Setelah dipecat secara tidak hormat dari istana akibat fitnah keji, Arya harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tukang pijit yang kehilangan mata pencaharian utamanya. Namun, nasibnya berputar drastis saat ia tak sengaja menemukan seorang wanita dengan luka parah di tengah hutan gelap yang ternyata adalah Vanya, sang Ratu Iblis paling ditakuti. Sentuhan pijatan pertamanya pada tubuh wanita itu bukan hanya menahan pendarahan, melainkan memicu aktifnya Sistem Pijatan Penakluk Ratu Iblis yang mengubah hubungan mereka dari mangsa dan predator menjadi ikatan absurd penuh intrik di tengah kejaran pasukan kerajaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Sinar matahari pagi menyinari halaman kecil rumah sewaan mereka dengan hangat.
Arya tampak sibuk memasang sebuah papan kayu kecil di depan pagar rumah.
Di atas papan kayu itu tertulis tulisan tangan sederhana,"Jasa Pijit Tradisional - Segar Kembali Seketika".
Vanya berdiri di ambang pintu depan sambil melipat kedua tangannya di dada dengan ekspresi jenuh.
"Memasang papan murahan seperti itu di depan rumah, apa kamu benar-benar berniat menjadi tukang pijit jalanan di kota ini?" sindir Vanya dingin.
Arya menoleh sekilas ke arah Vanya sambil tersenyum lebar tanpa beban.
"Tentu saja, kalau tidak pasang papan pengenal, mana ada warga sekitar yang tahu kalau di sini ada tukang pijit sakti," jawab Arya santai.
Vanya mendengus pelan, memutar bola matanya malas melihat tingkah konyol pemuda di depannya itu.
"Buronan istana yang menyamar jadi tukang pijit pinggiran kota, benar-benar kombinasi riwayat hidup yang sangat membagongkan," cibir Vanya tajam.
"Sudahlah, daripada kamu ngedumel terus, lebih baik bantu aku merapikan kursi dan tikar di teras," suruh Arya.
Vanya mendelik tajam ke arah Arya dengan kilatan mata merah yang menunjukkan rasa keberatan yang amat sangat.
"Enak saja menyuruh seorang Ratu Iblis menjadi pelayan merapikan tikar kotor!" protes Vanya sewot.
"Bukan jadi pelayan, tapi asisten pemilik usaha mandiri," ralat Arya terkekeh geli.
Vanya mendengus kesal, namun ia tetap melangkah maju dan merapikan tikar rotan di teras dengan ogah-ogahan.
Suasana pagi di lingkungan perumahan pinggiran kota itu terasa sangat tenang dan damai.
Beberapa tetangga sebelah tampak lalu-lalang menyapa satu sama lain dengan ramah.
Seorang ibu paruh baya yang membawa keranjang belanjaan tampak berhenti di depan pagar rumah mereka.
Ibu itu membaca tulisan di papan kayu kecil sambil mengerutkan keningnya penasaran.
Arya yang melihat calon pelanggan datang langsung memasang senyum paling ramah yang ia miliki.
"Selamat pagi, Bu! Badannya pegal-pegal habis belanja dari pasar ya?" sapa Arya sopan.
Ibu paruh baya itu tersenyum canggung mendengar sapaan ramah dari pemuda asing di teras rumah.
"Ah, iya, anak muda. Punggungku terasa agak ngilu karena sering bawa belanjaan berat," keluh ibu itu jujur.
"Wah, pas sekali, Bu! Silakan mampir dulu ke teras, saya bisa bantu luruskan otot punggung Anda dalam waktu singkat," tawar Arya.
Vanya mengamati interaksi itu dari samping dengan sebelah alis terangkat tinggi.
"Manusia paruh baya itu gampang sekali dibujuk oleh rayuan gombal tukang pijit," batin Vanya mencibir.
