Indonesia
NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:317
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Deras

POV Author

Dira berulang kali mendekatkan ponsel ke telinga, berharap Farhan bersedia mengangkat teleponnya malam ini. Ia benar-benar bingung harus berbuat apa, beberapa menit lagi Geri akan meninggalkannya berdua dengan Fariq.

“Dira.” Tegur Geri sambil menghampiri Dira yang terlihat cemas di teras. “Lo kenapa?” tanyanya kemudian.

“Mas, tolong tunggu disini sampai Farhan pulang, ya.” Dira memohon.

“Memangnya Farhan pulang?” Geri bertanya setengah ragu. Jika Fariq masih menganggap adiknya itu tidur di kantor, maka tidak dengan Geri. Setiap pagi Geri melihat Farhan datang ke kantor pagi-pagi dengan kondisi sudah mandi, hanya saja masih mengenakan baju kemarin. Baru sesampainya di kantor dia mengganti baju yang baru dan berangkat lagi menjemput Puput. Setidaknya itu yang ia saksikan beberapa hari belakangan ini.

“Aku masih telepon Farhan, Mas. Tapi belum berhasil juga, mungkin dia sudah tidur atau..”

“Sama ceweknya kali.” Potong Geri tanpa sungkan. Dira yang mendengarnya langsung tersentak kaget mendengar celetukan Geri. Benarkah suaminya itu memiliki wanita lain?

“Maaf ya Dira. Tapi sudah seharusnya lo curiga kenapa Farhan nggak pulang berhari-hari. Dia nggak pernah tidur di kantor, nggak tahu deh dia tidur dimana jadi mending lo selidiki. Jangan mau dibodohin terus sama Farhan, dia di luar enak-enakan sama cewek kok lo disini malah nangis mikirin dia. Bisa sakit lama-lama kalau lo gini terus.” Geri berucap tanpa rem, membuat mata Dira tanpa sadar berkaca-kaca.

“Dir, maaf ya gue nggak bermaksud bikin lo kepikiran. Cuma gue dan Farhan sama-sama cowok, jadi gue tahu betul apa yang diperbuat Farhan di luar sana. Semoga dugaan gue salah ya, tapi nggak ada salahnya juga lo selidiki besok.” Saran Geri. Dira hanya terdiam, menyadari bahwa diamnya selama ini ternyata tidak menjadi emas.

“Oh iya, sorry lagi gue harus pulang sekarang. Tenang aja Fariq nggak akan ngapa-ngapain lo, lebih amannya mending lo kunci pagar, kunci pintu depan, sama kunci kamar Fariq dari luar. Juga jangan lupa kunci kamar lo sendiri, besok pagi-pagi gue kesini.” Kata Geri sambil berpamitan. Meski ragu namun saran Geri tetap dilakukan Dira kecuali mengunci pagar, karena pagar itu memang sudah lama rusak.

Malam itu tiba-tiba hujan turun sangat deras dibarengi suara petir bersahutan, menambah rasa takut yang sedari tadi mendera Dira. Dengan hati-hati Dira mengunci pintu rumah lalu sedikit ragu berjalan ke kamar Fariq untuk mengunci pintunya dari luar.

Sedikit berjinjit Dira meraih gagang pintu kamar Fariq supaya tidak menimbulkan suara. Saking takutnya ia sampai menahan nafas, berharap supaya detak jantungnya tidak sampai membuat pria yang tengah mabuk itu terbangun. Namun, betapa terkejutnya Dira ternyata Fariq sudah tidak ada di tempat tidurnya. Dira takut luar biasa, otaknya mendadak memberi sinyal bahwa semua ketakutan akan menjadi kenyataan.

Suasana di dalam rumah sangat sunyi, tidak ada suara apapun. Dira melangkah dengan penuh hati-hati masuk ke dalam kamar itu untuk memeriksa apakah Fariq ada di kamar mandi. Bagai masuk ke goa harimau ternyata keputusannya untuk masuk ke dalam kamar malah membawa petaka untuknya. Fariq yang saat itu berada di luar kamar langsung bergegas mengikuti Dira dan menutup pintu kamarnya dengan kasar.

