Tak Lagi Mencintaimu

Tak Lagi Mencintaimu

Chapter 1

‎Meja makan besar di rumah orang tua Raga tertata rapi dengan berbagai hidangan lezat, aroma masakan khas yang selalu mengingatkan Risa pada kehangatan keluarga. Memang sudah menjadi jadwal rutin setiap bulan, mereka selalu diundang untuk makan malam bersama.

‎‎"Risa," suara Mama Rima terdengar lembut namun penuh sarkas, sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya, "Kamu sudah berumur tiga puluh tahun, Nak. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Tetangga, teman-teman Raga, semuanya sudah punya dua atau tiga anak, bahkan ada yang sudah masuk sekolah. Kok kamu masih saja belum ada tanda-tanda hamil juga sih,"

‎‎Tangan Risa yang sedang memegang sendok seketika terasa kaku. Dia menundukkan wajah, berusaha menahan rasa perih yang langsung menyeruak di dada. Sudah biasa memang, tapi rasa sakit itu tidak pernah hilang, meskipun ia tahu sepenuh hati bahwa ini semua bukan kesalahannya.

‎‎"Maaf, Ma… Kami memang sedang berusaha," jawab Risa pelan, berusaha menjaga nada bicaranya tetap sopan.

‎‎"Berusaha apa lagi?" potong Mama Rima cepat, matanya menatap tajam ke arah Risa. "Dulu kan kamu sendiri yang bilang, dokter bilang katanya kamu yang ada masalah, kamu yang mandul, tidak bisa mengandung. Itu fakta, kan? Kamu memang tidak bisa memberi cucu untuk Mama, tidak bisa memberi penerus untuk keluarga kami. Kasihan sekali anakku ini, sudah susah payah membangun karir, sukses, tapi malah dapat istri yang tidak sempurna seperti kamu."

‎‎Kata-kata itu keluar begitu saja, keras dan jelas, membuat suasana meja makan seketika menjadi hening. Papa Reza hanya diam menunduk, tidak berani menengahi, sementara Risa bisa merasakan mata semua orang tertuju padanya, penuh rasa iba atau bahkan penghakiman. Rasa panas menjalar di sudut matanya, ia berusaha sekuat tenaga agar air matanya tidak jatuh disana.

‎‎Namun, belum sempat Risa menjawab, tangan hangat segera menggenggam tangannya yang dingin dan gemetar. Sebuah suara tegas, berat, dan penuh kekuasaan segera terdengar, memotong semua ucapan ibunya.

‎‎"Ma, tolong bicara dengan sopan. Risa itu istriku, dan aku tidak suka Mama menghinanya seperti itu."

‎‎Itu suara Raga. Suami yang selama ini ia lindungi dengan sepenuh jiwa.

‎‎Raga menatap tajam ke arah ibunya, wajahnya terlihat serius dan tidak senang. Ia menarik tangan Risa agar lebih dekat kepadanya, seolah sedang melindungi harta paling berharga yang ia miliki.

‎‎"Risa istri yang sangat baik, Ma. Dia wanita yang sempurna bagiku. Dia yang mendukungku dari nol, dia yang menemaniku susah senang, dia yang mengurus rumah dan hidupku dengan sangat baik. Masalah anak itu urusan Tuhan, Ma. Bukan berarti karena belum punya anak, maka Risa jadi wanita yang buruk atau kurang sempurna. Bagiku, Risa sudah segalanya. Aku tidak butuh apa-apa lagi selama aku punya dia."

‎"Tapi keluarga kita butuh penerus, Raga. Kalau dia tidak berguna, buat apa dipertahankan?!" seru Mama Rima dengan nada meninggi, wajahnya memerah menahan emosi. "Kamu itu anak tunggal! Siapa nanti yang akan meneruskan nama besar keluarga kita? Siapa yang akan mewarisi semua yang sudah Papa dan Mama bangun? Dia? Wanita yang tidak bisa melahirkan ini? Mustahil! Kamu seharusnya cari wanita lain, wanita yang sehat, wanita yang bisa memberimu banyak anak, bukan hanya diam saja seperti dia!"

‎‎Kata-kata itu semakin tajam, menusuk tepat ke ulu hati Risa. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, berusaha menahan isak tangis yang hampir keluar.

‎‎Wajah Raga semakin mengeras, tatapannya tajam menusuk ibunya, napasnya terdengar memburu karena menahan amarah.

‎‎"Cukup, Ma! Aku tidak mau dengar kata-kata itu lagi!" bentak Raga, suaranya bergema keras di ruang makan itu. "Risa bukan barang yang bisa dibuang atau diganti sesuka hati! Dia istriku, wanita yang aku nikahi dan aku janjikan akan kujaga seumur hidupku. Aku tidak akan pernah menggantikannya dengan siapa pun, hanya karena alasan konyol seperti itu! Penerus keluarga bukan hanya soal darah dan keturunan, Ma! Yang paling penting adalah kesetiaan dan kasih sayang, dan itu semua sudah aku dapatkan penuh dari Risa!"

‎‎Ia menjeda ucapannya, lalu menatap ibunya dengan tatapan dingin.

‎‎"Kalau Mama masih terus menghina dan menyakiti Risa, maaf… mulai sekarang kami akan jarang sekali datang kesini. Aku tidak akan membiarkan istriku dipermalukan di rumah orang tuaku sendiri."

