Indonesia
NovelToon NovelToon
DAMAR: Si Pemandu Arwah

DAMAR: Si Pemandu Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / TKP
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

​Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.

​Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.

​Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 - Dosa yang Tertukar

​Suasana di depan gerbang pemeriksaan Sektor Empat semakin tegang. Dua penjaga berzirah besi gaib berdiri menatap Damar dan Madam Helga dengan tombak teracung.

Di bawah kap depan Bus 000, Budi Santoso—hantu berwujud guru SD tersebut—meringkuk ketakutan. Rantai hitam berapi mengikat erat kedua pergelangan tangannya, menggerogoti wujud gaibnya yang malang.

​"Peringatan terakhir untuk agen Last Trip Express!" bentak penjaga Dewan dengan suara berat bergema. "Menghalangi eksekusi Putusan Registrasi 908-B adalah bentuk pembangkangan terhadap Birokrasi Pusat! Segera serahkan jiwa terkutuk itu!"

​"Tunggu dulu!" Damar melangkah maju, memasang badannya tepat di depan Budi. "Kalian bilang dia pembunuh dan perampok berdarah dingin, tapi lihat aura jiwanya! Mana ada jiwa pembunuh berantai yang emosi dominannya cuma keputusasaan dan ketakutan?"

​"Sistem Registrasi Karma tidak mengenal penilaian emosi subjektif, Manusia!" balas penjaga itu dingin. "Catatan Tinta Hitam di dalam Kitab Transmisi menyatakan bahwa Budi Santoso, warga RT 04 RW 02, meninggal pada pukul 23.14 WIB akibat kecelakaan lalu lintas setelah melarikan diri dari aksi perampokan berdarah! Data itu sah dan tak terbantahkan!"

​Budi menengadahkan kepalanya, air mata kebiruan mengalir membasahi wajahnya yang pucat.

"Bohong! Itu bukan saya, Mas! Demi Tuhan, malam itu saya baru selesai mengajar les tambahan untuk anak-anak sekolah! Saya menyeberang jalan karena mau beli obat buat anak saya yang demam, lalu dihantam truk. Saya tidak pernah merampok, apalagi membunuh orang!"

​"Tutup mulutmu, Jiwa Terkutuk!" penjaga Dewan mengangkat tombaknya, berniat menghantamkan paku penyegel ke dada Budi untuk menyeretnya secara paksa.

​BZZZZZT!

​Sebelum ujung tombak itu menyentuh Budi, sebuah kibasan kilat keemasan meluncur presisi dari jemari Madam Helga, menepis mata tombak tersebut hingga memercikkan bunga api liar.

​Penjaga Dewan tersentak kaget, melangkah mundur satu langkah. "Helga! Kau berani menyerang petugas resmi Dewan Gaib?"

​Madam Helga melayang perlahan mendekati kedua penjaga itu, kipas sutranya mengapit kaku di jemari. Wajah cantiknya memancarkan keangkuhan mutlak yang membuat hawa dingin mematok lantai batu di sekitar mereka.

​"Aku tidak menyerangmu, Petugas," desis Madam Helga dengan nada suaranya yang halus namun penuh ancaman. "Aku hanya mencegah kecerobohan birokrasi murahan kalian mengotori lantai pelataran armadaku. Jika kau ingin mengeksekusi seorang jiwa di bawah naungan Last Trip Express, pastikan dokumen kalian tidak cacat hukum."

​Damar memanfaakan momentum tersebut. Ia menarik clipboard kayu miliknya, membuka lembar manifes darurat, lalu menatap Budi dengan pandangan intens.

"Pak Budi, sebutkan nama lengkap, tanggal lahir, dan lokasi persis tempat Bapak meninggal!"

​"N-Nama saya Budi Santoso, lahir 14 Maret 1988, alamat Desa Karanganyar ... meninggal di Jalan Raya kilometer sembilan!" jawab Budi terbata-bata namun cepat.

​Damar dengan sigap merogoh ponsel pintarnya yang terhubung dengan modul pelacak data terbatas milik Chrono-Compass. Jemarinya bergerak lincah menelusuri arsip berita dan laporan kecelakaan pada jam dan tanggal yang sama.

​Mata Damar membelalak lebar saat menemukan sebuah kejanggalan masif di layar ponselnya.

