Chapter 3

‎Risa melangkah maju selangkah, menatap suaminya itu lekat-lekat, menatap wajah yang selama ini ia puja, menatap bibir yang baru saja berciuman mesra dengan wanita lain, menatap tangan yang tadi saling memeluk tubuh orang asing dengan penuh nafsu. Rasa mual kembali muncul di tenggorokannya, namun ia berhasil menahannya dengan kuat.

‎‎"Aku menunggumu, Mas," jawab Risa dengan nada suara yang lembut dan tenang. Ia menatap lurus ke manik mata Raga yang kini mulai menghindari tatapannya.

‎‎"Kenapa pulang sampai sepagi ini? Memangnya pekerjaan apa yang sedang Mas tangani sampai harus meninggalkan istri di rumah, dan menghabiskan waktu sampai jam tiga pagi?"

‎‎Pertanyaan itu keluar begitu saja, ringan dan wajar, namun bagi Raga, pertanyaan itu terdengar seperti jeratan tali yang perlahan mengencang di lehernya. Ia menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai bermunculan di pelipisnya.

‎‎"I-itu… tadi kan sudah aku bilang, Sayang. Ada kesalahan data yang fatal di laporan proyek besar itu. Aku harus memperbaikinya satu persatu, harus mengecek semuanya sampai benar-benar tepat. Makanya selesainya lama, sampai tidak terasa sudah jam tiga pagi," jawab Raga dengan nada yang dibuat-buat terdengar lelah dan terbebani, sambil mengusap lehernya seolah benar-benar kelelahan bekerja.

‎‎Ia berharap alasan itu cukup untuk menenangkan Risa, berharap istrinya yang polos itu akan segera percaya dan kembali bersikap manis seperti biasa.

‎‎Namun, Risa hanya diam sejenak, matanya masih terus menatap Raga, menatap setiap perubahan ekspresi wajah suaminya itu. Di dalam hatinya, ia tertawa getir. Pekerjaan? Kesalahan data? Padahal bajunya masih berbau parfum mahal yang tidak pernah Risa miliki, di lehernya juga terlihat bekas merah samar akibat ciuman wanita itu.

‎‎Rasa sakit itu kembali menghantam dadanya, tapi Risa tetap mempertahankan senyum tipisnya.

‎‎"Begitu rupanya," ucap Risa pelan, nadanya tetap lembut, namun ada getaran dingin yang tersembunyi di dalamnya. "Kalau begitu, terimakasih sudah bekerja keras demi kita, Mas. Sekarang cepatlah mandi dan istirahat. Malam sudah sangat larut,"

‎‎"Baiklah, Sayang. Aku langsung mandi dan istirahat, kamu juga langsung tidur ya, tidak perlu menungguku sampai selesai mandi," jawab Raga lega, merasa istrinya benar-benar percaya dengan alasan bohongnya itu. Ia menghela napas panjang, lalu berjalan cepat menuju kamarnya.

‎Risa hanya mengangguk pelan, menatap punggung suaminya yang menghilang di balik dinding yang memisahkan ruang tamu dan ruang tengah. Senyum tipis di wajahnya perlahan lenyap, digantikan oleh tatapan dingin. Dia tidak percaya sedikitpun, ia hanya ingin melihat seberapa jauh kebohongan ini akan berlanjut, ia ingin mengumpulkan semua bukti, sebelum ia benar-benar mengakhiri segalanya.

‎‎Risa kembali duduk di sofa, menggulir layar ponselnya dan membuka kembali pesan misterius yang dia dapatkan sebelumnya. Dia mencoba menghubungi nomor si pengirim untuk mengetahui siapa sebenarnya yang mengirimkan pesan itu padanya, namun nomor yang dia hubungi itu sudah tidak aktif.

-

-

-

‎‎Sinar matahari pagi masuk menerangi ruang makan. Aroma nasi goreng hangat, telur dadar, dan kopi yang baru diseduh memenuhi seluruh ruangan. Risa sudah menyiapkan semuanya dengan rapi, seperti yang biasa ia lakukan setiap pagi.

