Indonesia
NovelToon NovelToon
Surat Cinta Nyasar

Surat Cinta Nyasar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kehidupan di Kantor
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Fajar cuma pegawai biasa yang nekat menulis surat cinta buat sekretaris direktur. Sayangnya, amplop merah muda itu malah nyasar ke meja Kirana, Direktur muda yang dingin dan anti-romansa.
Satu kesalahan pengiriman membuat mereka berdua berhadapan. Fajar panik setengah mati. Kirana justru mulai mempertanyakan sesuatu yang selama ini dia abaikan.
Apakah satu surat yang salah kirim bisa mengubah segalanya?

[maklumi kalau ceritanya masih kurang, karena author masih belajar, dan meski udah berpengalaman, tetaplah belajar, karena dengan belajar, kalian tetap bisa rendah hati, dan janganlah sombong meski sudah berpengalaman]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: Undangan Perang

"Sialan! Kenapa bisa bocah bedebah itu tahu kedokku sebenarnya!"

Prang!

Pak Ardi membanting sebuah gelas kristal mahal ke dinding, menciptakan suara melengking hasil pecahan gelas yang kini berserakan tajam di atas karpet tebal ruangannya. Napas pria paruh baya itu memburu, urat di lehernya tercetak jelas di balik kerah kemejanya yang rapi.

Di seberang meja kerja kayu mahoni yang luas itu, sang Manajer Keuangan berjengit mundur ketakutan. Wajahnya pucat pasi bak mayat, bahunya bergetar hebat. Ia bahkan tak berani menatap langsung ke arah serpihan kaca yang baru saja meleset beberapa sentimeter dari sepatunya.

"B-bos... sa-saya bersumpah, staf IT memastikan itu file asli dari laptop Fajar. Posisinya dibiarkan tidak terkunci saat jam makan siang!" cicit Manajer Keuangan dengan suara bergetar dan keringat dingin yang mengucur deras.

"File asli kepalamu!" bentak Pak Ardi seraya menunjuk kasar ke arah monitor komputernya.

Di layar melengkung berukuran 32 inci itu, dokumen spreadsheet yang baru saja mereka buka tiba-tiba tertutup sendiri. Sebagai gantinya, deretan kode asing berjalan cepat berlatar hitam, diakhiri dengan sebuah kotak pop-up peringatan merah yang berkedip menyilaukan. Di tengah layar, tertulis satu baris pesan yang seakan mengejek kesombongan mereka: 'Ping successful. Terima kasih atas akses jaringan Anda, Tuan Ardi.'

Pak Ardi mencengkeram tepi mejanya hingga buku-buku jarinya memutih. Udara AC sentral di ruangan mewah lantai atas itu mendadak terasa menusuk tulang. Ia baru sadar, file yang dibawa bawahannya bodohnya itu bukan data cacat chip, melainkan kuda troya digital.

Begitu Pak Ardi mengkliknya di komputer pribadinya yang menggunakan jaringan khusus, virus itu otomatis mendeteksi dan memetakan jalur enkripsi langsung ke Baskara holding, brankas rahasia tempat ia mencuci uang perusahaan.

"Bocah tengik itu sengaja memancing kita. Dia menjebakku di ruanganku sendiri!" geram Pak Ardi. Matanya menyipit tajam, memancarkan aura membunuh yang kental.

"Hmm... gimana ya... bisa saja gue lakuin rencana berisiko seperti mengancam," gumam Fajar pelan, memecah keheningan di ruangannya sendiri.

Jemari Fajar mengetuk-ngetuk permukaan meja secara berirama. Matanya terpaku pada selembar kertas hasil cetakan log peretasan Baskara holding Di sudut kertas itu, logo matahari terbit yang identik dengan map milik Kirana tadi seolah menatapnya balik. Fajar menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang empuk.

