Indonesia
NovelToon NovelToon
Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Masuk Novel Pikiran Ku Di Baca Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun?

Lucien berdiri mematung di dekat pintu, manik mata birunya yang setajam kristal es terkunci sepenuhnya pada sosok gadis di hadapannya. Ia memperhatikan bagaimana pelayan itu mendadak sibuk mengelap sudut meja yang sama berulang kali, berpura-pura tidak menyadari keberadaannya meski tubuh gadis itu jelas-jelas gemetar pelan.

Dengan langkah perlahan dan tanpa suara, Lucien berjalan mendekat. Tekanan aura dari tubuhnya yang tegap dibalut jas hitam itu membuat udara di ruang kerja terasa makin menghimpit.

"Kau," panggil Lucien dingin.

Suara berat dan bertenaga itu menggelegar pelan di ruangan yang hening. Lina tersentak kaget, refleks mendongakkan kepalanya. Begitu matanya beradu langsung dengan tatapan tajam Pangeran Mahkota yang jaraknya kini hanya berselang beberapa langkah, jantung Lina seolah berhenti berdetak.

Gugup luar biasa menyerang otaknya. Berbagai tata cara menyapa bangsawan yang ia baca di buku mendadak menguap begitu saja.

"I-Iya, Pangeran?" sahut Lina, suaranya terdengar canggung dan sedikit mencicit.

Lucien memicingkan matanya, menatap wajah bersih Lina yang kini terlihat sangat berbeda dari kesan pelayan kusam biasanya. Namun, bukannya membahas soal keindahan wajah itu, Lucien justru berucap dengan nada menuduh yang amat jelas.

"Bukankah kau pelayan yang selalu memanfaatkan dan memeras adikku?"

Lina seketika melongo. Mulutnya sedikit terbuka, sementara matanya berkedip bingung.

"Anjirr... iya lagi, gue!" jerit Lina meratapi nasib di dalam hatinya, mendesah berat secara batin. "Aish, ternyata reputasi si Eliana emang udah sebusuk itu di mata semua orang! Baru juga langsung kena semprot pangeran galak!"

Berusaha menyelamatkan posisinya agar tidak langsung dijebloskan ke penjara istana, Lina dengan cepat memutar otak. Ia memasang wajah paling sopan yang ia bisa, diiringi tawa canggung yang agak dipaksakan.

"Aduh... gimana ya, Pangeran? Saya... anu, itu... anu," jawab Lina memegang ujung apronnya, berusaha merangkai kata agar terdengar tetap hormat. "Ah... butuh uang, Pangeran. Namanya juga idup, hehe..."

Lucien mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Tatapannya semakin menajam mendengar jawaban yang begitu santai dan tidak berbobot dari seorang pelayan kelas bawah.

Namun, sebelum Lucien sempat melontarkan kata-kata tegas lainnya, pintu ganda ruang kerja mendadak terdorong terbuka.

Sesosok wanita bergaun sutra merah muda yang sangat anggun melangkah masuk dengan senyum manis terukir di bibirnya. Rambut pirang keemasannya terurai indah, dan wajahnya memancarkan kepolosan serta kehangatan yang amat memikat. Dialah Rosalie—kekasih sekaligus tunangan Lucien, yang tak lain adalah sang tokoh utama wanita di novel ini.

Lina menahan napas, matanya tak berkedip menatap sosok Rosalie.

"Busettt... ini Rosalie? Gileee, cakep bener, glowing parah!" batin Lina heboh, dan suara itu kembali meluncur mulus ke dalam kepala Lucien. "Muka bening kek cewek baik-baik gini... tapi sayang banget, dia datang ke sini cuma buat ngancurin kerajaan ini dari dalam! Putra mahkota ditipu habis-habisan sama nih cewek. Dasar bucin tolol yang tak bisa diselamatkan!"

Lina menggelengkan kepalanya pelan secara refleks, menunjukkan rasa prihatin yang amat dalam di dalam hatinya. "Tapi ya udah sih, bukan urusan gue juga," pikirnya santai, memilih untuk bersiap mundur perlahan.

Bucin... tolol?

Lucien membeku total di tempatnya. Hatinya bergemuruh hebat, diliputi rasa shock yang tak terkira. Bagaimana bisa pelayan ini menuduh Rosalie wanita yang paling ia cintai dan percayai memiliki niat jahat sekejam itu? Mana mungkin Rosalie berencana menghancurkan Kerajaan Valdoria? Suara hati gadis ini benar-benar tidak masuk akal!

"Pangeran... Sayang," panggil Rosalie dengan suara lembut nan merdu, memecah kecamuk di kepala Lucien.

Rosalie berjalan mendekat tanpa ragu, lalu menyandarkan tubuhnya dan memeluk lengan tegap Lucien dengan amat mesra, mengumbar senyuman paling manis yang biasa membuat Lucien meleleh. Namun kali ini, saat mata Lucien menatap wajah anggun sang kekasih, bayangan ucapan dari suara batin Lina mendadak terngiang berulang-ulang di kepalanya, memercikkan benih keraguan yang sangat asing dan dingin di dasar hatinya.

Rosalie tersenyum manis, memamerkan deretan giginya yang putih bersih. Ia menyerahkan sebuah wadah perak berukir indah yang sedari tadi dipegang oleh pengawal pribadinya di luar.

