Indonesia
NovelToon NovelToon
Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Pelakor jahat / Tamat
Popularitas:484.5k
Nilai: 5
Nama Author: Red_Purple

‎Badai datang pelan namun mematikan, menggoyahkan komitmen lima tahun yang Risa yakini abadi. Di bawah langit malam yang sunyi, dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suaminya, Raga, sedang bermesraan dengan wanita lain di dalam mobil mereka.

‎Setelah bertahun-tahun membangun rumah tangga dengan penuh pengorbanan, meninggalkan karir impian untuk mendukung karir suaminya, Risa harus menghadapi kenyataan pahit bahwa cinta yang dia anggap tulus telah dipermainkan.

‎Pengkhianatan itu menjadi pukulan terberat bagi hatinya.

‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan. Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah." ~ Risa Anindita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

‎Suasana di rumah orang tua Risa terasa sedikit tegang sejak beberapa menit yang lalu. Di ruang tamu, duduk Raga yang datang dengan wajah gelisah. Ia datang kesana dengan harapan bisa bertemu dengan Risa dan bisa membujuk istrinya itu untuk pulang.

‎‎Papa Harun duduk di kursi dengan wajah datar, sementara Mama Hana berdiri di dekat meja dengan wajah bingung dan khawatir. Dia mencoba menelpon sekali lagi, namun hasilnya tetap sama.

"Masih tidak bisa dihubungi..." gumamnya pelan, wajahnya mulai terlihat cemas.

‎‎"Dia juga tidak mengangkat teleponku. Kemana dia bisa pergi sendirian?" gumam Raga, rasa takut dan bingung mulai bercampur dalam dirinya.

‎‎Mama Hana masih terus mencoba menelpon Risa, namun tetap tidak ada jawaban. Rasa khawatirnya semakin membesar. Ia takut jika Risa menghadapi semuanya sendirian tanpa ada yang menjaganya.

‎‎"Risa... ayo angkat nak..." gumam Mama Hana, suaranya terdengar khawatir.

‎‎Raga berdiri dari tempat duduknya, ia akan mencari Risa ketempat lain. Sella. Pasti wanita itu yang sudah menyembunyikan Risa, karena semalam mobil Sella-lah yang menjemput Risa didepan gerbang.

‎‎"Baiklah, kalau begitu aku pamit dulu. Kalau ada kabar tentang dia, tolong beritahu aku," ucapnya.

‎‎Papa Harun hanya mengangguk singkat tanpa banyak bicara, sementara Mama Hana tetap menatap ponselnya, berharap panggilannya akan segera terhubung.

‎‎Begitu mobil Raga melaju menjauh dan keluar dari halaman rumah mereka, Mama Hana langsung berbalik menghadap suaminya. Air matanya yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah juga, bercampur dengan rasa kecewa dan marah yang memuncak.

‎‎Ia melangkah mendekat, suaranya bergetar namun tegas.

‎‎"Semua ini salahmu, Pa!" serunya, matanya berkaca-kaca. "Kalau saja kamu tidak mengucapkan kata-kata seberat itu pada Risa malam itu, mungkin dia tidak akan pergi sejauh ini! Dia pasti akan pulang kesini dan merasa punya tempat berlindung!"

‎‎Papa Harun tertegun sesaat, lalu wajahnya kembali mengeras.

‎‎"Apa maksudmu menyalahkanku? Aku hanya bicara apa adanya, mengatakan kenyataan yang harus dia terima! Kalau dia tidak keras kepala dan mau mendengarkan nasihat, dia tidak akan mengambil keputusan bodoh seperti ini!"

‎‎"Kenyataan? Atau hanya pandangan sempit yang kamu anggap benar?!" bantah Mama Hana dengan suara lebih keras. "Risa anak kandung kita, walaupun dia tidak sempurna dia tetap darah daging kita! Kamu tidak seharusnya menyebut dia tidak berharga hanya karena dia tidak bisa punya anak!"

‎‎Ia menghapus air matanya dengan kasar, suaranya terasa sesak menahan rasa kecewa yang mendalam.

‎‎"Risa datang kemari dengan hati yang hancur, ingin mencari dukungan dari orang tuanya sendiri. Tapi apa yang dia dapat? Bukan penghiburan, bukan perlindungan, tapi justru penghakiman dan penolakan. Kalau kamu tidak mengucapkan kalimat memutuskan hubungan itu, setidaknya dia masih tahu dia punya tempat kembali. Sekarang dia pergi, tidak bisa dihubungi, dan kita bahkan tidak tahu dimana dia tinggal. Semua itu karena sikapmu!"

