Indonesia
NovelToon NovelToon
The Silhouette Of Class

The Silhouette Of Class

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Dosen
Popularitas:798
Nilai: 5
Nama Author: Midtwilight03

"Di kelas, dia adalah hukum. Di dunia luar, dia adalah takdir."

Ravian menjalani dua kehidupan yang berbeda. Di siang hari ia adalah dosen dingin di kampus dan setelahnya ia adalah CEO kejam Evander Corp.

Batasan yang ia buat runtuh seketika ketika ia tak sengaja jatuh cinta pada pandangan pertama kepada mahasiswinya.

Kini Ravian terjebak di antara aturan etika akademis, profesionalisme perusahaan, dan getaran dada yang tak bisa ia kendalikan.

Sanggupkah Ravian mempertahankan rahasianya saat batas antara ruang kuliah, ruang rapat, dan hatinya makin menipis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Midtwilight03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 18 Senyum Anggun dan Jerat yang Terpasang

Senin pagi di lantai empat puluh dua Evander Corp kembali dipenuhi hiruk-pikuk khas dunia eksekutif.

Suara langkah kaki para karyawan bersahutan di sepanjang koridor, dering telepon terdengar dari berbagai sudut, sementara bunyi ketikan dari balik meja-meja kerja berpadu menjadi satu irama kesibukan yang nyaris tak pernah berhenti.

Setelah badai ancaman Kaivan akhirnya benar-benar mereda, Liora bisa bernapas sedikit lebih lega.

Pertama kalinya setelah beberapa hari yang melelahkan, ia merasa suasana di sekelilingnya kembali normal. Tiada lagi tatapan penuh kecurigaan, tiada lagi pesan-pesan ancaman yang membuat jantungnya berpacu setiap kali ponselnya bergetar.

Meskipun demikian, ketenangan itu ternyata tidak berlangsung lama.

Liora berjalan menyusuri koridor eksekutif sambil memeluk beberapa berkas di dadanya. Di wajahnya terpasang kacamata baru dengan bingkai titanium tipis berwarna keperakan. Kacamata itu tampak sederhana, tetapi begitu elegan ketika bertengger di wajahnya.

Hadiah dari Ravian.

Pria itu bahkan secara khusus memesannya dari seorang desainer Italia setelah kacamata lama Liora patah.

Liora sempat menolak karena merasa harganya pasti tidaklah murah. Tapi, Ravian hanya berkata singkat bahwa ia tidak suka melihat Liora harus menyipitkan mata saat membaca laporan.

Sesederhana itu.

Namun anehnya, setiap kali Liora mengingat perhatian kecil itu, sudut bibirnya selalu ingin terangkat.

Ia menggelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikiran itu dan memusatkan perhatian pada pekerjaannya.

Setelah sampai di meja Helena, Liora meletakkan laporan evaluasi kinerja mingguan yang baru saja disusunnya.

"Ini laporan evaluasi kinerja mingguan untuk divisi operasional, Bu Helena. Sudah saya periksa ulang semuanya."

Helena menerima berkas itu sambil tersenyum. "Terima kasih, Liora. Kamu benar-benar cepat sekali."

Liora baru saja hendak menjawab ketika suara denting lift khusus terdengar nyaring dari ujung koridor.

Ting.

Pintu lift terbuka perlahan.

Suasana di sekitar meja resepsionis seketika berubah. Bukan karena seseorang yang tidak dikenal datang.

Justru karena sosok yang keluar dari lift adalah seseorang yang terlalu dikenal oleh hampir semua orang di lantai itu.

Langkah kaki anggun dengan ketukan stiletto mahal terdengar teratur di atas lantai marmer.

Tuk.

Tuk.

Tuk.

Elara Arabelle melangkah masuk dengan kepercayaan diri seorang wanita yang tahu betul bahwa keberadaannya tidak pernah luput dari perhatian.

Wanita itu mengenakan blazer putih gading dengan potongan sempurna yang membingkai tubuhnya secara elegan. Rambut panjangnya tertata rapi, sementara sebuah tas kulit bermerek menggantung anggun di lengannya. Di tangan satunya, ia membawa buket bunga meja impor yang tampak baru dipetik, dengan aroma lembut yang perlahan memenuhi udara.

Tak ada janji.

Tak ada pemberitahuan.

Elara datang begitu saja.

"Selamat pagi, Helena," senyumnya mengembang sempurna. Ramah. Anggun. Nyaris tanpa cela.

Tanpa bisa dicegah, Liora merasakan sesuatu yang dingin bersembunyi di balik keramahan itu.

