Chapter 4

‎Risa terpaku di tempat, matanya menatap lekat-lekat setiap inci wajah wanita itu, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak salah lagi, ini benar-benar wanita yang memeluk suaminya semalam, yang berciuman mesra dengan Raga dan saling berbagi keringat didalam mobil mereka.

‎‎"Selamat siang," jawab Risa pelan, nada suaranya tetap lembut namun penuh perhatian yang tajam. "Maaf, boleh saya bertanya sedikit?"

‎‎Wanita itu sedikit mengerutkan kening, terlihat sedikit canggung namun tetap tersenyum sopan.

‎‎"Tentu saja, Bu. Ada yang bisa saya bantu?"

‎‎Risa mengangguk pelan.

‎‎"Siapa nama kamu? Dan sudah berapa lama kamu bekerja di kantor ini? Saya cukup mengenal para karyawan yang bekerja disini, tapi rasanya saya belum pernah melihat wajahmu sebelumnya."

‎‎Mendengar pertanyaan itu, sekelebat rasa gugup terlihat di wajah wanita itu, namun ia segera menutupinya dengan senyum lembut dan sopan.

‎‎"Nama saya Amelia, Bu," jawabnya dengan suara lembut, "Saya sudah bekerja disini selama enam bulan."

‎‎Enam bulan? Batin Risa tertawa getir, hatinya terasa perih sampai menusuk tulang. Apakah selama itu dia terus dibohongi oleh suaminya sendiri? Atau mungkin hubungan mereka sudah berlangsung jauh lebih lama dari itu, dan angka itu hanyalah kebohongan murahan yang mereka buat bersama?

‎‎"Amelia…" ulang Risa pelan, nama itu terasa begitu pahit di lidahnya. "Akhir-akhir ini saya memang jarang sekali datang ke kantor suami saya ini, jadi saya tidak tahu kalau suami saya telah merekrut orang-orang baru, bahkan sudah bekerja cukup lama,"

‎‎Di tengah percakapan mereka yang masih berlangsung, suara langkah kaki cepat terdengar mendekat. Raga muncul dari ujung lorong, wajahnya tampak sedikit cemas seperti sedang mencari seseorang. Begitu matanya tertuju pada Risa, ekspresinya seketika berubah lega, lalu ia segera berjalan menghampiri mereka berdua.

‎‎"Sayang! Ternyata kamu ada disini, aku sudah mencari kemana-mana di seluruh kantor, aku khawatir kamu tersesat atau ada hal lain yang terjadi," ucap Raga dengan nada suara yang penuh kekhawatiran, lalu ia langsung berdiri di samping Risa, tangannya secara alami merangkul bahu istrinya dengan erat.

‎‎Mata Raga kemudian beralih ke arah Amelia, senyum sopan tergambar di wajahnya, senyum yang sama sekali tidak menunjukkan hubungan rahasia apapun di antara mereka.

‎‎"Ah, kebetulan kalian sudah saling ngobrol," ucap Raga santai, "Sayang, ini Amelia. Dia adik dari temanku sewaktu kuliah dulu. Sekarang dia bekerja disini, dibagian administrasi umum,"

‎‎"Oh begitu rupanya, Mas. Pantas saja aku belum pernah melihatnya, padahal dia sudah bekerja cukup lama," jawab Risa dengan nada santai, seolah benar-benar percaya semua kata yang keluar dari mulut suaminya. "Kalau begitu aku pergi sekarang ya, Mas. Sudah ada janji dengan Sella di kafe soalnya."

‎‎Raga langsung mengangguk, wajahnya terlihat lega karena Risa tidak menanyakan hal lain yang mencurigakan. Ia segera mengusap lembut lengan istrinya.

‎‎"Baiklah, Sayang. Pergilah, jangan sampai terlambat bertemu sahabatmu. Hati-hati di jalan ya. Nanti kalau pekerjaanku sudah selesai semua, aku langsung pulang ke rumah," ucap Raga lembut.

‎‎"Iya, Mas. Kamu juga bekerja dengan baik, jangan terlalu lelah," jawab Risa lembut, lalu melirik sekilas ke arah Amelia yang masih menundukkan kepala, "Selamat bekerja, Amelia. Semoga kamu betah dan bekerja dengan baik disini."

‎‎"T-terimakasih, Bu Risa… Hati-hati dijalan," jawab Amelia terbata-bata.

‎‎Risa tidak menanggapi lagi, ia hanya tersenyum tipis, lalu berbalik dan melangkah pergi perlahan meninggalkan mereka berdua. Begitu sosok Risa benar-benar menghilang dari pandangan matanya, Amelia menarik napas lega.

‎‎"Sayang..." bisik Amelia manja, suaranya berubah lembut dan menggoda, ia sedikit mendekatkan tubuhnya ke arah Raga, "Aku benar-benar gugup banget tadi, takut Mba Risa curiga sama kita,"

‎‎Wajah lembut dan santai Raga seketika hilang, digantikan wajah tegas dan dingin. Ia segera menahan bahu Amelia, lalu menatap sekelilingnya dengan cepat, memastikan tidak ada satu pun karyawan yang lewat atau mendengar obrolan mereka.

‎‎"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku seperti itu di kantor," bisik Raga rendah dengan nada tegas dan peringatan, matanya menatap tajam ke arah Amelia. "Disini aku adalah atasanmu, kamu adalah karyawanku. Jangan sampai ada yang melihat atau mendengar sedikit pun hal yang tidak pantas, paham?"

