Chen Guowei, buruh konstruksi yang tewas tertimpa rangka baja akibat kecelakaan kerja yang disengaja oleh Lu Group, diberi kesempatan hidup kedua selama 365 hari oleh penjaga jiwa Shen Wuming.
Ia bangkit kembali dalam tubuh Lu Jingyan, pewaris keluarga Lu yang baru siuman dari koma.
Terikat aturan dilarang mengungkap identitas, Guowei mendekati istri dan keluarganya sebagai Jingyan sambil menyelidiki konspirasi di balik kematiannya dan melindungi keluarganya dari ancaman.
Di tengah konflik perebutan kekuasaan keluarga Lu dan kecurigaan istrinya, Lin Meiying, Guowei harus memilih: menuntaskan misi 365 hari atau menghadapi takdir mati untuk kedua kalinya saat keluarganya menyadari kepulangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Bayang-Bayang di Gerbang Sekolah
Matahari sore baru saja meluncur turun di ufuk barat, menyisakan bias jingga keemasan yang memantul di atas hamparan kaca gedung-gedung komersial kota. Di sudut sebuah sekolah dasar swasta yang terletak di kawasan perumahan menengah ke atas, bel tanda jam kepulangan sekolah berbunyi nyaring, memecah kesunyian sore hari dan disambut oleh deru tawa riang anak-anak kecil yang berlarian keluar melalui gerbang utama.
Di antara kerumunan para pengantar dan pengasuh yang menunggu, Lin Meiying berdiri seorang diri di trotoar. Ia mengenakan jaket kain katun pudar yang sama, dengan tas selempang usang tersampir di bahunya. Meskipun kelelahan luar biasa akibat seharian berkeliling kota mencari lowongan pekerjaan tambahan masih merayap di persendian tubuhnya, secercah senyum tulus tampak menghiasi bibirnya begitu ia melihat sosok kecil yang sangat dicintainya melangkah keluar dari halaman sekolah.
"Ibu...!"
Chen Anqi bersorak girang sambil melambaikan tangan kecilnya, lalu berlari kencang menerobos kerumunan anak-anak lain menghambur ke pelukan Meiying. Bocah perempuan itu memeluk erat pinggang sang ibu, membawa serta aroma buku tulis baru dan wangi khas anak-anak.
Meiying berjongkok menyamakan tinggi tubuh putrinya, mengusap lembut rambut kusut Anqi dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana hari sekolahmu hari ini, Sayang? Apakah gurumu mengajar dengan menyenangkan?"
"Sangat seru, Ibu!" jawab Anqi antusias sambil memperlihatkan sebuah gambar lukisan krayon di atas kertas lipat. "Tadi aku menggambar pemandangan rumah baru kita yang lengkap dengan taman bunga di depannya. Kata guru, gambarku bagus sekali!"
Melihat binar kebahagiaan di mata putrinya, hati Meiying terasa diiris sembilu. Rumah baru dengan taman bunga hanyalah angan-angan kosong bagi mereka saat ini. Ancaman pengusiran dari kontrakan sempit memang berhasil diredam sementara berkat bantuan misterius dari pihak rumah sakit, namun uang di dompet Meiying semakin menipis setiap harinya. Ia belum tahu bagaimana cara membayar uang sekolah bulan depan atau mencukupi kebutuhan makan mereka minggu depan.
Namun, di balik rasa putus asa itu, Meiying tidak pernah menunjukkan kesedihannya di hadapan sang buah hati. Ia menggenggam tangan kecil Anqi erat-erat, mengajak putrinya berjalan kaki menyusuri trotoar menuju halte bus terdekat.
Tanpa mereka sadari, dari balik kaca gelap sebuah sedan hitam mewah yang terparkir di seberang jalan raya, sepasang mata tajam mengamati setiap gerak-gerik mereka dalam diam.
Lu Jingyan duduk di jok belakang mobil tersebut, menatap punggung Meiying dan Anqi dengan dada yang bergemuruh hebat. Sejak kejatuhan Zhao Tianming di dewan direksi kemarin, pikirannya tidak pernah tenang sedetik pun. Di tengah kesibukannya merombak struktur operasional Lu Group, bayangan tentang istri dan anaknya yang hidup dalam kekurangan selalu menghantui setiap malam panjangnya.
"Apakah semua keperluan administratif sekolah Anqi sudah diselesaikan secara diam-diam seperti instruksi saya, Han?" tanya Jingyan tanpa mengalihkan pandangannya dari kejauhan.
Di kursi pengemudi, Sekretaris Han mengangguk hormat melalui spion tengah. "Sudah, Tuan Muda. Seluruh biaya SPP tahun ajaran ini hingga tingkat kelanjutan sekolah menengah Anqi telah dilunasi sepenuhnya melalui yayasan pendidikan terafiliasi. Pihak kepala sekolah juga sudah diinstruksikan untuk memberikan beasiswa khusus tanpa membiarkan Nyonya Meiying mengetahui siapa donaturnya."
Jingyan menghela napas pelan, meresapi rasa lega yang sekilas mendinginkan dadanya. Namun, rasa bersalah itu tidak serta-merta luntur. Melihat Meiying harus berjalan kaki di bawah terik matahari sore membawa tas belanjaan berat membuat tangannya mengepal erat di atas lutut.
"Han, majukan mobil perlahan," perintah Jingyan dengan suara berat. "Kita ikuti mereka dari jarak aman. Pastikan tidak ada orang-orang dari faksi Zhao Tianming yang masih mencoba mencari muka atau mengusik ketenangan keluarga di distrik utara."
"Baik, Tuan Muda," patuh Sekretaris Han sambil memindahkan persneling, menjalankan sedan mewah itu merayap pelan mengikuti langkah kaki ibu dan anak tersebut di jalur lambat.
Sementara itu, di trotoar jalan, Meiying yang tengah menggandeng Anqi tiba-tiba merasakan hawa dingin yang tidak biasa menyergap tengkuknya. Ia menghentikan langkahnya sejenak, menoleh ke belakang menyapu jalanan raya yang dipadati kendaraan sore hari. Insting seorang wanita yang hidup dalam tekanan bertahun-tahun membuatnya merasa seolah-olah ada seseorang yang sedang mengawasinya secara intensif.
Namun, ia tidak melihat apa pun selain deretan mobil mewah yang melintas biasa di bawah naungan lampu jalan yang mulai menyala satu per satu.
"Ada apa, Ibu? Kenapa berhenti?" tanya Anqi polos mendongak menatap wajah ibunya.
Meiying tersenyum kecil, menepis perasaan cemas yang tiba-tiba melintas di dadanya. "Tidak apa-apa, Sayang. Ayo kita cepat pulang, sebentar lagi hari mulai gelap dan Nenek menunggu kita di rumah."
Mereka kembali melanjutkan langkah kecil menyusuri lorong gang sempit menuju rumah kontrakan yang kusam. Di dalam mobil hitam yang terus mengikuti dari kejauhan, Jingyan menutup matanya sejenak, membiarkan aroma mahoni tipis di dalam kabin menenangkan debar jantungnya.
Tinggal 363 hari lagi, bisik batin Jingyan penuh tekad. Sebelum waktuku habis, aku akan memastikan kalian berdiri di bawah cahaya matahari yang hangat, tanpa rasa takut, dan tanpa air mata.