Zaman baru di mulai setelah perang langit besar berakhir. Memusnahkan dua ras terkuat di tiga dunia , darah para dewa dan iblis mengotori dunia manusia. Di tengah tengah badai petir merah dan hujan darah , suara Isak tangis anak kecil pecah di antara puing puing patung dewa yang kepalanya telah patah. Ia bernama Shen Yan , membawa kekuatan kuno mata dewa yang berbahaya. Desas desus mengatakan "Jika mata dewa terbangun sepenuhnya maka dunia akan di lahirkan kembali atau membawa dunia dalam kehancuran".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elz., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Bangkitnya Dewa Kuno
Bab 4 : Bangkitnya Dewa Kuno
________
Malam ini langit Kota Gerbang Tersembunyi terlihat bersih total , tidak ada awan maupun angin yang berhembus. Shen Yan berbaring di atas atap rumahnya menatap lautan bintang yang terhampar hingga ke ujung cakrawala. Ia menarik nafasnya dalam dalam , pikirannya kosong , hanya ada dia dan malam ini.
Shen Yan melepas penutup matanya saat ini , terlihat mata yang besar bulat dan ujungnya sedikit naik. Matanya berwarna biru keunguan yang dalam , terdapat pusaran berwarna putih , serta taburan titik titik keemasan dan biru es yang berkelip tidak beraturan. Seolah olah galaksi ada di dalam matanya.
"Kenapa hari ini aku merasakan kekosongan!Sebenarnya apa yang terjadi?"
Tubuhnya masih kecil namun pikirannya berat , seharusnya beban seperti itu tidak berada di dalam otak anak sekecil itu. Namun lamunannya tiba tiba pecah saat suara angin datang bersama aroma wangi yang menusuk hidungnya.
"Tap Ting Ting Ting!"
Suara tapak kaki di iringi suara lonceng kecil mendarat dengan lembut di samping tubuh Shen Yan. Kulit putihnya hampir membuat iri pakaiannya , serta memiliki aura yang tenang.
"Sudah malam begini seharusnya kau pergi beristirahat , adik kecil!"
Suara lembut seorang wanita membuat Shen Yan terkejut dan langsung memasang penutup matanya. Dengan cepat Shen Yan berdiri dan menyadari sosok wanita cantik dengan pakaian putih bersih telah berdiri di hadapannya.
"Kakak siapa?"
Shen Yan mundur beberapa langkah ke belakang karena merasa takut bertemu orang asing di tengah malam. Tubuh kecilnya hampir terjatuh saat kakinya menginjak ujung atap rumahnya yang hampir roboh.
"Kakak bukan orang jahat! Sini duduklah sebentar bersama kakak!"
Tangan lembut wanita yang ternyata adalah Bai Xuewei itu menangkap tubuh Shen Yan yang hampir terjatuh. Ia lalu mengamati wajah putih Shen Yan yang memakai penutup mata dari kain hitam dengan tatapan lembut. Mereka berdua duduk bersama cukup lama di atas atap rumah , hingga akhirnya Bai Xuewei memberikan sebuah plakat emas untuk Shen Yan sambil tersenyum. Ia mengatakan jika suatu hari Shen Yan membutuhkan bantuannya , ia akan datang membantunya. Shen Yan mengangguk dan berterima kasih.
______
Pukul 5 pagi.
"Teng Teng Teng"
Lonceng kota telah berdentang 3 kali , langit masih biru keabu abuan belum terang total. Kabut tipis masih menggantung di atas atap genteng hitam rumah rumah Kota Gerbang Tersembunyi. Udara dingin dan bersih beraroma dupa kuil bercampur aroma kue kukus dan teh jahe pedagang sudah mulai menyebar tercium di udara. Lampu lampu kertas masih menyala namun sinarnya mulai kalah dengan cahaya matahari yang mulai merambat keluar.
Bao lao berjalan pelan dari tungku pembakaran miliknya , membawa secangkir teh ke hadapan Shen Yan yang mulai membuka matanya.
"Yan'er , hari ini kakek akan pergi dengan teman kakek ke luar kota untuk mengambil barang pesanan paviliun kota. Tunggu kakek pulang , nanti kakek bawakan tanghulu kesukaan kamu!" ucap Bao lao pelan.
Shen Yan menatap kakeknya yang terlihat tidak sehat. Ia tidak langsung menjawab ucapan kakeknya , ia justru menanyakan kondisi kakeknya yang terlihat lesu. Namun Bao lao dengan senyum khasnya berkata bahwa ia sangat sehat dan baik baik saja.
"Kakek harus berjanji untuk pulang sebelum gelap!" ucap Shen Yan.
"Iya kakek janji , yan'er!"