​"Madam! Lihat ini!" seru Damar seraya menunjukkan layar ponselnya kepada Madam Helga dan para penjaga Dewan. "Pada tanggal, jam, dan menit yang sama persis ... ada dua kejadian terpisah di kilometer yang sama!"

​Madam Helga menyipitkan matanya, membaca data di layar.

​"Kejadian pertama," lanjut Damar dengan intonasi lantang, "seorang guru SD bernama Budi Santoso menyeberang jalan dan tertabrak truk logistik saat hendak membeli obat. Dan kejadian kedua ... persis lima ratus meter di depan lokasi itu, seorang perampok berdarah dingin yang juga bernama Budi Santoso tewas ditembak mati oleh petugas kepolisian saat melarikan diri!"

​Atmosfer di depan gerbang pemeriksaan seketika membeku.

​Kedua penjaga Dewan saling pandang dengan raut kaget yang tersembunyi di balik topeng zirah besi mereka.

​"Dua jiwa dengan nama persis sama, meninggal di detik yang sama, di jalur jalan yang sama ...," bisik Madam Helga seraya menyunggingkan senyum sinis di balik kipasnya. "Sebuah fenomena konjungsi karma yang sangat langka. Juru catat birokrasi kalian yang malas pasti langsung menggabungkan kedua berkas tersebut tanpa memeriksa Aura Id milik masing-masing korban."

​Damar menunjuk rantai hitam di tubuh Budi dengan penuh penekanan. "Jiwa perampok yang sebenarnya pasti menggunakan celah kesalahan data ini untuk melarikan diri atau masuk ke jalur transmisi biasa. Sementara Pak Budi yang guru SD ini ... kalian tumbalkan ke Alam Penderitaan karena kecerobohan input data birokrasi!"

​Budi menutup mukanya dengan kedua tangan, menangis terisak-isak. "Jadi ... jadi selama ini saya disiksa karena dosa orang lain ...."

​Penjaga Dewan yang memegang rantai mengepal jarinya kaku. Meskipun menyadari adanya indikasi kekeliruan masif, gengsi dan keteguhan birokrasi Dewan Gaib menolak untuk mengakui kesalahan secara terbuka di pelataran umum.

​"Ini hanya spekulasi tanpa bukti sah dari Buku Besar Transmisi!" tegas komandan penjaga Dewan. "Sistem Putusan Registrasi yang sudah ditandatangani oleh Hakim Dewan tidak bisa dibatalkan hanya karena berita dunia dari ponsel seorang pemandu manusia! Sebelum ada Surat Koreksi Resmi dari Ruang Arsip Pusat, Jiwa 908-B tetap berstatus Jiwa Terkutuk dan harus ditahan!"

​"Kalian gila?" bentak Damar murka. "Kalau dia dibawa ke Alam Penderitaan sekarang, jiwanya bakal hancur sebelum kalian sempat memeriksa ulang berkasnya!"

​"Itu adalah prosedur resmi Dewan, Manusia!" balas penjaga itu kaku, memajukan langkah untuk merebut Budi secara paksa.

​"Prosedur yang menindas!" gertak Damar, melangkah pasang badan di depan Budi tanpa rasa takut sedikit pun.

​Madam Helga mengibaskan selendang bulu hitamnya, melangkah melayang berdiri tepat di samping Damar. Pendar sihir keemasan menyala kembali di sekeliling tubuhnya, memotong garis pergerakan para penjaga.

​"Prosedur kalian boleh kaku, Petugas," kata Madam Helga dengan suara tenang namun mematikan. "Tapi selama jiwa ini memegang tiket transit darurat Last Trip Express, dia berada di bawah perlindungan hukum hak penumpang sampai terbukti bersalah di hadapan Hakim Agung."

​Madam Helga melirik ke arah Damar, memercikkan kilatan penuh kesepakatan di antara mereka.

​"Damar. Bawa si Budi-Budi itu masuk ke dalam bus dan kunci pintu utama," perintah Madam Helga pelan.

​"Siap, Madam!" sahut Damar tanpa ragu. Ia merangkul bahu gaib Budi, menuntun guru SD yang gemetaran itu naik ke panggung bus dan mematikan sistem akses pintu luar.

​Komandan penjaga Dewan menggeram marah. "Helga! Kau menahan tahanan resmi Dewan! Ini adalah tindakan kriminal yang bisa mencabut izin operasional agenmu selamanya!"

