Jingga Arletha Alinka punya segalanya—kecerdasan, karier gemilang, dan kehidupan glamor sebagai pewaris perusahaan besar. Sayangnya, satu hal yang tidak pernah masuk dalam daftar pencapaiannya adalah: pacar. Bukan karena tak ada yang mendekat, tapi karena ia terlalu sibuk dengan tumpukan pekerjaan dan target perusahaan.
Sampai akhirnya, orang tuanya melemparkan sebuah “kejutan”: perjodohan dengan Levin Artama Putra. Levin adalah pengusaha muda sukses, anak tunggal yang super manja dan Possessive. Tampan? Tentu saja. Menyebalkan? Jelas.
Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang wanita tegas seperti Jingga bisa cocok dengan pria yang bahkan tidak percaya pada cinta? Atau jangan-jangan, justru pertemuan konyol inilah yang akan mengubah hidup mereka berdua selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biqy fitri S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arin kasmaran
Hari kembali normal setelah hiruk pikuk pernikahan Mozza dan Egha. Pagi itu, kantor sudah dipenuhi aktivitas seperti biasa. Jingga duduk di meja kerjanya sambil mengetik, tapi matanya beberapa kali melirik ke arah Arin yang tampak lebih ceria dari biasanya.
Akhirnya, Jingga tak tahan juga. Ia mendorong kursinya mendekat sambil menyenggol lengan sahabatnya.
“Eh, Rin… jangan kira Gue lupa, ya. Lo belum cerita sama sekali gimana ceritanya bisa tiba-tiba lo deket sama Roy .”
Arin menunduk, wajahnya langsung merona. “Aduh, Ji… masa Gue harus cerita sekarang sih?”
“Rin, jangan pura-pura sibuk deh. Ceritain ke gue gimana ceritanya lo bisa bareng Roy sampai akhirnya ketahuan pas makan sama gue sama Levin,” goda Jingga sambil menyikut pelan.
Arin mendesah, lalu menatap Jingga dengan wajah yang sudah memerah. “Jadi gini, Ji ceritanya… Kan waktu terakhir makan malam itu gue dianterin sama dia. Nah, di situ gue, yaa, seperti biasa lah, goda-godain dia. Terus gue maksa minta nomor dia…”
Jingga langsung ngakak. “Ya ampun! Itu mah lo yang gatel duluan, Rin!”
Arin ikut tertawa, lalu mengangkat tangan seolah membela diri.
“Tenang dulu, Ji. Nah, gue kira dia nggak bakal ngasih. Tapi ternyata… dia ngasih dong nomornya. Dari situ gue tuh bahagia banget. Kayak ada sinyal gitu kalau dia mau membuka hati buat gue.”
Jingga mencondongkan tubuhnya, makin kepo. “Terus-terus?”
“Ya udah, dari situ kita jadi lebih intens chat sama teleponan. Walaupun emang dia nggak pernah ngomongin perasaannya langsung ke gue, tapi gue bisa ngerasain kalau dia nyaman sama gue.”
Jingga tersenyum lebar, matanya berbinar.
“Aku tau, Roy itu orangnya gengsi kalau soal hati. Tapi lo bisa bikin dia luluh, itu prestasi banget, Rin.”
Arin nyengir kecil, lalu melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Nah, baru waktu kita ketahuan sama lo sama Levin itu, justru di situ dia jujur soal perasaannya. Dan… ya lo liat sendiri kan akhirnya gimana.”
Jingga menepuk meja sambil terkekeh.
“Ya ampun, Rin, akhirnya! Gue ikut seneng banget sumpah. Gue yakin si Roy itu serius banget sama lo. Lo jangan sia-siain dia, ya.”
Arin tersenyum, matanya berbinar penuh kebahagiaan. “Iya, Ji. Gue juga nggak nyangka bisa secepat ini. Rasanya kayak mimpi.”
Arin tersenyum malu, pipinya sudah merona. Jingga menatapnya lama, lalu menghela napas sambil tersenyum hangat.
“Gue bersyukur dan bahagia banget, Rin. Lo akhirnya nemuin orang yang tepat. Semoga kalian berjodoh ya, sampai bisa nikah.”
Arin langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan, setengah malu setengah tersipu. “Ya ampun, Ji, jangan ngomongin nikah dulu dong. Baru juga mulai…”
Jingga malah makin jahil. “Lah, kenapa? Gue serius. Roy itu keliatan tulus banget, dan lo pun gue liat udah bahagia. Jadi gue doain aja yang terbaik. Nggak usah nunggu lama-lama kalau emang udah cocok.”
Arin hanya bisa menggeleng, tapi senyumnya nggak hilang sedikit pun. “Amin deh, Ji. Makasih ya.”
Jingga menepuk tangan Arin pelan. “Sama-sama. Lo pantas dapetin kebahagiaan, Rin.”
Arin masih senyum-senyum sendiri setelah ucapan Jingga. Begitu kembali ke meja kerjanya, dia nggak tahan buat mengambil ponselnya.
Tangannya sempat ragu, tapi akhirnya ia mengetik cepat:
Arin: “Kamu lagi sibuk nggak?”
Roy: “Nggak, kenapa?”
