Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Bencana Bab 4
Hidup sebagai mahasiswa tingkat akhir di FISIP itu ibarat main game eksis tapi levelnya mode nightmare. Harapan gue dan Kian buat bisa kencan tenang tanpa gangguan setelah urusan Bima beres, mendadak kabur tak berbekas.
"Nanti malam kita jalan yuk, Ra? Sekalian bayar kencan kita yang diacak-acak Bima kemarin," ajak Kian pas kami lagi berjalan menyusuri koridor gedung dekanat.
Gue cuma bisa menghela napas berat sambil memeluk erat draf di dada. "Duh, Ki... boro-boro kencan. Kepala gue mau pecah mikirin skripsi. Gue harus bimbingan Bab 4 hari ini, dan perasaan gue gak enak dari semalam."
Kian menepuk-nepuk puncak kepala gue pelan. "Tenang aja, draf lu kan udah rapi. Lagian habis bimbingan kan bisa langsung jalan."
Tapi nyatanya, seminggu kemudian ekspektasi gue langsung digampar kenyataan tanpa aba-aba.
Bab 4. Bab olah data dan analisis hasil riset kuantitatif. Bab yang diciptakan khusus oleh iblis untuk menguji iman dan kesabaran umat manusia.
"Ini data kuesioner kamu kenapa banyak yang enggak valid, Elora?"
Suara Pak Bambang, dosen pembimbing skripsi gue yang terkenal paling dingin se-fakultas, menggema di ruangannya. Beliau menggeser draf Bab 4 gue pakai ujung pulpen, seolah-olah kertas print-an gue itu mengandung bakteri mematikan.
"I-itu, Pak... hasil uji validitasnya memang ada beberapa indikator yang nilainya enggak memenuhi syarat," jawab gue gagap.
"Beberapa?" Pak Bambang menaikkan sebelah alisnya. "Elora, dari sekian banyak butir pertanyaan dalam penelitian kamu, yang lolos cuma segini. Terus variabel penelitian kamu mau dianalisis pakai apa? Responden kamu seratus orang, tapi hasil olah data SPSS kamu ngawur begini?"
Jleb.
Muka gue langsung memerah panas. Rasa malu, capek, dan tertekan bercampur aduk jadi satu di dada.
"Ulangi. Perbaiki instrumen kamu, cari responden baru kalau memang diperlukan, lalu olah kembali datanya dari awal. Minggu depan saya tunggu draf bersihnya," ucap Pak Bambang dingin, lalu kembali menatap layar laptopnya tanpa memedulikan gue yang siap meledak di tempat.
"Baik, Pak. Terima kasih..." gumam gue pasrah.
Gue keluar dari ruangan dospem dengan langkah gontai bagai mayat hidup. Rencana kencan manis sama Kian resmi hangus tak tersisa. Begitu pintu ruangan tertutup, air mata gue rasanya udah menumpuk di pelupuk mata. Seminggu begadang, nyebar kuesioner di kampus sambil nahan lapar, uang saku habis buat nge-print berlembar-lembar kertas... dan semuanya dicoret-coret garis merah besar dalam waktu lima menit.
Gue berjalan menuju koridor luar gedung dekanat, melangkah tanpa arah sampai sebuah tangan yang sangat familiar tiba-tiba menarik pelan lengan baju gue.
Gue mendongak. Kian berdiri di sana. Dia pakai kaus polos hitam dengan tas ransel tersampir di satu bahu. Di tangan kirinya, dia memegang segelas es kopi susu favorit gue.
"Gimana bimbingannya, Ra?" tanya Kian lembut, menyunggingkan senyum khasnya.
Melihat muka Kian, pertahanan gue yang tadinya ditahan-tahan langsung runtuh seketika. Air mata gue menetes deras membasahi pipi.
"Ki..." isak gue, langsung menutupi wajah pakai kedua tangan. "Data gue dicoret semua... SPSS gue error... Pak Bambang nyuruh gue ngulang dari awal, Ki..."
Kian sempat kaget melihat gue mendadak menangis sesenggukan di koridor. Tapi bukannya bingung atau panik, cowok itu langsung menarik gue pelan ke sudut koridor yang agak sepi, menjauhkan gue dari pandangan anak-anak kampus yang lalu lalang.
Dia menaruh es kopi ke atas bangku, lalu tanpa sepatah kata pun, Kian menarik tubuh gue ke dalam pelukannya.
Lengan kokohnya melingkar di bahu gue, menepuk-nepuk punggung gue dengan lembut dan menenangkan. Wangi parfum khas Kian yang hangat langsung menyergap indra penciuman gue, perlahan meredakan kepanikan di dada gue.
"Suttt... udah, enggak apa-apa," bisik Kian di dekat telinga gue, suaranya terdengar sangat dewasa dan menenangkan. "Nangis aja dulu. Tumpahin semuanya."
"Gue capek banget, Ki..." bisik gue parau di dalam dadanya, mencengkeram jaketnya erat-erat. "Gue takut enggak lulus tahun ini..."
"Siapa bilang enggak lulus?" Kian mengusap kepala belakang gue dengan penuh kasih sayang. "Ada gue. Malam ini gue ke rumah lu, kita olah ulang datanya bareng-bareng. Gue bantuin sampai kelar."
Gue mendongak, menatap Kian dengan mata sembap dan hidung merah.
"Beneran?"
Kian tersenyum tipis, merapikan anak rambut yang menempel di pipi basah gue pakai ibu jarinya. "Beneran, Sayang. Kan gue udah janji bakal jagain lu."
Sialan. Di tengah stres berat gara-gara skripsi, kata 'Sayang' dari mulut Kian yang kali ini diucapkan dengan tulus dan dalam, berhasil bikin jantung gue hampir melompat keluar dari tempatnya.