Bagi seorang analis yang terbiasa bergerak dalam bayang-bayang logika, langkah selanjutnya secara teknis sangat sederhana: serahkan bukti ini ke otoritas berwenang, lalu biarkan polisi dan auditor negara menyeret Pak Ardi keluar dari gedung ini. Namun, dunia nyata tidak bekerja sesederhana rumus spreadsheet.

Mengancam Pak Ardi menggunakan data ini adalah perjudian mematikan. Pria itu ibarat singa tua yang sedang terpojok; ia bisa menggigit dengan sangat brutal sebelum mati. Terlebih lagi, ada satu variabel emosional yang merusak seluruh kalkulasi dingin Fajar.

Kirana.

Bayangan raut wajah pucat gadis itu yang belum lama keluar dari ruangannya kembali melintas di benak Fajar. Kirana dengan tulus mengkhawatirkannya, menentang ayahnya sendiri demi memperingatkan Fajar. Gadis itu tidak tahu bahwa pria yang sedang ia cemaskan justru sedang memegang tombol nuklir yang bisa memusnahkan dinasti keluarganya. Jika skandal pencucian uang ini meledak ke publik, aset keluarga Kirana akan disita negara, nama baiknya tercoreng habis, dan masa depan gadis itu akan hancur lebur.

Fajar memejamkan mata, memijat pangkal hidungnya yang tiba-tiba berdenyut nyeri. Ia harus menemukan cara untuk melumpuhkan posisi Pak Ardi di kursi direksi tanpa harus menghancurkan kehidupan Kirana. Sebuah ancaman mutlak di balik pintu tertutup.

"Kalau begitu, mari kita bermain tarik-ulur langsung di kandang singa," desis Fajar. Matanya kembali terbuka, memancarkan tekad yang dingin dan kalkulatif.

Di lantai atas, amarah Pak Ardi yang sempat meledak kini menyublim menjadi kekejaman yang sangat terukur. Ia menginjak serpihan kaca kristal di dekat sepatunya dengan ujung pantofel mahal hingga hancur menjadi bubuk, lalu menatap tajam ke arah Manajer Keuangan yang masih gemetar.

"Keluar," usir Pak Ardi dingin. "Tutup mulutmu rapat-rapat. Biar aku yang mengurus tikus kecil ini."

Begitu pintu tertutup, Pak Ardi merogoh laci rahasia di mejanya, mengeluarkan sebuah ponsel hitam sekali pakai—ponsel yang tak pernah terhubung dengan server kantor mana pun. Ia menekan nomor panggil cepat. Nada sambung berbunyi dua kali sebelum suara serak dan berat menjawab dari seberang.

"Siapkan tiga orangmu, sekarang," perintah Pak Ardi tanpa basa-basi. "Pakai seragam reserse kepolisian. Bawa map berisi surat penggeledahan dan perintah penyitaan palsu. Targetnya ada di lantai lima, Ruang Analis. Namanya Fajar."

"Hanya intimidasi, Bos? Atau perlu kami 'amankan' secara permanen?" tanya suara serak itu.

Pak Ardi menyeringai sinis, menampilkan raut wajah predator yang mematikan. "Gunakan lencana palsu itu agar satpam gedung tidak berani ikut campur. Masuk ke ruangannya, sita laptop, ponsel, dan semua flashdisk di mejanya. Jangan biarkan tangannya menyentuh keyboard sedetik pun. Borgol dia kalau melawan, lalu giring dia ke ruang rapat direksi di lantai ini lewat lift barang. Jangan buat keributan mencolok di depan karyawan lain."

"Beres, Bos. Kami tiba di lobi dalam sepuluh menit."

Sambungan diputus. Pak Ardi melempar ponsel itu ke atas meja dan merapikan dasinya. Memecat Fajar melalui prosedur HRD terlalu lambat dan berisiko; pemuda itu bisa menggunakan jeda waktu tersebut untuk menyebarkan data. Namun, dengan "aparat" gadungan, Fajar akan dilumpuhkan, kehilangan seluruh bukti digitalnya, dan diseret langsung ke hadapannya.

