Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Gosip

Pertanyaan itu sederhana, bahkan tidak terdengar kasar. Tapi, tetap saja menekan mental Mela.

Tapi, Mela berusaha tetap tenang. Ia menatap Darmi sebelum akhirnya menjawab, "Kami sudah bercerai, mbak."

Tidak ada penjelasan tambahan ataupun cerita panjang. Hanya satu kalimat yang cukup membuat Darmi terdiam.

Namun, detik berikutnya mata Darmi sedikit melebar, lalu cepat-cepat ia mengangguk, seolah seperti seseorang yang baru saja diberi informasi penting.

"Oh, begitu, ya."

Mela tersenyum tipis. "Saya masih harus beres-beres. Nanti saja kita ngobrol lagi." Tanpa menunggu jawaban, ia membawa peralatannya masuk ke dalam rumah.

Pintu tertutup pelan.

Di dalam, Mela berdiri sejenak di balik pintu dan menghela napas panjang.

Ia tahu, satu kalimat tadi tidak akan membuat Darmi berhenti. Tapi, justru akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

Dia tidak berniat menjelaskan, berharap Darmi tahu batasan. Namun, sepertinya ia lupa di mana sekarang ia berada.

Keesokan paginya, suara riuh datang dari ujung jalan.

Tukang sayur keliling berhenti lebih lama dari biasanya. Beberapa ibu-ibu berkumpul, membawa keranjang dan mulai memilih sayuran. Obrolan mereka terdengar, bercampur dengan suara tawar-menawar.

Dan, topik gosip mereka adalah Mela.

"Serius, Mbak Dar? Si Mela itu pulang sendiri tanpa suami dan anaknya?" tanya Yati.

"Kamu tahu dari mana, mbak Dar?" sahut yang lain.

Darmi berdiri di tengah-tengah mereka, suaranya sedikit diturunkan, tapi cukup jelas untuk didengar semua orang.

"Iya, aku sendiri yang tanya. Katanya mereka sudah bercerai."

"Bercerai?" seseorang berseru pelan, setengah kaget, tidak percaya.

"Ih, kasihan ya, padahal dulu hidupnya enak di kota."

"Kasihan apanya? Siapa tahu memang dia yang bermasalah," timpal yang lain.

"Iya, apalagi dia pulang sendirian, tanpa anak."

"Wah, berarti parah itu."

Tawa kecil terdengar. Ada yang menggeleng, ada yang berbisik, ada yang hanya diam tapi mendengarkan.

Di dalam rumah, Mela berdiri di dekat jendela. Ia tidak berniat menguping. Tapi, suara-suara itu terdengar cukup jelas.

Mela menatap keluar. Wajah-wajah yang dulu ia kenal, kini terasa asing, dan akan menjadi bagian dari hidupnya lagi.

Ia tidak marah apalagi tersinggung. Hanya saja, ia mulai mengerti.

Manusia selalu butuh cerita. Dan, ketika tidak tahu kebenarannya, mereka akan menciptakan versi sendiri.

Mela menarik napas pelan, lalu menjauh dari jendela. Ia kembali ke dapur, menuangkan air ke dalam teko, lalu menyalakan kompor kecilnya.

Di luar, gosip masih berlanjut tapi, Mela memilih tidak menjelaskan apa pun, karena tidak semua orang perlu tahu kebenarannya. Dan, tidak semua kebenaran perlu dibela. Tapi, apa ia bisa bertahan?

Dua hari berlalu, dan Mela masih menjadi topik hangat para tetangga.

Pagi itu, Mela berdiri lebih lama dari biasanya, di depan cermin kecil yang tergantung di dinding. Bukan untuk berdandan. Tapi, hanya memastikan dirinya siap.

Ia menarik napas pelan. Hidup di desa sangat berbeda dengan di kota.

Di kota, orang-orang hidup berdampingan tanpa benar-benar saling mengenal. Tidak ada yang peduli siapa pulang dengan siapa, siapa bertengkar dengan siapa.

