Indonesia
NovelToon NovelToon
Its You

Its You

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: tatitu

Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
​Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latar Belakang Layar Yang Manis

Malam harinya, pendar cahaya lampu gantung bergaya hangat menerangi ruang tengah apartemen Jungkook. Di meja makan yang telah bersih dari bekas makan siang, sebuah laptop tipis terbuka lebar. Jungkook duduk tegap di sana, memimpin rapat darurat via Zoom bersama tim manajerial HexaVerse.

Kehadirannya di rapat virtual malam ini adalah konsekuensi dari keputusannya membolos dari studio seharian demi mengajari Mira memasak. Pria itu tampil sangat kontras dari penampilan santainya tadi pagi, kini ia mengenakan kemeja putih bersih dengan dua kancing teratas terbuka, mengekspos sedikit garis lehernya, dipadu kacamata berbingkai tipis yang bertengger sempurna di batang hidungnya. Sorot matanya tajam, intonasinya tegas dalam bahasa Inggris yang fasih, memancarkan aura Presdir Jeon yang kaku, dingin, nan berwibawa.

"Revisi desain UI/UX untuk investor London harus diselesaikan sebelum besok siang," tegas Jungkook tanpa kompromi, suaranya terdengar datar namun penuh penekanan di seberang layar.

Di saat yang bersamaan, pintu kamar tidur terbuka perlahan. Mira melangkah keluar dengan langkah riang tanpa alas kaki, mengenakan kaos oversized kelabu favoritnya dan celana pendek santai. Tangan mungilnya memeluk erat sebuah buku catatan dan pena, niat hatinya ingin meminta bantuan.

"Oppa, bisakah kau mengajariku terjemahan istilah Pranc—"

Langkah Mira terhenti mendadak di batas karpet ruang tengah. Suaranya tercekat di tenggorokan.

Di layar laptop 15 inci milik Jungkook, belasan kotak kamera aktif menampilkan raut wajah para kepala divisi dan staf Jungkook. Suara diskusi yang tadinya memenuhi ruangan seketika senyap total. Puluhan pasang mata di dalam layar Zoom membelalak tak percaya, menatap sosok gadis cantik berwajah polos dengan pakaian santai rumah yang mendadak muncul di latar belakang ruang tinggal Presdir Jeon, sosok atasan yang terkenal sangat tertutup, dingin, dan tak pernah membawa kehidupan pribadinya ke area kerja.

Mira membeku di tempat, meremas buku catatannya dengan wajah yang seketika memerah panas membara karena malu.

Jungkook, yang menyadari suasana rapat mendadak hening, refleks menoleh ke belakang. Begitu mendapati Mira berdiri mematung dengan raut panik yang menggemaskan, sudut bibir Jungkook yang tadinya kaku seketika meleleh.

Tanpa mengalihkan pandangan dari Mira, tangan tegap Jungkook terulur cepat ke arah keyboard, menekan tombol mute dan mematikan kamera video rapatnya dalam sekali klik.

Bukannya marah karena interupsi tersebut, sorot mata Jungkook justru melunak drastis. Ia melepas kacamatanya, menyampirkan benda itu di atas meja, lalu berdiri dari kursinya. Pria itu melangkah mendekati Mira dengan tatapan mata yang teramat hangat.

"Maaf, aku sedang ada rapat mendadak dengan tim studio," bisik Jungkook lembut, suaranya berubah 180 derajat dibanding nada tegasnya saat memarahi manajer proyek semenit yang lalu.

"O-Oppa, maafkan aku! Aku benar-benar tidak tahu kalau kau sedang rapat..." cicit Mira terbata-bata, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena merasa bersalah.

"Tidak apa-apa," balas Jungkook pelan. Pria itu mengambil buku catatan dari tangan Mira, lalu menuntun gadis itu menuju sofa ruang tengah.

Jungkook membantu Mira duduk, lalu mengambil selimut rajut tebal di sandaran sofa dan membentangkannya hingga menutupi paha serta kaki telanjang gadis itu. Gerakannya begitu cekatan dan penuh perhatian.

"Duduklah di sini dulu. Sepuluh menit lagi rapatnya selesai, lalu aku ajari istilah Perancis-mu sampai tuntas," bisik Jungkook tepat di samping telinga Mira, menyunggingkan senyum manis sebelum mengusap puncak kepala gadis itu dengan amat halus.

