Di balik kesederhanaan hidupnya, Reyna tak pernah menyangka takdirnya berubah hanya karena seikat bunga pengantin. Di pernikahan sahabatnya, Reyna yang merasa minder justru menjadi pusat perhatian saat bunga yang dilempar Agnia mendarat di tangannya, dan kejadian konyol itu berlanjut dengan aksi perjodohan mendadak di atas pelaminan dengan seorang pria yang tidak Reyna kenal.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Reyna? Siapa pria yang dijodohkan dengan Reyna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepat!
Jarum jam dinding di kontrakan sempit itu menunjuk angka enam pagi, suara deru angkutan umum yang melintas di jalan raya utama terdengar samar dari balik kaca jendela yang berdebu. Reyna terbangun bukan karena alarm merdu, melainkan karena dering ponselnya yang sudah retak di bagian sudut layar.
Reyna merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, ia bangkit dari kasur busa tipis tanpa dipan yang menjadi tempat tidurnya selama tiga tahun terakhir. Kontrakan seluas tiga kali empat meter ini adalah satu-satunya tempat ia bisa bernapas lega setelah lelah bekerja seharian. Di sinilah ruang tamunya, kamarnya, sekaligus dapurnya menyatu menjadi satu petak ruangan yang pengap.
Reyna berjalan menuju dapur kecil di sudut ruangan, hanya ada sebuah kompor gas portabel berukuran mini dan panci kecil berkarat, ia menyalakan kompor untuk merebus air putih. Sambil menunggu air mendidih, ia membuka lemari pakaian kayunya yang pintu sebelah kanannya sudah hampir copot dari engselnya.
Reyna menatap isi lemarinya dengan helaan napas panjang. Di dalam sana, bajunya tersusun rapi namun sangat sedikit. Kemeja putih dengan kerah yang sudah sedikit menguning di bagian dalam, dua celana bahan hitam yang warnanya mulai memudar menjadi abu-abu tua akibat sering dicuci dan beberapa kaos oblong biasa untuk tidur. Tidak ada gaun mewah, tidak ada tas bermerk dan tidak ada sepatu hak tinggi berharga mahal, semua pakaian kerjanya ia beli dari pasar atau toko baju bekas demi menghemat pengeluaran.
"Gaji semungil ini untuk hidup di kota besar memang luar biasa cepat habisnya," gumam Reyna pelan pada dirinya sendiri.
Air pun mendidih, Reyna menyeduh teh celup tanpa gula ke dalam sebuah mug plastik bergambar karakter kartun yang sudah pudar. Itulah sarapannya pagi ini, secangkir teh hangat dan sebuah biskuit marie regal sisa kemarin malam.
Sebagai staf di sebuah perusahaan swasta distributor tekstil, gaji Reyna hanya pas untuk bertahan hidup dari tanggal satu ke tanggal satu berikutnya. Selepas membayar uang sewa kontrakan yang selalu naik setiap tahun, biaya transportasi karena ia menggunakan motor matic tua keluaran lama yang boros bensin, serta jatah makan yang diirit-irit, uang di dompetnya sering kali bersisa lembaran ribuan kusut menjelang minggu terakhir bulan berjalan.
Reyna memakai kemeja putih andalannya, merapikan rambut sebahu yang ia ikat ekor kuda sederhana, lalu menyapukan bedak tipis dan lip balm ke bibirnya agar tidak terlihat terlalu pucat.
Reyna menatap pantulan dirinya di cermin kecil berbingkai plastik merah yang menempel di dinding. Wajahnya sebenarnya manis, dengan mata bulat dan hidung mancung alami, namun kelelahan hidup tampak jelas merayap di bawah kelopak matanya. Kantung mata hitam itu adalah saksi bisu betapa sering ia lembur tanpa dibayar demi mempertahankan pekerjaannya.
Reyna menyambar kunci motor dan tas ransel kanvas lusuh miliknya, "Semangat Reyna! Semoga hari ini berjalan lancar," ucap Reyna pada angin pagi, sebelum ia menutup pintu kontrakannya dan memutar kunci ganda dengan hati-hati.
Mesin motor matic tua Reyna terbatuk-batuk sebelum akhirnya mati tepat di halaman parkir kantornya. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 07.52 pagi, Reyna menghela napas lega karena merasa masih punya waktu delapan menit sebelum jam masuk pukul delapan. Ia buru-buru melepas helm, merapikan ikatan rambutnya sekilas dan melangkah masuk ke dalam gedung berlantai tiga itu.