Arin: “Aku cuma mau bilang… makasih ya udah bikin aku bahagia beberapa hari ini ”
Roy: “…Aku juga, Rin. Sejak kamu datang, hidupku jadi lebih ringan. Kamu bener-bener hadiah buat aku.”
Arin terdiam sejenak membaca balasan itu. Jantungnya berdebar kencang, wajahnya memanas. Ia buru-buru memeluk ponselnya sendiri, tersenyum seperti orang jatuh cinta pada umumnya.
Dari jauh, Jingga memperhatikan ekspresi sahabatnya yang lagi salting. Ia cuma bisa menggeleng sambil menahan tawa. “Fix, ini namanya Arin lagi kasmaran parah,” gumamnya pelan.
\=\=\=\=
Malam itu, setelah pulang kerja dan selesai bersih-bersih, Arin langsung video call Jingga.
“Ji… aku sumpah gila banget. Aku makin nggak bisa tidur kalo Roy terus-terusan bikin aku senyum kayak gini,” ucap Arin sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Jingga ngakak keras. “Ya Allah Rin, baru juga jadian udah kayak ABG kasmaran. Lo tuh kalau senyum-senyum sendiri di kantor bikin gue takut sumpah.”
“Biarin! Hati gue lagi meledak-ledak bahagia tau nggak!” jawab Arin manja.
Jingga hanya menggeleng, masih tertawa.
“Yaudah… yang penting lo jaga baik-baik hati Roy. Jangan sampe bikin dia kecewa lagi, Rin.”
Arin mengangguk serius, senyumnya perlahan melembut.
“Iya Ji. Kali ini gue bener-bener yakin… dia orangnya.”
Obrolan pun berlanjut dengan tawa-tawa kecil, sampai akhirnya mereka berdua sama-sama ketiduran dengan senyum di wajah.
----
Setelah menutup video call bersama Arin, layar ponsel Jingga kembali menyala. Nama Levin muncul di sana. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkatnya.
“Halo sayang, gimana hari ini? Capek kah?” suara Levin terdengar serak, tapi hangat.
Jingga tersenyum tipis, bisa merasakan lelahnya hanya dari nada bicara itu.
“Hmm… iya sayang, hari ini full banget, banyak banget yang aku kerjain.”
“Aku kangen banget sama kamu. Hari ini bahkan belum sempat ketemu,” sambung Levin, terdengar seperti anak kecil yang sedang merajuk.
Jingga tergelak kecil. “Ututu utuu uttuuu, kesayangan aku pasti lelah banget ya hari ini? Sini biar aku peluk… aku peluk virtual dulu deh.” Godaan kecil itu sukses membuat Levin mengerang manja.
“Aduhhhh sayang… aku udah nggak bisa nahan. Kamu gini tuh bikin aku makin nggak tenang.” Suaranya berubah lirih, seolah benar-benar ingin berada di samping Jingga saat itu juga.
“Aku pergi ke situ ya, sebentar aja. Cuma mau peluk kamu, biar energi aku full lagi besok.”
Jingga buru-buru menahan tawa.
“Hahahaha… dasar! Sudah malam, sayang. Kamu pasti capek banget. Besok pagi kita ketemu, oke?”
Levin menghela napas panjang, terdengar jelas rasa kecewa dan manjanya. “Hmmm…” ia merajuk seperti anak kecil yang dilarang main keluar rumah.
Jingga terkikik gemas. “Udah, sini bobo aja. Aku temenin lewat telpon. Nggak usah dimatiin.”
“Tapi aku mau liat kamu. Aku mau video call biar bisa liat kamu tidur juga,” Levin cepat menyambar, suaranya begitu serius.
Jingga pura-pura manyun meski Levin tidak bisa melihat. “Ya udah, iyaaa…”
Tak lama layar berganti ke video call. Wajah lelah Levin muncul di layar, tapi sorot matanya langsung berbinar melihat wajah Jingga. Mereka hanya saling menatap dalam diam. Sesekali Jingga tersenyum kecil, membuat Levin refleks mengusap wajahnya sendiri, seakan ingin menyentuh pipi kekasihnya itu.
“Ya ampun… cantiknya calon istri aku,” gumam Levin lirih, membuat Jingga merona.
“Udah, bobo… kamu yang butuh istirahat. Besok kerja lagi, kan?” Jingga menegur lembut.
Levin mengangguk, lalu berbaring dengan ponsel masih di genggaman.
“Aku nggak peduli besok capek, yang penting malam ini aku bisa liat kamu. Rasanya… kayak kamu beneran ada di samping aku.”
Ucapan itu membuat Jingga ikut terdiam. Hatinya menghangat, senyum tak henti menempel di wajahnya. Ia pun berbaring menghadap layar, membalas tatapan Levin.
Perlahan, percakapan mereka semakin sepi. Tidak ada lagi kata-kata panjang, hanya bisikan pelan seperti “selamat tidur, sayang” atau “aku cinta kamu”. Sampai akhirnya, keduanya terlelap dengan ponsel masih menyala.
Layar menampilkan dua wajah yang sama-sama tenang, seolah tidur di ranjang yang sama. Mereka benar-benar tenggelam dalam mimpi dengan rasa rindu yang sementara terobati.
Malam itu pun ditutup dengan damai—sebuah malam sederhana, tapi begitu hangat bagi dua hati yang saling terikat kuat.
(