Indonesia
NovelToon NovelToon
AMIRA MENANTU TERBUANG

AMIRA MENANTU TERBUANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

Dua tahun menikah
berpisah setelah akad bahkan belum pernah malam pertama
amira menunggu dengan sabar
mengabdi kepada keluarga suami
tapi setelah dua tahun berpisah
kata yang pertama dari suaminya adam "Amira aku akan menikah lagi"
bagaimana kelanjutannya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5: BERTEMU SAUDARA DI BALI

lPesawat yang membawa Amira dan timnya meluncur membelah langit malam sebelum akhirnya mendarat mulus di Bandara International I Gusti Ngurah Rai, Bali, sekitar pukul tujuh malam.

Bagi Amira, Rika, dan sepuluh karyawan lainnya, perjalanan ini bukan sekadar liburan. Mereka adalah sekumpulan anak muda yang merintis usaha dari nol—berawal dari jualan di trotoar hingga bertransformasi menjadi restoran makanan khas Asia, terutama Jepang, yang sukses.

Sejak dua tahun lalu bisnis mereka berkembang pesat. Namun, pertumbuhannya sempat tertahan karena Amira disibukkan oleh urusan keluarga mertuanya. Amira sengaja menyembunyikan statusnya sebagai pemilik restoran beromzet besar ini. Melihat kelakuan keluarga Adam yang bergaya hidup elit tapi rakus, Amira enggan menunjukkan kekayaannya. Semula ia berencana terbuka pada Adam saat suaminya pulang, tetapi niat itu luntur seketika saat Adam justru membawa calon istri baru.

"Akhirnya sampai juga di Bali!" seru Rika cengengesan begitu menginjakkan kaki di area kedatangan bandara.

Delapan karyawan lainnya bersorak gembira. Senyum lebar menghiasi wajah mereka setelah dua tahun bekerja keras tanpa henti. Amira membebaskan anak buahnya untuk berekspresi.

Rina, karyawan paling cempreng, mendadak beraksi sok gaya bicara bahasa Inggris pada seorang wisatawan asing. Namun, bule itu justru menjawabnya dengan bahasa Indonesia yang lancar, "Bahasa Inggris kamu kurang jelas... mending pakai bahasa Indonesia saja."

Sontak seluruh tim tertawa terbahak-bahak menyoraki Rina.

"Pantas saja Bandara Ngurah Rai disebut salah satu yang terindah. Ternyata aslinya indah banget!" ujar Yono sambil menghirup udara malam Bali dalam-dalam, seolah hendak menyimpan seluruh kesegaran udara pulau itu ke dalam paru-parunya.

"Rika, kamu sudah pesan hotelnya?" tanya Amira.

"Sudah dong, tenang saja! Sesuai pesanan Bu Bos... hotel bintang empat!" sahut Rika bangga.

"Waduh, Bu Bos, hotel biasa yang tanpa bintang juga tidak apa-apa padahal," kata Yani agak sungkan.

"Tenang saja, kalian tidak tahu saja kalau bos kita ini diam-diam banyak uang!" timpal Rika mengedipkan mata.

"Iyalah, bos kita mah memang kaya raya!" ujar Tono menimpali.

Amira tersenyum hangat. "Sudahlah, aku mau kalian menikmati liburan ini sepuasnya. Karena begitu pulang nanti, kita akan kerja keras lagi. Kita akan melakukan ekspansi besar-besaran untuk restoran kita."

"Nah, ini dia yang kami tunggu-tunggu!" sahut Yono penuh semangat.

Menggunakan dua minibus sewaan, rombongan kecil yang heboh itu meluncur menuju Hotel Cemara, sebuah penginapan bintang empat dengan taman tropis dan sentuhan arsitektur batu padas khas Bali.

"Luarrrr biasa!" puji Rina terperangah melihat megahnya lobi hotel.

"Ih, norak banget sih kamu!" ejek Yani, padahal ia sendiri sedang asyik berswafoto di samping patung singa Bali.

