Indonesia
NovelToon NovelToon
ADX Florence

ADX Florence

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Perperangan
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: @_Mastura

Alesya Seraphina dijatuhi hukuman seumur hidup setelah dituduh membunuh sahabatnya secara brutal. Bukti video menunjukkan dirinya sebagai pelaku, tetapi Alesya sama sekali tidak mengingat kejadian itu.

Di ADX Florence, penjara paling mematikan, ia justru bertemu kembali dengan Kael Jendral Kanagara—sahabat masa lalunya yang kini menjadi ketua mafia paling ditakuti.

Kael tidak tahu sisi berbahaya Alesya. Alesya pun tidak tahu alasan Kael berada di sana.

Di balik dinding penjara, rahasia, pengkhianatan, dan cinta berbahaya mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @_Mastura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAYANGAN YANG MENGINTAI

           Dante menghempaskan Jessica dengan kasar ke tembok di hadapannya. Mereka sudah berada di tempat yang sepi, jauh dari keramaian ruang makan.

"Auw..."

Ringisan kecil keluar dari mulut Jessica akibat kuatnya hempasan Dante. Pria itu menyisir rambutnya ke belakang dengan satu tangan, sebelum kembali menatap tajam gadis di hadapannya.

"Kau gila..." ucapnya dalam.

Jessica menelan ludah.

"Apa maksudmu...?" tanyanya dengan suara bergetar.

"Dia bukan orang yang bisa kau usik"

"Memangnya dia siapa?" Jessica mencoba memberanikan diri

"Dia cuma gadis kaya yang tidak bisa berbuat apa-apa di sini."

Tatapan Dante semakin tajam.

"Siapapun dia kau tidak berhak tau" Dante diam beberapa detik sebelum melanjutkan ucapannya.

"Jika sekali lagi aku melihatmu mengusik atau mengganggunya, jangan salahkan aku kalau posisimu kugantikan"

Dante mendekat sedikit.

"Kau cuma jalangku. Jadi, kau hanya perlu mendengarkan perkataanku tanpa harus banyak tanya."

Dia menekan setiap kalimatnya.

Jessica terdiam.

Perkataan Dante memang menusuk hatinya.

Ya...

Walaupun dirinya hanya jalang Dante, hubungan mereka sudah berlangsung cukup lama. Tanpa disadari, Jessica justru mulai menaruh rasa kepada pria itu, Perasaan yang selama ini hanya dia simpan sendiri.

Dante mungkin tidak pernah menghiraukannya. Namun di antara semua pria yang pernah menidurinya, hanya Dante yang memperlakukannya seperti manusia. Pria itu tidak kasar seperti pria² lain di luaran sana.

Dan mungkin karena itulah Jessica semakin sulit melepaskannya.

"Jangan ulangi kesalahan yang sama, ini peringatan terakhirku, aku tidak peduli kau mau mengusik siapa pun, tapi jangan alesya"

Dante berbalik,Tanpa menunggu jawaban, pria itu pergi meninggalkan Jessica yang masih bersandar di tembok.

Jessica hanya terdiam.

Matanya mengikuti punggung Dante yang semakin jauh hingga akhirnya menghilang di balik lorong. Tangannya perlahan mengepal.Untuk pertama kalinya, bukan amarah yang memenuhi dadanya, Melainkan rasa sakit. Ini pertama kalinya dante bersikap kasar padanya.

***

SEL — BLOK C

Reana mem-plester luka yang terdapat di lengan Alesya. Lukanya memang tidak terlalu besar, namun rasa perih yang ditimbulkannya cukup terasa.

"Maaf... aku nggak bisa melakukan apa-apa tadi," ucap Reana setelah selesai mengobati luka Alesya.

Matanya mulai berkaca-kaca. Ia juga membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan apa pun ketika temannya ditindas atau berada dalam bahaya.

Alesya tersenyum simpul.

"It's okay," jawab gadis itu.

"Kalo aku ada di posisimu, aku juga akan sama takutnya seperti kamu," ujar Alesya, berusaha menenangkan Reana.

"Sungguh, tapi kamu nggak apa-apa kan?"

"Emm... cuma luka kecil."

"Syukurlah..."

Reana mengembuskan napas lega, Namun gadis itu kembali berfikir tentang kejadian tadi.