‎‎Raga keluar dari kamar dengan wajah segar, tidak ada lagi rasa gugup atau ketakutan semalam. Ia kembali bersikap lembut, bersikap sebagai suami yang sempurna, seolah tidak pernah terjadi apa-apa di malam sebelumnya. Ia duduk di sebelah Risa, lalu tersenyum manis sambil mengambil sendok.

‎‎"Wah, enak sekali masakanmu, Sayang. Kamu memang yang paling pandai mengurus rumah dan mengurusku," puji Raga, lalu segera menyantap sarapannya dengan lahap.

‎‎Risa tersenyum lembut, tetap bersikap seperti biasanya.

‎‎"Makanlah sampai kenyang, Mas. Biar kuat kerjanya," ucap Risa santai, sambil sesekali memandangi wajah suaminya.

‎‎Beberapa saat kemudian, Raga meletakkan sendoknya, lalu menatap Risa.

‎‎"Ngomong-ngomong Sayang, besok aku harus pergi keluar kota selama satu minggu. Ada rapat besar sekaligus peninjauan proyek cabang di kota sebelah. Jadi nanti tolong siapkan koper dan semua pakaianku ya,"

‎‎Hati Risa sedikit berdenyut kencang, namun raut wajahnya tetap tenang tanpa ada perubahan sedikitpun. Ia tahu benar, perjalanan keluar kota itu pasti bukan urusan pekerjaan semata. Pasti ada hubungannya dengan wanita semalam.

‎"Baiklah Mas, nanti aku siapkan semuanya," jawab Risa lembut, tanpa menampakkan rasa curiga sedikitpun.

‎‎"Terimakasih, Sayang. Kamu memang istri terbaik," ucap Raga puas, lalu kembali melanjutkan sarapannya.

‎‎Setelah selesai makan, Raga berdiri, merapikan sedikit jasnya, lalu menoleh ke arah Risa yang sedang membereskan piring.

‎‎"Aku berangkat kerja dulu ya, Sayang. Hati-hati di rumah, nanti malam aku pulang seperti biasa," pamit Raga, lalu membungkuk sedikit mencium kening Risa.

‎‎Risa tidak menolak, ia hanya diam membiarkan ciuman itu mendarat di keningnya dengan dingin.

‎‎"Hati-hati di jalan ya, Mas," jawab Risa dengan nada yang tetap sama.

‎Raga tersenyum, lalu segera berjalan keluar rumah dengan diantar oleh Risa sampai ke teras. Raga masuk kedalam mobil dan melajukannya pergi meninggalkan halaman rumah.

‎‎Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, senyum di wajah Risa seketika lenyap. Ia harus tahu kebenaran, memastikan apakah wanita semalam itu benar-benar bekerja di kantor suaminya, atau hanya sekedar wanita penggoda yang datang diam-diam. Dan siang ini, ia akan mencari tahu semuanya sendiri.

‎‎-

‎-

-

‎‎Jam menunjukkan pukul dua belas siang, waktu istirahat makan siang.

‎‎Risa sudah berpakaian rapi, mengenakan dress pendek selutut, rambutnya dibiarkan tergerai. Di tangannya ia membawa kotak makan siang yang besar, berisi masakan rumahan yang dia masak sendiri. Ia berjalan masuk menuju gedung perkantoran tempat Raga bekerja, tempat yang sudah sering ia kunjungi sebelumnya.

‎‎Begitu sampai di lantai teratas, para karyawan yang mengenalnya segera menyapa dengan ramah.

‎‎"Selamat siang, Bu Risa! Wah, cantik sekali hari ini," sapa sekretaris Raga dengan ramah.

‎‎"Selamat siang, Andin. Terimakasih," jawab Risa sambil tersenyum ramah. "Saya membawa bekal makan siang untuk Mas Raga. Dia ada di ruangannya kan?"

‎‎"Ada Bu, baru saja selesai rapat. Silakan masuk saja," jawab Andin.

