Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Hanya dalam waktu empat puluh lima menit, ballroom hotel termewah di pusat kota Denpasar disulap menjadi arena pembantaian reputasi.
Ratusan awak media dari stasiun televisi nasional, portal berita online, hingga media cetak berkumpul dengan kamera yang siap menyala.
Ketegangan membumbung tinggi di udara; semua orang menunggu tanggapan dari sang penguasa bisnis yang baru saja dihantam skandal panas.
Pintu ganda ballroom mendadak terbuka lebar.
David Hermawan melangkah masuk dengan aura intimidasi yang begitu pekat hingga membuat riuh suara wartawan seketika hening mencekam.
Dibalut setelan jas hitam elegan, rahangnya mengeras bagai granit, sementara manik matanya memancarkan kejamnya kemurkaan mutlak.
Di belakangnya, Jonas berjalan dengan wajah dingin membawa sebuah komputer jinjing dan sekumpulan dokumen tebal, diikuti oleh belasan pengawal berbadan tegap yang mengunci setiap sudut ruangan.
David berdiri di balik podium, tidak langsung duduk.
Ia menatap ratusan kamera di hadapannya dengan pandangan menghunus.
"Kalian di sini karena termakan oleh sandiwara murah seorang wanita tua yang menjual kehormatan keluarganya demi uang," suara David terdengar sangat rendah, namun menggema tajam ke seluruh penjuru ruangan.
"Istri saya, Mili Hermawan, tidak pernah merebut apa pun dari siapa pun. Dan malam ini, saya akan menghancurkan kebohongan itu sampai ke akar-akarnya."
David memberi isyarat kecil pada Jonas. Jonas segera menekan tombol pada papan ketik laptopnya.
Seketika, layar proyektor raksasa berukuran puluhan meter di belakang David menyala terang.
Sebuah rekaman audio-visual berkualitas tinggi dari masa lalu berputar secara otomatis.
Di dalam video rahasia itu, terlihat Gea sedang mengamuk di ruang tamu rumahnya, berteriak di hadapan kedua orang tuanya dan Papa Hermawan.
"Aku mau tukar jodoh, Pa! Aku tidak mau dijodohkan dengan David. Dia menyeramkan!" jerit Gea dalam rekaman itu dengan wajah penuh rasa jijik dan penolakan.
"Aku tidak mau hidup dengan monster dingin seperti dia! Aku mau dengan Andrew! Mas Andrew jauh lebih kaya, lembut, dan bisa manjakan aku!"
Suasana ballroom mendadak gempar luar biasa. Suara jepretan kamera berdentum bagaikan hujan deras, disertai bisik-bisik syok dari para wartawan.
Fitnah yang dihembuskan Mama beberapa jam lalu hancur berkeping-keping di depan mata seluruh publik Indonesia.
"Itu adalah bukti otentik saat Gea memohon-mohon menolak perjodohan denganku dan memilih Andrew," pangkas David tajam, membuat suasana kembali senyap membeku.
Matanya menatap lurus ke arah salah satu kamera utama yang menyiarkan acara itu secara langsung.
"Untuk wanita tua yang mengaku sebagai 'ibu' dari istriku... kamu telah menyentuh batas kesabaranku," bisik David penuh janji ancaman yang mengerikan.
"Mulai detik ini, seluruh aset keluarga kalian dicabut, bisnis kalian dihancurkan, dan aku pribadi yang akan memastikan kamu serta suami mu terseret ke hukum atas tindak pencemaran nama baik serta pemerasan!"
Di saat yang sama, di sebuah kamar hotel murah di pinggiran Denpasar, orang tua Gea sedang menonton siaran langsung konferensi pers tersebut dengan senyum kembang kempis.
Mereka bersulang dengan gelas anggur murah, yakin betul bahwa gertakan mereka telah berhasil menyudutkan David Hermawan dan memaksa pria itu membayar uang damai ratusan miliar.
Namun, detik saat suara Gea memekik dari layar televisi raksasa—"Aku mau tukar jodoh, Pa! Aku tidak mau dijodohkan dengan David. Dia menyeramkan!"—gelas di tangan Mama terlepas dan pecah berkeping-keping di atas lantai.
"I-itu... dari mana dia dapat rekaman itu?!" jerit
Mama dengan wajah seputih mayat, napasnya memburu ketakutan saat melihat bukti kebohongan mereka dibongkar habis-habisan di hadapan puluhan juta pemirsa televisi nasional.
Belum sempat Ayah Gea menjawab, pintu kamar hotel didobrak hingga jebol dari luar dengan dentuman dahsyat!
BAM!
Empat orang pria berbadan tegap berpakaian serba hitam dan berwajah dingin masuk tanpa permisi, memblokir pintu keluar.
Di belakang mereka, Jonas melangkah masuk dengan tenang namun menebarkan aura kematian yang kental.
"S-siapa kalian?! Jangan macam-macam, aku bisa panggil polisi!" teriak Ayah Gea dengan suara gemetar hebat, mundur hingga punggungnya menabrak dinding.
Jonas tidak membalas ancaman itu. Ia menyodorkan ponselnya yang tengah tersambung dalam panggilan video.
Di layar ponsel, terlihat David Hermawan sedang duduk tenang di dalam mobil mewahnya di luar arena konferensi pers.
Cahaya remang malam Bali menimpa separuh wajah tampannya, membuatnya tampak persis seperti iblis yang siap mencabut nyawa.
"Kalian pikir Bali itu luas?" suara David menggelegar dari speaker ponsel, begitu dingin dan tajam hingga menusuk tulang belakang kedua orang tua Gea.
