Tit... Tit... Tit...
"Nih uang buat beli listrik. Dasar wanita benalu, bisanya cuma minta uang aja tapi dandan tidak bisa." teriak seorang laki-laki sambil melempar beberapa lembar uang ke arah wajah istrinya.
Mempunyai mertua yang baik, tapi anaknya selalu menguji kesabarannya. Pelit, suka membandingkan dengan perempuan lain, dan selingkuh. Namun selalu menyalahkan istrinya yang selama ini sabar mendampinginya. Dia adalah Aruna Fatihah yang harus diuji kesabarannya selama 3 tahun belakang dengan perubahan suaminya.
Akankah Aruna masih akan bersabar jika suaminya menjalin kasih dengan perempuan lain? Apakah Aruna akan memilih diam atau membalas perlakuan dari suaminya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Stress
"Masih banyak tempat lain yang kosong," ucap Luna dengan ketus saat melihat siapa orang yang ingin duduk bersama mereka.
"Tapi aku inginnya duduk di sini. Soalnya pemandangan ke halaman kantor tuh kelihatan dari sini,"
Posisi Aruna dan Luna memang sangat strategis karena berada tepat di pinggir. Mereka bisa melihat area luar kantor dan jalan raya. Dua orang datang tanpa malunya mendekati mereka. Silvy dan Nayla, keduanya datang ingin duduk bersama Aruna juga Luna. Tentu saja Luna langsung menyarankan untuk Silvy agar mencari tempat duduk yang lain. Pasalnya masih banyak tempat duduk lain yang kosong.
Selain itu, Luna tidak sudi duduk satu meja dengan Silvy. Dia seringkali dihina dan dimarahi oleh Silvy yang sok berkuasa. Apalagi jabatannya hanya resepsionis. Aruna memilih diam dan tidak mau melihat ke arah Silvy. Dia semakin malas untuk melanjutkan makannya jika ada Silvy. Sedangkan saat ini Silvy dan Nayla langsung duduk saja walaupun sudah ditolak oleh Luna.
"Dasar nggak tahu malu," sindir Luna sambil melengoskan wajahnya.
"Pergi yuk, Lun. Ada kuman di sini, aku takut malah jadi diare. Mana kerjaanku masih banyak banget," ucap Aruna mengajak Luna untuk pergi dari kantin.
"Makananku masih banyak. Tapi nanti kalau bikin diare, rugi juga harus beli obat." ucap Luna sambil menghela nafasnya pelan.
"Belagu banget sih sekarang kamu, Luna. Mentang-mentang temannya baru diangkat jadi asisten CEO kemudian didekati. Dasar bermuka dua,"
"Hati-hati sama orang kaya Luna gini, Ibu Aruna. Nanti dia cuma memanfaatkan Ibu Aruna agar jabatannya naik. Apalagi dia tidak punya skill yang mumpuni. Cuma modal pintar bicara saja," ucap Silvy mencoba untuk mempengaruhi Aruna.
Aruna dan Luna sangat muak dengan Silvy yang sama sekali tidak tahu malu. Sudah tahu bahwa dirinya itu salah, tapi malah ingin mengadu domba oranglain. Beruntung Aruna sudah dekat dengan Luna sejak awal masuk perusahaan ini. Bahkan saat Aruna masih menjadi anak magang di perusahaan, Luna sudah ada. Dia sangat baik dan mau membantu Aruna. Jadi Aruna tidak akan pernah terpengaruh dengan ucapan Silvy. Aruna yakin kalau Silvy pasti berpikir bahwa dirinya belum tahu tentang perselingkuhan Kafka dengan dia.
"Kalau Mbak Luna ini mau memanfaatkanku terus kenapa? Justru aku malah senang kalau bermanfaat untuk sahabatku ini. Anda itu kok repot sekali mengurusi urusan oranglain. Apa yang anda ucapkan itu adalah cerminan diri anda sendiri kan, Ibu Silvy?" ucap Aruna dengan tatapan sinisnya.
"Anda itu yang tidak punya skill. Masuk sini karena ada saudara. Saya bisa lho bilang sama Pak Aldi kalau ada karyawan yang..."
"Kami sudah selesai makan. Kami permisi," sela Silvy yang tiba-tiba langsung berpamitan pergi.
Hei...
Mau kemana? Ini makanannya belum dimakan sama sekali,
Udah kenyang,
Hahaha...
Sedangkan Nayla tampak kebingungan karena ditinggal oleh Silvy. Tadi dia sudah mengatakan pada Silvy agar bergabung dengan teman satu divisi pemasaran saja untuk makan. Namun Silvy malah menolak dan ingin duduk bersama Aruna. Silvy berharap bahwa Aruna akan minder terhadap dirinya sehingga bisa sadar diri tidak pantas untuk mendampingi Kafka. Namun ternyata pikiran Silvy salah besar. Aruna tidak mudah ditindas dan terlihat sangat berwibawa, tak seperti yang diceritakan oleh Kafka.
