Sena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya—sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir—karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiSena tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaannya membaca novel thriller malam itu akan membawanya ke dalam pusaran teror nyata. Ia terbangun di dalam dunia novel favoritnya sebuah cerita kelam yang berpusat pada sosok psikopat genius bernama Vex Noir. Di balik topeng topeng pembunuh dingin yang membantai korbannya dengan santai dan tanpa jejak, Vex Noir dikenal selalu berhasil meloloskan diri dari kejaran hukum tanpa cela. Aturan permainan menjadi jauh lebih mengerikan ketika Sena menyadari identitas barunya: ia tidak bertransformasi menjadi sang pahlawan, melainkan menjadi korban pertama dalam daftar pembunuhan Vex Noir karakter figuran yang seharusnya tewas mengerikan di bab awal. Berbekal ingatan detail tentang setiap plot, kebiasaan, hingga jalan pikiran sang psikopat, Sena harus memutar otak untuk meretas takdirnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
BAMM!
Pintu sedan mewah bertinted tebal itu ditutup rapat dari luar oleh Edwin. Di dalam kabin belakang yang sempit dan kedap suara, suasana seketika mendadak mencekam bagaikan di dalam ruangan eksekusi mati.
Estella masih menyandarkan kepalanya di jok kulit dengan mata terpejam kaku, berpura-pura kehilangan kesadaran penuh. Namun, kedamaian palsunya hancur berkeping-keping dalam hitungan detik.
SRET... KLIK.
Sensasi moncong besi dingin mendarat pas di tengah-tengah jidatnya. Suara denting pelatuk pistol yang ditarik setengah jalan terdengar begitu keras dan menggema di telinganya.
Anjirrrr! jerit Estella dalam hati, jantungnya langsung melompat sampai ke tenggorokan. Ini beneran mau ditembak di kepala?! Gila! Gue bukannya kagak mau mati, tapi mati ditembak peluru nembus jidat itu pasti sakitnya kagak ngotak! Enggak bisa nih, enggak bisa! Gue harus selamatkan otak manis gue sekarang juga!
Memahami bahwa akting pingsannya sudah kadaluarsa dan sia-sia, Estella buru-buru melancarkan Rencana B yang mendadak melintas di kepalanya: Akting amnesia dramatis!
"Ughhh..." Estella melenguh pelan dengan nada sesakit mungkin. Jemari tangannya menggapai kepalanya yang pura-pura pusing, lalu perlahan-lahan membuka kedua kelopak matanya dengan kedipan lambat bagaikan orang yang baru bangun dari koma panjang.
Ia menyipitkan mata, menatap laras pistol hitam yang masih menempel tepat di dahinya, lalu mengalihkan pandangan pada wajah tampan Lucian yang menatapnya dengan iris sehitam jelaga—dingin, datar, dan tanpa belas kasihan sedikit pun.
"E-eh... ini di mana ya?" cicit Estella dengan raut wajah polos dibuat-buat, matanya berkedip-kedip linglung. "Kamu... siapa ya, Mas? Kok ganteng banget tapi bawa pistol? Terus... aku siapa? Kenapa kepala aku pusing banget sampai lupa nama sendiri?"
Lucian tidak terkecoh sedikit pun. Raut wajahnya tidak berubah, tetap keras dan membekukan bagaikan es di kutub utara. Ia justru makin menekan ujung laras pistolnya ke dahi Estella hingga kepala gadis itu sedikit terdorong ke belakang.
"Cukup lelucon bodohmu, Estella," desis Lucian dengan suara deep voice yang teramat pelan, namun sanggup merindingkan setiap bulu kuduk. "Kau pikir strategi kekanak-kanakan ini bisa meloloskanmu dari peluru?"
"S-sumpah, Om... eh, Mas!" pekik Estella panik, air mata buatan mulai berkaca-kaca di sudut matanya karena ketakutan setengah mati melihat tatapan tanpa emosi milik Lucian. "Aku beneran amnesia! Tadi kepala aku terantuk tembok gang yang keras banget! Jangankan nama Mas, nama bapak aku sendiri aja aku lupa! beneran lupa!"
Lucian menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman langka yang alih-alih menenangkan, justru memancarkan kekejaman murni dari seorang Vex Noir.
"Bagus kalau kau lupa," ujar Lucian dingin. Tangannya yang memegang pistol tetap kokoh tanpa getaran sedikit pun. "Karena dengan begitu, kau tidak perlu mengingat bagaimana rasanya peluru ini menembus tengkorakmu. Aku tidak suka mainan yang banyak bicara."
Estella menelan ludah yang terasa bagaikan duri. Aura membunuh yang memancar dari tubuh Lucian begitu pekat, membuktikan bahwa pria ini sama sekali tidak ragu untuk menarik pelatuknya detik ini juga. Kekejaman sang eksekutor maut bukan sekadar gertakan kosong.
"T-tunggu! Jangan ditembak dulu!" jerit Estella pasrah dengan sisa-sisa nafasnya, seluruh akting amnesianya runtuh total. "Oke! Aku ingat! Aku ingat semuanya! Aku Estella, kamu Lucian si psikopat maksudnya Tuan Lucian yang terhormat! Tolong turunin dulu pisaunya... eh, pistolnya! Otak aku masih butuh dipakai buat masa depan!"