Dira menoleh dan menyaksikan Fariq dengan seringainya yang mengerikan. Laki-laki itu tengah bertelanjang dada, efek panas alkohol di tubuhnya membuat ia melepas kemeja saat Geri baru saja membawanya ke kamar. Kaki jenjang itu melangkah ke arah Dira, meraih tubuhnya dengan paksa. Pelukan erat ia berikan pada wanita itu. Erat sekali sampai Dira harus menggigit kulit dadanya. Dira berteriak memohon untuk dilepaskan namun semakin ia memohon, Fariq malah semakin kuat menahan tangan Dira agar berhenti berontak.

Tidak banyak yang Dira lakukan, dia hanya bisa meraung berharap belas kasih dari Fariq yang tengah mempertahankan genggamannya pada tangan Dira. Saat tubuhnya terhempas begitu saja ke atas ranjang, saat itu pula Fariq mengunci tubuh Dira dari atas. Pukulan, tendangan, cakaran tidak membuat Fariq berhenti melakukan aksinya. Naas, kekuatan Dira melemah begitu saja akibat berhari-hari tak selera makan dan minum, hanya teriakan lemah minta tolong juga dorongan yang tak berarti pada tubuh Fariq yang bisa ia lakukan. Namun sayang semua itu sia-sia, suaranya tertelan derasnya hujan dan tenaganya berangsur melemah.

Berbeda dengan Fariq, dorongan iblis yang begitu kuat membuat ia lupa pada siapa ia menumpahkan segala kehinaan. Wanita yang teramat ia kasihi selama ini nyatanya ia perlakukan secara tak pantas. Fariq memang dalam kendali minuman keras sehingga tidak menyadari apa yang sedang ia lakukan, tapi tetap saja hal itu sukses membuat Dira mengutuk dan membencinya.

Berkali Fariq meneriakkan penggalan namanya, membuat Dira semakin yakin bahwa Fariq sengaja melakukannya. Sempat ia berfikir kesalahan apa yang ia buat sampai Mas Fariq tega menyakitinya seperti ini. Dira hanya tidak pernah tahu bahwa selama beberapa tahun di hati Fariq hanya ada nama Dira. Hampir satu jam berlalu, Fariq tetap menyebut nama wanita yang menangis di sampingnya meski ia telah berhasil mencapai puncak.

“Ra.... Menikah sama aku, Ra... Ayo kita menikah, sayang... Sudah lama aku menginginkan kamu, Ra...” Fariq terus meracau seperti itu meski ia tengah merebah dan melepaskan genggamannya pada tubuh Dira. Dira menangis tergugu, ingin rasanya ia menghajar pria di sampingnya, mencekik lehernya dengan sekuat tenaga sampai pria itu tak bisa meracau lagi. Jijik sekali mendengar namanya berulang kali disebut.

Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Dira pun berkemas memungut pakaiannya yang sudah tak layak dikenakan kembali. Sakit di sekujur tubuh tak ia hiraukan, fokusnya kini ingin segera keluar dari kamar laknat itu dan mengunci Fariq dari luar seperti tujuan awalnya. Meski semua telah terlambat, setidaknya hal itu bisa ia manfaatkan supaya bisa keluar dari rumah ini secepatnya.

Ya, ia akan pergi mengemasi semua barangnya dan mungkin tak akan kembali lagi kemari. Ia merasa gagal menjaga kehormatannya sebagai istri, jika bunuh diri dibolehkan mungkin ia akan memilih jalan itu ketimbang harus mencekik pria di sebelahnya.

“Ra...... harusnya kamu menikah sama aku. Percaya sama aku, aku bisa buat kamu bahagia, bukan laki-laki itu. Aku sayang kamu, Ra. Tolong terima aku...” Fariq masih saja meracau. 

Dira berjalan tertatih. Pemaksaan yang dilakukan Fariq meninggalkan luka yang begitu asing. Dira terus berjalan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Sampai ketika tangannya akan meraih pintu kamar, terdengar lagi racauan Fariq yang membuat ia membelalakkan mata.

“Dira...... Menikahlah denganku, tinggalkan Farhan.... Aku mencintaimu, Ra....” 

 

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!