‎‎Mama Rima terbelalak kaget, tidak menyangka anak kesayangannya itu berani menentangnya sekeras itu. Ia hendak membantah lagi, tapi melihat wajah Raga yang sungguh-sungguh marah, mulutnya terkatup rapat, hanya bisa mendengus kesal sambil memutar bola matanya dengan sinis.

‎Raga kembali menoleh, menatap Risa dengan tatapan lembut yang hangat.

‎‎"Maaf ya, Sayang… Kamu baik-baik saja kan?" bisik Raga pelan, hanya terdengar oleh Risa.

‎‎Risa mengangguk cepat, sambil menyeka air matanya dengan senyum bahagia.

‎‎"Aku baik-baik saja, Mas. Terimakasih… terimakasih sudah selalu membelaku,” jawab Risa dengan suara bergetar karena haru.

"‎‎Selama aku ada, tidak ada seorang pun yang boleh menyakiti kamu, bahkan ibuku sendiri sekalipun,” balas Raga lembut, lalu mengecup kening istrinya itu di hadapan orang tuanya.

‎‎Pemandangan itu membuat Mama Rima terdiam seribu bahasa, wajahnya memerah karena malu dan kalah, lalu ia mendengus kesal dan kembali makan dengan diam.

‎‎-

-

‎‎Dalam perjalanan pulang di dalam mobil, Raga kembali menggenggam tangan Risa, sesekali mengusapnya dengan lembut.

‎‎"Maafkan Mama ya, Sayang. Dia memang begitu, kadang mulutnya tajam tanpa berpikir panjang. Tapi kamu jangan ambil hati, ya. Bagiku, kamu tetap istri terbaik di dunia," ucap Raga lembut, sambil menatap jalanan di depannya.

‎‎Risa tersenyum bahagia, menyandarkan kepalanya di bahu bidang suaminya.

‎‎"Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah terbiasa. Yang penting kamu ada disini, percaya padaku, dan juga mencintaiku. Itu sudah cukup bagiku. Selama kita saling mencintai, masalah apapun pasti bisa kita lewati bersama," jawab Risa dengan suara penuh ketulusan.

‎‎Sesampainya di halaman rumah, Raga mematikan mesin mobil. Suasana hening sejenak, sampai suara notifikasi pesan masuk terdengar jelas dari arah saku jaketnya.

‎‎Raga mengeluarkan ponselnya, wajahnya seketika berubah kaku saat melihat siapa yang mengirimkan pesan. Dia memalingkan wajah dan tubuhnya sedikit ke samping, seolah sengaja menghalangi pandangan Risa. Jarinya bergerak cepat di layar, rahangnya mengeras, dan sorot matanya berubah gelisah.

‎‎Risa yang melihat itu hanya diam, merasa ada yang tidak beres namun tidak berani bertanya. Belum sempat ia membuka mulut, Raga sudah kembali menoleh.

‎‎"Sayang… maaf banget ya," ucap Raga sambil mengusap pelan punggung tangan Risa, "Tadi ada pesan dari kantor. Ada laporan penting yang ada kesalahan data, harus segera diperbaiki dan dikirim malam ini juga. Kalau tidak, besok proyek besar kita bisa gagal. Aku harus kembali ke kantor sekarang."

‎‎Hati Risa seketika memberat. "Sekarang, Mas? Kan sudah larut malam, kita baru saja sampai…"

‎‎"Aku juga tidak mau, Sayang. Tapi ini darurat, berat sekali konsekuensinya kalau diabaikan," potong Raga cepat, "Kamu masuk duluan ya, istirahatlah. Aku usahakan cepat selesai dan segera pulang buat nemenin kamu."

‎‎Risa menatap wajah suaminya, ia tidak mau menjadi istri yang egois, yang menghalangi pekerjaan suami demi kepentingan pribadi. Dengan berat hati Risa akhirnya mengangguk pelan, menelan rasa kecewa yang mengganjal di dada.

‎‎"Baiklah, Mas. Hati-hati di jalan ya. Jangan memaksakan diri," ucap Risa lembut, lalu perlahan membuka pintu mobil dan turun ke halaman.

‎‎Ia berdiri disana, menatap mobil itu berputar balik, lalu melaju cepat keluar dari pagar rumahnya hingga akhirnya menghilang di tikungan jalan yang gelap. Baru saja ia hendak berbalik menuju pintu rumah, suara notifikasi pesan masuk kembali terdengar, kali ini dari ponsel yang ada di tangannya.

‎‎Risa mengerutkan kening, lalu membuka pesan itu. Tidak ada nama pengirim, nomornya pun tidak dikenal. Isi pesan itu membuat darah di tubuhnya seketika berhenti mengalir, bulu kuduknya meremang, dan jantungnya berdegup kencang tidak karuan.

‎‎[ Ikuti mobil suamimu sekarang, dan kamu akan tahu rahasia besar yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat di belakangmu.]

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

punya slengkian sih gelagatnya🤣

2026-06-05

0

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

weehhh.. ada yg baru😱😱

2026-06-05

0

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

yuhuuuuu.. hadir di karya baru.. semoga sukses untuk karya barunya.. Vote meluncur

2026-06-05

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Karya Baru
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!