Indonesia
NovelToon NovelToon
Suami Kilatku Ternyata Bosku

Suami Kilatku Ternyata Bosku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Demi menyelamatkan keluarganya, Alina terpaksa menerima pernikahan kilat dengan pria asing yang bahkan belum sempat ia kenal. Ia mengira pernikahan itu hanya formalitas, hingga hari pertama bekerja di perusahaan impiannya mengubah segalanya.

Pria dingin yang duduk di kursi CEO itu ternyata adalah suaminya sendiri.

Di depan semua orang, pria itu bersikap seolah mereka orang asing. Namun diam-diam, ia selalu melindungi Alina dari setiap fitnah dan bahaya yang mengintainya. Saat identitas mereka akhirnya terbongkar, rahasia besar, perebutan kekuasaan, dan pengkhianatan mulai mengancam rumah tangga mereka.

Mampukah cinta tumbuh di balik pernikahan yang dipenuhi rahasia? Atau justru semuanya akan berakhir sebelum benar-benar dimulai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prores Alina

Pagi itu, suara deburan ombak terdengar samar dari balik kaca balkon kamar hotel.

Matahari Bali sudah cukup tinggi, tetapi Alina masih berdiri di depan pintu kaca dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya tertuju pada pemandangan laut biru yang membentang luas di hadapannya.

Indah.

Sangat indah.

Sayangnya, selama tiga hari berada di Bali, ia hanya bisa menikmati pemandangan itu dari balik kaca.

Alina mengembuskan napas panjang.

Tiga hari.

Tiga hari penuh.

Padahal sejak berangkat dari Jakarta, ia sudah membayangkan akan berjalan-jalan di pantai, menikmati matahari terbenam, mencicipi makanan khas Bali, berfoto di berbagai tempat, bahkan membeli oleh-oleh untuk keluarga.

Namun kenyataannya?

Hampir seluruh waktu mereka justru dihabiskan di kamar hotel.

Alina melirik ke arah tempat tidur.

Devan masih tidur dengan tenang.

Pria itu terlihat sangat santai, seolah mereka sedang menjalani bulan madu yang tidak memiliki batas waktu.

Alina menggeleng.“Benar-benar …”

Ia kembali menatap laut.“Aku datang jauh-jauh ke Bali bukan untuk melihat pemandangan dari balkon.”

Di belakangnya terdengar suara berat.

“Pemandangannya bagus, kan?”

Alina langsung menoleh.

Devan sudah terbangun.

Pria itu bersandar di kepala tempat tidur sambil menatapnya dengan mata setengah terbuka. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya masih menunjukkan sisa kantuk.

Alina menatapnya datar.“Bagus.”

Devan tersenyum.“Nah.”

“Tapi …”

Senyum Devan perlahan menghilang.“Tapi apa?”

Alina berjalan mendekat.“Ini bukan liburan.”

Devan mengerutkan kening.“Bukan?”

“Bukan.”

“Bukankah kita sedang di Bali?”

“Iya.”

“Di hotel yang bagus?”

“Iya.”

“Bersama-sama?”

“Iya.”

“Berarti ini liburan.”

Alina memejamkan mata sebentar, berusaha menahan emosinya.“Devan.”

“Hm?”

“Aku tahu kita sedang di Bali. Aku tahu kita menginap di hotel bagus. Aku juga tahu kita bersama.”

Ia menunjuk ke arah jendela.“Tapi aku ingin menikmati Bali, bukan hanya menikmati kamar hotel.”

Devan terdiam.

Alina mengambil napas.“Aku ingin ke pantai. Aku ingin jalan-jalan. Aku ingin melihat tempat-tempat bagus. Aku ingin makan makanan khas Bali. Aku ingin melihat matahari terbenam. Aku ingin punya foto kita dengan latar laut.”

Ia menatap suaminya dengan kesal.“Bukan setiap bangun tidur kita kembali tidur atau menghabiskan waktu di kamar.”

Devan menahan senyum.“Jadi kamu bosan?”

“Aku tidak bilang bosan.”

“Lalu?”

“Aku kesal.”

Devan langsung mengangguk.“Nah, itu lebih jelas.”

“Jangan bercanda.”

“Aku tidak bercanda.”

“Wajahmu tertawa.”

“Karena kamu lucu kalau sedang marah.”

Alina mengambil bantal dari sofa lalu melemparkannya ke arah Devan.“Ini lucu?”

Bantal itu mengenai dada Devan.

Pria itu tertawa.

“Lumayan.”

“Devan!”teriak Alina kesal

“Baik, baik.”Devan mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah.“Aku minta maaf.”

