Seorang gadis cantik yang bernama Ruby Sterling sedang duduk termenung di atas sebuah jembatan.
Dia sangat putus asa, kemana lagi dirinya harus mencari biaya pengobatan untuk Neneknya yang sedang berjuang menahan rasa sakit.
Ruby hanya tinggal dengan Neneknya, dia tidak punya keluarga atau kerabat. Di mana lagi dia harus meminta bantuan?
Dia bekerja sebagai Karyawan di sebuah Supermarket dengan gaji yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Ruby sangat bersedih, saat dia ingin menyerah, seseorang datang menghampirinya dan memberinya sebuah buku Novel.
"Ketulusan! Kerja sama! Menolong! Adalah kunci untuk kembali!"
Ruby menatapnya dengan bingung, orang itu pergi begitu saja setelah mangatakan kalimat yang tidak dia mengerti.
Orang itu berbalik dan kembali berkata "Jika kamu berhasil, maka semuanya akan baik-baik saja!"
Ruby hanya diam mematung, Siapa dia? Apa maksud dari perkataannya? Apa yang akan baik-baik saja? Apa yang harus dia lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Perjalanan Pulang
Di dalam mobil ada seorang wanita dengan anak balita berumur satu tahun. Mereka tidak sengaja terjebak macet karena terjadi banyak kecelakaan.
Karena tidak bisa menghubungi siapapun, sang suami nekat untuk keluar minta bantuan. Tapi sampai sehari berlalu, dia tidak kembali lagi.
Untung saja ada beberapa kebutuhan di dalam tas mereka, karena saat itu, mereka baru saja pulang dari Rumah Sakit melakukan pemeriksaan.
Ruby mengantarnya pulang, dan dia tak menyangka wanita itu Kakak dari salah satu pria yang ikut keluar dari Rumah Sakit. Ya, pemuda yang bertugas merawat pasien anak-anak.
"Ruby terima kasih! lagi-lagi kamu membantuku!" ucapnya dengan wajah penuh lelah. Pria itu bernama Glen.
"Eh kalian saling kenal?"
"Kak! Ruby juga yang membantu kami keluar dari Rumah Sakit! Kalau Ruby nggak datang, entah kapan kami bisa keluar, aku juga pasti nggak bertemu kakak lagi!"
"Ruby terima kasih yaa..!"
"Bukan apa-apa! Kalau begitu kami pergi pulang dulu!" kata Ruby sambil beranjak.
Saat perjalanan tadi, mereka sudah melewati rumah Misel. Di dalam rumahnya, tidak ada orang satupun, hanya ada sepucuk surat yang ditinggalkan ibunya.
Dalam surat itu tertulis, jika ibunya sudah tertular virus jadi dia tidak datang menjenguk anaknya di Rumah Sakit.
Sedangkan, di rumah Zoya hanya ada satu zombie yang terjebak dalam kamar. Bisa dipastikan orang itu, orang tua dari Zoya. Dilihat dari tas di atas kasur, keduanya mau menuju ke rumah sakit untuk menjenguk sang anak.
Dari penjelasan Zoya, ibunya pulang ke rumah untuk mengambil baju ganti. Tapi dia malah berubah jadi zombie, dan menggigit suaminya sampai mati
"Tunggu!" Glen menahan Ruby "Ngomong-ngomong kalian mau pergi ke pangkalan mana?" Tanyanya.
"Eh benar juga. Aku sempat dengar di radio, kalau ada pangkalan yang dibangun oleh pemerintah!" sela wanita itu.
"Bisakah kita pergi bersama?" Dari awal Glen sudah berniat pergi ke rumah Ruby setelah melihat rumah Kakaknya kosong. "Tempat ini sudah nggak aman!"
"Tapi Glen. Bagaimana dengan Kakak iparmu? Bagaimana kalau dia pulang dan melihat rumah kosong?"
"Kak. Apa kamu yakin suamimu masih hidup?" tanya Glen dengan tanpa ragu.
Seketika Suasana langsung hening, Ruby sampai melotot dengan pertanyaan itu, bukankah seharusnya Glen meminta Kakaknya sabar, dan mereka pasti menemukan sang Kakak Ipar.
