Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aroma Sup Bawang dan Cita-Cita di Ujung Meja
Jungkook memperhatikan raut wajah Mira yang masih sedikit tegang dan merona. Untuk mencairkan atmosfer yang mendadak canggung di antara mereka, pria itu memamerkan senyum tipisnya yang hangat seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku mantel.
"Kau pasti lelah dan kedinginan, kan?" tanya Jungkook lembut, memiringkan kepalanya sedikit. "Bagaimana kalau kita cari tempat makan malam? Ada restoran hangat di sekitar sini."
Mira menggelengkan kepala pelan, mengibaskan tangannya dengan canggung. "Ah, tidak usah, Oppa. Aku... aku masih belum lapar. Tadi siang sarapan dan camilanku bersama Taehyung Oppa cukup banyak."
Namun, takdir seolah punya rencananya sendiri untuk menggoda gadis itu.
Kruuuk...
Suara perut keroncongan yang cukup nyaring mendadak memecah keheningan di antara mereka.
Seketika itu juga, Mira membeku. Pipinya yang semula merona tipis kini langsung memerah padam sampai ke ujung telinga. Gadis itu refleks menutupi perutnya dengan kedua tangan, menunduk dalam-dalam karena malu setengah mati. Sungguh, perutnya benar-benar tidak bisa diajak bekerja sama di depan Jungkook.
Jungkook sempat terkejut sejenak sebelum akhirnya sebuah tawa kecil yang dalam keluar dari tenggorokannya. Pria itu menggeleng gemas, binar matanya dipenuhi rasa geli dan kasih sayang.
"Perutmu bicara hal yang berbeda, Kim Mira," goda Jungkook dengan senyum menggoda yang makin lebar.
Tanpa memberi kesempatan lagi bagi Mira untuk mengelak atau menolak karena malu, Jungkook melangkah mendekat. Jemari tegapnya terulur, menyusup pelan dan menggenggam pergelangan tangan Mira dengan lembut.
"Ayo," panggil Jungkook hangat seraya menuntun langkah gadis itu melintasi padang rumput yang tersapu salju. "Aku tahu ada bistro Prancis yang sangat nyaman di dekat ujung jalan Champ de Mars. Mereka punya sup bawang hangat dan steak yang luar biasa. Tidak ada penolakan."
Mira hanya bisa pasrah membiarkan tangannya dituntun oleh Jungkook, menatap punggung tegap pria itu di bawah pendar keemasan Menara Eiffel dengan jantung yang kembali bertalu hebat.
Bistro Prancis bergaya klasik itu terasa begitu hangat dan hangat. Aroma mentega gurih, sup bawang hangat, dan panggangan steak seketika menyambut begitu mereka melangkah masuk. Lampu-lampu giallo remang menyinari interior kayu yang antik, mengusir tuntas hawa dingin menusuk dari luar.
Setelah memesan dua porsi ribeye steak dan sup bawang khas Prancis, Jungkook menuangkan air putih ke gelas Mira. Suasana canggung akibat insiden perut keroncongan tadi perlahan melumer di bawah kehangatan ruangan.
"Jadi..." buka Jungkook seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, menatap Mira dengan binar ingin tahu yang hangat. "Taehyung bilang kau berhasil lolos masuk Sorbonne. Jurusan apa yang kau ambil, Mira-ya?"
Mira mendongak, jemarinya memutar-mutar gagang sendok di atas meja. Binar matanya seketika menyala terang saat topik itu diangkat.
"Aku mengambil jurusan Fashion Design and Merchandising, Oppa," jawab Mira dengan senyum yang akhirnya terkembang lepas. "Paris kan kiblat mode dunia. Sejak SMA aku bermimpi ingin belajar tekstil, merancang busana, dan memahami bagaimana rumah mode besar mengelola bisnis mereka di sini."
Jungkook menaikkan kedua alisnya, tampak terkesan. "Wah, Fashion Design? Pantas saja," gumam Jungkook pelan, pandangannya secara refleks memperhatikan selera pakaian Mira yang simpel namun selalu terlihat estetik dan padu padan. "Kau punya selera visual yang sangat bagus. Taehyung pasti bangga sekali."
"Semoga saja," kekeh Mira tipis. "Tapi perjalanannya masih panjang. Aku harus belajar bahasa Prancis dengan lebih giat lagi agar tidak panik seperti tadi sore."
Pelayan restoran kemudian datang membawa hidangan mereka. Dua piring steak yang masih mendesis hangat serta aroma sup bawang yang gurih membakar selera makan.
"Ayo makan dulu selagi hangat," ujar Jungkook seraya memotongkan potongan steak pertama di piringnya, lalu menggeser potongannya yang sempurna ke atas piring Mira, sebuah kebiasaan perhatian yang reflek ia lakukan.
