Seorang santri barusaja bertemu dengan gadis mengerikan ketika menaiki bis, dia tidak jahat. tapi satu negara akan memburunya, tentu dengan sebuah tujuan. dan santri tersebut, dia akan menolong, meskipun tidak tahu apa yang akan dia hadapi selanjutnya. hidup lelaki itu akan berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrosyad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awalan yang buruk.
Orang pemegang tongkat tersenyum puas. Padahal belum apa-apa. Aku masih ada ide, walau nekat.
Pintu lokomotif terbuka. Tidak ada penumpang yang masuk. Bersamaan itu aku menendang tongkat milik pria di depanku. Orangnya terkesima, tongkat tersebut terlepas. Bergelimpangan di permukaan kabin.
Tanganku cekatan mengambil tongkat logam tersebut. Niat ingin lanjut menyerang. Tapi Ila berkelebat, tiba lalu menendang keras perut pria di depanku. Orang itu berseru tertahan. Terpental dua meter di kabin. Orang-orang di dalam kabin juga terkesima.
Aku berlari menuju pintu keluar, Ila tanpa di suruh langsung membuntut di belakang. Lima petugas terlihat menghadang, menghentakkan Tameng aneh berwarna biru ke lantai. Mereka berdiri berbaris di balik tameng.
“Hey!” Pria barusan berseru.
Di ambang pintu kabin. Aku langsung melompat, menerjang menggunakan ke dua kaki. Satu tameng ambruk sekaligus orang di baliknya.
Petugas lain tersentak, berseru tertahan. Aku dan Ila berhasil lolos hadangan. Sekarang terpenting aku harus menjauh. Di tempat ini terlalu kecil untuk bertahan.
Aku dan Ila berlari menjauh. Menyingkap banyaknya orang yang memadati stasiun.
Tiba-tiba ada sesuatu yang mengait kaki ku. Aku terjatuh keras di lantai. Ila berseru tertahan. Tongkat besi terlontar di sampingku.
Kaki ku ternyata terpasang sejenis borgol besi. Ada orang yang melempar dan tepat tepat sasaran. Tapi bagaimana bisa?
Ila mengambil tongkat besi. Mulai memukul pada rantai borgol. Tak peduli banyak orang yang menonton, pasti sangat aneh kami terlihat seperti ini. Sejak berhasil ke luar hadangan kami juga sudah menjadi sorotan penumpang lainnya.
“ini borgol Penangkap otomatis, tapi tidak masalah” Ila terus menghantam kan ujung tongkat pada rantai.
Suara bising mendenting di langit-langit. Percik api sesekali terlihat
“CEPAT TANGKAP ANAK ITU” Ada yang berteriak. Gawat, beberapa petugas mulai terlihat mengejar di tengah keramaian.
TIING!! Rantai borgol putus. Ila berhasil. Aku segera berdiri, lanjut berlari menaiki tangga ke luar stasiun.
Muncul satu petugas terlihat di depan. Ingin menghadang di tangga. Orang itu memegang sarung tangan, dan yang membuatku ngeri adalah larik sambaran listrik terlihat menyambar dari benda tersebut.
Ini gawat. Kami tidak bisa lewat. Tapi kenapa Ila semakin cepat menaiki tangga. Aku ingin berseru menegurnya.
Orang yang memakai sarung tangan di depan semakin dekat. Mulai tersenyum ketir.
Ila melesat, sigap mengayunkan tongkat. Cepat sekali gerakannya. Yang dia hantam bahkan tidak sempat bersiap merespon serangan.
TANG!!
Orang bersarung tangan berseru. Terpental, lalu membentur tembok. Masih terhuyung. Namun Ila lanjut mengirim tendangan.
Suara bug terdengar keras.
Aku menatap jeri, itu tendangan yang kuat sekali. Orang barusan terlempar kebawah anak tangga.
“Sial, dia bawa penyalur listrik” Ila berkata datar, melihat pria barusan.
Aku terdiam, lebih miris melihatnya.
“Ayo” Ila kembali berlari naik.
Aku menyejajari langkahnya.
“Di luar sana mungkin mulai banyak petugas. Kita harus bergegas mencari celah melarikan diri sebelum terkepung” Lanjut gadis itu.
Aku mengangguk. Naik sampai di luar stasiun, menghadap lahan parkir. Berhenti sejenak. Ila melempar tongkat ke sembarang arah, bergelontangan di aspal. Keramaian terlihat seperti biasanya. Orang-orang beraktivitas, belum terlihat tanda-tanda petugas yang mengejar.
Namun detak jantungku mulai berdegup kencang.
“Lari kemana” Aku bertanya.
Ila terdiam sejenak, mengamati sekitar. “Enaknya kemana?” Balasnya sembarang.
Aku tersentak, ‘enaknya’ dia bilang?