"Benar juga! Aku nggak tahu, apa dia masih hidup atau sudah jadi zombie! Kalau aku menunggu di sini, bukankah itu sangat bahaya!" ucapnya bergidik ngeri.
"Nah kan! Kalau begitu, kita ikut Ruby saja!" usul Glen. "Kalau suami Kakak jadi zombie, orang pertama yang dia cari pasti kalian berdua!"
Ruby makin melongo, ternyata sikap keduanya sama saja. Tapi Ruby juga sedikit kagum, mereka masih bersikap santai di situasi seperti ini.
"Ruby! Bisakah kami ikut denganmu? Bagaimana kalau suamiku benar-benar jadi zombie, dia pasti datang untuk memakanku!"
Ruby menggeleng lalu berkata "Eh.. Boleh saja, tapi aku nggak pergi ke pangkalan manapun!"
"Oh. Kadi kamu mau pergi ke mana?" tanya Glen. Kemarin Ruby sempat mengatakan, jika dia tidak ada lagi di rumahnya, berarti dia sudah pergi.
"Keluargaku ada pangkalan sendiri, tapi aku nggak bisa sebut alamatnya!" jelas Ruby.
Glen dan Kakaknya sangat terkejut, membuat satu pangkalan di dunia yang kacau pasti bukanlah hal yang mudah.
Pemerintah saja, sampai saat ini baru berhasil membuat dua pangkalan, itupun masih seadanya. Lalu, di mana keluarga Ruby membuat pangakalan?
"Hmm ternyata begitu.!" Glen tampak sedikit kecewa padahal dia sangat ingin ikut dengan Ruby. "Apa kami bisa ikut pergi? Tenang saja, aku pasti nggak cuman numpang hidup!"
"Boleh saja! Tapi saat ini, pangakalan masih dalam proses pembangunan, pulang nanti kita harus pergi ke toko bangunan!"
"Baik. Kalau begitu ayo kita pergi sekarang!"
Ruby sangat senang, dia paling suka jika mereka tidak perlu dibujuk untuk ikut gabung.
Mereka akhirnya kembali ke rumah Ruby dengan berjalan kaki.
Selama perjalanan pulang, ada beberapa zombie yang mereka temui. Glen masih saja dibuat kagum dengan aksi Ruby saat membunuh zombie, terlihat sangat keren.
...----------------...
Saat tiba di rumahnya, Ruby sangat terkejut melihat rumahnya yang begitu ramai. Ternyata, saat dia pergi mereka mulai datang satu persatu.
Ada yang datang karena sudah tidak ada lagi orang di rumah mereka, dan juga ragu untuk pergi ke pangakalan, karena mereka tidak tahu bagaimana situasi di sana, belum lagi lokasinya lumayan jauh.
Ada juga yang datang karena keluarga mereka sudah mati atau jadi zombie. Mereka hanya bisa menguburnya dengan sederhana di halaman rumah mereka. Tapi ada juga yang datang bersama keluarganya.
Ruby tentu menyambut mereka dengan baik, tapi dia menegaskan, jika ingin gabung maka mereka harus menaati peraturan yang ada.
"Baiklah. Kita tidurnya bergantian!" Jack segera membagi kelompok.
"Besok kita berangkat pagi-pagi!" kata Ruby. Jumlah mereka sudah lumayan banyak, Totalnya ada 30 orang.
Ruby berniat membawa mereka ke perkebunan, sangat sulit baginya untuk bergerak jika mereka semua masih berkumpul.
***
Keesokan harinya, mereka berangkat setelah hari mulai terang. Ruby mengajak mereka di mana mobil Van nya berada.
Ruby berjalan di depan, bagian belakang ada jack. Jumlah mereka yang banyak tentu terlalu mencolok.
Tiba-tiba Ruby mengangkat tangan, memberi isyarat berhenti. Mereka segera membentuk lingkaran kecil sesuai dengan rencana yang sudah mereka buat, punggung saling berpunggung.
Di balik mobil hitam dan truk terbalik, sosok-sosok mulai muncul satu, dua, tiga ekor bergerak tak teratur namun terus mendekat. Tak ada tembok yang melindungi mereka. Di sini, di jalan terbuka, mereka hanya punya satu perlindungan satu sama lain.
Zombie pertama melompat dari balik minibus. Pertarungan pecah.
Grrr-Khhh....