Namun, dewi keberuntungan sepertinya sedang enggan melirik Reyna hari ini. Baru saja ia melangkahkan kaki melewati pintu kaca lobi utama, sebuah suara suara melengking yang sangat ia kenal sudah menyayat gendang telinganya.
"Reyna! Mau ke mana lagi kamu pagi-pagi begini, hah?" teriak seorang wanita.
Reyna menelan ludah mentah-mentah. Di ujung koridor lantai satu, berdiri Bu Sandra, kepala bagian administrasi sekaligus atasannya yang terkenal bertangan besi dan hobi mencari-cari kesalahan bawahan. Wanita paruh baya berbadan gempal dengan blazer ketat itu berkacak pinggang, menatap Reyna tajam dari balik kacamata berbingkai emasnya.
"Pagi, Bu Sandra. Maaf, saya baru sampai," jawab Reyna sopan sambil merapatkan tas ranselnya ke dada dan menunduk sedikit untuk meredam amarah atasannya.
"Baru sampai kamu bilang? Lihat jam berapa ini!" Bu Sandra melangkah mendekat dengan sepatu hak tingginya yang berketukan nyaring di lantai keramik.
"Laporan rekapitulasi stok kain impor untuk divisi pemasaran yang saya minta kemarin sore, di mana? Sampai detik ini meja saya masih bersih dari berkas kamu!" tanya Bu Sandra.
Reyna terperanjat, tenggorokannya terasa kering seketika, "Be-berkasnya... kemarin sore sudah saya kerjakan setengahnya, Bu. Tapi karena server gudang sempat error dua jam saat jam pulang, saya...,"
"Alasan! Saya tidak butuh alasan dari kamu, Reyna!" potong Bu Sandra dengan suara yang semakin meninggi, cukup untuk menarik perhatian beberapa karyawan lain yang baru datang dan sibuk merapikan meja kerja mereka.
"Kamu digaji di sini untuk bekerja cepat dan beres, bukan untuk bikin daftar pembelaan diri! Kalau dalam waktu satu jam laporan itu tidak ada di atas meja saya, potong gaji kamu bulan ini! Jangan harap bisa seenaknya sendiri!" ancam Bu Sandra.
Hati Reyna mencelos, rasanya panas dan sesak bergemuruh di dada. Ingin sekali ia menjelaskan bahwa kemarin ia terpaksa lembur hingga pukul delapan malam sendirian di ruangan yang dingin, bahkan merelakan makan malamnya demi menyelesaikan tumpukan data manual akibat sistem komputer kantor yang sudah tua. Tapi di hadapan Bu Sandra, membela diri sama dengan mencari masalah.
"Baik, Bu. Saya kerjakan sekarang juga," cicit Reyna lemah, menahan panas di ujung matanya agar air mata kekesalan itu tidak tumpah.
"Cepat! Jangan cuma bengong kayak orang linglung!" maki Bu Sandra sekali lagi sebelum memutar tubuhnya dan berlalu dengan angkuh menuju ruangannya.
Reyna menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri dan berjalan cepat menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Begitu duduk di kursi kerjanya yang berdecit, ia langsung menyalakan komputer yang membutuhkan waktu cukup lama untuk menyala.
Tangan Reyna yang gemetar membuka lembar kerja, matanya yang masih lelah kembali harus berhadapan dengan barisan angka-angka dan kode tekstil yang memusingkan kepala. Di saat yang sama, ponselnya di atas meja bergetar pelan menandakan ada pesan masuk. Reyna melirik sekilas, sebuah pesan singkat dari Agnia yang menanyakan apakah ia sudah sarapan.
Reyna tersenyum pahit di tengah tekanan pekerjaan yang mencekik. Jarinya membalas pesan itu dengan kebohongan kecil bahwa ia baik-baik saja dan sedang fokus bekerja, sebelum akhirnya ia kembali menunduk dan merajut asa di antara tumpukan beban hidup yang kian menghimpit hari-harinya di kota ini.
.
.
.
Bersambung.....
smoga berjodoh..
😎
Reyna jg sudah dewasa tdk perlu berlebihan jd ilfil
lanjut thor