Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Wajah di Balik Foto Tua

Kertas foto itu tergenggam erat di tangan Arga, seakan benda itu berat sekali — menahan napas, aku menatapnya lekat-lekat saat ia perlahan memutarnya agar kami berdua bisa melihat wajah di dalamnya.

Di sana, berdiri di antara Surya dan Laras, tersenyum tipis namun matanya dingin tanpa kehangatan — Bibi Ratih. Wanita yang sudah melayani keluarga Pratama selama belasan tahun, yang selalu menyiapkan teh hangat saat kami pulang, yang diam-diam merawat taman kesayangan Ibu Arga tanpa pernah diminta. Orang yang kami semua percayai tanpa keraguan sedikit pun.

"Tak mungkin..." bisikku, kakiku terasa lemas hingga aku harus bersandar pada dinding. "Bibi Ratih? Dia... dia selalu begitu baik pada kita."

Arga mengangguk pelan, namun rahangnya mengeras, menahan gelora amarah dan kekecewaan yang mendalam. "Itulah sebabnya mereka tak pernah tertangkap. Karena musuh kita bukan orang asing — dia ada di dalam rumah kita sendiri, melihat setiap langkah kita, mendengar setiap percakapan kita."

Ia memasukkan foto itu ke dalam saku jaketnya, lalu menatapku tajam namun lembut. "Kita harus kembali. Sekarang juga. Ibu sendirian di rumah bersama dia."

Kami bergegas masuk ke mobil, sepanjang perjalanan tak ada yang bersuara. Pikiranku berputar kacau — setiap senyum Bibi Ratih, setiap perhatian kecilnya, ternyata semua itu topeng belaka. Dan di baliknya, ia telah mengawasi kami, melaporkan segala hal kepada Surya selama bertahun-tahun.

Sesampainya di rumah, suasana tampak tenang seperti biasa. Bibi Ratih sedang menyiram bunga di halaman depan, seakan tak terjadi apa-apa. Saat melihat kami pulang lebih awal dari biasanya, ia berhenti sejenak, lalu tersenyum ramah — senyum yang kini terasa begitu palsu dan mengerikan.

"Tuan Arga, Nyonya Freya... sudah pulang? Apakah mau disiapkan minuman?" sapanya lembut, persis seperti biasanya.

Arga berhenti di hadapannya, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip. "Kami baru saja dari rumah Laras, Bibi Ratih."

Wanita itu tersentak sedikit, tangannya yang memegang selang air gemetar — namun ia berusaha tetap tenang. "Oh... begitu? Bagaimana kabarnya, Tuan? Sudah lama saya tidak melihatnya."

"Kami menemukan suratnya," potongku pelan namun tegas, melangkah maju. "Dan sebuah foto — foto Surya, Laras... dan Bibi Ratih, berdiri di samping mereka."

Wajah Bibi Ratih perlahan berubah pucat. Selang air jatuh dari tangannya, membasahi sepatu tanpa ia pedulikan. Senyum ramahnya lenyap, digantikan tatapan dingin dan tajam — tatapan yang sama persis dengan yang ada di foto itu.

"Kalian menemukannya..." bisiknya, bukan lagi sebagai pelayan yang sopan, melainkan sebagai seseorang yang kedoknya akhirnya terbongkar. "Sudah kupastikan foto itu sudah dimusnahkan ternyata..."

"Kenapa, Bibi?" tanya Arga, suaranya berat dan penuh kesedihan. "Keluarga Pratama sudah begitu baik padamu. Ayahku memperlakukanmu seperti keluarga sendiri. Ibu... Ibu selalu memercayaimu sepenuhnya. Kenapa kau berkhianat?"

Bibi Ratih tertawa sinis — tawa yang kering dan pahit. "Baik? Mempercayai? Hanya karena aku diberi makan dan tempat tidur, lalu aku harus bersyukur seumur hidupku? Ayahmu merampas segalanya dariku — kesempatan, masa depan, bahkan orang yang kucintai. Surya... dia satu-satunya orang yang mengerti rasa sakitku. Dan kami berjanji — keluarga Pratama harus membayar mahal untuk semua itu."