‎‎Papa Harun terdiam, raut wajahnya sedikit berubah meski ia masih berusaha mempertahankan pendiriannya. "Dia memilih jalannya sendiri, bukan aku yang memaksanya. Kalau dia cukup sabar dan memaafkan Raga, semuanya akan baik-baik saja. Dia yang memutuskan ingin bercerai, bukan aku yang menyuruhnya."

‎‎"Kamu salah besar, Pa!" jawab Mama Hana dengan nada sedih namun tegas. "Kesabaran itu ada batasnya. Kalau dia sudah disakiti berkali-kali, dikhianati, lalu disalahkan atas segala kesalahan, apa yang harus dia pertahankan? Dan yang paling menyakitkan, saat dia paling butuh dukungan, kita justru menjadi orang pertama yang mendorongnya pergi."

‎‎Ia melangkah mundur sedikit, menatap suaminya dengan pandangan yang menyiratkan kekecewaan yang sulit diperbaiki.

‎‎"Kamu terlalu memikirkan gengsi, pandangan orang lain, dan keturunan sampai lupa bahwa yang paling berharga adalah perasaan dan keselamatan anak kita sendiri. Sekarang dia pergi sendirian, menghadapi dunia luar tanpa siapa pun di sisinya. Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, bagaimana kita bisa memaafkan diri kita sendiri nanti? Apakah gengsi itu akan bisa menggantikan rasa bersalah yang akan menghantui kita seumur hidup?"

‎‎Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Papa Harun tidak menjawab lagi, matanya menunduk perlahan. Kata-kata istrinya menusuk masuk ke dalam hatinya, menimbulkan keraguan yang selama ini ia pendam di balik kemarahannya.

‎‎Namun harga dirinya masih terlalu tinggi untuk mengaku salah di saat itu juga. Ia hanya tetap diam, tapi ketegasan di wajahnya perlahan memudar, digantikan oleh kegelisahan yang mulai muncul.

‎‎"Aku akan terus mencoba menghubunginya. Dan satu hal yang harus kamu ingat. Kalau ada hal buruk terjadi pada Risa, seumur hidup aku tidak akan pernah memaafkanmu!"

‎‎Mama Hana melangkah masuk, meninggalkan Papa Harun sendirian di ruang tamu yang kini terasa lebih sunyi dan dingin.

-

-

-

‎"Telepon dari siapa? Kenapa tidak diangkat saja?" tanya Sella sambil tetap mengemudi.

‎‎Risa menatap layar ponselnya yang terus berdering sebentar, lalu menekan tombol hening dan memasukkannya kembali ke dalam tas.

‎‎"Dari Mama," jawabnya pelan, suaranya terdengar lelah. "Mas Raga pasti datang kerumah untuk mencariku, itulah sebabnya mama menelpon."

‎‎Risa menoleh ke luar jendela, memandang pohon-pohon yang berlalu di pinggir jalan,

‎‎"Aku tidak membenci mereka, tapi untuk saat ini aku butuh jarak. Biarkan mereka melihat kenyataan dari sudut pandang lain, bukan hanya dari apa yang selama ini mereka percayai. Kalau aku masih mudah dihubungi dan ditemukan, mereka tidak akan pernah mengerti bahwa keputusanku ini sudah bulat."

‎‎Sella tersenyum tipis, lalu menjawab dengan nada menenangkan.

‎‎"Kamu melakukan hal yang tepat, Ris. Menjaga jarak bukan berarti tidak sayang, tapi demi melindungi dirimu sendiri. Biarkan waktu yang berbicara. Nanti kalau mereka sudah siap mendengarkan tanpa menghakimi, baru kamu bisa membuka komunikasi lagi. Sekarang, fokus saja pada dirimu sendiri."

‎‎Risa hanya mengangguk, membiarkan keheningan yang tenang menyelimuti perjalanan mereka, sementara ponsel di dalam tasnya masih sesekali bergetar, tapi kali ini ia membiarkannya begitu saja, memilih untuk mengabaikan panggilan itu agar tidak mengganggu kedamaian yang baru ia rasakan.

-

-

‎‎Setelah mengantarkan Risa pulang, Sella melajukan mobilnya menuju rumahnya sendiri. Begitu ia sampai dan hendak memarkirkan kendaraannya di depan gerbang rumahnya, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan dan berhenti mendadak tepat di hadapannya, menghalangi jalan masuk.