"Selamat pagi, Bu Elara," Helena segera berdiri dan memberikan salam sopan. "Pak Evander saat ini sedang melakukan panggilan konferensi dengan investor dari Singapura."

Elara mengangguk ringan. "Tidak apa-apa. Aku bisa menunggu di ruangannya."

Nada suaranya santai, seolah ruang kerja CEO itu juga merupakan tempat yang biasa ia masuki kapan saja.

Kemudian pandangannya bergerak.

Pelan.

Terukur.

Dan berhenti tepat pada Liora.

Liora yang sedang berdiri di dekat meja arsip spontan menegakkan tubuh.

Elara menatapnya dari balik bulu mata panjangnya. Tatapan itu turun perlahan ke wajah Liora, berhenti pada kacamata titanium baru yang membingkai matanya, lalu bergerak ke pergelangan tangan gadis itu.

Sebuah jam tangan sederhana namun elegan melingkar di sana. Bukan barang mewah yang mencolok.

Tetapi cukup untuk menunjukkan bahwa seseorang dengan selera tinggi telah memilihnya.

Elara memperhatikan semuanya. Tidak ada satu detail pun yang tampaknya luput dari matanya.

"Liora, kan?" Suaranya lembut. Terlalu lembut.

Liora menundukkan kepala sopan. "Iya, Bu Elara. Ada yang bisa saya bantu?"

Elara tersenyum. "Bisa buatkan aku hot Americano tanpa gula dan antarkan ke ruang kerja Ravian?"

Permintaannya terdengar biasa. Tetapi ada sesuatu dalam cara Elara mengucapkan nama Ravian yang membuat Liora merasa seperti sedang mendengar sebuah klaim terselubung.

"Baik, Bu. Segera saya antarkan," Liora berbalik. Dirinya tidak menyadari bahwa Elara masih memandanginya beberapa detik lebih lama.

Seolah sedang menilai sesuatu.

Atau mungkin...

Sedang memastikan sesuatu.

***

Liora kembali dengan membawa nampan berisi secangkir Americano panas dalam cangkir porselen hitam. Uap tipis mengepul dari permukaan kopi ketika ia berhenti di depan pintu ruang kerja CEO.

Tok.

Tok.

Ia mengetuk dua kali. Tidak terdengar jawaban. Liora akhirnya membuka pintu secara perlahan.

"Permisi, Pak..." langkahnya terhenti.

Ravian baru saja mematikan layar monitor besar di belakang meja kerjanya. Pria itu berdiri sambil merapikan jas hitamnya.

Namun bukan Ravian yang membuat Liora terdiam.

Elara sudah berada di dalam. Wanita itu duduk santai di sofa kulit mewah dekat jendela, sementara buket bunga yang dibawanya tadi kini sudah tertata rapi di atas meja kaca.

Seolah-olah ia memang sudah menjadi bagian dari ruangan tersebut.

"Elara?" Nada suara Ravian langsung berubah dingin. "Kenapa tidak membuat janji terlebih dahulu?"

Elara menoleh.

Bukannya merasa bersalah, ia justru tersenyum. "Aku hanya ingin memberikan kejutan, Ravian."

Tatapan Elara lantas beralih kepada Liora. "Sekaligus menyampaikan undangan makan malam resmi dari Papi untuk keluargamu akhir pekan ini."

Ia bangkit perlahan dari sofa. "Kali ini Papi sendiri yang meminta. Jadi, kamu tidak bisa menolak lagi."

Ravian tidak segera menjawab. Matanya justru sempat beralih kepada Liora yang kini sibuk meletakkan cangkir kopi di atas meja.

"Saya akan mengecek jadwal saya nanti, Elara," jawaban itu terdengar datar. Terlalu datar.

Elara terkekeh pelan. "Oh, ayolah, Ravian. Jangan terlalu kaku."

Ia berjalan mendekati Ravian. Langkahnya terhenti tepat di hadapan pria itu. Tanpa meminta izin, tangannya terangkat dan menyentuh kerah kemeja Ravian.

Ia merapikan dasi pria itu yang sebenarnya sudah terpasang sempurna. Gerakannya begitu alami. Begitu akrab. Seolah sudah berkali-kali melakukannya.

Liora mematung di tempatnya.

Dari jarak yang hanya sekitar satu meter, ia bisa melihat jemari Elara yang menyentuh dasi Ravian.

Di balik rusuk kirinya, ada pilu yang mendadak menyempitkan ruang napas

Pemandangan itu mengingatkannya pada malam sebelumnya. Pada bagaimana Ravian memeluknya dengan begitu protektif.

Pada hangat tubuh pria itu. Pada rasa aman yang sempat membuatnya lupa bahwa hubungan mereka sebenarnya begitu rumit.