Ibu itu menimbang-nimbang sejenak lalu melangkah masuk ke halaman kecil melewati pagar kayu.
"Baiklah, coba saya buktikan kehebatanmu, tapi kalau tidak sembuh saya tidak mau bayar ya," tantang ibu itu. "Siap, Bu! Kalau tidak enak, uangnya saya kembalikan dua kali lipat," balas Arya percaya diri.
Ibu itu duduk di atas kursi rotan yang tadi dirapikan oleh Vanya dengan wajah agak kaku.
Arya segera mengambil botol minyak pijit herbal dari dalam tas usang miliknya.
Ia meneteskan minyak beraroma rempah itu ke telapak tangannya lalu menggosoknya hingga hangat.
"Tahan sebentar ya, Bu, ini bakal terasa agak ngilu di awal penekanan," peringat Arya ramah.
Arya mulai menekan titik akupuntur di punggung ibu paruh baya tersebut dengan presisi tinggi.
Krek...
Bunyi sendi bergeser pelan terdengar di teras rumah yang tenang.
"Aduh... astaga, sakit tapi rasanya lega!" pekik ibu itu kaget setengah mati.
Arya terus melanjutkan pijatannya dengan gerakan lembut merelaksasi otot-otot yang tegang.
Vanya berdiri tidak jauh dari tempat itu, mengawasi ketelatenan tangan Arya dengan tatapan lekat.
"Meskipun gerakannya sederhana, tapi teknik penekanannya selalu tepat sasaran," aku Vanya dalam hati.
Setelah lima menit berlalu, Arya menarik kedua tangannya perlahan sambil tersenyum ramah.
"Nah, coba berdiri dan gerakkan punggung Anda, Bu," suruh Arya mempersilakan.
Ibu itu berdiri dari kursi rotan dengan ragu-ragu lalu memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan.
"Luar biasa! Rasa ngilu di punggungku langsung hilang tak bersisa!" seru ibu itu takjub bukan main.
Ia langsung merogoh kantong kain di bajunya lalu menyerahkan beberapa keping perak kepada Arya.
"Nih, ambil bayarannya, anak muda! Kamu benar-benar tukang pijit bertangan sakti!" puji ibu itu senang.
"Terima kasih banyak, Bu, silakan datang lagi kalau badannya pegal-pegal," balas Arya menerima koin.
Ibu itu pergi meninggalkan halaman rumah dengan perasaan sangat puas dan gembira.
[Persenjataan Sistem: Transaksi pijat pertama di tempat baru berhasil diselesaikan!]
[Mendapatkan koin sistem: +15 koin emas kecil dan poin pengalaman bertambah!]
Suara dengungan khas sistem berputar kencang di kepala Arya memberikan notifikasi tambahan.
Arya melempar kepingan perak di tangannya ke udara lalu menangkapnya kembali dengan senyuman lebar.
"Bagaimana, Yang Mulia Ratu? Pelanggan pertama kita sukses besar hari ini," pamer Arya pada Vanya.
Vanya mendengus pelan, berusaha menyembunyikan senyuman tipis di bibirnya.
"Cuma kebetulan saja ibu tadi kurang piknik makanya gampang ditipu," elak Vanya gengsi tinggi.
"Iya deh yang gengsi mau ngakuin keahlianku," balas Arya terkekeh geli.
Tiba-tiba, suara langkah kaki beberapa orang terdengar mendekati pagar rumah mereka dari arah jalan.
Tap... tap... tap...
Suara itu berhenti tepat di depan gerbang kecil halaman rumah.
Arya dan Vanya langsung menoleh serentak ke arah sumber suara dengan tatapan waspada.
Tiga orang pria berbadan kekar dengan tato di lengan tampak berdiri menatap papan nama di pagar.
Pria pemimpin kelompok preman itu menyeringai licik sambil meludah ke sembarang tempat di depan halaman.