‎‎Sella terkejut dan mengerem keras, jantungnya berdegup kencang karena terkejut. Belum sempat ia memproses apa yang terjadi, pintu mobil itu terbuka kasar.

‎‎Raga turun dengan wajah yang memerah, matanya melotot penuh amarah dan rasa frustasi yang meledak-ledak. Napasnya memburu, bahunya naik turun menahan emosi yang sudah tak tertampung lagi. Ia berjalan cepat mendekati sisi jendela mobil Sella, lalu mengetuk kaca itu dengan keras.

‎‎"Buka pintunya!"

-

-

-

Bersambung...

1
Heny
Bagus risa pergi yg jauh biar waktu yg menentukan mrk akan menyesal
Turi77 Turi77
selesai ini km akan menyesali semua perbuatan mu raga,
fatmiatun sahono
begitu suami nya pergi ke luar kota. mending lah tinggal pergi saja itu suami nya
toh barbuk sdh ditangan
lsg cerai....wanita skrg hrs kuat percaya diri dan mampu berdiri di atas kaki sendiri...hehhehehe💪
Edy Sulaiman
inilah yg namanya manusia serakah SDH merusak rmh tangga orang tapi masih tetap m rasa kurang
Edy Sulaiman
masih menyimak saja dulu nmpknya bagus nih cerita.
Ranny
Amelia dasar perempuan perek murahan gampangan lobang mu itu sdh seperti wc umum ya 😄😄😄
Ranny
mandul teriak mandul 😄😄😄 nanti setelah terbongkar kalau dia sendiri yg mandul malu gak ya 🤭
Ranny
dasar pak Harun ortu lucnat ayah kandung berasa ayah tiri woiii punya otak kagak kok malah membela anak mantu tak beradab yg suka obral perkututnya his jijik deh dengan kelakuan mu itu
Ranny
Amelia kau mau dapat kecebong dr mana...paling kau akan dapat dr selingkuhan ya soalnya sekali kau merebut suami orang pasti akan ketagihan dan penasaran mau merasakan burung perkututnya pria lain lagi 😄😄😄
Ranny
lah dah betul kan perkiraan ku kalau Regan itu cucunya Oma yg hampir di tabrak dan di tolong Risa ☺️
🔥Violetta🔥: /Ok//Ok//Grin/
total 1 replies
Reni Setia
makasih untuk novelnya ya
🔥Violetta🔥: Sama-sama kakak 🙏😁
total 1 replies
Ranny
mungkinkah Regan ini cucunya Oma yg hampir di tabrak oleh Risa
Murni Sumiarti
Dibawah kendali asisten suami kok di noveltoon nggak ada?
🔥Violetta🔥: Iya kakak... saya hapus dulu karena kemarin sempat gak lolos kontrak.. mau direvisi total. Nanti saya up ulang kalau sudah direvisi 🙏😁
total 1 replies
Violet
Bersyukurlah utk para wanita yg bisa merdeka bercerai dr suami modelan Raga. Tetangga kompleks rumah sini ada sprti Risa yg sehat tp dicaci maki mandul pdhal sp*rma suaminya encer, nikah 20thn pilih cerai mlh ditekan mentalnya oleh suami & kluarga mlh sang ortu wanitanya jg ga dukung, smuanya blg kalo cerai ga ada yg bakalan mau sama janda yg ga bisa kasih anak. Sedih bgt tiap kali didoktrin gitu menciut lg nyalinya utk cerai 😭
🔥Violetta🔥: Amin... Kita doakan sama-sama untuk kakaknya yang disana... semoga diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menjalani ujian kehidupan 🙏😊
total 3 replies
Khansa Andini
kak buatin versi Raga untuk bisa nemuin wanita tulus lagu
🔥Violetta🔥: Nanti coba ya kak 😁🙏
total 1 replies
Agus Tina
Kamu menjaga harga diri suami kamu tapi kamu tifak jujur padanya Risa, seharusnya kamu jujur pada suamimu duku baru outuskan untuk menutupi semuanya pada mertuamu ...
Yunita Asep
uuhh serru..! author kerren..., suxes dan sehat slalu, lov yu...
🔥Violetta🔥: Terimakasih kakak 😁🙏
total 1 replies
Yunita Asep
ahaay deh., jadi malu2.., Gas langsung Regaann...!
Yunita Asep
lanjuutt..
Yunita Asep
syukurriin... makanyaa jangn ambil suami orang..!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!