Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ainun: Selama Ini Aku Diawasi

Siang yang panjang perlahan berganti. Cahaya jingga di luar jendela mulai menghilang, digantikan langit yang semakin gelap. Rumah pun berangsur sunyi ketika malam turun dan hanya menyisakan suara-suara kecil dari kejauhan.

Di dalam kamar sempit itu, Ainun masih meringkuk di sudut ruangan sambil memeluk kedua lututnya.

Sejak siang tadi, ia tidak beranjak dari tempat tersebut.

Perutnya terasa kosong. Tenggorokannya kering, sementara tubuhnya semakin lemas karena belum makan dan minum.

Perlahan, Ainun mengangkat kepala. Pandangannya beralih ke jendela kecil di sisi kamar.

Langit di luar sudah berubah gelap.

“Sudah malam ternyata...” gumamnya lirih.

Ia mencoba bangkit. Kedua telapak tangannya menekan lantai untuk menopang tubuh yang terasa berat. Setelah berhasil berdiri, Ainun berjalan tertatih menuju vas bunga yang berada di atas meja kecil.

Tenggorokannya terasa begitu kering hingga setiap kali menelan, rasa perih menjalar ke dalam.

‘Aku haus sekali...’

Ainun mengulurkan tangan, lalu menyingkirkan vas tersebut. Pandangannya menyusuri bagian belakang rak, berharap menemukan sesuatu yang bisa dimakannya.

Namun, baru saja jemarinya menyentuh vas itu, sebuah benda tiba-tiba jatuh ke lantai.

Klotak!

Ainun tersentak.

Pandangannya segera turun ke lantai. Keningnya berkerut ketika melihat sebuah benda kecil tergeletak tidak jauh dari kakinya.

Ia membungkuk perlahan, lalu mengambil benda tersebut.

“Benda apa ini?” gumamnya.

Ainun memutar benda itu di antara jemarinya. Matanya menyipit ketika berusaha mengenali bentuknya di bawah cahaya redup yang masuk dari jendela.

Ia membaliknya sekali lagi.

Seketika, pandangannya berhenti pada bagian tertentu dari benda tersebut.

“Ini kan...”

Ainun mengangkat benda kecil itu mendekati cahaya yang masuk dari jendela. Matanya menyipit saat akhirnya mengenali bentuknya.

“Kamera...” gumamnya.

Jemarinya mendadak terasa dingin.

“Kenapa kamera ini ada di sini?”

Ainun menatap benda itu beberapa detik sebelum ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

 Matanya menyusuri dinding, sudut-sudut kamar, hingga rak kecil di samping tempat tidurnya, berharap menemukan benda serupa dengan yang sebelumnya ia temukan.

Dirinya yakin bila ada kamera yang masih tersimpan di kamarnya.

Selama ini, ia tidak pernah benar-benar memperhatikan benda-benda di kamar tersebut.

Ia melangkah perlahan. Telapak kakinya menyeret di atas lantai, sementara benda kecil itu masih tergenggam erat di tangannya.

Langkahnya berhenti di depan rak yang selama ini hanya dianggapnya sebagai tempat meletakkan berbagai hiasan kecil yang tidak pernah ia pedulikan.

Ainun menatap bagian belakang rak itu.

Ada sesuatu yang terasa janggal.

Ia mendekat, lalu menggeser rak tersebut perlahan.

Krek...

Sebuah benda kecil tampak tersembunyi di baliknya. Tubuh Ainun seketika kaku. Matanya melebar.

Benda itu sama persis dengan yang berada di tangannya.

“Nggak mungkin...”

Napasnya tertahan. Perlahan, tangannya terangkat. Jemarinya gemetar ketika mengambil benda tersebut dari tempat persembunyiannya.

Kini ada dua benda serupa di tangannya.

Jantung Ainun berdetak semakin cepat. Ia menoleh ke sekeliling kamar dengan tatapan penuh kewaspadaan.

‘Selama ini... apa aku terus dipantau?’

Bulu kuduknya meremang.

Ia kembali mengamati setiap sudut kamar. Tempat tidur, meja kecil, rak, hingga celah-celah dinding.

Berapa banyak kamera yang terpasang di kamar ini?

Dan sejak kapan?

Pertanyaan itu membuat tenggorokannya terasa semakin kering.

Ainun mengepalkan kedua tangannya. Salah satunya masih menggenggam kamera kecil yang baru saja ditemukannya.

Ia mengangkat benda itu hingga sejajar dengan wajah. Tatapannya menajam ke arah lensa kecil tersebut.

Ia yakin seseorang sedang mengawasinya dari balik kamera itu.

