Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 8: The Goddess Who Complimented My Hair
Guncangan psikologis akibat ledakan seratus koin emas di dalam saku gaunnya masih belum sepenuhnya mereda. Ophelia melangkah menyusuri koridor kaca Paviliun Barat dengan tingkat kewaspadaan setara prajurit di garis depan pertempuran. Tangan kanannya terus menahan kantong saku gaun biarawatinya agar tumpukan koin emas murni itu tidak gemerincing dan memancing kecurigaan biarawati senior yang lalu-lalang.
Sinar matahari pagi menembus jendela-jendela porselen berukir, memantulkan bayangan anggun seorang gadis bercadar putih. Jalannya pelan, mengalir tegak, dan memancarkan aura kesucian yang luar biasa—setidaknya, itulah yang tampak dari luar. Di dalam pikirannya, Ophelia sedang sibuk merencanakan tempat persembunyian uang "pemberian" Dewa Keberuntungan.
‘Di bawah kasur? Tidak, Suster Agatha selalu membalik kasur setiap minggu. Di dalam pot bunga mawar di taman? Bagaimana kalau tertimbun pupuk?’ batin Ophelia meratapi nasibnya. ‘Kenapa dewa tidak pernah memberiku berkah yang normal seperti... libur kerja sehari?’
Namun, kedamaian hening yang ia bangun di koridor itu hancur saat bayangan transparan berwarna merah muda mendadak menyelimuti pandangannya.
BZZZZT!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Hair Quality: DIAMOND-GRADE SILK
Goddess Affection: OVERFLOWING (100%)
Special Event: Celestia's Morning Aesthetics Inspection
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
Ophelia mendadak menghentikan langkahnya tepat di depan cermin besar berukir perak.
Layar emas di hadapannya mendadak berganti warna menjadi merah muda berkilauan, dipenuhi kelopak bunga mawar digital yang berguguran di sekitar kepalanya.
[GODDESS OF BEAUTY: SEMUA DIAM! LIHATLAH ITU! LIHATLAH BAGAIMANA CAHAYA MATAHARI PAGI MEMANTUL DI ATAS RAMBUT PIRANG KEEMASANNYA!]
[GOD OF WAR: Hei! Kenapa layarnya jadi warna merah muda?! Aku sedang menganalisis postur tubuhnya untuk latihan pedang!]
[GODDESS OF BEAUTY: Tahan lidahmu, Asterion! Ini adalah Mahakarya Estetika Ilahi! Rambut pirang panjang yang berkilau seperti benang emas murni! Kelembutan yang tidak bisa tertandingi oleh sutra kerajaan mana pun!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Berdasarkan data spektrometri warna, tingkat kejernihan pantulan cahaya pada helai rambut Ophelia berada di angka 99,8%. Secara teknis, ini memicu respons visual yang memuaskan bagi 9 dari 10 dewa.]
[GODDESS OF BEAUTY: Orpheon, bisakah kau tidak merusak momen puitis ini dengan istilah laboratoriummu?!]
Ophelia berdiri kaku di depan cermin perak. Di dalam pantulan kaca, ia melihat dirinya sendiri—seorang biarawati dengan gaun putih sederhana dan cadar yang menutupi hidung hingga lehernya. Namun, di atas kepalanya, mahkota bunga mawar imajiner buatan Goddess of Beauty berkerlap-kerlip menembus kain cadar.
"Tolong hentikan..." gumam Ophelia sangat pelan. Bibirnya di balik cadar bergetar ringan.
‘Aku hanya menyisirnya tiga kali tadi pagi dengan sisir kayu murah seharga dua koin tembaga,’ jerit Ophelia dalam hatinya. ‘Kenapa kalian bertingkah seolah-olah aku baru saja membilas rambutku dengan air dari Mata Air Keabadian?!’
Ia menghela napas pasrah dan mencoba melangkah pergi dari depan cermin. Namun, Goddess of Beauty belum selesai dengan obsesi paginya.
TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[YOU HAVE RECEIVED A DIVINE BLESSING!]
Sponsor: Goddess of Beauty (Celestia)
Effect: Eternal Hair Fragrance (White Lily & Sunlight)
Duration: PERMANENT
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
Seketika itu juga, gelombang aroma harum yang sangat lembut namun merebak mendadak bertiup dari rambut pirang Ophelia. Aroma bunga lili putih yang segar, berpadu dengan kehangatan embun pagi, menyeruak mengisi seluruh lorong kaca Paviliun Barat.
Ophelia membeku total. Bau harum itu begitu kuat hingga beberapa helai rambutnya di balik cadar memancarkan pendar cahaya keemasan tipis selama beberapa detik.
[GODDESS OF BEAUTY: Sempurna! Sekarang anak cantikku tidak hanya terlihat berkilau, tetapi juga beraroma seperti surga! Buka cadarmu, Ophelia! Biarkan dunia melihat kecantikan utuhmu!]
[GOD OF WAR: Buka cadar?! JANGAN! Dunia ini penuh dengan pembunuh dan ksatria mesum! Cadar itu adalah perisai pertahanan terbaiknya!]
[GODDESS OF LOVE: Ooh! Apakah Asterion sedang bersikap posesif?! Sungguh perkembangan hubungan yang sangat menarik!]
[GOD OF WAR: DIAM KAU, ELARA! AKU HANYA BICARA SOAL STRATEGI PERTAHANAN!]
Ophelia memejamkan mata erat-erat di balik cadarnya. Kepala bagian kirinya mulai terasa berdenyut nyeri.
‘Aroma harum permanen?!’ batin Ophelia histeris. ‘Bagaimana cara aku menjelaskan ini pada Suster Kepala?! "Maaf Suster, rambutku tiba-tiba beraroma surga karena dewi kecantikan di langit sedang bosan"?! Mereka akan memasukkanku ke ruang isolasi karena dianggap kerasukan roh murni!’