"Jadi kau tahu di mana Ibu selama ini?" tanyaku, dadaku berdebar cemas.

"Aku tahu," jawabnya dingin. "Aku yang membawanya ke tempat itu. Aku yang memberi tahu Surya setiap kali kalian berencana pergi."

Amarah meluap di dadaku, tapi Arga menahan lenganku. "Di mana Ibu sekarang?" tanyanya tegas, suaranya berwibawa.

Bibi Ratih tersenyum miring, senyum yang membuat darahku membeku. "Tenang saja. Dia masih di dalam rumah. Untuk saat ini... Tapi jangan berpikir bahwa dengan menangkapku, semuanya akan berakhir. Surya bukan pemimpin sebenarnya. Dia hanya alat — sama seperti aku, sama seperti Laras. Yang benar-benar mengendalikan semuanya... masih di luar sana. Dan dia jauh lebih berbahaya dari kalian berdua."

"Siapa dia?" bentak Arga. "Siapa orang itu?"

Bibi Ratih menggeleng pelan, lalu mundur perlahan ke arah pintu samping. "Kalian akan mengetahuinya sendiri. Tapi saat itu tiba... terlambat bagimu untuk lari."

Sebelum kami sempat bereaksi, ia berbalik dan berlari masuk ke dalam gudang kecil di samping rumah. Saat kami menyusul, pintu itu terkunci rapat — dan di dinding belakang gudang itu, ada lubang yang sudah lama digali, mengarah ke luar rumah. Ia sudah bersiap untuk kabur sejak awal.

Kami berlari masuk ke rumah, mendapati Ibu Arga sedang duduk di ruang tengah, tampak bingung melihat kami berlari dengan wajah pucat. "Ada apa? Bibi Ratih tadi... dia bilang mau pergi sebentar, wajahnya terlihat sangat ketakutan."

"Dia tidak akan kembali, Bu," kata Arga pelan, duduk di samping ibunya dan menggenggam tangannya erat. "Dia... dia salah satu dari mereka."

Ibu Arga terdiam, matanya membelalak tak percaya. Air mata perlahan jatuh di pipinya — bukan karena takut, tapi karena luka dikhianati oleh orang yang dipercayai selama belasan tahun. "Ratih... aku menganggapnya saudara..."

"Aku tahu, Bu. Tapi ini bukan salah Ibu. Ini bukan salah siapa-siapa selain mereka yang memilih jalan jahat," hibur Arga lembut, meski ia sendiri tampak sangat terluka.

Malam itu, rumah terasa semakin sunyi dan dingin. Kami mengunci semua pintu dan jendela, menambah penjaga di sekeliling rumah. Keamanan diperketat — bukan karena kami takut, tapi karena kami tahu, ancaman yang sebenarnya belum muncul. Bibi Ratih hanyalah pion, Laras hanyalah pion. Dan di balik semua itu, ada seseorang yang menarik benang dari jauh — seseorang yang belum kami kenal, yang rencananya jauh lebih besar dan lebih gelap dari yang kami bayangkan.

Saat aku berbaring di samping Arga nanti malam, ia memelukku begitu erat, seakan takut kehilangan.

"Kita belum aman, Freya," bisiknya pelan di telingaku. "Tapi apa pun yang terjadi, kau harus berjanji — kau akan tetap di sisiku. Kita hadapi bersama, sampai akhir."

Aku mengangguk, mencium keningnya. "Aku berjanji. Tak ada apa pun yang bisa memisahkan kita."

Namun di dalam hatiku, rasa cemas semakin tumbuh. Jika bahkan Bibi Ratih bisa mengkhianati kami, siapa lagi yang bisa kami percayai? Dan siapa sosok bayangan yang berada di puncak segalanya — yang bahkan Surya tunduk padanya?

 

Mau lanjut ke Bab 25 untuk mulai mencari siapa bos sebenarnya, dan bagaimana Freya mulai menemukan kemampuan barunya? 🔥

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!