Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 IBU KANDUNG

Kaluna membaca pesan Arsen lebih dari sekali. Pesan itu tidak berisi permintaan maaf. Tidak ada pengakuan bahwa Arsen telah salah menuduhnya sebagai penipu. Sejak Kaluna kembali, baru sekarang Arsen tidak lagi menolak kemungkinan bahwa ia masih hidup.

Hasil awal tes DNA membuat sikap Arsen berubah. Kaluna meletakkan telepon di atas meja, lalu memeriksa lagi foto hasil pemeriksaan yang dikirim Arsen. Persentase kecocokan biologisnya lebih dari sembilan puluh sembilan persen.

Laporan akhir masih dibutuhkan. Kaluna sendiri tidak membutuhkan angka itu untuk tahu bahwa Elara adalah anaknya. Ia mengenal Elara bahkan sebelum anak itu lahir. Ia hafal gerakan kecil di dalam perutnya, tangis pertamanya, dan cara Elara mencengkeram jari telunjuk Kaluna ketika baru beberapa jam hidup. Semua kenangan itu tetap tidak cukup bagi keluarga Mahardika.

“Arsen menghubungimu?” tanya Naren.

Kaluna mengangkat wajah. Naren berdiri di dekat jendela kamar hotel sambil membawa dua gelas kopi. Ia meletakkan salah satunya di depan Kaluna.

“Dia menyuruhku datang ke rumah besok.”

“Untuk membicarakan hasil tes?”

“Katanya Elara harus mengetahui siapa diriku.”

Naren duduk di kursi seberang. “Itu perkembangan.”

“Seharusnya aku merasa senang?”

“Aku tidak bilang begitu.”

Kaluna mengambil gelas kopi, tetapi tidak meminumnya. “Elara mungkin tahu aku ibu kandungnya. Itu tidak berarti dia akan menerimaku.”

“Jangan berharap terlalu banyak dalam satu hari.”

“Aku kehilangan tiga tahun.”

Naren diam sebentar.

Kaluna membaca kembali pesan Arsen. Ia membayangkan Elara duduk di ruang keluarga, mendengar orang-orang dewasa menjelaskan bahwa perempuan asing yang baru muncul ternyata adalah ibu kandungnya.

Apa yang harus dikatakan kepada anak tujuh tahun? Bahwa ibunya tidak mati, hanya kehilangan ingatan? Bahwa selama tiga tahun semua orang salah? Atau bahwa seseorang mungkin sengaja membuat Kaluna tidak bisa kembali?

Kaluna mematikan layar telepon.

“Aku akan datang.”

Keesokan paginya, Kaluna tiba di rumah keluarga Mahardika bersama Salindri. Naren tidak ikut masuk. Ia hanya mengantar mereka dan menunggu di luar.

“Ini urusan keluarga, Nar,” kata Kaluna sebelum turun.

Naren mengangguk. “Telepon kalau keadaan berubah.”

Kaluna tidak bertanya perubahan seperti apa yang dimaksud Naren.

Mbok Rini membuka pintu.

Wajah perempuan itu langsung tampak lega. “Nona datang.”

“Iya, Mbok.”

Mbok Rini menyingkir untuk memberi jalan. “Tuan Arsen sudah menunggu.”

Kaluna masuk bersama Salindri. Rangkaian bunga dari acara peringatan kematian sudah tidak ada. Foto besar Kaluna juga telah dipindahkan. Yang tersisa hanya meja panjang dan bekas tempat pajangan yang membuat dinding terlihat lebih pucat.

Arsen berdiri di ruang keluarga. Veyra duduk di sofa bersama Elara. Tangan anak itu memeluk boneka Momo, sedangkan kedua kakinya menggantung tanpa menyentuh lantai.

Kaluna berhenti beberapa langkah dari mereka. Elara memandangnya dengan rasa ingin tahu. Tidak ada senyum, tetapi juga tidak ada ketakutan seperti pertemuan pertama.

Salindri membuka map. “Laporan akhirnya sudah dikirim pagi ini.”

Arsen mengangguk. “Pengacaraku juga menerimanya.”

“Kesimpulannya jelas.” Salindri mengeluarkan satu lembar dokumen. “Kaluna Adiswara adalah ibu biologis Elara Mahardika.”

Elara memandang Arsen. “Maksudnya apa?”

Arsen berjalan mendekat, lalu duduk di kursi di depan putrinya.

“Artinya perempuan ini memang Mama Kaluna.”

Elara memandang Kaluna lagi.

“Tapi Mama Kaluna sudah meninggal.”

“Papa salah,” kata Arsen.

Kaluna terdiam. Dua kata itu keluar begitu saja dari Arsen, dan justru itu yang membuatnya sulit percaya.