"Pagi yang harum, Suster Ophelia."
Sebuah suara berat, tenang, dan berwibawa mendadak bergema dari ujung koridor.
Ophelia tersentak dari lamunannya. Ia segera berbalik dan membungkuk dalam-dalam dengan penuh hormat. Dari balik ujung cadarnya, ia melihat jubah kebesaran berwarna putih bersulam benang emas murni melangkah mendekatinya.
Paus Agung Raphael Elias Montclair.
Paus termuda dalam sejarah Kuil Agung Olympus—pria berusia dua puluh enam tahun dengan wajah tampan yang tenang, mata keemasan yang jernih, dan aura karismatik yang membuat siapa pun bertekuk lutut.
Raphael berhenti tepat tiga langkah di depan Ophelia. Mata keemasannya menyipit pelan saat mengamati biarawati muda di hadapannya.
"P-Puji Agung Dewa Olympus, Yang Mulia Paus," ucap Ophelia dengan suara lembut yang dibuat setenang mungkin, meskipun dadanya berdegup kencang.
Raphael tidak langsung menjawab. Ia menghirup udara pagi di koridor tersebut, lalu tatapannya tertuju pada rambut pirang Ophelia yang masih memancarkan keharuman ilahi.
"Aroma bunga lili yang sangat murni..." gumam Raphael pelan. "Aku belum pernah mencium aroma energi suci yang tersebar begitu alami di koridor ini sebelumnya. Apakah kau baru saja menyelesaikan ritual pembersihan di ruang altar utama, Suster Ophelia?"
Ophelia menahan napasnya.
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE SYSTEM DANGER ALERT!]
Target of Interest: Raphael Elias Montclair (Grand Pope)
Detection Risk: HIGH (Divine Sensing Ability)
Gods' Panic Level: RISING
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GOD OF KNOWLEDGE: Bahaya. Raphael memiliki tingkat kepekaan sihir ilahi di atas rata-rata manusia. Kepadatan partikel aroma dari Celestia dapat memicu pelacakan sumber sihir.]
[GODDESS OF BEAUTY: UPS! Apakah aku memberi berkah terlalu banyak?!]
[GOD OF WAR: SUDAH KUBILANG JANGAN BERTINGKAH ANEH-ANEH!]
[GODDESS OF WISDOM: Ophelia, gunakan alasan minyak aromaterapi. Cepat.]
Ophelia meremas gaunnya pelan di samping tubuh. Petunjuk dari Goddess of Wisdom di layar transparan itu sebenarnya sangat masuk akal, dan itu adalah satu-satunya jalan keluar logis yang ia miliki saat ini.
"Menjawab Yang Mulia Paus..." suara Ophelia terdengar tenang dan merdu di balik kain putihnya. "Hamba baru saja merapikan keranjang minyak aromaterapi di taman lili semalam. Tampaknya ekstrak bunga lili murni menyerap ke dalam kain gaun dan rambut hamba secara tidak sengaja."
Raphael menatap Ophelia selama beberapa detik dalam keheningan yang mencekam. Mata keemasannya yang tajam seolah-olah mampu menembus kain cadar putih yang menutupi wajah gadis itu. Sebagai pria yang memegang otoritas tertinggi di kuil, Raphael sangat sulit dibohongi.
Namun, setelah jeda yang terasa seperti ribuan tahun bagi Ophelia, Paus Agung itu akhirnya tersenyum tipis. Aura menekan di sekitarnya mengendur.
"Begitu rupanya," ucap Raphael pelan. "Ketelitianmu dalam merawat kuil memang patut dipuji, Suster Ophelia. Namun, jagalah kesehatanmu. Energi di kuil ini akan menjadi sangat padat beberapa hari ke depan menjelang Upacara Pemilihan Saintess."
"Terima kasih atas kepedulian Anda, Yang Mulia," balaskan Ophelia sambil menundukkan kepala.
Raphael melangkah melewatinya, jubah cantiknya berkibar pelan tertiup angin koridor. Sebelum benar-benar menjauh, Paus Agung itu sempat bergumam pelan yang hanya bisa didengar oleh angin pagi.
"Keharuman yang sungguh mirip dengan berkah sejati..."
Ophelia mengembuskan napas panjang yang amat berat tatkala sosok Paus Agung telah menghilang di belokan koridor. Tubuhnya yang tegang perlahan rileks kembali.
Layar emas di depannya kembali berkedip-kedip menyorotkan pesan-pesan dari para dewa yang sibuk bernapas lega.
[GODDESS OF BEAUTY: Fiuh! Hampir saja! Tapi harus kuakui, rambutmu tetap terlihat sangat memesona saat menghadap Paus!]
[GOD OF WAR: Dia berhasil lolos dari pengamatan Paus Agung! Akting dan ketenangannya sungguh sekelas prajurit elit!]
[UNKNOWN GOD: ...Be careful around him.]
Ophelia menyipitkan matanya menatap pesan dari Unknown God. Peringatan singkat itu terasa sangat nyata. Paus Agung Raphael jelas bukan orang sembarangan, dan satu kesalahan kecil saja bisa membongkar rahasia Divine Screen serta identitas dirinya.
"Rambut beraroma surga, saku penuh koin emas, dan dewa-dewa yang terus berceloteh..." bisik Ophelia lirih pada dirinya sendiri sambil melanjutkan langkah menuju ruang makan.
Ia merapatkan cadar putihnya, bersiap menghadapi kekacauan berikutnya yang dijamin akan datang sebelum matahari mencapai puncak langit.
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