"Pangeran, aku sengaja bangun lebih pagi hari ini untuk membuatkan sup rempah khusus untukmu," ujar Rosalie dengan nada suara yang begitu lembut, hampir menyerupai bisikan penuh kasih. "Kamu belakangan ini terlalu sibuk mengurus dokumen kerajaan sampai lupa menjaga kesehatan. Biar aku suapi, ya?"

Lucien, yang masih diliputi kecamuk keraguan akibat suara asing di kepalanya, berusaha memasang raut wajah seperti biasa. Ia mengulas senyum tipis senyuman langka yang hanya ia perlihatkan pada sang kekasih.

"Terima kasih, Rosalie. Kau selalu perhatian," jawab Lucien pelan, membiarkan wanita itu mengambil sendok perak dan menyendokkan sup hangat tersebut ke dekat bibirnya.

Di pojokan ruangan, Lina yang berpura-pura sibuk menyapu rak buku mendadak memutar bola matanya malas. Tampang geli sekaligus jijik tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

"Hilih, bucin alay..." cibir Lina dalam hatinya, yang tentu saja langsung terngiang amat jernih di dalam gendang telinga Lucien. "Makan tuh makanan buatan pawangmu! Bikinnya pakai cinta... cinta mati! Hahaha!"

Lina tertawa hambar dalam batinnya, namun sedetik kemudian, ingatan spesifik tentang alur novel Tahta & Darah Valdoria mendadak melintas tajam di kepalanya. Raut wajah Lina berubah menjadi serius, diiringi rasa prihatin yang mendalam.

"Tapi wait... kalau nggak salah, itu sup yang saban hari diantar Rosalie ke sini, kan?" bisik Lina dalam hati, matanya melirik curiga ke arah sendok perak di tangan Rosalie. "Gila sih, cewek ini smooth banget aksinya. Di dalam sup itu kan disusupi racun pelan-pelan! Dosisnya sedikit banget tiap hari, biar nggak terdeteksi tabib istana, tapi lama-lama bikin organ dalam dan sistem saraf Pangeran Lucien makin lemah. Pas Pesta Dansa Musim Panas nanti, tinggal dikasih pemicunya dan... BOOM! Lumpuh total, terus mati deh."

Lina menggeleng-gelengkan kepalanya dalam batin, menatap sosok Lucien dari samping.

"Aish... kasihan banget. Wajah setampan dan sekharismatik itu harus mati muda dengan cara mengenaskan cuma gara-gara ditipu mentah-mentah. Coba kalau dia nggak bucin tolol begini, udah gue taksir dari awal, kalau bisa gue nikahin sekalian! Lumayan dapat suami ganteng kayak dewa, walau galak."

DEGG!

Tepat saat ujung sendok perak berisi sup hangat itu hampir menyentuh bibir Lucien, tangan Pangeran Mahkota itu mendadak membeku di udara.

Kalimat terakhir dari suara batin Lina terutama bagian 'racun pelan-pelan', 'membuat tubuh makin lemah', hingga selipan bercandaan 'udah gue nikahin' menghantam kesadaran Lucien bagaikan petir di siang bolong.

Jantung Lucien berdegup kencang secara tidak teratur. Otaknya yang cerdas secara refleks menghubungkan fakta medis yang ia alami beberapa bulan terakhir: tubuhnya yang belakangan ini sering merasa lelah tanpa alasan, rasa nyeri samar di dadanya setiap malam, serta bagaimana para tabib istana selalu menyimpulkan bahwa ia hanya 'kelelahan bekerja'.

Apakah semua rasa lelah itu... berasal dari racun di dalam sup ini?

"Pangeran? Ada apa?" tanya Rosalie heran, menghentikan gerakannya karena Lucien tidak kunjung membuka mulutnya. Mata Rosalie berkedip polos, penuh kebingungan yang tampak sangat natural. "Apakah supnya terlalu panas?"

Lucien tidak menjawab. Manik mata birunya yang sedingin es perlahan bergeser dari wajah anggun Rosalie, menatap lurus ke arah cangkir dan sendok perak di depannya, lalu bergulir tajam menembus sosok Lina yang berdiri kaku di sudut ruangan.

Atmosfer di dalam Ruang Kerja Agung itu mendadak berubah menjadi sangat mencekik dan penuh ketegangan yang tak kasat mata.

1
Uthie
Lanjut menyimak 👍😁
Uthie
Pas.. lagi seneng cerita yg soal bisa membaca Pikiran 😁👍👍👍
Noveni Lawasti Munte
kurang jeli nih si pangeran mahkota masa ga da pengawal bayangan untuk eliana🙄
Inez Putri
gmn nasibnya alianaa... smga slmat
JasmineA
mereka keluar istana terus adik nya Lucien si Althea gi mana? masa ditinggal sm predator sih...kasian pasti dia depresi gara2 kakak nya meninggoy
Nyai mardianti
ka aku Suka bangat sama novel kaka yg satu ini apakah ini masih on going
Retno Isma
ini kerjaan modern kan. kenapa ga pake lampu aja. masih pake obor Kya jaman purba.
Retno Isma
🌹🌹🌹🌹
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus, menarik untuk dibaca.
Anita Rahayu
Yg banyak dan panjang thor buat cerita👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Wahyuningsih
q mampir thor dpt bonus ruang dimensi gk thor biar makin sru n buat eliana badaz abiz
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!