Alina masih memasang wajah kesal.“Maaf saja tidak cukup.”

“Lalu?”

“Kita keluar.”

“Sekarang?”

“Sekarang.”sahut Alina antusias

Devan melihat jam di meja.“Pagi sekali.”

“Justru bagus. Kita punya banyak waktu.”Alina kemudian mengambil tas pantainya.

Devan memperhatikannya.“Kamu sudah menyiapkan semuanya?”

“Sudah dari kemarin.”

“Kenapa tidak bilang?”

“Aku sudah bilang.”

Devan mengerutkan kening.“Kapan?”

“Kemarin malam.”

“Aku tidak ingat.”

“Tentu saja tidak ingat.”

Alina memasukkan kacamata hitam ke dalam tas.“Karena kamu sibuk mengajakku kembali tidur.”

Devan menutup mulutnya, menahan tawa.

Alina langsung menatap tajam.“Jangan tertawa.”

“Aku sedang tidak tertawa.”

“Kamu jelas tertawa.”

“Sedikit.”

“Devan!”

“Baik. Aku benar-benar minta maaf.”

Kali ini Alina tidak menjawab.Ia berjalan menuju kamar mandi.

“Lima belas menit.”

“Untuk apa?”

“Bersiap.”

Devan menghela napas.“Baik, Nyonya.”

“Dan jangan pakai pakaian kantor.”

Devan melihat kemeja yang sudah ia siapkan.“Kenapa?”

“Karena kita pergi liburan.”

“Aku pikir kemeja ini bagus.”

“Bagus untuk rapat.”

Devan menatap kemeja itu.Kemudian melihat Alina yang sudah masuk kamar mandi.

“Baiklah.”

Lima belas menit kemudian, Devan keluar dengan kaus polo dan celana pendek.

Alina menatapnya dari ujung kepala hingga kaki.

“Nah.”

“Apa?”

“Lebih manusiawi.”

Devan mengangkat alis.“Selama ini aku apa?”

“CEO.”

“Memangnya CEO bukan manusia?”

“Kadang-kadang aku meragukannya.”

Devan tertawa.

Mereka akhirnya turun menuju lobi.

Begitu keluar dari hotel, udara pagi Bali langsung menyambut mereka.

Alina menghirup udara dalam-dalam.

Senyumnya mulai muncul.

Devan memperhatikannya.“Sudah lebih baik?”

“Sedikit.”

“Kenapa sedikit?”

“Karena kita belum sampai pantai.”Devan mengangguk.

“Baik. Kita cari pantai.”

Perjalanan berlangsung cukup menyenangkan.

Alina terus melihat keluar jendela.

Setiap kali melihat pemandangan menarik, ia meminta Devan memperlambat kendaraan.

“Lihat itu!”

“Apa?”

“Bagus sekali.”

“Kamu mau berhenti?”

“Tidak usah. Nanti saja.”

Beberapa menit kemudian, Alina kembali berseru.

“Devan!”

“Hm?”

“Lihat!”

“Apa lagi?”

“Pemandangannya bagus.”

Devan melirik sekilas.“Bagus.”

“Kamu tidak lihat.”

“Aku sedang menyetir.”

“Ya sudah. Nanti kita berhenti

Devan tersenyum.“Baik.”

Ketika akhirnya sampai di pantai, Alina langsung turun dari mobil.

Angin laut menerpa wajahnya.

Rambutnya bergerak tertiup angin.

Suara ombak terdengar semakin jelas.

Alina tersenyum lebar.“Ini baru Bali.”

Devan turun beberapa saat kemudian.

Ia berdiri di samping Alina.“Sekarang bahagia?”

Alina mengangguk.“Banget.”

Mereka berjalan menuju pasir.

Devan masih mengenakan sandal.

Alina memperhatikan.“Lepas.”

Devan menoleh.“Apa?”

“Sandalmu.”

“Kenapa?”

“Kita ke pantai.”

“Aku tahu.”

“Kalau begitu lepas.”Devan menurut.

Ia melepas sandal dan menggulung celananya sedikit.

Begitu telapak kakinya menyentuh pasir, ekspresinya berubah.

Alina tertawa.“Kenapa?”

“Panas.”

“Baru juga kena pasir.”

“Pasirnya panas.”

“CEO besar takut pasir?”

“Aku tidak takut.”

“Lalu kenapa wajahmu begitu?”

“Tidak nyaman.”

Alina tertawa semakin keras.Ia berlari kecil menuju air.

“Alina!”

“Hm?”

“Tunggu.”

“Ayo!”

Devan mengejarnya.