Elara mengernyit. “Semua orang juga salah?”

Arsen mengusap kedua tangannya. “Kami pikir Mama Kaluna meninggal karena mobilnya ditemukan di sungai.”

“Terus kenapa dia tidak pulang?”

“Aku sakit,” jawab Kaluna.

Elara memeluk bonekanya lebih erat. “Sampai tiga tahun?”

“Cukup lama.”

“Kamu tidak tahu rumahnya di mana?”

Kaluna duduk di kursi yang berhadapan dengan sofa. Ia menjaga jarak agar Elara tidak merasa terdesak.

“Aku kehilangan ingatan. Aku bahkan tidak ingat namaku sendiri.”

“Terus sekarang sudah ingat semua?”

“Belum semua.”

Elara memperhatikannya cukup lama. “Kamu ingat aku?”

Kaluna merasakan tenggorokannya mengencang.

“Sekarang aku ingat.”

“Dulu?”

“Tidak.”

Elara menunduk. Kaluna ingin memperbaikinya, tetapi kebohongan hanya akan membuat keadaan semakin buruk.

“Aku tidak melupakanmu karena tidak sayang,” lanjut Kaluna. “Kepalaku terluka. Ada banyak hal yang hilang dari ingatanku.”

Elara masih memandangi bonekanya. “Kalau tidak ingat, berarti sama saja lupa.”

Veyra menyentuh pundak Elara. “Tidak sama, Sayang.”

Elara menoleh. “Kenapa?”

“Karena dia tidak memilih untuk melupakanmu.”

Kaluna mengalihkan pandangannya ke Veyra. Perempuan itu tetap duduk dekat Elara. Wajahnya tampak tenang, tetapi lingkaran gelap di bawah matanya menunjukkan bahwa ia mungkin tidak tidur dengan baik. Jemari Veyra menekan kain gaunnya.

Kaluna tidak menyangka Veyra akan membantunya menjelaskan.

Elara bertanya lagi, “Kalau dia Mama Kaluna, Mama tetap mamaku?”

Veyra tidak menjawab.

Tidak ada yang langsung menjawab. Arsen menunduk. Ia seperti sedang mencari jawaban yang tidak akan melukai Elara.

Veyra akhirnya mengusap kepala anak itu.

“Aku tetap menyayangimu.”

“Itu bukan jawabannya.”

“Elara,” tegur Arsen lembut.

“Aku cuma tanya.”

Kaluna menarik napas. “Kamu tidak harus memilih sekarang.”

Elara belum mengalihkan wajah.

“Kamu boleh tetap memanggil Veyra Mama,” lanjut Kaluna. “Aku tidak akan marah.”

Veyra mengangkat wajah.

“Terus aku harus panggil kamu apa?” tanya Elara.

“Kaluna juga boleh.”

“Itu nama orang dewasa.”

“Memang namaku.”

Elara mengerutkan hidung, seperti sedang mempertimbangkan jawaban tersebut.

Kaluna tidak memaksa. Ia ingin Elara merasa aman lebih dulu.

Arsen mengambil laporan DNA dari Salindri.

“Dengan hasil ini, proses pemulihan identitas Kaluna sudah bisa dimulai?”

“Sudah dimulai,” jawab Salindri. “Tes DNA memperkuat permohonan kami.”

“Berapa lama?”

“Tidak bisa dipastikan. Apalagi kalau ada pihak yang mengajukan keberatan.”

Arsen menutup map. “Aku tidak akan mengajukan keberatan.”

Kaluna terdiam.

“Setidaknya untuk identitasmu,” tambah Arsen.

“Setidaknya?”

“Masih ada satu masalah.”

Salindri menyandarkan tubuh. “Masalah saham sedang diperiksa.”

“Bukan hanya saham.”

Nada Arsen berubah. Ia tidak lagi terdengar menuduh, tetapi juga belum benar-benar percaya.

“Kau memang Kaluna,” katanya. “Tes DNA membuktikan itu. Tapi kita tetap belum tahu apa yang terjadi sebelum kecelakaan.”

Kaluna tahu pembicaraan ini akan kembali ke masalah yang sama.

“Kamu masih percaya aku mengambil uang perusahaan?”

“Aku tidak mengatakan begitu.”

“Tapi kamu memikirkannya.”

Arsen bangkit dari tempat duduk. “Ada laporan keuangan, rekening, sama dokumen perjalanan. Semuanya mengarah ke kamu.”

“Dokumen sahamku juga tampak sah sampai aku menunjukkan tanggalnya.”

“Itu sebabnya aku bilang kita harus memeriksa semuanya.”

Kaluna menghadapnya. “Sekarang baru mau kamu periksa?”