Sepuluh menit kemudian, pintu ruang kerja Fajar didorong kasar hingga terbuka lebar. Tiga pria tegap berseragam reserse kepolisian merangsek masuk dengan wajah garang. Tanpa basa-basi, salah satu dari mereka langsung membanting map berstempel merah ke atas meja, sementara dua lainnya dengan sigap menyita laptop, ponsel, dan menggeledah laci meja Fajar.

"Saudara Fajar, Anda ditahan atas tuduhan penggelapan aset dan pencurian data perusahaan. Jangan menyentuh apa pun atau kami terpaksa memborgol Anda!" gertak pria berpangkat inspektur gadungan itu dengan suara berat.

Fajar perlahan mengangkat kedua tangannya sejajar dengan dada. Alih-alih panik atau berteriak minta tolong seperti karyawan normal, sudut bibirnya justru melengkung membentuk senyum tipis yang tenang. Ia membiarkan lengannya dicengkeram kasar dan didorong keluar ruangan, digiring menuju koridor sepi yang mengarah ke lift barang. Fajar dengan sukarela mengikuti alur permainan mereka.

Namun, saat mereka tiba di depan pintu lift yang sedang turun, langkah Fajar sedikit melambat.

Di sudut remang-remang pilar koridor yang tidak terjangkau kamera CCTV, bersandar sesosok pria jangkung yang mengenakan setelan serba gelap. Sebagian wajahnya tertutup bayangan pinggiran topi, namun siluet rahang, postur tubuh, hingga gaya berdirinya terlihat luar biasa identik—sangat mirip dengan Fajar.

Pria misterius itu mendongak, memperlihatkan sepasang mata yang dipenuhi kegelapan pekat yang dingin tanpa emosi, menatap lurus menembus rombongan polisi gadungan tersebut.

Sembari didorong masuk ke dalam lift, Fajar menoleh sekilas ke arah sosok bayangan itu. Tepat sebelum pintu besi lift tertutup rapat mengurungnya, Fajar memberikan satu kedipan mata pelan penuh isyarat rahasia.

Siapakah dia? Apakah itu saudara kembarnya, sekutu dari masa lalu, atau justru wujud dari kartu As yang sebenarnya?

[Bersambung]

1
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr /Good/
🍓ADIRA🍓
Ok. semangat Thor 🫰
Hamzah: di bab 32 juga aku ubah lagi, lagi direview 😅
total 2 replies
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr
Purnamanisa
keknya seru... save dulu, baca lagi nanti 😁😁
🍓ADIRA🍓
Tenang Na... selagi ada fajar apapun bisa /Smirk//Smirk//Smirk/
🍓ADIRA🍓
Wah kenapa tidak dapat kontrak Thoorr? Ok ttp semangat Thoorr 💪
🍓ADIRA🍓
suapin donk jar 😂😂
🍓ADIRA🍓
Lihat fajar nanti juga langsung menghangat kok bay 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw semangat jar 💪
🍓ADIRA🍓
Ciyyeeee mas 🤭 akwakakakaww 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Harus cerdas lah Ndrong... kan calsu Bu Direktur ☺️
🍓ADIRA🍓
wkkwkw.😂😂 fajar langsung merona tuh Bu Kir 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
Ayang mbeb gtu Jar /Joyful//Joyful//Joyful/
🍓ADIRA🍓
Dirimu yg go publik loh 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwk ti ati burungmu terbang jar 😂😂😂
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw 🤣🤣🤣 dalam hatinya, Bu Direktur sebenarnya jga seneng tuh dapat pengakuan cinta dari fajar 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
salah mimpi 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Susulin gih Na, sebelum fajar semakin merajalela karena rindu 🤣🤣🤣
🍓ADIRA🍓
Lanjut Thoorr, perkuat lagi konfliknya biar cerita semakin menarik... semangat /Good//Good/
Hamzah: Ya.. kalau gaada kendala ya😇
total 1 replies
🍓ADIRA🍓
kwkwkwkw kecewa ya jar 😅😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!