Raelyn Elamora, mahasiswi cerdas yang keras kepala dan doyan balapan liar, mendadak lemas saat sang papa menjodohkannya demi melunasi utang. Calon suaminya adalah Alvarez Arran Danadiaksa CEO muda super dingin dan cekatan yang menguasai bisnis sekota. Raelyn bersumpah tidak akan tunduk pada si "balok es," sementara Alvarez punya seribu cara pintar untuk menjinakkan istri liarnya. Apakah si kepala batu bisa meluluhkan hati si raja es?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Suasana ruang tengah tawang mewah itu mendadak berubah fungsi menjadi ruang belajar darurat. Di atas meja kaca yang biasanya bersih tanpa noda, kini berserakan kertas corat-coret algoritma, buku referensi pemrograman setebal kamus, dan laptop milik Raelyn yang layarnya penuh dengan baris kode berwarna-warni.
Raelyn duduk bersila di atas karpet bulu yang empuk, sementara Alvarez duduk di sampingnya dengan meluruskan kaki. Pria itu sudah melepas jaket kulitnya, menyisakan kaos hitam polos yang pas di tubuh atletisnya. Lengannya yang kekar terlihat jelas saat dia menarik laptop Raelyn mendekat.
"Al, lo beneran mau bantuin gue? Lo gak ke kantor?" tanya Raelyn, melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Biasanya, jam segini Alvarez sudah sibuk memimpin rapat atau menandatangani berkas triliunan rupiah.
Alvarez tidak langsung menjawab. Jarinya dengan cekatan mengetik sesuatu di ponsel pribadinya terlebih dahulu.
"Bayu, tolong tunda semua rapat dan jadwal pertemuan saya hari ini. Kosongkan jadwal sampai malam. Saya ambil cuti mendadak," ucap Alvarez melalui pesan suara kepada sekretarisnya, lalu mematikan ponsel itu dan meletakkannya di meja dengan posisi tengkurap.
Raelyn melongo, matanya mengerjap tidak percaya.
"Lo... lo cuti? Cuma buat nemenin gue revisi skripsi?!"
Alvarez menoleh sedikit, menatap Raelyn dengan ekspresi datarnya yang khas.
"Efisiensi waktu. Kalau skripsimu tidak selesai hari ini, kamu akan terus merajuk dan mengganggu ketenanganku di rumah. Lebih baik aku menyelesaikannya sekarang dalam satu hari."
Meskipun alasan yang keluar dari mulut Alvarez terdengar sangat logis dan kaku, tetap saja hati Raelyn tidak bisa dibohongi.
Seorang CEO muda yang memegang kendali atas hampir seluruh gurita bisnis kota, rela menunda semua rapat penting hanya untuk menemani seorang mahasiswi ngeyel yang sedang pusing kodingan.
"Diktator aneh," gumam Raelyn pelan, menyembunyikan rasa senangnya.
"Sekarang, mari kita lihat masalah utamanya," ucap Alvarez, menarik laptop Raelyn tepat di depan mereka berdua.
"Logika fungsi looping yang kamu buat di bab tiga ini terlalu berbelit-belit. Kamu membuang banyak memori untuk memproses data yang sebenarnya bisa disederhanakan dengan fungsi array dua dimensi."
Alvarez mulai menjelaskan. Suara baritonnya yang berat terdengar begitu tenang dan tertata rapi. Pria itu benar-benar tahu soal apapun.
Di balik otaknya yang dingin dalam urusan bisnis, Alvarez membuktikan bahwa predikat lulusan terbaik dari MIT bukan sekadar pajangan di atas kertas. Dia memecah kodingan yang rumit menjadi penjelasan yang sangat sederhana, bahkan jauh lebih mudah dipahami daripada penjelasan dosen pembimbing Raelyn di kampus.
Namun, fokus Raelyn perlahan-lahan mulai goyah.
Jarak mereka yang hanya berkisar belasan sentimeter membuat Raelyn bisa mencium aroma parfum maskulin Alvarez yang sangat segar.
Pandangan Raelyn yang harusnya tertuju pada baris kode di layar laptop, perlahan-lahan bergeser ke samping.
Dia memperhatikan garis rahang Alvarez yang tegas, hidungnya yang mancung sempurna, dan bulu matanya yang ternyata cukup lentik untuk ukuran seorang pria yang ditakuti di dunia bisnis.
Cahaya dari layar laptop yang memantul di wajah Alvarez membuat ketampanannya berkali-kali lipat lebih mengintimidasi. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan karena tidak diberi minyak rambut hari ini justru membuatnya terlihat jauh lebih muda dan santai.
Ganteng juga nih kulkas berjalan kalau dilihat dari dekat, batin Raelyn tanpa sadar.
Matanya terpaku, menatap bibir Alvarez yang bergerak-gerak saat menjelaskan materi kodingan. Raelyn benar-benar terhipnotis oleh pemandangan di depannya.