Mira tersentak pelan melihat perlakuan manis itu, namun mencoba bersikap biasa. "Terima kasih, Oppa."
Sambil menikmati santap malam mereka, percakapan mengalir begitu lancar dan hangat. Mira menceritakan ambisinya menciptakan lini busana sendiri yang memadukan unsur tradisional Korea dengan potongan modern khas Eropa. Sementara Jungkook mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali memberikan sudut pandangnya dari sisi eksekutif dan bisnis kreatif HexaVerse.
Tawa kecil sesekali tercipta di meja mereka. Tatapan mata Jungkook yang begitu intens setiap kali Mira berbicara membuat dada gadis itu berdesir hangat. Di tengah suapan demi suapan steak yang lezat, Mira sejenak melupakan prasangkanya, terhanyut dalam pesona pria di hadapannya yang ternyata bisa menjadi pendengar yang begitu manis dan luar biasa.
Di tengah gelak tawa kecil dan kehangatan percakapan tentang dunia mode, ponsel Jungkook yang tergeletak di atas meja mendadak bergetar nyaring. Layar ponselnya menyala, menampilkan sebuah panggilan masuk.
Jungkook melirik layarnya sejenak. "Maaf ya, Mira-ya. Aku angkat telepon sebentar," pamitnya sopan.
Mira mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. "Silakan, Oppa."
Jungkook menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya seraya menyandarkan tubuh ke kursi.
"Eoh, nuna?" sapa Jungkook dengan suara berat yang terdengar santai dan akrab.
Mira yang sedang memotong steak-nya mendadak menghentikan gerakannya. Nuna?
"Ah, tidak... aku tidak sedang di kantor" lanjut Jungkook seraya melirik ke arah Mira dengan pandangan lembut. "Aku sedang di bistro dekat Menara Eiffel. Eoh, aku sedang menemani adikku makan malam."
ZAP.
Kata "adikku" yang meluncur begitu mudah dan tanpa beban dari bibir Jungkook terasa bagai jarum halus yang menusuk tepat di tengah dada Mira.
Gerakan jemari Mira yang memegang pisau dan garpu seketika membeku. Kalimat itu terus bergema di kepalanya, memantul berulang-ulang di tengah riuhnya suasana bistro yang hangat.
Adik... Ya, tentu saja. Adik dari Kim Taehyung.
Mira menundukkan kepalanya dalam-dalam, berpura-pura sangat sibuk memotong daging di piringnya agar Jungkook tidak melihat perubahan pada raut wajahnya. Pipinya yang tadi merona hangat mendadak terasa dingin. Kebaikan pria ini sejak mendarat di bandara, handuk yang mengeringkan rambutnya semalam, cokelat hangat dengan kayu manis, hingga kecupan pura-pura di bawah Menara Eiffel tadi sore... semuanya mendadak terjelaskan dengan amat sangat menyakitkan.
Semua perlakuan manis itu bukanlah sinyal bahwa Jungkook memiliki perasaan khusus padanya. Itu hanyalah bentuk rasa tanggung jawab dan kasih sayang seorang pria dewasa kepada adik kecil sahabat karibnya.
Prasangka soal jepit rambut mutiara di kamar Jungkook kini menyatu sempurna dengan kenyataan ini. Pria mapan dan tampan sekelas Jungkook mana mungkin lajang tanpa alasan. Dan wanita yang meneleponnya barusan... bisa jadi adalah pemilik sebenarnya dari barang-barang wanita di kamar tersebut.
"Baiklah, nanti kurevisi drafnya begitu sampai di apartemen. Ne, nuna," ujar Jungkook mengakhiri panggilannya.
Ia menurunkan ponselnya dan kembali menatap Mira yang masih menunduk mengunyah dagingnya secara perlahan.
"Maaf ya," kata Jungkook bersalah karena sempat mengabaikan Mira. "Tadi dari penanggung jawab tim kreatif. Jadi, sampai mana kita tadi? Ah, soal magang di rumah mode—"
"Oppa," potong Mira pelan. Gadis itu mengangkat kepalanya, menyunggingkan sebuah senyum yang teramat rapi, senyum sopan yang sengaja ia buat untuk menutupi rasa sesak yang bergemuruh di balik dadanya.
"Terima kasih banyak untuk steak-nya," ujar Mira dengan nada suara yang terkontrol, kini kembali berjarak. "Tapi sepertinya aku sudah agak kenyang dan sedikit mengantuk. Bisakah kita pulang setelah ini?"
Jungkook sempat terpaku sejenak. Ia menatap manik mata Mira, merasakan ada perubahan atmosfer yang mendadak kembali dingin, persis seperti saat di meja makan tadi malam. Namun, melihat raut lelah di wajah Mira, Jungkook memilih untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Baiklah," jawab Jungkook lembut, walau kerutan bingung di dahinya kembali terbit. "Kita pulang sekarang."