‎‎Amelia langsung mengangguk takut, bibirnya sedikit cemberut karena ditegur, namun ia tidak berani membantah sedikitpun.

‎‎"I-iya, Mas… Maaf, aku lupa. Aku tidak akan mengulanginya lagi," jawabnya pelan.

‎‎Raga menghela napas pendek, lalu kembali melirik ke arah tempat Risa pergi, sebelum kembali menatap Amelia dengan pandangan yang penuh gairah namun tetap berhati-hati.

‎‎"Datang ke ruanganku dalam sepuluh menit," bisiknya pelan, nada suaranya berubah lembut namun penuh perintah, "Segeralah menyusul, jangan buat aku menunggu lama,"

‎‎Wajah Amelia seketika berubah cerah, senyum manja kembali tergambar di bibirnya, ia mengangguk cepat dengan mata berbinar bahagia.

‎‎"Baik, Mas… Aku akan datang tepat waktu," jawabnya lembut.

‎‎Raga mengangguk singkat, lalu segera pergi lebih dulu seolah tidak ada apa-apa yang terjadi di antara mereka. Amelia tetap berdiri diam sebentar, menatap punggung Raga yang menjauh sebelum akhirnya dia mulai melangkahkan kakinya mengikuti ke arah pria itu pergi.

-

-

-

‎Saat berjalan menuju lobi kantor, tepat di dekat meja resepsionis, Risa berpapasan dengan Andin yang baru saja selesai mengambil berkas. Risa segera menghentikan langkahnya, lalu menyapa wanita itu dengan sopan.

‎‎"Andin, boleh saya bicara sebentar?"

‎‎Andin segera berhenti, lalu tersenyum ramah. "Tentu saja, Bu Risa. Ada yang bisa saya bantu?"

‎‎Risa menatap sekelilingnya sebentar, lalu kembali menatap Andin.

‎‎"Saya mau tanya, apakah benar besok Mas Raga akan pergi keluar kota untuk urusan pekerjaan, dan akan tinggal disana selama satu minggu?"

‎‎Mata Andin sedikit berkedip, namun ia segera menjawab dengan jujur, tidak ada rasa curiga sedikitpun.

‎‎"Benar sekali, Bu. Pak Raga memang sudah ada jadwal rapat dan peninjauan proyek cabang di kota sebelah, berangkat besok pagi dan pulang tepat seminggu kemudian."

‎‎Risa mengangguk pelan, lalu melanjutkan pertanyaannya yang paling ia inginkan.

‎‎"Kalau begitu, apakah kamu ikut pergi bersamanya? Biasanya kan kamu yang selalu mendampingi Mas Raga dalam perjalanan dinas seperti ini."

‎‎Andin segera menggelengkan kepalanya dengan tegas, "Tidak ikut, Bu. Kali ini Pak Raga menyuruh saya tetap berada di kantor, mengurus semua urusan administrasi yang tertinggal disini. Beliau bilang perjalanan kali ini tidak butuh pendampingan staf tambahan, jadi saya tidak perlu ikut."

‎Jawaban itu membuat kecurigaan dihati Risa semakin besar, kemungkinan Raga akan mengajak Amelia untuk ikut bersamanya.

‎‎"Baiklah, terimakasih banyak informasinya, Andin," ucap Risa dengan senyum tipis. "Kalau begitu saya pamit pergi dulu,"

‎"Sama-sama, Bu Risa. Hati-hati di jalan ya," jawab Andin ramah.

‎‎Risa mengangguk, lalu melangkah keluar meninggalkan gedung perkantoran itu. Matahari siang yang terik menyinari tubuhnya, tapi hatinya terasa sedingin es. Semua kepingan teka-teki sudah lengkap, semua kebohongan terbuka jelas di depan matanya.

‎‎Perjalanan keluar kota itu pasti bukan untuk bekerja semata, melainkan juga liburan berdua dengan wanita selingkuhannya.

‎Risa berhenti sejenak di halaman depan gedung, pandangannya menatap kosong ke arah jalan raya yang ramai, napasnya keluar perlahan dan berat, seolah ada beban berat yang menekan dadanya hingga sulit bernapas. Air mata perlahan menetes di pipinya, jatuh satu persatu membasahi kulit yang terasa panas terkena sinar matahari, namun ia sama sekali tidak peduli.

‎‎"Selama ini aku menutupi kekuranganmu demi menjaga harga dirimu, tapi balasanmu adalah pengkhianatan." batinnya menjerit pilu, rasa sakit itu terasa menusuk sampai ke tulang sumsum, rahangnya mengeras erat menahan amarah dan kesedihan yang meledak di dada.

‎Risa menghapus air matanya dengan kasar, ‎"Mulai hari ini, aku tidak mau lagi menjadi orang yang selalu mengalah, Mas! Tunggu sampai semua bukti ada di tanganku. Saat itu tiba, aku akan membuatmu menanggung semua kesalahanmu."

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Rizky Manik

Rizky Manik

semangat Risa cari buktinya. ikuti aja ke luar kota itu terus Poto 💪💪💪💪

2026-06-07

0

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

mau anuu🤧🤧 dasar biawak rawa🤧

2026-06-08

0

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

lama loh ituuu

2026-06-07

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Karya Baru
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!