SINOPSIS
Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!
Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Tiket Lelang VVIP dan Gaun Ratusan Juta
Malam harinya, di dalam Penthouse lantai 99.
Aura sedang duduk bersila di atas karpet bulu beruang salju, memangku laptop hologramnya sambil mengunyah keripik kentang. Caden duduk di sofa di belakangnya, membaca sebuah undangan fisik berwarna hitam pekat dengan pinggiran emas.
"Elara, tutup komputermu. Bersiaplah," kata Caden santai, melempar undangan itu ke pangkuan Aura.
"Bersiap ke mana, Bos? Ini udah jam delapan malam. Jam kerja gue udah kelar, lemburan juga udah gue tutup laporannya. Waktunya gue maraton drama korea dari tablet Lucas," tolak Aura tanpa menoleh.
"Kita akan pergi ke Pelelangan Bawah Tanah Istana Hitam," jawab Caden.
Gerakan tangan Aura yang sedang mengambil keripik seketika terhenti. Ia meletakkan bungkus keripiknya, mengambil undangan hitam itu, dan membacanya dengan mata membulat.
"Pelelangan Bawah Tanah? Maksudnya Black Market VIP buat para bangsawan korup dan konglomerat yang suka buang-buang uang buat barang antik aneh itu?!" seru Aura histeris.
"Tepat sekali."
"Wah! Kenapa Bos baru bilang sekarang?!" Aura langsung melompat berdiri, laptopnya nyaris terlempar. "Gue denger dari gosip pelayan, di sana banyak barang sitaan yang valuasinya belum akurat! Kalau kita bisa menang lelang di harga dasar terus kita jual lagi di pasar terbuka, margin keuntungannya bisa gila-gilaan, Bos!"
Caden tertawa pelan melihat antusiasme asistennya. "Kau selalu memikirkan cara membeli murah dan menjual mahal, ya? Tapi malam ini, kita tidak pergi untuk berbisnis. Kita pergi untuk membuang uang."
Aura mengerutkan kening. "Membuang uang? Maksud Bos?"
"Aku mendapat informasi dari jaringan intelijenku. Arthur akan hadir malam ini secara diam-diam. Dia sedang mengincar sebuah artefak penyembuh langka untuk menyembuhkan wabah di wilayah sekutunya, demi memperbaiki reputasinya yang hancur setelah kalah dariku kemarin," jelas Caden, menyilangkan kakinya dengan elegan.
Mata Caden berkilat sadis. "Aku ingin kau berada di sana, Elara. Duduk di sampingku, gunakan Kartu Platinummu, dan hancurkan setiap penawaran yang Arthur buat. Beli barang itu dengan harga setinggi mungkin, lalu letakkan di gudang brankasku sebagai rongsokan."
Rahang Aura nyaris jatuh ke lantai.
"B-Bos mau gue nge-bid barang miliaran cuma buat ngalahin Arthur, terus barangnya dianggurin?! BOS, ITU NAMANYA PEMBOROSAN TAKTIS! RUGI BANDAR!" teriak Aura frustrasi. Jiwa miskinnya bergejolak hebat. Membeli barang mahal tanpa niat resell (jual kembali) adalah dosa besar dalam kitab kapitalismenya.
"Anggap saja itu biaya hiburan untukku, Elara," Caden berdiri, berjalan mendekati Aura. "Melihat Arthur hancur berkeping-keping karena tidak bisa menyaingi kekayaanku... itu memberikan kepuasan yang tidak bisa dibeli dengan rasio investasimu."
Aura memijat pelipisnya. Antagonis satu ini memang punya hobi yang sangat mahal untuk balas dendam.
"Oke, oke, terserah Bos yang punya uang tanpa seri. Kalau tugas gue cuma angkat papan lelang dan pamer harta, gue ahlinya!" Aura berkacak pinggang. "Tapi tunggu, gue nggak punya baju yang cocok buat acara VVIP begini! Masa gue pakai seragam kerja? Ntar disangka pelayan yang nyasar bawa kartu elit!"
Caden memutar bola matanya, meraih ponsel komunikasi di meja.
"Lucas. Masuk ke penthouse sekarang. Bawa semua koleksi gaun malam dari Butik Madame Roselia ke sini."