Bao lao pun melangkah pergi , meninggalkan rumahnya menuju ke tempat mereka berkumpul sesuai yang telah di sepakati. Rombongan orang itu berangkat meninggalkan gerbang kota setelah pukul 7 pagi. Mereka mengambil misi kelompok untuk membawa pulang Batu Roh Api di pegunungan Phoenix yang terkenal mematikan.
_______
Menjelang sore hari Shen Yan duduk di atas batu lebar di halaman rumahnya menunggu kepulangan orang yang di sayanginya dengan harapan besar. Di tengah penantiannya , sesuatu yang aneh muncul dari dalam tubuhnya. Shen Yan mulai terlihat gelisah saat tubuhnya menunjukan gejala yang tak biasa.
"Tubuhku!" Shen Yan mengerang kesakitan.
Sesuatu yang panas mengalir ditubuhnya , suara suara aneh mulai muncul di pikirannya. Ia kembali tak sadarkan diri di atas batu lebar di halaman rumahnya.
"Shen Yan....Shen Yan....!"
Suara itu kembali terdengar di lautan kesadarannya. Ia kali ini tidak diam ketakutan , Shen Yan mencoba berjalan di atas lautan perak yang aneh.
"Siapa kau sebenarnya! Mengapa kau terus mengganggu ku!" ucap Shen Yan marah.
Seperti desis ular dan tetesan air di dalam goa terdengar bersamaan di telinga Shen Yan. Itu membuat Shen Yan semakin penasaran , detik berikutnya sebuah cahaya keemasan muncul melesat masuk ke dalam tubuh Shen Yan secara misterius. Tubuh kecilnya terangkat ke udara , matanya bersinar terang. Setiap lubang di tubuhnya mengeluarkan cahaya emas yang menyilaukan. Shen Yan mengambil posisi duduk bersila tanpa sadar , tangannya berulang kali membentuk segel tangan. Itu mengalirkan aliran deras energi murni ke setiap pembuluh darahnya.
"Aaaaaargh!"
Teriakan Shen Yan memecah keheningan lautan kesadarannya. Lalu sebuah jari telunjuk raksasa penuh rune muncul dengan kuku tajam yang panjang menusuk dahi Shen Yan secara tiba tiba. Pecahan pecahan masa lalu mulai berputar silih berganti. Itu menyebabkan fluktuasi yang hebat di dalam lautan kesadaran Shen Yan.
"Aku adalah pecahan jiwamu! Bersatulah kembali atas nama langit!"
Suara menggema itu menenggelamkan tubuh Shen Yan ke dalam lautan yang sangat dalam. Ia tak bisa bergerak , ia pasrah lalu perlahan cahaya muncul di ujungnya yang menarik ingatan masa lalu Shen Yan dengan masif.
"Deg"
"Aku dimana! Bagaimana aku disini!"
Shen Yan tersadar dari mimpinya , namun sekarang dia bukanlah bocah yang kemarin. Ia saat ini adalah Dewa Kuno yang terlahir kembali ke dunia ini. Ia mencoba memeriksa aliran Qi nya , dan tersenyum karena masih seperti harapannya. Namun ia tiba tiba tersentak saat menyadari bahwa ia saat ini berada di dalam tubuh masa kecilnya. Ia memeriksa telapak tangannya yang kecil dan meraba wajahnya dengan penasaran.
"Apa apaan ini! Mengapa aku kembali ke masa kecilku!"
Shen Yan lalu teringat pertempuran langit besar masa lalu , ia sempat memenangkan semua pertempuran namun ia terjebak dalam Formasi misterius yang memusnahkan jiwa dan raganya. Berkat mata dewanya yang unik , seutas jiwanya mampu memisahkan diri melintasi sungai waktu dengan selamat.
"Aaaargh! Apa ini!"
Lintasan ingatan kembali bercampur di dalam kepalanya , ia kini menyadari ingatan masa kininya yang merupakan cucu dari seorang tua bernama Bao lao dan tinggal di dalam kota yang bernama Gerbang Tersembunyi. Setelah merapikan aliran Qi nya hingga stabil , ia akhirnya bangun dari keadaan pingsannya.
"Menurut ingatan sebelumnya , aku sedang menunggu kakekku pulang! Aku harus terlihat seperti biasa!" gumam Shen Yan.
Ia tahu selama ini mendapatkan kasih sayang yang tulus dari orang tua bernama Bao lao. Namun setelah jam demi jam tak ada gerakan apapun di pintu halaman rumahnya. Ia mulai sedikit cemas , ia berusaha menggunakan mata dewanya untuk memeriksa keadaan kakeknya.
"Ah sial! Sakit!"
Shen Yan memegang kedua matanya yang terasa sakit , ternyata ia tak mampu membuka mata dewanya dengan baik. Hanya berjarak 50 zhang dari tubuhnya , ia sudah merasakan tekanan balik dari matanya.
"Sial , sepertinya aku harus berjalan selangkah demi selangkah lagi!" gumam Shen Yan merasa kesal.
_________