Tapi di sini, berbeda. Setiap langkah bisa terlihat. Setiap perubahan bisa dibicarakan. Dan diam, tidak selalu menyelamatkan.

Mela mengambil dompet kecilnya, lalu melangkah keluar rumah. Hari ini, ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi.

Tukang sayur sudah berhenti di ujung jalan. Beberapa ibu-ibu berkumpul di sana. Mereka adalah Darmi, Yati, Surti, dan beberapa ibu lainnya.

Mereka berbincang, sambil menanyakan harga, menawar sayur yang hendak mereka beli. Dan, tentu saja masih membicarakan Mela.

Namun, begitu Mela mendekat, suara mereka menghilang. Obrolan yang tadi riuh, mendadak terputus.

Semua mata tertuju padanya, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Mela berhenti sejenak. Lalu, tersenyum menyapa, "Selamat pagi ibu-ibu, mang Bejo," sapanya.

"Pagi, Mbak Mela," jawab Tejo cepat. Sementara, Ibu-ibu hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.

"Mau masak apa hari ini, mbak?" tanya Mang Tejo.

"Apa, ya?" Mela mulai memilih sayuran, bayam, cabai, dan beberapa tomat yang masih segar. Namun, sudut matanya menangkap sesuatu.

Darmi dan ibu-ibu yang lain hanya diam, seolah keberadaannya mengubah suasana. Mela menoleh, lalu berkata ringan,

"Kenapa semua diam? Nggak jadi beli?"

Kalimat itu sederhana, bahkan terdengar santai. Tapi, cukup untuk membuat suasana menjadi canggung.

"Oh—jadi, jadi." Yati langsung mengambil kangkung.

"Iya, ini lagi milih," sahut yang lain, sedikit terbata.

Suara kembali muncul, meski belum senyaman sebelumnya. Hingga, beberapa detik berlalu dan, Surti memberanikan diri untuk bertanya.

"Emmm... Mel!" panggilnya pelan. "Apa benar kamu sudah bercerai sama suamimu?"

Semua kembali diam. Menunggu sekaligus penasaran. Sedangkan, Mela berhenti memilih sayur. Ia mengangkat wajahnya, lalu tersenyum tipis.

"Iya, mbak," jawabnya tenang. "Itu benar. Saya yang menceraikan Mas Rahman."

Hening!

Mereka saling pandang, seolah tidak percaya.

"Lho, kenapa, Mel?" Yati akhirnya bersuara. "Sudah enak hidup di kota sama suami kaya, kok malah cerai?"

Mela mengambil sayurannya, menyerahkannya ke Mang Tejo untuk di hitung total.

"Buat apa hidup bergelimang harta, mbak kalau kita tidak dianggap dan tidak dihargai," ucap Mela. Ia membayar, lalu menoleh pada mereka. "Kita sebagai wanita juga harus punya harga diri."

Tidak ada nada marah, apalagi pembelaan berlebihan. Hanya kalimat sederhana yang justru terasa berat.

"Kalau begitu, saya duluan, mbak!" Ia berbalik dan berjalan pulang.

Namun, begitu langkahnya menjauh, suara-suara itu kembali terdengar. Pelan, namun tajam.

"Pasti dia yang bermasalah," bisik Darmi.

"Tapi, tadi dia bilang, dia yang menceraikan suaminya," sahut Yati.

"Halah, alasan. Aku sih nggak percaya gitu aja."

Mela sudah sampai di depan rumahnya saat suara itu masih samar terdengar. Ia membuka pintu, masuk, lalu menutupnya perlahan.

Begitu punggungnya menyentuh daun pintu, napasnya terlepas, tidak beraturan. Ia memejamkan mata sejenak, mengetahui jika ternyata semua tidak semudah yang ia bayangkan.

Di kota, orang tidak peduli, tapi di desa, semua ingin tahu. Dan, semakin ia mencoba menjelaskan, semakin banyak yang ingin menilai.

Mela membuka matanya. Pandangannya jatuh pada halaman kecil di samping rumah, tanah yang mulai ia bersihkan.

