Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DI BAWAH BANGKU KAYU TUA

Pagi itu, awan mendung musim dingin perlahan tersapu oleh pendar sinar matahari yang hangat. Angin dingin masih berembus pelan, tetapi langkah kaki kami terasa jauh lebih berwarna dibanding hari-hari sebelumnya.

Aku dan Kaito berjalan bersisian menyusuri trotoar kota. Tidak ada lagi jarak canggung atau keheningan yang menyiksa di antara kami. Sepanjang jalan, tangan kanan Kaito tak pernah melepaskan jemariku, menyelipkan jarinya di antara milikku dan memasukkannya ke dalam saku jaket tebalnya agar tanganku tidak membeku.

Tujuan kami hari ini sangat sederhana: sebuah taman kota kecil yang terletak di sudut perumahan kami. Tempat itu adalah saksi bisu tumbuh kembang kami taman tempat Kaito kecil mengajarkanku cara menaiki sepeda, tempat kami saling berbagi bekal sekolah, dan tempat Kaito pertama kali belajar bahasa isyarat demi bisa berkomunikasi denganku.

Taman itu tampak sepi. Pohon-pohon gundul meranggas diselimuti sisa salju tipis, tetapi suasana di sana terasa begitu menenangkan. Kami melangkah mendekati sebuah bangku kayu tua di bawah pohon sakura yang meranggas—bangku favorit kami sejak masih mengenakan seragam sekolah dasar.

Kaito mengibas sisa salju di atas bangku dengan saputangannya, lalu memintaku duduk. Ia ikut duduk di sampingku, merapatkan posisinya agar kehangatan tubuhnya bisa membalut rasa dinginku.

Selama beberapa saat, kami hanya duduk diam menikmati pemandangan taman yang tenang. Jemari Kaito yang panjang bermain dengan jemariku, meremasnya lembut berulang kali seolah-olah ingin memastikan bahwa aku benar-benar ada di sisinya.

Namun, perlahan-lahan Kaito melepaskan genggaman tangannya. Ia memutar posisinya menghadapku, menatap mataku dengan sorot yang amat dalam sebuah tatapan yang menyimpan rasa penasaran yang terpendam sejak hari kemarin di bandara.

Kaito mengangkat kedua tangannya ke udara, menggerakkan jemarinya secara perlahan dan berhati-hati:

[Hana... boleh aku menanyakan sesuatu?]

Aku tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.

Jemari Kaito melanjutkan gerakannya, membentuk kalimat isyarat yang penuh dengan pertimbangan rasa cemas:

[Kenapa... kamu akhirnya mengambil langkah untuk memutuskan hubungan dengan Haruto? Apa yang sebenarnya terjadi hari itu?]

Mendengar nama Haruto terucap lewat isyarat Kaito, dadaku sempat berdesir pelan. Bukan karena rasa sakit hati pada Haruto, melainkan karena rasa penyesalan mendalam mengingat betapa butanya aku dulu terhadap pengorbanan Kaito.

Aku menarik napas panjang, menetralkan ritme dadaku, lalu mulai mengangkat kedua tanganku. Aku menatap lurus ke mata Kaito, siap membuka seluruh kebenaran yang selama ini belum sempat kuceritakan padanya.

[Hari itu... sebernanya aku sudah sadar, Kaito,] gerak jariku perlahan, menyampaikan setiap detail ingatan itu. [Aku sadar bahwa perasaanku pada Haruto adalah sebuah kekeliruan. Pikirkanku selalu tertuju padamu, dan aku tidak bisa terus membohongi diriku sendiri maupun Haruto. Jadi, aku berniat menemuinya untuk memutuskan hubungan kami secara baik-baik.]

Kaito menyimak setiap gerakan tanganku tanpa memotong sedikit pun. Sorot matanya fokus mendengarkan cerita bisuku.

[Aku mengirim pesan singkat padanya,] kurapatkan jemariku, menirukan gerakan mengetik ponsel. [Aku memintanya bertemu di pusat kota untuk membicarakan hubungan kami. Tapi... pesan itu tidak pernah dibalasnya.]

Aku menghela napas pelan, kenangan pahit sore itu kembali terbayang di benakku.