‎‎Risa mengangguk, lalu berjalan perlahan menuju ruang kerja suaminya. Sepanjang jalan matanya mengamati setiap wajah karyawan yang ada di sana, mencari-cari wajah yang sangat ia ingat semalam.

‎‎Ia melihat wajah satu persatu, namun tidak ada yang sama.

‎‎Risa mengetuk pintu ruangan Raga pelan, sebelum membukanya dan masuk kedalam.

‎‎"Sayang? Kamu kok datang kesini? Ada apa?" tanya Raga cepat, segera berdiri menyambutnya.

‎‎"Aku membawa makan siang untukmu, Mas. Kasihan kalau kamu makan makanan luar terus, kurang sehat," jawab Risa lembut, meletakkan kotak makan itu di atas meja yang ada disudut ruangan. "Aku juga sekedar ingin melihat suasana kantormu, sudah lama tidak kesini."

‎"Ah, terimakasih banyak Sayang. Kamu benar-benar perhatian sekali," ucap Raga, segera duduk di sofa dan membuka kotak makan itu dengan senyum bahagia.

‎‎Sementara Raga sibuk dengan makanannya, Risa menatap sekeliling ruangan sebentar sebelum menatap suaminya kembali.

‎‎"Makanlah pelan-pelan, Mas," ucap Risa lembut. "Aku mau berkeliling sebentar, mau lihat-lihat sekalian menyapa karyawan kamu. Nanti aku langsung pulang, tidak lama kok."

‎‎Raga mengangguk cepat, "Baiklah Sayang, silakan saja. Kalau sudah selesai langsung pulang ya,"

‎‎"Iya, Mas," jawab Risa sambil tersenyum tipis, lalu berdiri dan melangkah keluar dari ruangan kerja Raga, menutup pintunya pelan.

‎‎Di lorong kantor yang luas itu, Risa berjalan perlahan, matanya mengamati setiap sudut, setiap wajah orang yang lewat, sambil sesekali menyapa dan mengobrol sebentar dengan staf yang ia kenal. Ia sengaja berlama-lama, berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain, menyusuri setiap lorong, seolah benar-benar hanya ingin melihat-lihat suasana kantor. Padahal hatinya berdebar kencang, setiap langkahnya penuh perhatian, berharap sekaligus takut akan bertemu orang yang ada di dalam ingatannya semalam.

‎‎Ia terus berjalan, sampai akhirnya tiba di lorong dekat kamar mandi umum kantor. Saat itu juga, pintu kamar mandi wanita terbuka perlahan.

‎‎Jantung Risa seketika berhenti berdetak, darahnya mendidih hebat, seluruh tubuhnya terasa kaku dan dingin.

‎"Selamat siang, Bu Risa,"

-

-

-

Bersambung...

Terpopuler

Comments

cinta semu 2

cinta semu 2

main cerdik lah Risa jgn pergi dulu sebelum menguras habis harta Raga ...Krn setia itu mahal ...jika sudah di khianati mending suami durjana di buat miskin harta & mental