"Tapi kenapa Dante menghalangi Jessica? Biasanya dia juga nggak peduli..." ucap Reana, merasa aneh.

Jessica biasanya memang sering membuat onar karena ada Dante di belakangnya, dan pria itu membiarkannya. Namun kali ini berbeda. Dante justru menghalanginya dan terlihat begitu marah.

"Nggak tahu..." jawab Alesya sekenanya.

Beberapa saat kemudian, Alesya terdiam sebelum akhirnya bertanya,

"Di sini bisa ngontak keluarga ngak?"

Reana mencoba berpikir sejenak.

"Bisa, Tapi..." gadis itu sempat ragu

"...para sipir yang ada di sana biasanya meminta bayaran seperti... tidur dengan mereka." Nada suara Reana terdengar sedikit merinding saat membayangkannya.

Alesya terdiam.

"Aku akan meminta bantuan Kael..." gumamnya.

Reana langsung menatapnya.

"Hati-hati, ya. Aku nggak berani keluar."

"Emm..."

Alesya hanya berdehem.

Kemudian gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari sel, mencari keberadaan Kael.

Setelah melewati beberapa koridor yang sepi, akhirnya Alesya tiba di taman. Matanya menelisik setiap sudut, mencari keberadaan Kael. Hingga tatapannya terhenti pada sebuah kursi yang berada di bagian paling pojok.

Di sana, Kael terlihat sedang terlentang di atas kursi. Satu tangannya menjadi tumpuan kepala, sementara tangan lainnya diletakkan di atas kepalanya.

Entah pria itu sedang tertidur atau hanya memejamkan mata.

Alesya berjalan mendekat.

Ia berhenti tepat di samping kepala Kael, menghalangi cahaya matahari yang sebelumnya menerpa wajah pria itu.

Kael masih tidak bergerak.

Hingga sebuah pergerakan kecil di lengannya membuat pria itu akhirnya menoleh.

Alesya menggoyangkan lengannya pelan.

"Jendral, bangun," ucap gadis itu.

Para napi yang melihatnya hanya bisa menelan ludah.

Cukup berani gadis itu membangunkan Kael dari tidurnya.

Beberapa dari mereka bahkan mulai beranggapan bahwa Alesya sudah berhasil menggoda Kael dan menjadikan pria itu sebagai pelindungnya.

"Jendral..." panggil Alesya lagi.

Kael hanya berdehem.

"Temani aku menelepon keluargaku..."

Ajak gadis itu.

Kael akhirnya bangkit dan duduk, kini berhadapan dengan Alesya yang masih berdiri di hadapannya.

"Udah marahnya?" ucap pria itu tiba-tiba.

"Enggak... aku nggak marah. Kapan?"

Alesya mengelak sambil memalingkan wajah ke arah lain, seperti orang yang ketahuan mencuri.

Kael terkekeh kecil.

"Kenapa? nggak bisa jauh-jauh dari orang tua?" ucap pria itu lagi.

Alesya mendengus kesal.

"Bukan itu. Aku cuma khawatir sama papa ku..." jelasnya.

Namun, Kael masih tidak bergeming.

"Ayolahhh..."

Alesya kemudian menarik lengan Kael hingga pria itu bangkit dari duduknya.

Keduanya berjalan bersama, menelusuri koridor hingga akhirnya menghilang dari pandangan para napi yang masih berada di taman.

Namun, di tengah-tengah keramaian para napi, seorang pria yang tengah melakukan pull up terus memperhatikan pergerakan mereka sejak tadi.

Tatapannya mengikuti Kael dan Alesya hingga keduanya benar-benar menghilang di balik koridor. Setelah itu, pria tersebut turun dari besi tempatnya melakukan pull up.

Tanpa mengatakan apa pun, ia pun pergi. Namun baru beberapa langkah, dia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.

Darren hanya menatap sekilas, tanpa peduli kepada pria yang di tabraknya. kemudian dia berlalu ke arah dante yang duduk di kursi depan bersama Jessica. yaa mereka sudah berbaikan, karena Jessica tidak mau kehilangan dante.

Pria itu melirik lama punggung darren yang menjauh, lalu berlalu pergi tanpa menghiraukan Siapapun.

...***...

1
Tuan Tuan
💪😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!