Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.
Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.
namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilara 23
Elian melangkah kembali ke ruang kerjanya setelah memastikan Dilara naik ke kamarnya di lantai atas. Suasana rumah kembali hening, meninggalkan deru angin malam yang menyapu jendela. Namun, kedamaian di wajah Dilara saat meminum teh tadi terus membayangi pikiran Elian. Ada teka-teki besar yang mengusik jiwanya, mengapa wanita bermartabat dan memiliki keteguhan hati setinggi itu bisa berakhir melarikan diri dan memilih menjadi pengasuh?
Tanpa ragu, Elian kembali merogoh ponselnya. Ia menekan nomor rekan intelijennya yang tadi baru saja melacak identitas Kevin.
"Ya, Elian? Ada perkembangan baru?" suara di ujung telepon menyapa dari balik deru ketikan papan ketik.
"Satu hal lagi," ujar Elian tegas. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke pinggiran meja kerja, matanya menatap tajam ke arah kegelapan taman di luar.
"Aku mau kamu gali seluruh latar belakang hubungan Kevin Pratama dan Dilara Paramitha."
Dengar helaan napas singkat, rekannya menjawab, "Hubungan mantan suami istri itu? Kamu mau data sejauh mana?"
"Semuanya," potong Elian tanpa keraguan.
"Aku mau tahu detail pernikahan mereka. Mulai dari berapa lama mereka menikah, alasan perpisahan mereka, bagaimana sikap Kevin selama ini pada Dilara, hingga siapa wanita yang menjadi alasan talak itu dijatuhkan. Jangan ada satu detail pun yang terlewat."
"Maksudmu... kamu mau aku mencari tahu luka masa lalu pengasuh keponakanmu sendiri?" kekeh rekannya tipis, menyadari ada dorongan personal yang tak biasa dari suara sang Presdir.
Elian mengetatkan rahangnya, suaranya makin memberat dan penuh penekanan. "Aku perlu tahu seberapa berbahaya ancaman pria itu untuk rumah ini. Pria yang membuang istrinya lalu menyewa detektif untuk memata-matainya adalah tipe pria impulsif yang berbahaya. Aku harus tahu persis titik lemah dan motivasi sebenarnya dari Kevin Pratama sebelum dia membuat kekacauan di dekat keluarga dan keponakanku."
"Understood. Beri aku waktu sampai besok sore. Semua dokumen, rekam jejak, dan latar belakang perceraian mereka akan ada di mejamu."
"Bagus. Pastikan ini bersih dan tidak bocor ke pihak manapun, terutama ke keluarga Kevin."
"Tenang saja, Elian. Urusan ini aman bersama kami."
Sambungan telepon terputus. Elian meletakkan ponselnya di meja, lalu menghembuskan napas panjang. Tatapannya menajam dalam kegelapan ruangan. Ia tidak sekadar berniat melindungi keamanan rumahnya dari gangguan pria asing, ada dorongan kuat di dalam dadanya untuk memastikan bahwa siapapun yang pernah menyakiti wanita seanggun Dilara tidak akan pernah diberikan kesempatan kedua untuk mendekat lagi.
Di dalam kamar kerjanya yang remang, Kevin duduk mematung di balik meja kayu mahoni. Lampu meja berwarna kuning hangat menjadi satu-satunya sumber cahaya, menyorot lurus ke arah tiga lembar foto cetak yang tercecer di atas permukaan meja.
Jemarinya yang gemetar perlahan terulur, menyentuh tepi salah satu foto. Di dalam foto itu, Dilara terlihat sedang tersenyum tipis, sebuah raut wajah yang tampak begitu tenang saat membimbing Elang di halaman rumput kediaman Adrian. Dan di dalam foto itu, Dilara terlihat bahagia, seolah dia tak memiliki masalah apapun. Ada desir aneh dan rindu yang menyeruak di dalam dadanya saat melihat kembali wajah wanita yang sudah tak lagi di lihatnya lebih dari satu bulan ini.
Semenjak Dilara pergi dan dia memutuskan untuk mempersiapkan pernikahannya dengan Asha, sang ibu tak lagi peduli padanya. Bahkan dia terlihat tak peduli dengan pernikahannya bersama Asha. Ibunya sudah sangat menyukai Dilara, setelah Asha memutuskan pergi tanpa pamit dan membuatnya terpuruk.
