Indonesia
NovelToon NovelToon
Hanya Istri Sementara

Hanya Istri Sementara

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Rumah Tangga / Obsesi
Popularitas:27.8k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Ainun terpaksa menggantikan kakaknya, Liona, untuk menikah dengan Sagara Jeno Dirgantara. Namun, pernikahan itu justru membuatnya hidup dalam siksaan fisik dan batin.

Saat mengetahui dirinya hamil, Ainun memilih menyembunyikannya. Ia hanya punya satu tujuan: pergi dari Sagara dan membawa anaknya bersamanya.

Ketika Liona kembali, Ainun mengira inilah kesempatan untuk bebas. Namun, ia baru menyadari bahwa sejak awal, Sagara bukan sekadar menginginkannya. Pria itu terobsesi kepadanya.

Akankah Ainun berhasil lepas dari Sagara, atau justru kembali terperangkap dalam obsesinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tolong Jangan Beri Tahu Sagara

Ainun melangkah keluar dari klinik dengan langkah pelan.

Di tangannya, sebuah amplop putih berisi hasil pemeriksaan masih tergenggam erat. Jemarinya seolah enggan melepaskan benda itu, seakan seluruh hidupnya kini bergantung pada beberapa lembar kertas di dalamnya.

Pintu klinik menutup perlahan di belakangnya.

Embusan angin siang menyapu wajahnya, tetapi tak mampu mengusir sesak yang memenuhi dadanya.

Tanpa sadar, ingatannya kembali melayang pada ucapan dokter beberapa menit yang lalu.

“Selamat, Bu Ainun. Hasil pemeriksaan menunjukkan Anda positif hamil. Berdasarkan usia kehamilan, janin Ibu diperkirakan sudah hampir dua bulan.”

Langkah Ainun perlahan terhenti lalu kemudian mendongakkan kepala.

Matahari telah berdiri tinggi di langit, memancarkan cahaya yang terasa begitu menyilaukan.

“Bagaimana sekarang?” bisiknya lirih.

Tak ada yang menjawab.

Perlahan, tatapannya turun.

Telapak tangannya terangkat, lalu mengusap lembut perutnya yang masih tampak rata.

“Apa aku harus memberi tahu Mas Sagara?” gumamnya.

Beberapa saat ia hanya berdiri mematung.

Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang membuat napasnya terasa semakin sesak.

‘Kalau Mas Sagara tahu... apa yang akan beliau lakukan?’

Belum sempat menemukan jawaban, bayangan-bayangan mengerikan mulai memenuhi benaknya.

“Gugurkan bayi itu. Saya nggak sudi punya anak darimu.”

Tubuh Ainun seketika menegang.

Bayangan lain kembali muncul.

“Dasar nggak tahu diri! Kenapa kamu bisa hamil?”

Kelopak matanya mulai memanas.

Belum selesai sampai di situ. Suara Liona ikut terngiang di kepalanya.

“Ainun, kenapa kamu mengkhianatiku? Aku memintamu menjaga Mas Sagara, bukan mengandung anaknya!”

“Nggak...”

Ainun menggeleng pelan. Air mata mulai memenuhi pelupuk matanya.

“Nggak...”

Suaranya terdengar semakin lirih.

Ia kembali mengusap perutnya dengan penuh kehati-hatian.

“Anak ini nggak bersalah,” ucapnya dengan bibir yang bergetar.

Setetes air mata jatuh membasahi pipinya.

“Yang bersalah... aku.”

Ia memejamkan mata sesaat.

‘Aku yang gagal menjaga diriku sendiri.’

Napasnya berembus pelan.

“Aku memang sudah mengkhianati Mbak Liona.”

Kalimat itu terasa begitu berat untuk diucapkan.

Namun, saat jemarinya kembali mengusap perutnya, tatapannya perlahan berubah menjadi lebih teguh.

“Maafkan Ibu...”

Suaranya nyaris tak terdengar.

“Tapi apa pun yang terjadi... Ibu akan mempertahankan mu.”

Ia mengembuskan napas panjang, lalu menggenggam amplop hasil pemeriksaan itu lebih erat.

‘Untuk sementara... kehamilan ini cukup aku saja yang tahu.’

“Bu Ainun?”

Suara itu membuat Ainun tersentak dari lamunannya.

Ia segera menoleh.

Keningnya seketika berkerut saat melihat sosok pria yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

‘Pak Liam?’

Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.

‘Kenapa beliau ada di sini?’

Ainun refleks menggenggam amplop hasil pemeriksaan lebih erat.

Pak Liam menghampirinya dengan langkah tenang.

“Kenapa Ibu berada di klinik ini?” tanyanya datar.

Ainun menelan ludah. “I-itu... saya....”