Amira tertawa pelan. "Kalian semua tidak norak... kalian cuma manusia yang butuh liburan."

"Bos, terima kasih banyak ya! Ini pertama kalinya kita semua bisa jalan-jalan ke Bali," tutur Yani terharu.

"Iya, tapi kita jangan terlalu kampungan juga," sahut Amira berkelakar. Tak lama, mata Amira tertuju pada sebuah payung kain bertingkat khas Bali (tedung) yang berdiri cantik di sudut taman.

"Woy, sini, sini! Kita foto bareng di bawah payung ini!" seru Amira heboh.

Semua anak buahnya melongo melihat kelakuan atasan mereka. Rika menggeleng-gelengkan kepala. "Ini sebenarnya yang kampungan siapa ya?"

Setelah masuk ke kamar masing-masing—satu kamar diisi dua orang—mereka kembali berkumpul di lobi dengan dandan ala turis mancanegara. Celana pendek, kemeja bermotif Hawaii, topi pantai bertepi lebar, dan kacamata hitam yang tetap dipakai padahal hari sudah malam.

Mereka berburu kuliner malam khas Bali. Di meja makan, Amira tak membatasi apa pun yang ingin mereka pesan. Gelak tawa mewarnai obrolan tentang masa lalu saat berjualan di trotoar hingga impian masa depan. Tak lupa, momen bahagia itu diabadikan dalam jepretan foto dan diunggah ke cerita Instagram Rika.

Hingga pukul sebelas malam, perjalanan mengelilingi sudut-sudut kota berakhir. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Amira mendapat kamar yang sama dengan Rika.

Karena penasaran, Amira akhirnya menyalakan kembali ponselnya yang seharian dimatikan. Begitu daya terhubung, deretan notifikasi beruntun masuk membanjiri layar. Semuanya berisi caci maki dan desakan dari Ibu Mirna serta Sonia.

[Amira! Ke mana saja kamu?! Ini Ridwan sudah datang!]

[Amira, transfer sekarang juga! Anak Ridwan mau bayar SPP!]

[Amira, cepat transfer 5 juta! Ridwan butuh uangnya!]

[Amira, tega ya kamu! Ibu sampai harus menggadaikan kalung emas Ibu ke Ridwan gara-gara kamu tidak ada!]

[Amira! Bulan ini cicilan bank Mila kamu yang bayar! Totalnya 40 juta!]

Amira membelalakkan mata membaca pesan terakhir. Ia bergumam sinis, "Dasar orang gila... Dikira uang 40 juta tinggal memetik di pohon?"

Sebelum mematikan ponselnya lagi, Amira sempat melirik pembaruan status WhatsApp milik Adam. Pria itu mengunggah foto sepasang tangan berbalut cincin pernikahan dengan takarir: [Akhirnya menemukan cinta sejati.]

Amira menghela napas panjang lalu langsung menonaktifkan ponselnya.

" Are you okay, Beb? " tanya Rika yang menyadari perubahan raut muka sahabatnya.

" I am okay... " sahut Amira tenang. "Kayaknya aku dan kamu bakal lebih lama berada di Bali, Rika."

"Kenapa memangnya?"

"Aku mau sekalian survei lokasi untuk buka cabang restoran baru di Bali."

Mata Rika berbinar. "Benarkah, Beb?!"

"Tentu saja."

"Lalu anak-anak yang lain?"

"Lusa mereka pulang ke Jakarta. Sementara waktu, Rina yang memegang kendali operasional restoran Jakarta."

"Oke, setuju. Mereka semua sudah sangat ahli," ujar Rika yakin.

"Itu juga berkat bimbingan kamu, Ka."

"Bukan cuma aku, kamu yang punya otak cerdas di bisnis ini. Kamu itu pinter banget... kadang garis wajahmu mirip orang Jepang deh," celetuk Rika tiba-tiba.

Amira mengernyit. "Masa, sih?"

"Iya, coba deh lihat matamu, tajam dan tegas. Apa mungkin kamu sebenarnya ada darah keturunan Jepang?"