Hanya dalam waktu sepuluh menit, pintu lift terbuka. Lucas dan lima orang pelayan masuk sambil mendorong rak panjang yang dipenuhi gaun-gaun malam bertabur permata dan sutra yang harganya setara dengan biaya hidup Aura seumur hidup.
"Astaga naga..." Aura menelan ludah. "Bos... Madame Roselia itu kan desainer istana! Satu bajunya harganya ratusan ribu emas!"
"Pilih yang mana saja yang kau suka," Caden duduk kembali di sofa, mengambil segelas wine. "Atau pakai semuanya secara bergantian. Waktumu lima belas menit."
Aura tidak membuang waktu. Instingnya langsung tertuju pada sebuah gaun sutra berwarna biru malam dengan potongan leher V yang elegan, punggung terbuka, dan taburan berlian kecil yang berkilau menyerupai rasi bintang. Tidak terlalu berlebihan, tapi memancarkan aura old-money yang sangat kuat.
Dua puluh menit kemudian, Aura melangkah keluar dari ruang ganti.
Caden, yang sedang menyesap wine-nya, perlahan menurunkan gelasnya. Mata peraknya menatap Aura lekat-lekat, menyusuri setiap inci dari tubuh gadis itu.
Gaun biru malam itu membalut lekuk tubuh Aura dengan sempurna. Rambut cokelatnya disanggul modern dengan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang dipulas makeup tipis nan tajam. Gadis barbar dan cerewet itu kini terlihat seperti seorang permaisuri penguasa ekonomi yang siap menaklukkan dunia malam.
"Gimana, Bos?" Aura berputar sedikit, membuat gaunnya berkibar. "Gue udah kelihatan kayak Sugar Baby sultan belum? Atau kayak CEO muda sukses?"
Caden meletakkan gelasnya. Ia berjalan menghampiri Aura dengan langkah pelan namun mengintimidasi. Saat jarak mereka tersisa satu langkah, Caden membuka kotak beludru hitam dari sakunya.
Sebuah kalung berlian biru raksasa tergeletak di dalamnya, memancarkan kilau yang menyilaukan mata.
"Wah, gila... itu Blue Tear of Ocean yang dilelang tahun lalu?! Bos yang menang lelangnya?!" Aura memekik tertahan.
"Berbaliklah," perintah Caden serak.
Aura menurut. Ia membelakangi Caden. Pria itu memasangkan kalung berlian ratusan juta itu ke leher putih Aura. Sentuhan jari Caden yang dingin di tengkuk Aura membuat gadis itu merinding pelan.
"Kau bukan Sugar Baby, Elara," bisik Caden tepat di telinga Aura, napas hangatnya membuat bulu kuduk Aura berdiri. "Kau adalah Asisten Utamaku. Pemegang kunci brankasku. Malam ini, aku ingin seluruh bangsawan korup di pelelangan itu tahu... bahwa aset paling berharga milik Pangeran Caden, tidak tersimpan di bank, melainkan berdiri di sampingku."
Aura menelan ludah, menatap pantulan dirinya dan Caden di kaca jendela penthouse. Pria itu berdiri menjulang di belakangnya, kedua tangannya beristirahat secara protektif dan posesif di pinggang Aura.
Sial, batin Aura. Kalau digombalin pakai berlian segede gaban gini, benteng pertahanan materialistis gue lama-lama bisa jebol juga! Fokus, Aura, fokus! Kita ke sana buat ngerampok mental Hama Pirang!
"Siap, Bos!" Aura membalikkan badannya, tersenyum lebar menutupi debar jantungnya. "Mari kita bakar uang di depan muka Pangeran Arthur! Gue pastikan dia pulang jalan kaki karena nggak sanggup bayar parkir kereta!"
Caden menyeringai lebar, sebuah senyum yang sangat jarang ia perlihatkan di depan publik. Ia menyodorkan lengannya, yang langsung digandeng erat oleh Aura.
Malam ini, sejarah baru di dunia Black Market akan tercipta. Bukan karena perebutan artefak, melainkan karena duet maut antara Antagonis Gila Harta dan Asisten Bar-bar yang siap memborong segalanya.