Ia lalu menghembuskan napas pelan. "Mungkin, diam memang lebih baik," gumamnya lirih. Ia langsung menuju dapur untuk memasak, sebelum melanjutkan kegiatan barunya, menanam sayuran.

Siang hari terasa lebih panas dari biasanya.

Mela sedang berjongkok di halaman, menanam beberapa bibit sayur yang baru ia beli. Tangannya kotor oleh tanah, tapi gerakannya lebih cekatan dari sebelumnya.

Tapi tiba-tiba, ia di kejutkan dengan suara ribut yang terdengar dari arah rumah Darmi.

Suaranya keras dan tidak biasa.

Orang-orang mulai berlarian ke arah sana. Beberapa berhenti di depan rumah, tapi tidak berani masuk.

Mela mengangkat kepala, dengan kening yang mengernyit. Ia berdiri, lalu menghentikan salah satu tetangga yang berjalan dengan tergesa.

"Mbak Asih!" panggilnya. "Ada apa kok lari-lari?"

Asih menoleh, napasnya sedikit terengah. "Itu, Mel... Mbak Darmi lagi ribut sama suaminya."

Mela terdiam sejenak. Suara teriakan kembali terdengar dari kejauhan. Kali ini lebih jelas dan terdengar kasar.

Dan entah kenapa, langkah Mela justru ikut bergerak mendekat ke rumah tersebut.

1
Marina Tarigan
gitu dong Rahman Dyah sdb kikuk apalagi Camila tahu meli istrinya bos Admaja grup pasti pingsan dej
Marina Tarigan
kamu harus sangat bahagia 10 thn rahman acuh sm kamu dan Diyah wanita tua itu yv selalu menghinamu orang nodoh tdk bisa diandalkan supay tahu rasa mulai sekarang nikmati hidupmu bersama suamimu
Marina Tarigan
bahagia selamanya mel dino sampai tua
Marina Tarigan
lanjutkan ke lebih baik
Marina Tarigan
lanjutkan terus
Marina Tarigan
biarpun mela pisah sm dino mustahil mau balik sm kamu apalagi sifat ibumu yg arogan kasar
Marina Tarigan
terus bohong pidahkan saja mela sm fino biar mela bertani terus dia sdh bahagia
Marina Tarigan
pisaj saja kalau tdk mau sm orang spa susahnya
Marina Tarigan
terima kasih Dino kamu beri tempat kerja buat Rahman agar dia bisa hidup layak bersama anak dan ibunya yv arogan itu kasihan juga begitu mirisnya hidup nya sekarang
Marina Tarigan
cepat pernikahan kalian dgn sederhana dulu biarkan pekerjaan sepeperti biasa dulu
Marina Tarigan
tuan itu buat wanita itu barang ya kalau sdh bosan singkirkan gitu wanita itu manusia ciptaan Tuhan sm nilainya dgn laki2 malahan wanita jauh lebih kuat dari laki2 kecuali jalang deperti camila pergi saja ke panti asuhan bantu2 disana bisa tempat mondok
LENY
HARUSNYA MELA BERSYUKUR DPT DINO LIHAT KETULUSAN DAN CINTANYA BUKAN MARAH 🙏❤
LENY
BENER KATA DINO KL HIDUP DENGAR OMONGAN ORANG KITA GAK AKAN TENANG DAN BAHAGIA🙏🙏
LENY
RAHMAN MENYESAL TIADA GUNA ITU AKIBAT PERBUATANMU SENDIRI🙏
Marina Tarigan
bantu mereka sebisamu tapi jgn dgn hatimu
LENY
SYUKURLAH NENEK LAMPIR MULAI SADAR🙈
LENY
BAGUS BARU TAHU RASA KAMU RAHMAN 😅😅😅
Marina Tarigan
Dyah dari dulu terus menghinamu Mel sdhlah lepaskan saja merela
LENY
DYAH NENEK LAMPIR KAN CAMILA MANTU KESAYANGAN DAN PILIHAN KAMU RASAKAN NIKMATI 😅😅😅😡
Marina Tarigan
lanjut kan saja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!