​"Kalau begitu, buktikan kalau aku salah di hadapan Majelis Dewan," tantang Madam Helga sambil terkekeh dingin. Ia melayang mundur perlahan menuju ambang pintu bus. "Kami memberikan kalian waktu dua belas jam. Kami sendiri yang akan membawa bukti fisik koreksi data dari Ruang Arsip Pusat untuk membongkar kebobrokan sistem birokrasi kalian."

​BAM!

​Pintu Bus 000 tertutup rapat. Mesin armada raksasa itu berdentum halus, memutar arah dan meluncur menjauhi pos pemeriksaan gerbang utama, bergerak menyusuri jalanan samping Sektor Empat yang dikelilingi oleh gedung-gedung birokrasi tua.

​Di dalam bus, Budi duduk bersimpuh di lantai lorong, menangis seraya mengucapkan terima kasih tiada henti kepada Damar dan Madam Helga. Marlina dan Pak Indra mendekati Budi, memberikan penghiburan hangat untuk menenangkan jiwa guru SD tersebut.

​Damar berdiri di panggung bus, mengusap wajahnya yang lelah. Ia menatap Madam Helga yang baru saja melangkah masuk kembali ke dalam bus.

​"Terima kasih sudah membela Pak Budi, Madam," ujar Damar tulus.

​Madam Helga mendengus pelan, merapikan letak kipas sutranya. "Jangan salah paham, Damar. Aku melakukan ini bukan karena kasihan pada guru SD itu. Aku hanya membenci birokrat Dewan Gaib yang sok suci padahal sistem mereka dipenuhi belatung pembawa sial."

​Damar tersenyum miring. Ia sudah sangat paham bahwa di balik kalimat dingin dan gengsi tinggi sang atasan, Madam Helga memiliki rasa keadilan yang teramat kuat.

​"Lalu apa rencana kita sekarang, Madam?" tanya Damar seraya melihat ke arah Menara Arsip Pusat yang menjulang tinggi di tengah Sektor Empat. "Penjaga tadi bilang, kita butuh Surat Koreksi Resmi dari Ruang Arsip Pusat. Tapi mana mungkin para birokrat itu mau memberikan dokumen itu dengan sukarela?"

​Madam Helga menatap Menara Arsip Pusat dengan pandangan yang mendadak sangat dalam dan misterius. Pendar keemasan di matanya meredup, menyiratkan kenangan lama yang berkelibat di benaknya.

​"Mereka tidak akan pernah memberikannya secara sukarela, Damar," kata Madam Helga pelan, suaranya dingin menembus keheningan bus. "Ruang Arsip Pusat adalah tempat penyimpanan seluruh dosa, rahasia, dan catatan terlarang di alam ini. Untuk mendapatkan berkas asli Budi Santoso ... kita harus menyelinap masuk dan mencurinya langsung dari dalam Jantung Arsip."

​Damar menelan ludah. "Mencuri dari Gedung Arsip Pusat Dewan Gaib?"

​"Kenapa? Kau takut, Pemandu Amatir?" goda Madam Helga dengan senyum miring yang menantang.

​Damar merogoh saku kemejanya, menggenggam jam saku Chrono-Compass yang berdetik mantap. Ia menatap Madam Helga dengan senyuman yang tak kalah berani.

"Takut? Justru ini bagian paling seru dari itinerary kita malam ini, Madam."

​Madam Helga terkekeh anggun. Kebersamaan dan rasa saling percaya di antara sang pemandu dan pemilik agen abadi kini teruji sepenuhnya saat mereka bersiap menerobos benteng birokrasi paling berbahaya di alam transmisi.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
baru tahu
judulnya gantii yaa 🤔
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
alangkah ajaib nya
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat jalan pak Tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kepuasan seorang manusia yg berguna bagi sesama nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
yaa pasti rinduu laah pak tedjo
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
selamat berpetualang di rumah orang tanpa undangan ,damar
😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kunci nya , di belakang foto keluarga damarr.. ciee 🤣
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
cepet adaptasi nya Damar
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
lets go Damarr
tour kemana kita yakk
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
masih untung damar
ngga ngompol di tempat
😂😂
🍃⃝⃟𝟰ˢ𝕮𝖎ҋ𝖙𝖆Sully
kontrak kerja Damar
serreemmm bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!