[Karena hatiku sedang kalut dan cemas, aku memutuskan untuk pergi ke kawasan pertokoan di pusat kota sendirian—sekadar mencari udara segar untuk menenangkan pikiran. Tapi di sana... di depan sebuah toko pakaian wanita, aku secara tidak sengaja melihat Haruto.]

Jemari Kaito mendadak menegang tipis saat mendengar kalimat terakhirku.

[Dia tidak sendirian, Kaito,] lanjut jariku dengan gerakan yang kian emosional. [Haruto sedang bersama seorang wanita lain. Wanita itu merangkul lengannya, tersenyum padanya, dan mereka terlihat sangat mesra... jauh lebih mesra dibanding saat Haruto bersamaku. Saat itulah aku sadar, seluruh kecurigaan dan rasa sakitmu selama ini adalah kebenaran.]

Kaito membelalakkan matanya pelan. Rahangnya mengeras menahan geram saat menyadari betapa busuknya perlakuan Haruto di belakangku selama ini.

[Aku melangkah mendekati mereka,] gerak jariku berlanjut, menggambarkan keberanian terakhirku sore itu. [Haruto sangat terkejut saat melihatku berdiri di depan mereka. Wajahnya pucat pasi, seluruh kebohongan dan topeng manisnya runtuh detik itu juga di depan mataku. Semua kebohongan yang ia tutupi selama berbulan-bulan terungkap tanpa sisa.]

Aku berhenti sejenak, mengusap punggung tangan Kaito yang mulai mengepal erat untuk menenangkan emosinya. Lalu, aku menggerakkan tanganku kembali untuk bagian penutup dari ceritaku:

[Aku tidak menangis di depan mereka. Aku tidak berteriak atau marah. Aku hanya menatap mata Haruto, lalu mengetik di ponsel ku untuk mengatakan satu hal padanya: 'Terima kasih untuk semuanya, Haruto.']

Jemariku berhenti bergerak di udara.

[Setelah mengatakan itu, aku langsung berbalik dan pergi meninggalkannya begitu saja. Aku memblokir nomornya dan menghapus seluruh hal tentangnya dari hidupku. Aku pergi sambil menangis menyusuri jalanan... bukan karena sedih kehilangan Haruto, tapi karena aku sangat menyesal dan merasa bersalah padamu. Aku menangis karena sadar betapa dalamnya luka yang sudah kuberikan padamu demi pria pembohong seperti dia.]

Air mata tipis kembali merebak di sudut mataku saat mengingat momen keputusasaan itu.

Kaito menatapku dalam keheningan total. Seluruh potongan puzzle yang selama ini membingungkannya kini telah terpasang sempurna. Kaito akhirnya mengerti bahwa aku tidak pernah benar-benar membuang janji masa kecil kami demi Haruto, dan bahwa aku telah melepaskan pria itu sebelum akhirnya berlari mengejarnya ke bandara.

Rasa amarah Kaito terhadap Haruto seketika luluh, berganti menjadi gelombang kasih sayang dan rasa iba yang amat besar terhadapku.

Tanpa menggerakkan bahasa isyarat lagi, Kaito merengkuh tubuhku. Ia menarikku ke dalam pelukannya yang erat di atas bangku kayu tua itu. Kaito menyembunyikan wajahnya di celah leherku, mengusap punggungku dengan telapak tangannya yang hangat dan pelan.

"Maafkan aku... maaf karena membuatmu harus menghadapi kebohongan itu sendirian, Hana..." bisik Kaito pelan di telingaku, suaranya bergetar menahan haru.

Aku menggelengkan kepalaku di dalam pelukannya, meremas bagian belakang jaket Kaito sekuat tenagaku.

Kejadian pahit bersama Haruto kini terasa seperti sebuah mimpi buruk yang telah usai. Kebohongan itu memang sempat melukaiku, tetapi kebenaran di baliknya telah menuntunku kembali ke tempat yang seharusnya ke dalam pelukan pria yang sejak awal tak pernah berhenti mencintaiku dalam diam.

Di bawah naungan bangku kayu tua dan pepohonan taman masa kecil kami, rasa sakit masa lalu itu akhirnya benar-benar menguap disapu angin dingin musim ini, menyisakan dua hati yang kini saling menggenggam lebih erat dari sebelumnya.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!