Begitu sampai di tepian air, Alina tiba-tiba membungkuk dan mengambil sedikit air laut dengan kedua tangannya.Ia menatap Devan.Pria itu langsung curiga.

“Jangan.”

Alina tersenyum.“Apa?”

“Jangan macam-macam.”

Terlambat.

Air laut langsung mengenai dada Devan.Pria itu terdiam.

Alina mundur sambil tertawa.“Maaf.”

Devan menatap kausnya yang basah.“Alina.”

“Apa?”

“Kamu baru saja melakukan kesalahan.”

“Kesalahan apa?”

Devan membungkuk.

Alina langsung berbalik.

“Jangan!”

Devan mengambil air.

“Sudah terlambat.”

“Devan!”

Air kembali berhamburan.

Alina berlari sambil tertawa

Devan mengejarnya.

Mereka berdua akhirnya basah kuyup hanya beberapa menit setelah tiba.

Alina terengah-engah ketika berhenti.

Devan berdiri di depannya.

Keduanya saling menatap.

Kemudian tertawa bersama.

Tidak ada yang peduli pakaian mereka basah.

Tidak ada yang peduli rambut berantakan.

Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, Alina benar-benar merasa sedang berlibur.

Setelah puas bermain air, mereka duduk di bawah payung pantai.

Seorang penjual datang menawarkan kelapa muda.

Alina langsung membeli dua.Ia menyerahkan satu kepada Devan.“Nih.”

Devan menerimanya.“Terima kasih.”

Alina menyeruput air kelapanya.Wajahnya terlihat sangat puas.

Devan tersenyum.“Sekarang sudah tidak marah?”

“Masih sedikit.”

“Kenapa?”

“Karena tiga hari sudah terbuang.”

Devan terdiam,Kali ini wajahnya serius.“Maaf.”

Alina menoleh.

“Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu merasa seperti itu.”

“Lalu?”

“Aku terlalu fokus pada waktu kita berdua.”

Devan menatap laut.“Aku berpikir setelah begitu sibuk dengan pekerjaan, akhirnya kita punya kesempatan untuk benar-benar berdua tanpa gangguan.”

Alina mendengarkan.

“Aku tidak sadar kalau caraku membuatmu merasa terkurung.”Nada suara Devan terdengar tulus.

Alina menghela napas.

“Aku juga suka waktu berdua denganmu.”

Ia tersenyum kecil.“Tapi aku ingin punya kenangan lain.”

“Seperti?”

“Seperti ini.”

Alina menunjuk laut.“Duduk di pantai. Jalan-jalan. Tertawa. Makan makanan enak. Melihat sunset.”

Devan mengangguk.“Mulai sekarang kita lakukan.”

“Serius?”

“Serius.”

“Tidak berubah pikiran?”

“Tidak.”

“Janji?”

“Janji.”

Alina mengulurkan jari kelingking.

Devan menatapnya beberapa detik.“Serius?”

“Jangan banyak bicara.”Devan akhirnya mengaitkan jari kelingkingnya dengan jari Alina.

“Janji.”

Alina tersenyum.

“Bagus.”

Mereka kemudian berjalan menyusuri pantai.

Alina beberapa kali berhenti untuk mengambil foto.

Devan awalnya hanya berdiri di belakang.

Namun akhirnya Alina menarik tangannya.

“Ayo foto.”

“Aku?”

“Iya.”

“Aku tidak pandai.”

“Cuma berdiri.”

Devan berdiri di sampingnya.

Alina mengangkat ponsel.“Dekat sedikit.”

Devan mendekat.

“Lebih dekat.”

“Begini?”

“Ya.”

Alina tersenyum ke kamera.

Klik.

Kemudian ia melihat hasilnya.

“Bagus.”

Devan melihat layar.

“Ternyata memang bagus.”

“Karena istrinya cantik.”

“Kalau suaminya?”

“Lumayan.”

Devan menatapnya.

“Lumayan?”

Alina tertawa.

“Jangan sombong.”

Menjelang sore, mereka memilih makan siang di tempat sederhana dekat pantai.

Alina mencoba beberapa makanan khas Bali.

Devan memperhatikan istrinya yang begitu antusias.“Enak?”

“Enak.”

“Benarkah?”

“Coba.”

Alina menyodorkan makanan ke arah Devan.

Devan mencicipinya.“Enak.”

“Tuh, kan.”Mereka makan sambil bercanda.

Setelah itu, mereka kembali berjalan di tepi pantai.

Matahari mulai condong ke barat.

Langit berubah perlahan menjadi keemasan.

Alina berhenti.“Devan.”

“Hm?”

“Lihat.”Devan berdiri di sampingnya.

Matahari perlahan turun di balik cakrawala.