Dan siapa lagi kalau bukan Sagara?

Hanya pria itu yang tahu dirinya berada di kamar ini.

“Sagara!”

Suara Ainun menggema di kamar sempit itu.

“BUKA PINTUNYA SEKARANG! AKU TAHU KAMU MELIHATKU!”

“CEPAT BUKA PINTUNYA!”

Napasnya memburu. Matanya mulai memanas, tetapi kali ini bukan hanya karena ketakutan.

Ada kemarahan yang perlahan menyelimuti hatinya.

“Mas Sagara! BUKA PINTUNYA!”

.

Sementara itu, jauh dari kamar Ainun, Sagara berada di sebuah ruangan yang sengaja ia gunakan untuk memantau keadaan istrinya.

Pintu ruangan tertutup rapat. Hanya cahaya dari beberapa layar yang menerangi wajahnya yang tampak dingin.

Sagara duduk di depan meja dengan tubuh bersandar pada kursi. Tatapannya tertuju pada salah satu layar di hadapannya.

Di sana, Ainun berdiri di dalam kamar sempit itu.

Wanita itu kini menatap lurus ke arah kamera pengawas yang baru saja ditemukannya. Seolah menyadari keberadaan kamera tersebut, Ainun terus menatap ke arahnya sambil sesekali berteriak memanggil namanya.

Sagara mengembuskan asap cerutu dari sela bibirnya.

Sudut bibirnya tidak bergerak sedikit pun.

Tangannya meraih remote yang tergeletak di atas meja. Ia menekan salah satu tombol hingga suara dari kamera pengawas.

“Berhenti berteriak, Ainun. Tenggorokanmu bisa sakit nanti. Jadi nikmati hukumanmu.”

“K-kenapa Mas Sagara melakukan ini kepadaku? Katakan!” seru Ainun dari layar.

Sagara tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru beralih kepada sebuah bingkai foto yang berada di atas meja sebelahnya. Ia meraihnya, lalu mengusap permukaan kaca yang menutupi foto Ainun.

Dalam foto itu, Ainun tersenyum begitu lepas.

Senyum yang jarang ia lihat secara langsung.

Sagara menatap foto tersebut beberapa saat sebelum kembali mengarahkan pandangan ke layar.

“Kamu tahu bagaimana angsa yang indah bisa masuk ke kandang raja hutan?”

“Apa maksudmu?” tanya Ainun. Suaranya terdengar bingung dari pengeras suara.

Sagara mengulas senyum tipis.

“Pahami sendiri maksudku.”

Ia menyandarkan tubuhnya kembali.

“Kalau ingin keluar dari sana, jadilah istri yang penurut. Jangan bertingkah seperti tadi.”

Setelah mengatakan itu, Sagara kembali menekan tombol pada remote.

Sagara menekan tombol pada remote, memutus sambungan suara dari ruangan itu. Kini hanya suara Ainun yang masih terdengar samar dari layar di hadapannya.

“Mas Sagara!”

Sagara meletakkan remote di atas meja.

Ia bangkit dari kursinya, lalu meletakkan kembali bingkai foto Ainun yang sejak tadi berada di tangannya. Setelah itu, ia melangkah menuju dinding di belakangnya. Beberapa bingkai foto Ainun tersusun rapi di sana.

Langkahnya berhenti di depan salah satu foto.

Jemarinya terangkat, menyentuh wajah Ainun yang tersenyum di dalam bingkai.

“Ainun...” gumamnya pelan.

Tatapannya semakin dalam.

“Aku sudah lama menunggu momen ini.”

Jemarinya bergerak perlahan mengikuti garis wajah Ainun pada foto tersebut.

“Bahkan aku terpaksa mendekati wanita bodoh itu.”

Sagara mendengus pelan.

“Tidak kusangka, dia justru memilih pergi dan memintamu menggantikan posisinya.”

Senyum tipis kembali muncul di wajahnya.

Namun, senyum itu perlahan menghilang ketika ia mengingat ucapan Ainun di rumah.

“Aku hanya istri sementara.”

Rahangnya mengeras.

“Aku marah karena kamu menyebut dirimu hanya istri sementara, Ainun.”

Sagara menurunkan tangannya dari bingkai foto.

Ia mengembuskan napas panjang, kemudian kembali menoleh ke arah layar.

Kamera masih menampilkan Ainun yang terduduk di lantai kamar. Bahunya bergetar. Suara isak tangisnya terdengar samar dari pengeras suara.

Sagara berdiri diam di hadapan layar itu. Tatapannya tidak beralih sedikit pun.

‘Tidak ada yang boleh menggantikan mu.’

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!