"Heh, tukang pijit baru ya! Berani banget buka lapak di wilayah kekuasaan kami tanpa bayar pajak keamanan!" bentak preman itu galak.
Vanya langsung memancarkan aura dingin dari tubuhnya, kilat merah mulai menyala di matanya.
"Sampah-sampah ini benar-benar tidak pernah bosan mencari kematian di hadapanku," desis Vanya berbahaya.
Arya segera menahan lengan Vanya pelan untuk mencegah sang Ratu Iblis mengamuk di permukiman warga.
"Tunggu dulu, biarkan aku urus preman kampung ini dengan cara damai," bisik Arya tenang.
Preman pemimpin itu melangkah masuk ke halaman kecil dengan gaya arogan dan sombong.
"Mana pemilik rumah ini?! Keluarkan uang pajak perlindungan kalian sekarang juga atau lapak ini kami hancurkan!" ancam preman itu.
Arya maju ke depan dengan senyuman santai tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Wah, pagi-pagi begini kok lehernya kelihatan kaku banget, Abang-abang ini pasti kurang dipijit ya," sambut Arya ramah.
Pria preman itu memelototkan matanya kaget mendengar jawaban nyeleneh dari sang tukang pijit.
"Kurang ajar! Beraninya kamu melawak di depan kami, hancurkan papan itu!" perintah preman murka.
Anak buah preman di sampingnya langsung maju hendak menendang papan nama di depan pagar.
Arya melangkah secepat kilat, menggunakan teknik pijit tempur sistem untuk menjatuhkan mereka.
Brak... dugh...
Dua orang anak buah preman itu langsung ambruk mencium tanah dalam satu kedipan mata.
Pimpinan preman tersebut terbelalak lebar, ketakutan luar biasa mendadak merayap di sekujur tubuhnya.
"Iblis... anak muda ini punya ilmu bela diri tingkat tinggi!" teriak preman itu panik setengah mati.
Arya mendekati pimpinan preman itu dengan tatapan tajam namun tetap tersenyum ramah.
"Mau lanjut merusak properti orang lain, atau mau kupijit lehernya sampai lurus?" tawar Arya dingin.
Pria preman itu menggeleng cepat-cepat sambil gemetar ketakutan di hadapan Arya.
"A-Ampun, Tuan! Kami tidak akan mengganggu lagi! Tolong jangan bunuh saya!" rintih preman itu histeris.
"Bagus kalau paham, sekarang pergi dari sini sebelum tanganku gatal ingin mematahkan kaki kalian," usir Arya tegas.
Preman-preman itu langsung lari terbirit-birit meninggalkan halaman rumah dengan compang-camping.
Vanya mendengus meremehkan melihat preman kampung yang kabur ketakutan tersebut.
"Manusia-manusia di sini benar-benar sangat menyedihkan dan tidak ada yang bisa diandalkan," komentar Vanya.
"Namanya juga preman jalanan, nyalinya ciut kalau ketemu tukang pijit sakti," balas Arya bercanda.
[Peringatan Sistem: Berhasil mengusir preman lokal tanpa kekerasan berlebihan.]
[Mendapatkan bonus poin kedekatan: +10 poin sistem total menjadi 200 poin.]
Suara dengungan khas sistem berputar singkat di kepala Arya memberikan notifikasi pencapaian baru.
Arya merapikan kembali kursi teras rumah sambil menarik napas panjang menikmati udara siang hari.
Vanya duduk kembali di kursi rotan dengan ekspresi wajah yang mulai merasa nyaman di tempat baru itu.
"Sepertinya hidup di rumah kecil ini tidak terlalu buruk untuk sementara waktu," aku Vanya jujur.
"Tuh kan, kubilang juga apa, tempat ini bakal jadi markas pelarian paling nyaman buat kita berdua," balas Arya.
Hari menjelang siang di rumah kecil pinggiran kota itu diwarnai kedamaian setelah insiden kecil para preman.