Arsen terdiam. Elara memandang mereka bergantian. Veyra segera mengalihkan perhatian anak itu.

“Sayang, mau ambil minum di dapur?”

Elara menggeleng. “Aku mau dengar.”

“Ini bukan pembicaraan untuk anak-anak.”

“Semua yang dibahas tentang mamaku, tapi aku tidak boleh dengar.”

Tak ada yang bisa langsung membantah.

Kaluna merendahkan suaranya. “Aku tidak mengambil uang perusahaan.”

Arsen menatapnya tanpa berkedip. “Kalau begitu, kenapa ada tiket atas namamu?”

“Tiket apa?”

Arsen berjalan menuju lemari kecil di dekat ruang kerja. Ia mengambil sebuah map hitam, lalu kembali ke ruang keluarga.

“Aku menemukan ini setelah kecelakaanmu.”

Ia mengeluarkan salinan tiket elektronik dan meletakkannya di atas meja. Kaluna mengambilnya.

Tiket penerbangan menuju Singapura. Nama penumpang tertulis jelas. Kaluna Adiswara Mahardika. Tanggal keberangkatan adalah satu hari setelah mobilnya jatuh ke sungai.

Kaluna membaca seluruh bagian dokumen tersebut. Nomor penerbangan, jadwal keberangkatan, kelas bisnis, dan nomor pemesanan tampak lengkap.

“Aku tidak pernah membeli tiket ini.”

“Pembayarannya menggunakan kartu perusahaan yang terdaftar atas namamu.”

“Aku juga tidak pernah berencana pergi.”

Arsen membuka halaman lain.

“Dua hari sebelum kecelakaan, ada koper milikmu yang diambil dari rumah.”

Kaluna menggeleng. “Tidak.”

“Seorang sopir perusahaan mengantar koper itu ke hotel dekat bandara.”

“Aku tidak pernah menyuruh siapa pun membawa koper.”

“Koper itu tidak ditemukan setelah kau menghilang.”

Kaluna memegang lebih erat dokumen di tangannya. Potongan ingatannya tentang malam kecelakaan masih tidak lengkap. Ia ingat membawa map dari kantor. Ingat hujan dan lampu kendaraan dari arah berlawanan.

Setelah itu, hanya air gelap dan suara benturan.

Tidak ada bandara, koper, ataupun rencana meninggalkan Elara.

“Siapa yang menemukan tiket ini?” tanya Salindri.

“Tim internal perusahaan,” jawab Arsen.

“Siapa yang memimpin pemeriksaannya?”

Arsen tampak ragu. “Aku tidak ingat.”

Kaluna hampir tertawa, lalu menahannya. Bahkan bagian ini pun Arsen tidak ingat.

Veyra berdiri. “Arsen, mungkin ini bukan waktu yang tepat.”

“Aku ingin tahu,” kata Elara.

Veyra menoleh kepadanya. “Kamu tidak perlu memikirkan semua ini.”

“Tapi kalau Mama Kaluna mau pergi, berarti dia memang ninggalin aku?”

Kaluna segera mengalihkan perhatian kepadanya. “Tidak.”

Elara memandang tiket di tangan Kaluna.

“Tapi Papa bilang ada tiket.”

“Aku tidak membelinya.”

“Terus siapa?”

“Aku belum tahu.”

Elara menunduk.

Kaluna meletakkan dokumen di atas meja, lalu mendekat satu langkah. Ia berhenti ketika melihat tubuh Elara sedikit menegang.

“Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu,” katanya.

Elara tidak menjawab.

Arsen mengambil teleponnya. “Ada hal lain yang harus kalian lihat.”

Ia membuka sebuah halaman berita lama dan menyerahkannya kepada Salindri.

Judulnya tercetak besar:

DIREKTUR KEUANGAN MAHARDIKA MEDIKA DIDUGA HENDAK MELARIKAN DIRI KE LUAR NEGERI

Di bawah judul terdapat foto Kaluna sedang memasuki hotel dekat bandara, dua hari sebelum kecelakaan. Wajahnya tampak jelas. Kaluna memperbesar gambar tersebut.

Wajah dalam foto itu memang wajahnya. Ia sendiri tidak ingat pernah berada di hotel itu.

Salindri membaca keterangan berita. “Disebutkan Kaluna memesan penerbangan satu arah ke Singapura dan membawa dokumen keuangan perusahaan.”

“Itu bohong,” kata Kaluna.

Arsen menatapnya. “Fotomu ada di sana.”

Elara memeluk bonekanya lebih erat.

“Kalau kamu memang mamaku,” tanyanya pelan, “kenapa kamu mau pergi tanpa aku?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!