Alvarez, yang memiliki kepekaan tingkat tinggi sebagai seorang pebisnis, tentu saja merasakan ada sepasang mata yang terus-menerus menatapnya tanpa berkedip.
Bukannya risih, sudut bibirnya justru sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang sangat samar. Pandangannya masih lurus menatap layar laptop, sementara jarinya terus mengetik beberapa baris kode baru untuk memperbaiki eror sistem milik Raelyn.
"Ganteng ya aku? Sampai gak kedip gitu liatnya," ucap Alvarez tiba-tiba dengan nada suara yang teramat santai namun sarat akan nada menggoda.
Deg!
Sistem pertahanan diri Raelyn langsung runtuh seketika. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke realitas. Matanya membelalak panik, wajahnya mendadak terasa panas seperti disiram kuah bubur yang mendidih. Dia tertangkap basah!
"Ihh, apaan sih! Gak ada ya! Orang gue lagi liatin laptop kok! Jangan kegeeran deh lo!" jawab Raelyn dengan nada bicara yang meninggi karena panik.
Dia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah lain, berpura-pura mengucek matanya yang sama sekali tidak gatal.
Alvarez akhirnya menghentikan ketikannya. Pria itu menoleh sepenuhnya ke arah Raelyn, menopang dagunya dengan satu tangan di atas lutut, menatap wajah istrinya yang sudah semerah tomat.
"Oh, jadi kamu menatap layar laptop? Tapi kenapa bola matamu mengarah ke pipiku, Raelyn?" goda Alvarez lagi.
Ini adalah pertama kalinya Alvarez merasa terhibur setelah sekian lama hidup dalam dunia bisnis yang kaku dan penuh tekanan. Reaksi panik dan salah tingkah dari Raelyn adalah hal paling menarik yang dia temukan bulan ini.
"Itu... itu karena ada debu di dekat laptop! Udah deh, gak usah banyak tanya! Mana yang salah kodingannya? Cepetan benerin!" cerocos Raelyn berapi-api, berusaha mengalihkan pembicaraan demi menyelamatkan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur lebur.
Alvarez terkekeh pelan. Suara tawa rendahnya membuat jantung Raelyn makin tidak aman.
"Iya, iya. Ini sudah aku perbaiki bagian erornya. Coba kamu jalankan sistemnya sekarang."
Raelyn dengan tangan sedikit gemetar menekan tombol run pada programnya. Dan keajaiban terjadi. Tanda eror berwarna merah yang beberapa hari ini membuatnya ingin menangis, kini berubah menjadi warna hijau dengan tulisan Process finished with exit code 0. Programnya berjalan dengan sangat sempurna dan super cepat.
"Wah! Berhasil!" seru Raelyn gembira, melupakan rasa malunya sejenak.
Dia menatap Alvarez dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman. "Lo hebat juga ya, Al!"
"Sudah kubilang, tidak ada hal yang tidak bisa kuselesaikan," jawab Alvarez dengan kepercayaan diri mutlak seorang Danadiaksa.
Pria itu menutup laptop Raelyn, lalu melirik jam tangan pintarnya yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Karena tugas kuliahmu sudah selesai untuk hari ini, bersiap-siaplah. Kita pergi keluar."
Raelyn mengernyitkan dahi. "Keluar? Mau ke mana?"
"Jalan-jalan ke mall. Kamu butuh menyegarkan pikiranmu yang sempat stres karena skripsi dan... insiden semalam," ucap Alvarez santai seraya berdiri dari posisinya. "Aku tunggu di luar. Jangan lama-lama."
...----------------...
Satu jam kemudian, mereka berdua sudah sampai di salah satu pusat perbelanjaan paling mewah dan elit di pusat kota. Mall ini merupakan salah satu aset properti yang berada di bawah naungan gurita bisnis keluarga Danadiaksa, jadi tidak heran jika kedatangan Alvarez langsung disambut dengan membungkuk hormat oleh manajer operasional mall di pintu masuk.
Raelyn berjalan di samping Alvarez dengan gaya santainya. Jiwa belanjanya langsung bergejolak melihat deretan toko-toko bermerek internasional yang memajang koleksi terbaru di etalase kaca.
Sebelum terjebak dalam pernikahan bisnis ini, tabiat asli Raelyn memang seorang gadis kota yang gemar bersenang-senang.
Selain balapan liar di malam hari, aktivitas favoritnya bersama Tisha dan Angel di siang hari adalah jalan-jalan, berbelanja pakaian mahal, dan terkadang minum-minum di klub malam elit demi melepas penat kuliah.
Melihat mata Raelyn yang mulai berbinar-binar menatap deretan tas dan sepatu mewah, Alvarez langsung tanggap. Pria itu merogoh dompet kulitnya, mengeluarkan selembar kartu plastik berwarna hitam pekat tanpa batas limit (Black Card), lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Raelyn.