Grrr-Khhh....
Ruby berteriak "Tetap berkelompok! Jangan menyebar! Di sini tak ada dinding, jangan sampai terpisah!"
Tiga zombie bergerak cepat dari arah truk. Jack melompat ke samping, memukul kepala yang pertama lalu berputar menghantam yang kedua.
"Mereka datang dari segala arah! Hati-hati di sampingmu!" kata Mohan.
Dua zombie merayap dari bawah mobil, hampir meraih kaki Mohan. Dia mengayunkan sabit dengan lebar, keduanya jatuh diam.
Slasss......
"Jangan biarkan mereka mendekat ke bawah!Di jalan terbuka ini, mereka bisa menyelinap dari mana saja!" Ujar Ruby
"Sisa mereka masih banyak di kejauhan! Mereka berdatangan perlahan! Kita harus segera sampai ke gedung kosong!" kata Jack.
"Benar! Tempatnya sudah nggak jauh lagi!" balas Ruby sambil melihat mereka yang sudah tidak terlalu takut lagi.
Mereka bergerak maju secara teratur, terus menghantam zombie yang mendekat. Setiap langkah dijaga, tak satu pun lolos melewati barisan mereka. Keringat membasahi baju, napas memburu, tapi barisan kelompok itu tidak pernah putus.
"Kita sudah sampai!" kata Ruby.
Zombi terakhir di dekat mereka jatuh dihantam tongkat. Sebelum membuka pintu gedung, Ruby mengeluarkan mobilnya terlebih dahulu dari dalam ruangannya.
"Bangunan ini masih aman. Kalian istirahat di sini saja.!" pinta Ruby setelah membuka pintu lebar-lebar.
Tersisa napas berat mereka, di balik kaca jendela yang menampilkan jalan raya yang kini penuh sosok-sosok berjalan tanpa tujuan.
"Wah ada mobil di sini!" kata Glen dengan kagum.
"Mobil ini punyaku! Aku harus cari mobil besar untuk kalian. Karena perjalanan kita masih jauh!" jelas Ruby.
Semuanya mengangguk mengerti, mereka masuk dan beristirahat di dalam gedung tersebut. Setelah beristirahat sejenak, Ruby pergi bersama dengan Mohan, sedangkan, jack tinggal untuk menjaga mereka.
"Hati-hatilah! Jika kamu lecet sedikit saja, Om Edward akan memenggal kepalaku!" kata Jack dengan serius.
"Heheh tenang saja!" balas Ruby sambil tertawa kecil melihat Jack yang begitu takut kepada Ayahnya.
"Jangan tertawa! Asal kamu tahu, aku lebih takut pada ayahmu daripada sama zombie jelek itu!" kata Jack dengan jujur.
"Oh. Jadi maksudnya, Ayahku lebih seram dari zombie?" Ruby menatap Jack dengan tatapan memicing.
"Eh bukan itu maksudku...!" Jack mengelak dengan cepat.
"Hahaha sudahlah.. Ayahku memang seram kalau lagi marah!" Kata Ruby sambil berlalu pergi.
Jack menghela napas lega, tapi apa yang dikatakan Ruby memang benar. Tuan Edward sangat menakutkan jika sedang marah.
"Jack! apa Ayah Ruby benar-benar galak?" tanya Glen mewakili yang lainnya. Mereka tentu mendengar dengan jelas obrolan mereka tadi.
Jack menggeleng lalu berkata. "Beliau orang yang sangat baik. Dia hanya akan marah jika seseorang membuatnya kesal!"
"Oh ternyata begitu. Jadi bagaimana kami harus bersikap saat kami bertemu nanti? Apa beliau nggak marah, kalau kami datang sebanyak ini?"
"Kalian bersikap santai saja! Beliau nggak bakalan marah, karena beliau dulunya seorang prajurit, membantu sesama bukanlah hal buruk!" jelas Jack.
Mereka semua langsung terdiam saat mendengar latar belakang Ruby. Pantas saja Ruby begitu hebat, ternyata dia tumbuh dilingkungan seperti itu.
"Kalau begitu, kami sudah memilih jalan yang benar!"
.
.
.
.
next ka...
next ka...
next ka
next ka
next ka
next ka..
lebih seram dr cerita horror...next ka...
next ka