Cahayanya memantul di permukaan laut.

Alina tersenyum.“Ini yang aku tunggu.”

Devan menatap matahari sebentar.

Kemudian menatap Alina.

“Aku lebih suka melihatmu.”

Alina langsung menoleh.“Mulai lagi.”

“Aku serius.”

“Gombal.”

“Tapi kamu tersenyum.”

Alina tidak bisa menahan tawanya.“Karena kamu menyebalkan.”

Devan menggenggam tangannya.

Mereka berdiri berdampingan menyaksikan matahari terbenam.

Tidak ada percakapan selama beberapa saat.

Hanya suara ombak dan angin.

Kemudian Alina menyandarkan kepala di bahu Devan.“Terima kasih.”

“Untuk hari ini?”

“Untuk mau mendengarkan aku.”

Devan mengecup puncak kepalanya dengan lembut.“Aku yang seharusnya berterima kasih.”

“Kenapa?”

“Karena kamu mengingatkanku bahwa liburan bukan tentang bersembunyi dari dunia.”

Alina tersenyum.

“Lalu?”

“Liburan adalah tentang menikmati dunia bersama orang yang kita cintai.”

Alina terdiam.

Kemudian menggenggam tangan Devan lebih erat.“Kalimatmu bagus.”

“Aku bisa lebih bagus lagi.”

“Jangan. Nanti rusak.”

Devan tertawa.

Mereka akhirnya berjalan kembali ketika matahari benar-benar tenggelam.

Hari pertama mereka menikmati Bali akhirnya berakhir.

Dan Alina tahu satu hal.Liburan mereka belum selesai.Justru baru dimulai.

1
sunaryati jarum
Segera buat adonan baby
MayAyunda: ha ..ha ..itu yang di tunggu 😁
total 1 replies
sunaryati jarum
Syukurlah Arimbi menerima keputusan Devan yang mencintai Alina
sunaryati jarum
Katanya pergi kok ada undangan
sunaryati jarum
Mantaaap,tanpa drama.Akhirnya cinta terungkap
MayAyunda: he he 😄
total 1 replies
sunaryati jarum
Benar - benar tindakan kesatria , melindungi istri dengan pengakuan ke publik.Sekaligus membungkam kesombongan Arimbi dan menghentikan langkah Hendra yang ingin merebut perusahaan alm ayahmu
MayAyunda: baca ceritaku yang lain kak judulnya ke grep preman tengil . sama" suami Dadakanku ternyata bos baruku "
total 1 replies
sunaryati jarum
Nah kan, Devan sudah mencintaimu Alrna/Drool//Drool//Drool/
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Tenang Alina,suami kilatmu ada dipihakmu jangan berpikir kau sendirian
sunaryati jarum
Alina untuk melindungi hatimu dari kecewa, ingatkan dirimu jika Devan menikahimu secara kontrak jangan banyak berharap tapi berdoa jika jodohmu lancarkan Segala urusan Devan
sunaryati jarum
Diam- diam memberi pengawasan dan perlindungan
sunaryati jarum
Mampus ,Clara
sunaryati jarum
Devan sepertinya.mulai ada rasa padamu Alina, bentengi diri dulu.Agar kamu tidak kecewa , jangan mudah terlena ,lihat kesungguhan Pak Devan dulu.
sunaryati jarum
Devan memilihnya bukan kebetulan, sebelumnya pasti sudah menyelidiki, mungkin Rumah Sakit tempat ibumu dirawat itu miliknya
sunaryati jarum
Itu seharusnya bukan kesalahan besar ,Alina.Sepertinya Clara menjatuhkan kamu,hati- hati.
sunaryati jarum
Itu juga Bos Devan Alina, tidak usah cemas
MayAyunda: he he
total 1 replies
sunaryati jarum
Devan sebelumnya sudah tahu padamu Alina.Itu dugaan emak.Mungkin dia juga jatuh cinta padamu,sakit ibumu sebagai pengikat kau dekat dengannya.Semoga kedepannya kalian menjadi suami istri sesungguhnya
sunaryati jarum
Memangnya file Alina langsung dihapus, katanya berkualitas mau menjebak cuma laporan offline , yang pasti ketahuan lah.
Maseni Maseni: licik tapi ga pakai otak ya kak, alina kan masih ada soffile yg benar

ayo qta buktikan
total 2 replies
Siti Zaenab
next lanjut
MayAyunda: siap kak
total 1 replies
Hosniyah Niyah
mantap Thor lanjut ❤❤❤😘😘😘💞💞💞👍👍👍👌👌👌
Dwi Nur Jayanti
🫰💕💞💕
Mitha Ali
❤️❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!