"Ambil ini. Masuklah ke toko manapun yang kamu mau, dan belilah semua hal yang kamu inginkan hari ini," ucap Alvarez tenang, seolah-olah dia baru saja memberikan selembar uang seribu rupiah untuk jajan anak kecil.
Raelyn menatap kartu hitam itu dengan mata melotot. Sebagai anak orang kaya yang juga tahu nilai uang, dia tahu betul kesaktian kartu di tangan Alvarez.
"Lo... lo serius ngasih gue ini? Lo gak takut gue bikin bangkrut?"
Alvarez menyunggingkan senyum tipis, hampir tidak terlihat namun penuh dengan keangkuhan yang elegan.
"Uangku tidak akan habis hanya karena kamu membeli seluruh isi mall ini, Raelyn. Anggap saja ini kompensasi karena aku membuatmu menunggu dua jam di kantor polisi semalam."
Mendengar kata 'kompensasi' dan melihat lampu hijau untuk berbelanja, jiwa keras kepala Raelyn langsung sirna, digantikan oleh jiwa pemburu diskon barang mewah. Dia merebut kartu itu dari tangan Alvarez dengan cepat.
"Oke! Jangan menyesal ya, Al!" seru Raelyn penuh kemenangan.
Dan dimulailah aksi balas dendam Raelyn. Gadis itu melangkah masuk ke dalam toko pakaian merek ternama dari Paris. Dengan mata cerdasnya, dia memilih beberapa jaket kulit edisi terbatas, beberapa pasang sepatu bot bergaya tomboi namun elegan, dan tidak lupa beberapa gaun kasual yang menurutnya menarik.
Setiap kali kasir menyebutkan nominal angka yang fantastis dengan jumlah digit yang membuat orang biasa pingsan, Raelyn hanya menyodorkan kartu hitam milik Alvarez dengan senyum manis.
Alvarez sendiri hanya berjalan mengekor di belakang Raelyn dengan tenang. Pria itu bertindak sebagai pembawa kantong belanjaan yang setia, tanpa ada satu pun keluhan yang keluar dari bibirnya.
Baginya, melihat binar kebahagiaan dan tawa lepas di wajah Raelyn saat memilih barang jauh lebih memuaskan daripada melihat grafik kenaikan saham perusahaannya di papan bursa.
"Al, menurut lo bagusan yang mana? Yang hitam atau yang merah?" tanya Raelyn, memegang dua buah kacamata hitam di depan wajahnya, meminta pendapat Alvarez.
Alvarez menatap wajah Raelyn bergantian, lalu menoleh ke arah pelayan toko yang berdiri siaga di samping mereka.
"Bungkus keduanya," ucap Alvarez pendek tanpa ragu.
Raelyn tertegun. "Eh? Gue kan cuma nanya bagusan yang mana, bukan mau beli dua-duanya!"
"Kamu terlihat cocok memakai keduanya. Lagipula, memilih itu membuang-buang waktu. Ambil saja semua," jawab Alvarez santai, membuat pelayan toko itu menatap Raelyn dengan pandangan super iri karena memiliki suami yang sangat royal dan tidak pelit.
Wajah Raelyn kembali memerah, ada debaran aneh yang kembali mengetuk dadanya. Sifat manja Raelyn yang biasanya hanya dia tunjukkan pada papanya, kini mendadak bergeser kepada Alvarez.
Perhatian-perhatian kecil dan cara Alvarez memanjakannya benar-benar membuat dinding pertahanan hati Raelyn runtuh lapis demi lapis.
Setelah puas mengitari hampir seluruh lantai mall dan menenteng belasan kantong belanjaan bermerek, mereka akhirnya berhenti di sebuah restoran privat mewah yang terletak di lantai teratas untuk makan malam.
Raelyn duduk di kursinya dengan napas sedikit terengah namun wajahnya memancarkan kepuasan yang luar biasa.
"Gila, capek juga ya belanja sebanyak ini. Tapi seru banget! Makasih ya, Al."
Alvarez yang sedang menyesap teh hangatnya menatap Raelyn lekat-lekat.
"Sama-sama. Selama kamu senang dan berjanji tidak akan kabur lewat jendela lagi untuk balapan liar, aku akan memberikan apapun yang kamu mau."
Raelyn terkekeh, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan nyaman.
"Iya, iya, janji. Lagian kalau kodingan gue eror lagi, gue kan butuh bantuan lo. Masa mentor jenius gue ini gue anggap musuh terus."
Mendengar kalimat itu, Alvarez merasakan kehangatan yang asing menjalar di hatinya. Pernikahan yang awalnya dia kira akan menjadi beban bisnis yang membosankan, kini justru menjadi hal yang paling dia nantikan setiap harinya.
Sifat liar, cerdas, dan ngeyel dari Raelyn Elamora ternyata adalah potongan teka-teki yang selama ini hilang dari hidupnya yang datar dan dingin.