Dan sekarang...

Ia melihat wanita lain berdiri begitu dekat dengannya. Rasa nyeri yang muncul di dadanya terasa begitu tidak masuk akal hingga Liora sendiri tidak ingin mengakuinya.

Cemburu?

Tidak.

Tidak mungkin.

Liora buru-buru menundukkan kepala.

"Permisi, Pak Evander, Bu Elara. Saya kembali ke meja saya."

Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika suara Elara kembali terdengar. "Tunggu sebentar, Liora."

Liora berhenti. Ia menarik napas pelan sebelum berbalik. "Iya, Bu?"

Elara mengambil tas tangannya.

Dari dalam tas mewahnya, ia mengeluarkan sebuah amplop tebal berwarna abu-abu gelap dengan pita perak yang terikat sempurna.

Amplop itu terlihat eksklusif.

Bahkan dari kejauhan, Liora bisa melihat lambang Arabell Group tercetak dengan tinta timbul di bagian depannya.

Elara mengulurkannya.

"Karena kamu asisten magang kesayangan Ravian yang sangat rajin, aku ingin kamu datang ke acara ini Sabtu malam nanti."

Liora menatap amplop tersebut. "Untuk saya?"

"Tentu."

Dengan ragu, Liora menerima amplop itu. "Bu Elara... ini acara eksekutif. Saya hanya anak magang."

Elara tersenyum tipis. "Tidak apa-apa."

Ia melangkah lebih dekat. Ada sesuatu dalam tatapan matanya yang membuat bulu kuduk Liora meremang.

"Ada seseorang yang sangat ingin aku perkenalkan kepadamu di sana."

Liora mengerutkan kening. "Seseorang?"

Elara tidak langsung menjawab. Ia justru menoleh kepada Ravian.

Ada sesuatu yang berbeda pada wajah sang CEO, sebuah pemandangan yang belum pernah Liora saksikan sejak Elara datang."

Ravian tidak lagi sekadar terlihat tidak suka. Wajahnya mengeras. Rahangnya menegang. Tatapannya berubah tajam.

"Elara."

Hanya satu kata. Tetapi terdengar seperti peringatan.

Elara malah tersenyum. "Seseorang yang baru saja kembali dari Inggris."

Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi.

Paru-paru Liora seakan lupa bagaimana cara bekerja.

Elara melanjutkan dengan suara yang semakin rendah. "Seseorang yang tahu betul masa lalu Ravian..."

Tatapan wanita itu kembali tertuju pada Liora. "...dan rahasia besar keluarga Evander yang selama ini ditutupi dari publik."

Jantung Liora berdetak lebih keras. Ia perlahan menoleh kepada Ravian.

Darahnya terasa seperti berhenti mengalir.

Wajah pria itu pucat pasi.

Bukan pucat karena marah.

Melainkan pucat seperti seseorang yang baru saja mendengar nama sebuah mimpi buruk yang selama bertahun-tahun berusaha dikuburnya.

Sebuah pemandangan langka tersaji hari itu, Ravian sama sekali tidak terlihat seperti CEO yang selalu tahu cara menguasai keadaan.

Tidak terlihat seperti pria yang selalu memiliki jawaban.

Di matanya tersimpan sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ketakutan.

Kepanikan.

Dan sebuah masa lalu yang tampaknya belum benar-benar selesai.

Elara merapikan pita perak di ujung amplop sebelum tersenyum kepada Liora. "Datanglah, Liora," senyumnya tetap anggun.

Liora yakin, di balik senyum itu ada sebuah jerat yang baru saja dipasang. Dan ia baru saja diminta untuk berjalan tepat ke dalamnya.

Ravian menatap Elara dengan sorot mata yang semakin gelap. "Aku tidak akan membiarkanmu melakukan ini."

Elara hanya tertawa kecil. "Kita lihat saja, Ravian."

Ia mengambil tasnya dan berjalan melewati Liora. Aroma parfumnya tertinggal di udara.

Sementara Liora masih berdiri mematung, menggenggam amplop abu-abu itu dengan jemari yang perlahan mendingin.

Di dalam amplop itu mungkin hanya ada sebuah undangan.

Tetapi baru kali ini, Liora merasa bahwa ia sedang memegang sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Sebuah pintu menuju masa lalu Ravian. Masa lalu yang selama ini disembunyikan dari dunia.

Dan seseorang dari Inggris baru saja kembali untuk membukanya.

Siapakah sosok dari masa lalu Ravian yang sengaja disiapkan Elara untuk menghancurkan mereka?

1
Sandiakala_
Ceritanya menarik, sukakkk😌🫰🏻
Sandiakala_
Lanjutannya mana Thor?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!