2026-06-26

1

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

lagi proyek bikin kecebong ehh/Silent//Silent//Silent/

2026-06-06

0

〈⎳ FT. Zira

〈⎳ FT. Zira

jodoh mu berikutnya🤭

2026-06-06

0

lihat semua
Episodes
1 Chapter 1
2 Chapter 2
3 Chapter 3
4 Chapter 4
5 Chapter 5
6 Chapter 6
7 Chapter 7
8 Chapter 8
9 Chapter 9
10 Chapter 10
11 Chapter 11
12 Chapter 12
13 Chapter 13
14 Chapter 14
15 Chapter 15
16 Chapter 16
17 Chapter 17
18 Chapter 18
19 Chapter 19
20 Chapter 20
21 Chapter 21
22 Chapter 22
23 Chapter 23
24 Chapter 24
25 Chapter 25
26 Chapter 26
27 Chapter 27
28 Chapter 28
29 Chapter 29
30 Chapter 30
31 Chapter 31
32 Chapter 32
33 Chapter 33
34 Chapter 34
35 Chapter 35
36 Chapter 36
37 Chapter 37
38 Chapter 38
39 Chapter 39
40 Chapter 40
41 Chapter 41
42 Chapter 42
43 Chapter 43
44 Chapter 44
45 Chapter 45
46 Chapter 46
47 Chapter 47
48 Chapter 48
49 Chapter 49
50 Chapter 50
51 Chapter 51
52 Chapter 52
53 Chapter 53
54 Chapter 54
55 Chapter 55
56 Chapter 56
57 Chapter 57
58 Chapter 58
59 Chapter 59
60 Chapter 60
61 Chapter 61
62 Chapter 62
63 Chapter 63
64 Chapter 64
65 Chapter 65
66 Chapter 66
67 Chapter 67
68 Chapter 68
69 Chapter 69
70 Chapter 70
71 Chapter 71
72 Chapter 72
73 Chapter 73
74 Chapter 74
75 Chapter 75
76 Chapter 76
77 Chapter 77
78 Chapter 78
79 Chapter 79
80 Chapter 80
81 Chapter 81
82 Chapter 82
83 Chapter 83
84 Chapter 84
85 Chapter 85
86 Chapter 86
87 Chapter 87
88 Chapter 88
89 Chapter 89
90 Chapter 90
91 Chapter 91
92 Chapter 92
93 Chapter 93
94 Chapter 94
95 Chapter 95
96 Chapter 96
97 Chapter 97
98 Chapter 98
99 Chapter 99
100 Chapter 100
101 Chapter 101
102 Chapter 102
103 Karya Baru
Episodes

Updated 103 Episodes

1
Chapter 1
2
Chapter 2
3
Chapter 3
4
Chapter 4
5
Chapter 5
6
Chapter 6
7
Chapter 7
8
Chapter 8
9
Chapter 9
10
Chapter 10
11
Chapter 11
12
Chapter 12
13
Chapter 13
14
Chapter 14
15
Chapter 15
16
Chapter 16
17
Chapter 17
18
Chapter 18
19
Chapter 19
20
Chapter 20
21
Chapter 21
22
Chapter 22
23
Chapter 23
24
Chapter 24
25
Chapter 25
26
Chapter 26
27
Chapter 27
28
Chapter 28
29
Chapter 29
30
Chapter 30
31
Chapter 31
32
Chapter 32
33
Chapter 33
34
Chapter 34
35
Chapter 35
36
Chapter 36
37
Chapter 37
38
Chapter 38
39
Chapter 39
40
Chapter 40
41
Chapter 41
42
Chapter 42
43
Chapter 43
44
Chapter 44
45
Chapter 45
46
Chapter 46
47
Chapter 47
48
Chapter 48
49
Chapter 49
50
Chapter 50
51
Chapter 51
52
Chapter 52
53
Chapter 53
54
Chapter 54
55
Chapter 55
56
Chapter 56
57
Chapter 57
58
Chapter 58
59
Chapter 59
60
Chapter 60
61
Chapter 61
62
Chapter 62
63
Chapter 63
64
Chapter 64
65
Chapter 65
66
Chapter 66
67
Chapter 67
68
Chapter 68
69
Chapter 69
70
Chapter 70
71
Chapter 71
72
Chapter 72
73
Chapter 73
74
Chapter 74
75
Chapter 75
76
Chapter 76
77
Chapter 77
78
Chapter 78
79
Chapter 79
80
Chapter 80
81
Chapter 81
82
Chapter 82
83
Chapter 83
84
Chapter 84
85
Chapter 85
86
Chapter 86
87
Chapter 87
88
Chapter 88
89
Chapter 89
90
Chapter 90
91
Chapter 91
92
Chapter 92
93
Chapter 93
94
Chapter 94
95
Chapter 95
96
Chapter 96
97
Chapter 97
98
Chapter 98
99
Chapter 99
100
Chapter 100
101
Chapter 101
102
Chapter 102
103
Karya Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!