Kata-katanya terhenti di tenggorokan. Ia tak sanggup mencari alasan.

Tatapan Pak Liam perlahan beralih ke tangan Ainun yang masih menggenggam selembar hasil pemeriksaan.

“Apa yang Ibu pegang?”

Refleks, Ainun menundukkan pandangan.

Ia segera menyembunyikan kertas itu di belakang punggungnya.

“B-bukan apa-apa,” jawabnya gugup.

Pak Liam tetap menatapnya. Sorot matanya membuat Ainun semakin gelisah.

“Serahkan pada saya, Bu Ainun.”

Ainun menggeleng cepat.

“Buat apa?” tanyanya dengan suara bergetar.

Pak Liam tidak menjawab. Ia justru melangkah mendekat.

“P-Pak Liam....”

Belum sempat Ainun menghindar, pria itu telah meraih pergelangan tangannya dengan hati-hati, lalu mengambil lembar hasil pemeriksaan yang disembunyikannya.

“Pak Liam, jangan!”

Ainun spontan mencoba merebut kembali kertas itu.

Namun, tinggi badannya jauh berbeda.

Pak Liam mengangkat tangannya sedikit lebih tinggi sehingga Ainun tak mampu menjangkaunya.

“Pak Liam... tolong kembalikan.”

Nada suaranya mulai terdengar memohon.

Namun, pria itu tetap membuka lipatan kertas tersebut.

‘Jangan....’

Ainun kembali berusaha meraihnya.

“Pak Liam, saya mohon....” Air matanya mulai menggenang. “Jangan dibaca.”

Suara itu nyaris berubah menjadi isakan.

Namun, Pak Liam tetap membentangkan kertas itu hingga seluruh isi hasil pemeriksaan terlihat jelas di hadapannya.

Ainun hanya mampu mematung. Jemarinya mengepal kuat di sisi tubuh.

Jantungnya berdetak begitu keras hingga seolah memenuhi telinganya sendiri.

‘Selesai....’

‘Kalau Pak Liam tahu... berarti cepat atau lambat Mas Sagara juga akan mengetahuinya.’

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tak ada perubahan sedikit pun pada raut wajah Pak Liam.

Pria itu tetap berdiri diam sambil menatap lembar hasil pemeriksaan yang berada di tangannya.

Beberapa saat kemudian, ia perlahan mengangkat pandangan.

Tatapan mereka bertemu.

“Anda... hamil?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu seolah meruntuhkan seluruh pertahanan Ainun.

Bahu wanita itu melemas.

Bahkan baru saja ia menyembunyikan kehamilannya dari siapa pun.

Namun, semuanya berantakan hanya dalam hitungan detik.

Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh membasahi pipi.

“Iya,” jawab Ainun lirih.

Ia menundukkan kepala.

“Sekarang... apa Bapak akan memberi tahu Mas Sagara?”

Tak ada jawaban.

Keheningan itu justru membuat dada Ainun semakin sesak.

Ia kembali mengangkat wajah.

“Kalau Mas Sagara tahu...” Bibirnya bergetar hebat. “Beliau pasti menyuruh saya menggugurkan anak ini.”

Ainun menggeleng pelan.

Tangannya kembali menyentuh perutnya yang masih rata.

“Anak ini nggak bersalah. Dia sama sekali nggak bersalah.”

Napas Ainun tersendat. Ia menatap Pak Liam dengan sorot mata penuh permohonan.

“Pak Liam...” suaranya hampir berubah menjadi isakan. “Bukankah Bapak juga punya hati?”

Jemarinya mengepal di sisi tubuh.

“Tolong jangan biarkan siapa pun mengambil nyawanya.”

Pak Liam masih terdiam.

Tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Tatapan Ainun perlahan meredup.

“Keputusan ada di tangan Anda pak Liam,” ucapnya lirih.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Ainun mengambil kembali hasil pemeriksaan dari tangan Pak Liam.

Ia melipat kertas itu dengan hati-hati, lalu memasukkannya ke dalam tas.

Tak ada lagi yang ingin dikatakannya.

Perlahan, Ainun berbalik dan melangkah meninggalkan halaman klinik.

Di tepi jalan, ojek yang mengantarnya sejak tadi masih menunggu.

Begitu azan Zuhur mulai berkumandang dari masjid yang tak jauh dari sana, langkah Ainun kembali terhenti.

Suara azan itu menggema lembut, memenuhi udara siang.

‘Ya Allah... hanya kepada-Mu aku bisa mengadu.’

Ainun menghampiri pengemudi ojek.

“Pak,” panggilnya pelan, “boleh mampir ke masjid dulu? Saya ingin salat.”

Pengemudi itu mengangguk ramah.