Aku ikut mengamati. Ila mungkin baru pertama kali menghadapi situasi seperti ini. “Kalau kabur. Menurutku cari tempat yang sulit di jangkau kendaraan”
Ila menangkap kata-kataku. Matanya melebar. “Gang”
Aku menggeleng. “Kita bisa di kepung”
“Nggak, kalo kita bergegas” Ila lanjut berlari ke suatu arah.
Aku menghadap ke bawah. Di ujung tangga bawah sana, beberapa petugas mulai menyusul. Berseru.
Aku lantas berlari. Tas cukup mengganggu pergerakanku. Tapi tak masalah. Aku, Ila, mulai berlari membelah keramaian aktivitas di sekitar stasiun. Hiruk-pikuk juga sedikit terganggu. Beberapa orang seketika memasang matanya, sinis ke arah kami.
Ila mengarahkanku ke luar area stasiun. Kami mulai berlari di atas trotoar pinggir jalan raya. Beruntungnya, trotoar sepi pejalan kaki. Wajar, Siang bolong.
Aku sempat melirik ke belakang. Tidak ada petugas yang mengejar.
“kemana petugasnya?” Aku bertanya.
“Aku tidak tahu” Ila terus berlari. “Hanya satu yang harus kita tahu. Sekali sudah terlacak, kita akan semakin kesulitan melarikan diri”
Aku mengangguk. Keadaan mulai memburuk. Petugas sebelumnya pasti menghubungi kantor keamanan negara terdekat agar segera mengerahkan personil yang lebih memadai.
Masih di atas trotoar. Jalan di depan kami lurus sekitar lima puluh meter. Berlari di bawah naungan-naungan gedung kota Bandung. Mobil-mobil berkelebat terlewati di samping. Keringat mulai bercucuran membasahi tubuh. Ini sangat mencolok. Keadaan santai di kota, kami justru berlari cepat di antara aktvitas pejalan kaki lainnya.
Beberapa menit. Kami sampai pada tikungan. Ila tidak berbelok mengikuti jalan raya. Dia tetap lurus. Mengarah ke sela-sela gedung.
Dan benar. Kita akan masuk gang. Aku berubah pikiran. Ada baiknya bersembunyi. Dari pada terus berlari dan menguras tenaga.
****
Di sela-sela dua gedung besar. Gang dengan lebar dua meter. Cukup redup, dua gedung di samping kami cukup menghalangi cahaya matahari masuk ke lorong. Gang lengang, hampir kosong membungkam suara jalan raya. Kami berhenti berlari. Tersengal. Jaketku basah karena keringat.
Ila menatap wajahku. Nafasnya juga masih terengah-engah. “Kita harus melakukan sesuatu”
“Jangan sekarang” Aku bersandar di dinding. Meletakkan tas di bawah. Berhembus. “Kita tidak bisa sembarang keluar, terlihat di area terbuka kota sangat beresiko” Ini kedua kalinya kami terlibat kejar-kejaran. Pertama ketika kabur dari perampokan rasanya hampir mengancam nyawa, dan mungkin kali ini akan lebih sulit karena yang mengejar adalah petugas keamanan kota, rezim atau apalah. Mereka pasti akan mengerahkan banyak personil di sembarang tempat.
Ila jongkok di sampingku. Tudung jaketnya terbuka. Rambutnya tergerai ke bawah. Aku memandang gadis itu. Matanya melebar. Menatap kosong.
“Kita bahkan belum sampai keluar kota loh” Ujarnya lirih.
Aku menunduk. Benar. “Ini awalan yang buruk”
Lengang sejenak. Beruntung kami sempat bersembunyi sebelum disusul petugas di stasiun barusan.
“Hey! Apa yang kalian lakukan berduaan di sini?” Seseorang berseru dari ujung lorong gang.
Aku menoleh. Gawat, dua orang pria dewasa menghampiri. Mungkin security gedung. Bukan petugas memang, tapi kita bisa saja terkena masalah jika sampai diringkus mereka. Mereka mencurigai kami.
Ila refleks berdiri. “Kenapa?”
Aku menarik tas. Memunggungnya satu tangan. Segera beranjak. “Ayo pergi dari sini”
“Jangan lari!” Security di belakang berseru.
Ila menyejajari. “Mereka juga petugas?”
Aku menggeleng.
Beruntung lari kami lebih cepat –padahal aku tidak pernah latihan lari di pondok. Kami melenggang jauh dari dua security barusan hingga di ujung lorong lainnya.
Menoleh ke belakang. Tidak terlihat lagi mereka mengejar.
Ila tersengal. Lebih berat kali ini. “Lorong tadi hampir dua ratus meter”
Aku menaikan alis. Juga tersengal. “Kau menghitungnya?”
Ila menggeleng.
Lengang mulai mengisi keadaan, masih di dalam lorong gang. Belum keluar. Di depan kami sebenarnya jalan raya. Juga tidak terlalu sering kendaraan melintas. Tapi mau tidak mau harus mengurangi terlihat di keramaian.