"Kalian pikir bisa mencoreng nama istriku, merusak kedamaiannya, lalu lari begitu saja?"
"David... tolong, David! Kami ini orang tuanya Mili! Kami cuma hilaf, tolong ampuni kami!" tangis Mama pecah seketika.
Ia berlutut di lantai yang kotor, merapatkan kedua tangannya memohon-mohon pada layar ponsel.
"Orang tua?" David tertawa rendah, sebuah kekehan hampa tanpa rasa humor yang sangat mengerikan.
"Kalian tidak lebih dari benalu serakah yang memanfaatkan darah daging sendiri. Kalian tahu apa hukuman bagi orang yang berani membuat Mili Hermawan menangis dan pingsan karena ketakutan?"
David jeda sejenak, menatap lurus ke kamera ponselnya.
"Jonas, serahkan berkas kebangkrutan total perusahaan mereka malam ini. Cabut semua saham, blokir seluruh rekening bank atas nama mereka, dan pastikan besok pagi surat penangkapan atas tuduhan pemerasan dan fitnah tingkat tinggi sudah mendarat di tangan kepolisian. Jangan biarkan mereka menyisakan sepeser uang pun bahkan untuk membeli sepotong roti."
"Tuan Hermawan, jangan! Tolong kami!!" jerit Ayah Gea histeris, menyambar kaki celana Jonas.
Jonas menepis kaki pria tua itu dengan dingin tanpa ekspresi sedikit pun.
"Dan satu hal lagi, Jonas," bisik David dengan nada paling kelam yang pernah Jonas dengar.
"Biarkan mereka tidur di jalanan malam ini. Jangan biarkan ada satu pun hotel atau penginapan di Indonesia yang menerima mereka."
Panggilan video terputus. Jonas memberi isyarat tangan pada para pengawal.
Dua pengawal langsung menyeret orang tua Gea keluar dari kamar hotel secara paksa, mengabaikan jeritan dan raungan ampun mereka yang menggema tragis di koridor hotel yang dingin.
Sementara itu, di dalam mobil mewahnya yang melaju membelah malam Bali kembali menuju penthouse, David membuang ponselnya ke jok sebelah.
Amarah gila yang tadi membakar matanya mendadak luntur, berganti dengan rasa cemas yang teramat sangat.
Pria itu meremas jemarinya sendiri, membayangkan raut wajah pucat Mili dan air mata yang menetes di pipi istrinya beberapa jam lalu.
"Mili..." bisik David serak pada kegelapan malam.
Iblis yang baru saja menghancurkan satu keluarga dalam hitungan menit itu kini gemetar hebat, merindukan dekapan sang istri dan berdoa agar wanita yang amat dicintainya itu sudah kembali tersenyum saat ia melangkah masuk ke pintu kamar mereka.
Mobil mewah David berhenti di depan lobi hotel tempat suite mewah mereka berada.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, David melangkah terburu-buru, menaiki lift pribadi, dan langsung masuk ke dalam kamar.
Suasana di dalam kamar tampak temaram. Di atas tempat tidur berukuran king size itu, Mili berbaring dengan tubuh yang masih tampak lemas.
Wajahnya masih menyisakan pucat akibat syok hebat yang dialaminya beberapa jam lalu.
Mendengar suara pintu terbuka, Mili membuka kelopak matanya pelan.
David langsung bergegas mendekat. Ia menjatuhkan diri berlutut di sisi ranjang, menatap cemas wajah sang istri.
Dengan sangat lembut, David meraih tangan Mili yang terasa dingin, lalu mengecup kening istrinya lama-lama untuk menyalurkan kehangatan.
"Sayang, apa masih ada yang sakit? Aku sudah membereskan semuanya, mereka tidak akan pernah bisa mengganggumu lagi," bisik David penuh kelembutan, mencoba menenangkan wanita yang amat dicintainya itu.
Namun, sebelum Mili sempat membuka suara untuk membalas ucapan suaminya, tiba-tiba gelombang mual yang luar biasa menghantam perut Mili secara mendadak.
Wajah Mili berubah semakin pias. Ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan, mendadak bangkit dari baringannya, lalu bergegas memiringkan tubuhnya ke tepi ranjang.
Huekk... Huekk...
Suara muntah yang tertahan lolos dari bibir Mili, membuat tubuh lemasnya semakin gemetar hebat.
"Sayang! Kamu kenapa?!" teriak David panik, seketika melompat berdiri dan langsung menepuk-nepuk punggung istrinya dengan gerakan hati-hati.
Huekk...
Mili terbatuk-batuk kecil, memegang dadanya yang terasa sesak dan pusing yang berputar hebat.
Tidak ada cairan yang keluar, hanya rasa mual luar biasa yang menguras seluruh sisa tenaganya hingga air matanya kembali tumpah di pelupuk mata.
Panik yang luar biasa langsung melumpuhkan kepala David.
Pria yang sedingin es saat menghancurkan musuh-musuhnya itu mendadak kehilangan akal sehat saat melihat wanita dalam dekapan-nya tersiksa seperti ini.
Tanpa pikir panjang, David menyambar ponsel mahalnya dari saku jas, mencari kontak darurat yang baru saja dihubungi beberapa jam lalu, dan langsung menekan tombol panggilan ke dokter pribadi mereka.
"Dokter! Cepat datang ke kamar suite sekarang juga! Istriku muntah-muntah dan keadaannya semakin memburuk!" bentak David dengan suara bergetar penuh ancaman dan kepanikan mutlak ke arah sambungan telepon.