“Siap, Neng.”

“Terima kasih, Pak.”

Ainun mengenakan kembali helmnya, lalu naik ke atas motor.

Beberapa saat kemudian, motor itu mulai melaju meninggalkan pelataran klinik.

Ainun menyempatkan menoleh sekilas ke belakang.

Pak Liam masih berdiri di tempat yang sama. Tatapan pria itu masih mengarah kepadanya.

Ainun segera mengalihkan pandangannya kemudian menundukkan kepala.

'Aku harap Pak Liam masih memiliki hati.’

Sementara motor terus melaju menuju masjid, satu-satunya tempat yang ingin ia datangi untuk mencari ketenangan di tengah badai yang baru saja menghantam hidupnya.

1
Rahmawati Amma
wah klu benar jadi nikah sama si faizan kayanya aku mundur bacanya maksud hati ingin kasih koin tapi klu gini ceritanya aku mundur aja deh bacanya caow aku masih berharap chong ma balikan( SAGAR) 😭😤
Silvi Febiola: maaf ya kak, sudah ngecewain.
total 1 replies
Rahmawati Amma
weh thor chong ma mana harusnya kan udah bebas balikan sama chong ma aja kayanya ngak suka aku dengan faiz 😡😤 tapi chong ma nya udah berubah lebih baik benar2 baik dari sebelumnya hidup chong ma (sagara)si liam ibaratnya lee jaha kan kaki tangan chong ma ngak kala sadis wa ha..ha...ha. 🤣🤣🤣
Rahmawati Amma
fiks sagara kaya leluhurnya chong ma sadis tapi melindungi org terkasih sama chong ma sama2 sadis tdk pandang jenis kelamin mau perempuan mau laki klu ada yg gangu atau deketin babat abis tapi saya suka thor itu si sagaranya jangan terlalu sadis thor kaya chong ma aja ama mohyong sadis banget 😭😭😭😭
Linda: kalau saran saya jgn buat pisah sagara dgn ainun buat lah sagara sadar
total 1 replies
Linda
kalau saran saya ainun dn sagara jgn buat pisah bagi sagara sadar dan biar nanti dia hidup bahagia dgn keluarganya, dan laras dgn pak faisan
falea sezi
😒 bapak sama anak sama bejatnya g rela q si bangke ini ama ainun
falea sezi
😒laki bangke
Rahmawati Amma
kaya leluhurnya cheon ma sadis babget😭
falea sezi
moga bisa pergi. laki menjijikkan
Rahmawati Amma
aku meng hargai karyamu thor tapi terlalu kelam kapan bahagianya klu begini ceritanya 😭😭😭
Rahmawati Amma
kenapa terlalu drak thor😭😭😭
Rahmawati Amma
oh... ternyata mas saganya🤭🤭🤭
falea sezi
bkin ainun cerai Thor 🤣🤣 laki menjijikkan hukum itu ya di hukum cambuk bukan hukum ngeweee😒
falea sezi
🤣🤣 kn emank bejat g akan bisa berubah
Datu Zahra
apaansih Sagara, jijik banget.
Datu Zahra
kebanyakan pelakor, Liona belom beres, nongol Alif. terlalu ruet
Ais
sebenarnya saraga sm bapaknya ini sm"hyper kayaknya jijik tp kok ditiduri jg perempuan yg udah nyakitin istrinya aku pikir alif pelacur ini bakalan disiksa dlm artian disiksa bnr bkn disiksa dlm tanda kutip trus laras lihat kejadiannya apakah laras jg bakalan jd mangsa sagara berikutnya kasihan ainun kata aku seh smoga ainun cepat tau jd bs kabur sm anaknya jng smp rantai setan ini jg mengikat prilaku aksara anak ainun mau sebaik apa ibunya klo bapaknya hyper dan iblis anak jg pst akan kebawa namanya buah ngak akan jatuh jauh dr pohonnya
merry
jgn bgtt ainum sm bu Lina sm dm disiksa,, trss di selingkuh in lgg,, cb mrk bersatu hancurin ank Bpk iblis itu,, bastian tdrin mantan mantu ya eee anky selingkuh dgn alif ud gk bs dijadiin suami itu,, curi kek yang bu Lina trs pergi keluar negeri gt
dika edsel: klo bisa ainun dibuat mati aja...sad ending lbh baik..,ini novel bner2 di luar logika org waras
total 2 replies
Ila Latifah
jangan sampai ainin menderita lagi hara2 si alif bkin ulah. kasian bu lina. mamamnya sagara
Ila Latifah
masih 1 tipe. banyak tokoh jahatnya
Ila Latifah
menjijikan. dimakan bapaknya untuk dimikahi anaknya. anak tiri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!