"Saya juga permisi, Bu." ucap Nayla yang memilih pergi dan bergabung dengan teman lainnya.
"Tunggu..." ucap Aruna sebelum Nayla pergi.
"Ya. Ada apa, Bu?" tanya Nayla dengan raut wajah ketakutan. Dia sudah mendengar siapa sosok Aruna ini walaupun baru melihatnya hari ini. Nayla takut kalau tingkah Silvy tadi membuat dia berada dalam masalah.
"Cari lah teman yang baik. Dia yang tidak membuatmu ikut terjerumus dalam keburukan. Saya mengatakan hal ini agar orang baik tidak menjadi orang jahat karena pengaruh seseorang. Mau didengar, silahkan. Kalau tidak ya nggak masalah," ucap Aruna memberikan saran.
"Baik, Bu."
Nayla menganggukkan kepalanya mengerti. Dia segera pergi setelah Aruna memberinya kode bahwa dia sudah selesai berbicara. Luna mengacungkan kedua jempolnya ke arah Aruna karena berhasil mengusir Silvy. Bahkan Aruna terlihat begitu tegas dan berani pada Silvy. Ini lah yang ditunggu oleh Luna. Aruna tidak boleh kalah dari seorang pelakor. Jujur saja, Aruna ini adalah orang yang lemah lembut. Baru kali ini dia tegas dan berani mengancam orang. Bukan tipenya dia yang mengancam orang begini.
"Luar biasa kamu, Ibu Aruna. Jangan mau kalah sama pelakor," ucap Luna memberikan semangat kepada Aruna.
"Aku deg-degan, Luna. Kamu tahu sendiri kan kalau aku nggak pernah begini sama orang," Aruna memegang dadanya yang berdebar karena sikapnya barusan.
"Kalau nggak deg-degan, kamu udah ada di kuburan sekarang." ceplos Luna membuat Aruna mendengus sebal.
"Bukan itu maksudku, Luna." Aruna sangat geregetan dengan Luna yang asal bicara itu. Padahal Luna pasti tahu dengan maksud ucapannya.
"Aku tahu. Sudah benar ini apa yang kamu lakukan dan ucapkan, Aruna. Kamu jadi istri sah itu aja udah menang kok. Ngapain takut atau merasa bersalah? Nanti yang ada kamu diinjak-injak kalau lemah," ucap Luna sambil menggenggam tangan Aruna.
"Thanks, Luna." Aruna sudah lebih tenang sekarang. Mungkin setelah ini, di rumah akan ada drama dengan Kafka. Jadi dia harus menyiapkan tenaga lagi sehingga di perusahaan Aruna tidak boleh stress.
***
Sedangkan di warung makan area pasar, semua orang diam setelah mendengar ucapan dari Ibu Salma. Terutama Ibu Lala dan Gavin yang tak menyangka kalau seorang mertua akan mengajukan menantunya untuk dijodohkan. Sedangkan Nasya, dia diam karena bingung dengan pembicaraan para orang dewasa. Ibu Salma tak merasa bersalah sama sekali sudah mengucapkan hal itu. Menurutnya, itu sudah benar.
"Kenapa? Kok kalian diam begitu? Aku serius ini ingin menjodohkan menantuku. Sebentar lagi dia akan bercerai dengan anakku," ucap Ibu Salma dengan pelan agar Nasya tak mendengar secara jelas.
"Kamu demam ya, Mbak Salma? Yang benar saja menantumu mau kamu jodohkan dengan anakku. Janda sih nggak masalah, tapi ini masih menantumu lho. Bahkan belum resmi bercerai," Ibu Lala menempelkan punggung tangannya pada dahi temannya itu. Dia berpikir bahwa Ibu Salma sedang sakit sehingga berbicara dengan asal.
"Enggak, aku baik-baik saja. Menantuku itu baik, tapi sayangnya anakku jahat. Dia tidak bertanggungjawab sama anak dan istrinya. Aku yakin kalau anakmu ini baik, makanya tak jodohkan aja sama menantuku. Aku ingin menantuku bahagia," ucap Ibu Salma dengan yakin.
Maaf, Bu. Ini nanti Gavin jadi pebinor dong,
Jangan dengarkan Mbak Salma, Gavin. Dia lagi mabuk kecubung,
Hahaha...
😁😁😁😁
Kafka mungkin ank kandung mu,,
tp jiwa ny bukan ,, dy cuma laki2 pengecut jelmaan Dari kodok sawah ,, 😒😒😒😒
smangat sehat sll up byk2🤭😄💪
makin seruu cerita ny
tq thor🙏😍
smangatttt up byk2🤭💪
smangattt hempasssss cpttttt😄💪