Sementara itu di dalam ruang Zoom yang kameranya kini mati, belasan karyawan di tempat masing-masing saling melempar pesan di kolom chat pribadi dengan histeris. Mereka tidak percaya bahwa sang Presdir yang tegas dan berdarah dingin di meja perundingan ternyata menyimpan sisi teramat lembut dan protektif pada seorang gadis di rumahnya.

Keesokan harinya di kantor pusat studio HexaVerse di Paris, atmosfer kerja tampak sibuk seperti biasa. Namun, di koridor lantai atas menuju ruang kerja pimpinan, desas-desus hangat berembus kencang di antara para staf senior.

Jungkook melangkah mantap menelusuri koridor kaca dengan mantel hitam panjang yang melambai elegan. Raut wajahnya kembali kaku dan profesional seperti biasa.

Klak.

Jungkook mendorong pintu kaca ruang kerjanya. Di dalam ruangan megah itu, Sekretaris Han, orang kepercayaan sekaligus kawan dekat Jungkook yang ikut dalam rapat Zoom semalam, sudah berdiri di dekat meja kerja seraya memegang setumpuk berkas.

"Selamat pagi, Presdir Jeon," sapa Sekretaris Han dengan membungkuk sopan, namun ada cengiran jahil tersembunyi di sudut bibirnya.

"Selamat pagi. Bagikan draf revisi kemarin ke tim kreatif sekarang," perintah Jungkook datar seraya melepas mantelnya dan menggantungnya di kapstok.

Sekretaris Han tidak langsung pergi. Pria berkacamata itu justru menyandarkan punggungnya di tepi meja, menatap atasannya dengan binar mata menggoda.

"Semalam... rapatnya berjalan sangat lancar, Pak Jeon," buka Sekretaris Han dengan nada memancing. "Hanya saja, tim manajerial agak kesulitan memfokuskan pikiran setelah melihat 'gangguan manis' di latar belakang rumah Anda."

Gerakan tangan Jungkook yang hendak membuka laptop seketika terhenti. Ia mendongak, memberikan tatapan tajam dan dingin pada sekretarisnya. "Fokus pada pekerjaanmu, Han."

Bukannya takut, Sekretaris Han justru terkekeh pelan. Ia sudah mengenal Jungkook cukup lama untuk tahu kapan atasannya itu sedang berpura-pura tenang demi menutupi rasa canggung.

"Kami semua hanya terkejut, Pak Jeon," lanjut Sekretaris Han seraya menyilangkan tangan di dada. "Seorang Presdir Jeon yang tidak pernah mengizinkan siapa pun mencampuri urusan pribadinya, semalam terlihat begitu lembut menatap seorang gadis. Wajah Anda saat menatapnya... sungguh berbeda. Apakah gadis cantik itu yang membuat Anda rela tidak masuk kantor seharian kemarin?"

Jungkook membasahi bibirnya, menyandarkan punggung tegapnya di kursi kerja. Walau berusaha memasang raut wajah dingin tanpa ekspresi, rona tipis yang mendadak muncul di ujung telinganya tak bisa berbohong.

"Dia... adiknya Taehyung," ujar Jungkook beralih pada alasan klasik, suaranya terdengar berdehem pelan. "Taehyung menitipkannya padaku selama dia di Seoul."

"Ah... adiknya Taehyung sajangnim" sahut Sekretaris Han dengan manggut-manggut penuh arti, senyum godaannya kian melebar. "Adik sahabat yang dirawat dengan sangat istimewa sampai Presdir Jeon rela mematikan speaker rapat demi bicara padanya. Pemandangan yang sangat langka di perusahaan ini."

"Han," tegur Jungkook dengan nada rendah yang penuh ancaman main-main. "Kembali ke meja kerjamu sebelum aku memotong bonus semesteranmu."

"Baik, Pak Jeon! Saya permisi dulu," kekeh Sekretaris Han seraya membungkuk cepat dan melangkah keluar dari ruangan sebelum atasannya benar-benar melaksanakan ancamannya.

Pintu kaca tertutup rapat kembali. Jungkook menghela napas panjang, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi kulitnya. Pria itu menyentuh ujung telinganya yang masih terasa panas, lalu menyunggingkan senyum tipis seraya membayangkan raut wajah polos Mira semalam, menyadari bahwa keberadaan gadis itu kini benar-benar telah mengubah seluruh dunianya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!