"Kamu bisa sebahagia ini di sana, Ra?" bisik Kevin parau, suaranya pecah di tengah pekatnya keheningan kamar.
Penyesalan itu datang lagi, menyengat dada Kevin dengan begitu kejam. Selama satu tahun pernikahan mereka, ia tak pernah benar-benar menghargai ketulusan Dilara. Ia terlalu buta oleh nostalgia masa lalu bersama Asha, hingga menyia-nyiakan wanita yang sabar menyeduhkan teh hangat untuknya tiap malam dan merawat rumahnya tanpa pernah mengeluh.
Dan kini, setelah wanita itu pergi tanpa membawa sepeser pun harta, bahkan menolak sisa uang belanja di ATM Kevin baru menyadari satu hal yang menghancurkan egonya: ia telah melepaskan sosok yang sangat berharga.
DRRRTTTT
DRRRTTTT
DRRRTTTT
Ponsel di atas meja bergetar keras, memecah keheningan malam dan mengejutkan Kevin. Nama Asha terpampang jelas di layar, memancarkan cahaya terang di tengah kegelapan ruangan.
Kevin menghela napas berat, memejamkan mata sejenak untuk menetralkan nada suaranya sebelum memicu panel hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Ya, Sha?"
"Kev! Kamu belum tidur, kan?" suara Asha menyapa dari ujung telepon. Nada suaranya terdengar riang, berlatar belakang musik tenang dari kamarnya sendiri.
"Aku baru saja selesai kurasi desain undangan dari wedding organizer. Aku sudah kirim file PDFnya ke WhatsApp kamu. Kamu sudah lihat?"
Kevin menunduk, matanya kembali tertuju pada foto Dilara yang mengintai di balik jarinya.
"Belum, Sha. Aku baru selesai mengurus beberapa berkas kantor."
"Ih, berkas kantor terus!" Asha merajuk manis, meski ada nada desakan yang tersirat kental.
"Ini sudah jam dua malam, Kev. Besok jam sepuluh pagi kita kan ada janji dengan Mama buat ketemu pihak catering dan vendor dekorasi. Kamu jangan sampai lupa atau datang terlambat lagi ya!"
"Iya, aku ingat," jawab Kevin singkat dan datar.
Di ujung telepon, Asha menyadari keheningan dan dinginnya respon Kevin. Suaranya mendadak berubah menajam, kecurigaan mulai merayap dalam intonasinya.
"Kev... kamu kenapa sih? Dari kemarin suara kamu kaku banget kalau aku bahas soal pernikahan kita," tembak Asha dengan nada menuntut.
"Kamu tidak lagi kepikiran wanita itu, kan? Ingat ya, minggu depan sidang kedua dan setelah itu perceraian kalian diputus verstek. Jangan bikin aku berpikiran yang tidak-tidak!"
"Asha, tolong," potong Kevin dengan nada lelah yang teramat sangat.
"Aku cuma capek. Pekerjaan di kantor lagi menumpuk dan aku butuh istirahat. Tolong jangan mulai meragukan hal-hal yang tidak perlu."
Asha menghembuskan napas kasar di ujung saluran. "Bagus kalau begitu. Aku cuma mau memastikan kamu fokus sama masa depan kita. Aku tidak mau ada drama lagi. Ya sudah, kamu tidur sekarang. Sampai ketemu besok pagi. I love you."
"Hmm. Malam, Sha."
TUT.
Kevin mematikan sambungan telepon tanpa membalas ucapan cinta dari Asha. Ia meletakkan ponselnya kembali ke meja dengan kasar, lalu menyandarkan punggungnya pada kursi kulit.
Gelisah, bimbang, dan rasa bersalah mencengkeram jiwanya dari dua sisi yang saling menghancurkan. Di satu sisi, desakan pernikahan dari Asha terus melilit lehernya. Namun di sisi lain, bayangan senyum Dilara di kediaman keluarga Adrian justru kian membakar penyesalan di dasar hatinya, membuat malam itu terasa makin panjang dan menyiksa.
nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