abadi.