Amira menatap langit-langit kamar. "Entahlah... Nanti kalau pulang ke Jakarta, aku mau tanyakan ke Ibu Lasmi di panti asuhan, apakah dulu ada barang atau identitas yang tertinggal saat aku diantar ke sana."

"Bukankah dari dulu kamu tidak pernah mau tahu soal latar belakang keluarga kandungmu?"

Amira tersenyum tipis. "Setelah gagal dalam rumah tangga ini... entah kenapa aku mulai peduli dari mana aku berasal."

"Kalau kamu gimana, Ka?" tanya Amira balik.

Rika menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. "Aku sudah tahu siapa orang tua kandungku."

Amira tersentak kaget. "Ha?! Kenapa kamu baru cerita sekarang?"

"Ya... buat apa bercerita? Aku terlanjur kecewa sama mereka."

"Kecewa kenapa?"

"Aku kira dulu mereka menelantarkanku karena miskin... Tapi ternyata mereka orang kaya raya," ujar Rika dengan nada getir.

"Loh, bukankah bagus? Dari dulu cita-citamu ingin jadi orang kaya?"

"Awalnya iya. Tapi sekarang tidak lagi. Kalau memang mereka kaya... kenapa tega membuangku?" bisik Rika pelan.

Amira menghela napas halus, merangkul pundak sahabatnya. "Ya sudah... Yang penting sekarang kita tetap saling menjaga."

"Iya. Aku juga berharap kamu selalu baik-baik saja, Beb," sahut Rika mengulas senyum.

Keesokan paginya, Amira dan timnya mulai mengelilingi pusat pernak-pernik dan pasar seni khas Bali. Pemandangan kain pantai berwarna-warni, ukiran kayu, dan patung-patung eksotis memanjakan mata mereka.

Namun, saat Amira sedang memilah perhiasan perak di salah satu stan pasar, sebuah suara melengking yang sangat familier tiba-tiba menegurnya dari belakang.

"Enak ya kamu... Ibu mertua lagi kesusahan di rumah, kamu malah enak-enakan liburan mewah ke Bali?!"

Amira menghentikan gerakannya. Ia menoleh perlahan ke sumber suara.

1
sunaryati jarum
Semoga keluarga Amira
sunaryati jarum
Mulai jadi pemuas sang penguasa,Sonia
sunaryati jarum
O mau jadi wanita simpanan ,Sonia.Tapi Yamamoto tak akan pernah menyentuh Amira
@Mita🥰
wiiiih mungkin kakak nya Amira
@Mita🥰
pasti anak buah kakek Amira yang bikin unggah an Amira hilang
YuWie
anak siapakah kamu amir
sunaryati jarum
Mungkin kau putri pebisnis besar yang diculik dan ditinggalkan di panti asuhan
YuWie
rung sadar kan..malah tambah dodro..alias tambah kebangetan niat jahatnya
YuWie
benar kata pak polisi..bertele tele
Suanti
sonia tak pernah kapok klu kejadian lgi sm amira jgn mau pki jln damai jeblos kan aja ke penjara biar kapok 🤭
sunaryati jarum
Keluarga pak Diki tidak waras semua kecuali Pak Diki
@Mita🥰
ealah ..alah bukan nya sadar malah makin menjadi
@Mita🥰
🤣🤣🤣🤣🤣🤣 nah sekarang tahu kan
Suanti
sdh lah amira jeblos kan aja sonia ke penjara byk btl cerita keluarga mantan mu yg toxin 🤣🤣
Suanti
beri hukuman setimpal amira jangan mau jln damai biar kan aja di penjara biar tau rasa mantan keluarga toxin 🤭🤣
YuWie
Luar biasa
santi damayanti: terimakasih kaka
total 1 replies
YuWie
bacottt..ciatt..tendang aja al
YuWie
ngerti anak yatim piatu malah diperas.. situ waras
Suanti
jgn2 pria tua itu bpk nya amira atau kakek nya, amira 🤣🤣
Suanti
dasar keluarga toxin selalu salah kan amira 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!